Arsip

Archive for the ‘FAIDAH ILMIYYAH’ Category

Waspadailah Fitnah Sururiyyah

Penulis:

Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Syaifullah (Pengisi tetap Majalah Al-Furqon – Gresik, Jawa Timur)
________________

Pertarungan antara kebenaran dan kebatilan terus berlanjut hingga hari kiamat, masing-masing dari kebenaran dan kebatilan memiliki penyeru dan pembela. Penyeru kebenaran berusaha menyelamatkan umat dan membawanya ke jalan yang lurus agar mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, sedangkan penyeru kebatilan berusaha menyesatkan dan merusak umat agar mereka celaka.

Merupakan hal yang menakjubkan bahwa penyeru kebatilan menampakkan diri kepada umat bahwa mereka adalah du’at Salafiyyin untuk mengelabui umat sehingga mengikuti pemikiran-pemikiran mereka dan menganggap baik manhaj mereka Baca selengkapnya…

Kategori:FAIDAH ILMIYYAH

Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib

Ustadz Abdullah Taslim -hafidzahullah-

 

عن أم حبيبة زوج النبي أنها قالت: سمعت رسول الله يقول: ((ما من عبد مسلم يصلي لله كل يوم ثنتي عشرة ركعة تطوعا غير فريضة إلا بني الله له بيتا في الجنة أو إلا بني له بيت في الجنة قالت أم حبيبة: فما برحت أصليهن بعد)) رواه مسلم.

Dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anhu, Istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang hamba yang muslim melakukan shalat sunnah yang bukan wajib, karena Allah, (sebanyak) dua belas rakaat dalam setiap hari, kecuali Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah (istana) di surga”. (kemudian) Ummu Habibah radhiyallahu ‘anhu berkata: setelah aku mendengar hadits ini aku tidak pernah meninggalkan shalat-shalat tersebut[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan shalat sunnah rawatib, sehingga Imam an-Nawawi rahimahullah mencantumkan hadits ini sebagai hadits yang pertama dalam bab: keutamaan shalat sunnah rawatib (yang dikerjakan) bersama shalat wajib (yang lima waktu), dalam kitab beliau “Riyadhus shaalihiin”[2]

Baca selengkapnya…

BEGINILAH CARA MENASEHATI SAUDARAMU

Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb al-‘Aqîl

Pertanyaan : Ahsanallôhu ilaykum (Semoga Alloh menjadikan Anda lebih baik), Syaikh kami –semoga Alloh Ta’âlâ menjaga Anda- Saya mengharapkan Anda sudi menjelaskan kepada kami bagaimana cara (thorîqoh) yang syar’i di dalam memberikan nasehat secara benar, terutama apabila yang dinasehati tersebut adalah seorang sunni yang bermanhaj salafi yang melakukan satu atau lebih kekeliruan?

Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb al-‘Aqîl hafizhahullâhu menjawab :

Nasehat itu (wahai saudara) semoga Alloh menjaga kalian semua, merupakan perkara yang agung. Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

الدّين النّصيحة ، ثلاثا ، قُلنا لمن يا رسول اللّه؟ قال: للّه ولكتابه ولرسوله ولأئمّة المسلمين وعامّتهم

Agama itu adalah nasehat” sebanyak tiga kali. Kami (para sahabat) bertanya : “untuk siapa wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab : “Untuk Alloh, Kitab-Nya, Rasul-Nya dan pemimpin kaum muslimin beserta seluruh kaum muslimin

Jadi, menasehati saudara-saudara kita, (adalah dengan) menyeru mereka kepada yang ma’rûf, melarang dari yang munkar, mengajak mereka kepada kebaikan. Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

وأن تأتي النّاس بمثل ما تُحبّ أن يأتوك به

Perlakukan seseorang sebagaimana Anda ingin diperlakukanBaca selengkapnya…

KEUTAMAAN MEMBACA SHALAWAT KEPADA NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

عن أنس بن مالك  قال: قال رسول الله : «مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً ، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ» رواه النسائي وأحمد وغيرهما وهو حديث صحيح.

Dari Anas bin malik Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan anjuran memperbanyak shalawat tersebut[2], karena ini merupakan sebab turunnya rahmat, pengampunan dan pahala yang berlipatganda dari Allah Ta’ala[3] Baca selengkapnya…

Keutamaan Berjabat Tangan Ketika Bertemu

Dari al-Bara’ bin ‘Azib dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah dua orang muslim saling bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali akan diampuni (dosa-dosa) mereka berdua sebelum mereka berpisah”[1].

Hadits yang mulia ini menunjukkan keutamaan berjabat tangan ketika bertemu, dan ini merupakan perkara yang dianjurkan berdasarkan kesepakatan para ulama[2], bahkan ini merupakan sunnah yang muakkad (sangat ditekankan)[3].

Faidah-faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

– Arti mushaafahah (berjabat tangan) dalam hadits ini adalah berjabat tangan dengan satu tangan, yaitu tangan kanan, dari kedua belah pihak[4]. Cara berjabat tangan seperti ini diterangkan dalam banyak hadits yang shahih, dan inilah arti “berjabat tangan” secara bahasa[5], maka melakukan jabat tangan dengan dua tangan adalah cara yang menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam[6] Baca selengkapnya…

Kategori:FAIDAH ILMIYYAH

Keutamaan Dan Hukum Berjabat Tangan

Thalibul Ilmi Ma’had Al Furqon

Sungguh pada diri Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat suri tauladan yang baik bagi umatnya. Baik dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah, dan semua aspek kehidupan. Akhlak Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangatlah terpuji sehingga Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya tentang akhlak beliau, ia mengatakan bahwa akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-qur’an. Penutup para nabi ini dalam bermuamalah dengan para sahabatnya tidaklah membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lain.

Didalam kitab-kitab hadits banyak terdapat hadits shahih yang menerangkan disyariatkan amalan ini yakni jabat tangan dengan sesama jenis ketika bertemu saudaranya sesama muslim (laki-laki dengan laki-laki atau mahramnya, wanita dengan wanita atau mahramnya)

Dalam suatu hadits dari al-Bara’, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda Baca selengkapnya…

Keutamaan Orang Kaya Yang Bersyukur

عن أبي هريرة قال: جاء الفقراء إلى النبي فقالوا: يا رسول الله، ذهب أهل الدثور من الأموال بالدرجارت العلا والنعيم المقيم، يصلون كما نصلي، ويصومون كما نصوم، ولهم فضل من أموال يحجون بها ويعتمرون ويجاهدون ويتصدقون، وليست لنا أموال…وفي رواية مسلم: فقال رسول الله في آخر الحديث: “ذلك فضل الله يؤتيه من يشاء” (متفق عليه).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Orang-orang miskin (dari para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) pernah datang menemui beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka berkata: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang (kaya) yang memiliki harta yang berlimpah bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi (di sisi Allah Ta’ala) dan kenikmatan yang abadi (di surga), karena mereka melaksanakan shalat seperti kami melaksanakan shalat dan mereka juga berpuasa seperti kami berpuasa, tapi mereka memiliki kelebihan harta yang mereka gunakan untuk menunaikan ibadah haji, umrah, jihad dan sedekah, sedangkan kami tidak memiliki harta…”. Dalam riwayat Imam Muslim, di akhir hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Itu adalah kerunia (dari) Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan orang kaya yang memanfaatkan kekayaannya untuk meraih takwa kepada Allah Ta’ala, dengan menginfakkan hartanya di jalan yang diridhai-Nya Baca selengkapnya…