Seminar Nasional: Urgensi Studi Hadis di Indonesia pada Era Milenial

https://wp.me/paPAVC-3e

Kategori:Artikel

Kaifa Haluka

Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh. Apa kabar pengunjung blog ini? Sudah lama admin tidak menyapa antum.

Kategori:Artikel

diShare dari WordPress

MISBAHZHULAM (SYARAH BULUGHUL MARAM) KARYA KH. M. MUHADJIRIN BEKASI – http://wp.me/p2JQk3-31g

Kategori:Artikel

Keutamaan Shalat Isyraq

Al Ustadz Abdullah bin Taslim. MA 

عن أنس بن مالك  قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  : ((من صلى الغداةَ في جماعة، ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس، ثم صلى ركعتين، كانت له كأجر حجةٍ وعمرةٍ، تامة تامة تامة)) رواه الترمذي وغيره.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian dia duduk – dalam riwayat lain: dia menetap di mesjid[1] – untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian dia shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna sempurna sempurna”[2].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan duduk menetap di tempat shalat, setelah shalat subuh berjamaah, untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian melakukan shalat dua rakaat[3].

Faidah-faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

– Shalat dua rakaat ini diistilahkan oleh para ulama[4] dengan shalat isyraq (terbitnya matahari), yang waktunya di awal waktu shalat dhuha[5].

– Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “… sampai matahari terbit”, artinya: sampai matahari terbit dan agak naik setinggi satu tombak[6], yaitu sekitar 12-15 menit setelah matahari terbit[7], karena Rasulullah r melarang shalat ketika matahari terbit, terbenam dan ketika lurus ditengah-tengah langit[8].

– Keutamaan dalam hadits ini lebih dikuatkan dengan perbuatan Nabi r sendiri, dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai melakukan shalat subuh, beliau duduk (berzikir) di tempat beliau shalat sampai matahari terbit dan meninggi”[9].

– Keutamaan dalam hadits ini adalah bagi orang yang berzikir kepada Allah ta’ala di mesjid tempat dia shalat sampai matahari terbit, dan tidak berbicara atau melakukan hal-hal yang tidak termasuk zikir, kecuali kalau wudhunya batal, maka dia boleh keluar mesjid untuk berwudhu dan segera kembali ke mesjid[10].

– Maksud “berzikir kepada Allah” dalam hadits ini adalah umum, termasuk membaca al-Qur’an, membaca zikir di waktu pagi, maupun zikir-zikir lain yang disyariatkan.

– Pengulangan kata “sempurna” dalam hadits ini adalah sebagai penguat dan penegas, dan bukan berarti mendapat tiga kali pahala haji dan umrah[11].

– Makna “mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah” adalah hanya dalam pahala dan balasan, dan bukan berarti orang yang telah melakukannya tidak wajib lagi untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah jika dia mampu.

Artikel: http://ibnuabbaskendari.wordpress.com

Catan Kaki:


[1] HR ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabir” (no. 7741), dinyatakan baik isnadnya oleh al-Mundziri.

[2] HR at-Tirmidzi (no. 586), dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani rahimahullah dalam “Silsilatul ahaditsish shahihah” (no. 3403).

[3] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/157) dan “at-Targhib wat tarhib” (1/111-shahih at-targhib).

[4] Bahkan penamaan ini dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, lihat kitab “Bughyatul mutathawwi’” (hal. 79).

[5] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/157) dan “Bughyatul mutathawwi’” (hal. 79).

[6] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/158).

[7] Lihat keterangan syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin rahimahullah dalam “asy-Syarhul mumti’” (2/61).

[8] Dalam HSR Muslim (no. 831).

[9] HSR Muslim (no.670) dan at-Tirmidzi (no.585).

[10] Demikian keterangan yang kami pernah dengar dari salah seorang syaikh di kota Madinah.

[11] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/158).

Kategori:Sholat

Kajian Sunnah DiDEMO, Tapi Ustadz Menghadapi Pendemo Dengan ILMU Dan Kajian Tetap Berlangsung — “Bisa Karena Terbiasa”

Ketika Kajian Didemo , Jangan Langsung Takut, Hadapi Dengan Hujjah Setahun yang lalu di Surabaya, Ustadz Abdul Hakim pun di Demo untuk dibatalkan kajian beliau oleh mereka, tapi: 1. Beliau tetap berangkat safar ke Surabaya waktu itu bahkan dengan seorang diri naik kereta. (Saya &kawan agak nyesel waktu itu ga ikut) 2. Malam hari sebelum…

via Kajian Sunnah DiDEMO, Tapi Ustadz Menghadapi Pendemo Dengan ILMU Dan Kajian Tetap Berlangsung — “Bisa Karena Terbiasa”

Kategori:Artikel

Waspadailah Fitnah Sururiyyah

Penulis:

Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Syaifullah (Pengisi tetap Majalah Al-Furqon – Gresik, Jawa Timur)
________________

Pertarungan antara kebenaran dan kebatilan terus berlanjut hingga hari kiamat, masing-masing dari kebenaran dan kebatilan memiliki penyeru dan pembela. Penyeru kebenaran berusaha menyelamatkan umat dan membawanya ke jalan yang lurus agar mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, sedangkan penyeru kebatilan berusaha menyesatkan dan merusak umat agar mereka celaka.

Merupakan hal yang menakjubkan bahwa penyeru kebatilan menampakkan diri kepada umat bahwa mereka adalah du’at Salafiyyin untuk mengelabui umat sehingga mengikuti pemikiran-pemikiran mereka dan menganggap baik manhaj mereka Baca selengkapnya…

Kategori:FAIDAH ILMIYYAH

Siapakah Sururi ?

Oleh
Syaikh Abu Anas Muhammad bin Musa Alu Nashr Hafizhahullah

Sururiyah (pemahaman Surur) adalah Jamaah Hizbiyyah. Muncul pada tahun-tahun terakhir ini. Tidak dikenal kecuali pada seperempat akhir abad ini. Karena semenjak dahulu hingga sekarang, ia berselimut Salafiyyah. Pada hakekatnya, Sururiyah memiliki prinsip-prinsip Ikhwanul Muslimin, bergerak secara sirriyah (sembunyi-sembunyi/rahasia). Merupakan pergerakkan politik, takfir, mencela dan menyindir para ulama Rabbaniyyin, seperti Imam-imam kita yang tiga: Bin Baaz, Al-Albani dan Utsaimin. Menuduh mereka sebagai ulama haidh dan nifas. Setelah perang Teluk II serangannya terhadap dakwah Salafiyyah secara terang-terangan, bertambah keras baik secara aqidah dan pemberitaan. Sampai menuduh para masyayikh dan ulama kita bahwa mereka tidak mengetahui waqi’ (situasi dan kondisi/kenyataan), ilmunya dalam perkara nifas dan wanita-wanita nifas. Mereka sesuai dengan ahli bidah zaman dahulu, yang mengatakan: Fiqh (Imam) Malik, Auzai dan lainnya tidak melewati celana perempuan. Alangkah besar dosanya. Kalimat yang keluar dari mulut mereka Baca selengkapnya…