Beranda > Koreksi dan Bantahan, Muamalah > Menimbang Bisnis Warnet

Menimbang Bisnis Warnet

al-Ustadz Abu Umar Basyier -hafidzahullah-

Bisnis adalah usaha yang penuh berkah. Ada janji Allah bahwa pedagang yang jujur akan dikumpulkan bersama para syuhada di Surga[1].

Di sisi lain, teknologi adalah anugerah Allah bagi umat manusia. Ia adalah ruang tempat manusia diberi kebebasan penuh berkreasi dalam batas-batas yang dibenarkan syariat.

Bila bisnis yang penuh berkah itu bertemu di satu titik dengan pengembangan teknologi yang penuh karunia, pasti terwujud makna “Bisnis di Atas Bisnis”.

Sayangnya, antara karunia dengan musibah, kadang berselisih tak lebih dari satu jengkal. Besarnya karunia, selalu berhadapan dengan besarnya kewajiban bersyukur, dan kebanyakan manusia adalah makhluk yang kerap lalai bersyukur. Bisnis berkah pun kadang berubah wujud menjadi malapetaka

… Wal’iyyadubillah ..

Berbisnis Dengan Kecerdasan

Disebutkan dalam hadits,

Sembilan persepuluh pintu rezeki ada pada usaha perdagangan.[2]

Maka bila Anda ingin mencapai porsi besar dalam rezeki yang halal, bermainlah di dunia usaha.

Dalam firman-Nya, Allah Subhaanahu wa Ta’ala menegaskan, “Allahlah yang telah menciptakan untuk diri kalian segala yang di muka bumi ini.” (al-Baqarah:29). Manusia dengan kecerdasannya, diberi kebebasan memanfaatkan segala yang Allah ciptakan, untuk kesejahteraan mereka bersama. Di tengah segala karunia itulah, mereka mengabdikan diri kepada Sang Khalik. Betapa Maha Pemurahnya Allah. Menyuruh manusia mengabdi kepada-Nya, dan menyediakan segala fasilitas kepada mereka untuk dimanfaatkan sepuas-puasnya. Batasan yang diberikan Allah berupa keharaman hanya titik-titik kecil yang bila diabaikan, menunjukkan betapa rakusnya manusia.

Secara cerdas, manusia menyulap karunia Allah menjadi sumber rezekinya. Saat banyak orang mengejar karunia Allah, ada saja manusia menggali kesempatan mengais rezeki sesukanya.

Saat manusia butuh bersantap, berdirilah rumah-rumah makan. Saat manusia butuh sehat, dibangunlah rumah-rumah sakit. Saat manusia butuh berita, dibuatlah koran, surat kabar, majalah, tabloid, dan sejanisnya. Saat manusia menginginkan setumpuk informasi secara instan tanpa banyak bekerja keras, diciptakanlah dunia internet yang memanjakan kaum penikmat dunia maya. Saat manusia butuh berinternet di mana-mana, dibangunlah bisnis meriah yang kini dikenal dengan kafe-kafe internet.

Soal mencari peluang di tengah kebutuhan manusia, manusialah jagonya.

Antara Karunia dan Musibah

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Rasa malu seluruhnya adalah kebaikan.[3]

Segala pintu kebaikan akan terlihat begitu jelas. Segala jalan menuju maksiat dan kerusakan akan tampak nyata di depan mata, bagi orang yang selalu memelihara rasa malu.

Begitu pula, dalam menjalani bisnis apapun, Pertama, dibutuhkan pengetahuan tentang halal dan haram. Kedua, dibutuhkan tekad untuk berbisnis secara halal. Untuk memiliki kedua hal itu dibutuhkan keikhlasan, dan keikhlasan itu enggan memasuki hati manusia yang tak lagi memiliki rasa malu.

Di antara penyebabnya adalah kegandrungan pada kenikmatan dunia. Kegandrungan mengejar kenikmatan instan yang sesungguhnya hanya permainan belaka. “Barangsiapa menghendaki kehidupan yang segera, maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki, kemudian Kami tentukan baginya neraka Jahannam. Ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedangkan ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (al-Isra’: 18-19)

Saat kenikmatan dunia sudah menjadi tujuan utama, manusia sering berubah menjadi makhluk tanpa rasa malu.

Lihatlah, betapa banyak orang yang sudah hidup bergelimang harta, koceknya dipenuhi miliaran rupiah, tapi masih senang merebut uang puluhan juta rupiah dengan cara yang tidak halal.

Coba tengok, betapa orang yang telah diberi karunia teman yang baik shalih, ahli ibadah, dan selalu menjaga amanah, lalu bersama-sama menjalani usaha penuh berkah, malah mengotori diri dengan menipunya, memfitnah dan mengibulinya.

Lihat contohnya, betapa banyak orang diberi kepercayaan karena kedudukan, posisi, atau kehormatannya, tapi malah mengotorinya dengan berbuat curang dan tidak amanah.

Dunia kerap menipudaya. Karena mengejar dunia, manusia tega mengubah sumber karunia menjadi lumbung musibah dan bencana. Menjadi makhluk yang tak bermalu, dan mencoreng diri secara begitu hina.

Bisnis Warnet, Antara Karunia dan Malapetaka

Tersebutlah sebuah jalan bisnis yang sangat menjanjikan: Kafe Internet. Hari ini, tak hanya orang-orang tua yang butuh banyak informasi, para wartawan yang mengejar berita terkini, para mahasiswa yang butuh banyak referensi untuk menyelesaikan skripsi, tesis hingga disertasinya, tapi anak-anak kemarin sore, terlihat banyak yang rajin mendatangi warung-warung internet.

Apa yang mereka lakukan di sana? Wallaahu a’lam bish shawaab.

Kunci informasi telah dibentang di hadapan mereka. Mereka bisa membuka gudang-gudang informasi, file-file berita terkini, sajian hiburan, permainan atau apa saja yang terbetik dalam hati, yang selama ini hanya menjadi hasrat terpendam dalam diri.

Pemilik warnet, biasanya akan sangat bergembira menerima kehadiran mereka. Sedikit, pemilik warnet yang memperingati mereka yang masih berusia sekolah, dan hanya menerima mereka bila datang dengan membawa surat dari kepala sekolah; bahwa mereka sedang bertugas mencari data dari internet. Lebih jarang lagi yang memberi batasan di warnetnya untuk mengakses berita; menutup jalur ke situs-situs berbahaya, atau menyetop sebagian pelanggan yang kedapatan membuka situs atau website cabul, misalnya.

Padahal, mereka adalah penjual. Bila mereka orang muslim, mereka harus bertanggung jawab atas barang atau jasa yang mereka perjualbelikan. Apalagi bila jualan mereka itu adalah hal yang haram dan berbahaya, dan terlebih lagi yang mengkonsumsinya adalah anak-anak di bawah usia. Pernahkah mereka memikirkan tanggung jawab mereka di hadapan Allah di alam akhirat sana?

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan.” (an-Nisa’: 14)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Bertakwalah engkau di mana pun engkau berada. Setiap kali engkau berbuat keburukan, iringi dengan kebajikan, niscaya kebajikan  itu akan menghapus dosa keburukan itu. Lalu bergaullah dengan umat manusia dengan akhlak yang baik.[4]

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda, “Sesungguhnya aku dapat melihat hal-hal yang tidak dapat kalian lihat, aku dapat mendengar hal yang tidak dapat kalian dengar. Suatu saat langit akan runtuh, dan sudah menjadi haknya untuk runtuh. Setiap empat ruas jari dari lokasi di langit, pasti ditempati oleh seorang malaikat yang tengah bersujud kepada Allah dengan meletakkan keningnya. Demi Allah, kalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis, dan kalian juga tidak akan bersenang-senang terus dengan istri kalian di atas kasur, lalu kalian akan keluar menuju ke pegunungan (tempat-tempat menyepi dan beribadah) untuk beribadah kepada Allah.”

Abu Dzar Radhiyallahu’Anhu berkata, “Aku sampai menginginkan kalau diriku hanyalah pohon yang tumbang.[5]

Bisnis internet, memang bisnis yang menjanjikan banyak keuntungan dan kemudahan. Internet ibarat mesin uang. Dengan sedikit fasilitas tambahan berupa “privacy”, kenyamanan, dan kafe, akses internet bisa dijual dengan harga lebih mahal, tanpa akan ada orang yangmengeluh atau mempersoalkannya. Tetapi, sadarkah kita di mana Allah?

Sadarkah kita, bahwa Allah itu Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui segalanya? Di ruang-ruang tertutup itu, Allah senantiasa memantau pergerakan mata, tangan, kaki, hingga hati kita. Bila Allah murka, tak ada langit yang dapat melindungi, tak ada bumi yang memberi keselamatan, apalagi sekedar ruang kecil yang rapuh dan tak bernyawa itu…. betapa naifnya kita.

Sumber:
Majalah Nikah, vol.8 No.4 Juli-Agustus 2009, hal 72-74 dengan adanya sedikit perubahan tanpa merubah isi.


[1] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1209), juga oleh ad-Darini (no.2542) dan al-Hakim

[2] Adab ad-Din wa ad-Dunya, al-Mawardi, hlm. 211; Adab asy-Syar’i, Ibnu Muflih, 3: 178

[3] Dengan lafal ini dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (37) (61) dalam kitab al-Iman. Dikeluarkan juga oleh al-Bukhari dengan lafal: “Rasa malu itu tidaklah mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan.” (X: 537) dalam kitab al-Adab bab “Rasa Malu”. Keduanya dari Imran bin hushain Radhiyallahu ‘Anhu.

[4] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (V: 500), oleh al-Haitsami dalam Majma’uz Zawaid (I: 60), ath-Thabrani dalam al-Mu’jam ‘al-Kabir (IV: 126). Diriwayatkan oleh Ahmad (II: 203)

[5] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Sanadnya hasan

  1. Belum ada komentar.
  1. 18 Februari 2012 pukul 07:13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: