Beranda > Kitab Tauhid > Menyembelih Binatang Dengan Niat Lillah, Dilarang Dilakukan di Tempat yang Dipergunakan Untuk Menyembelih Binatang Bukan Lillah

Menyembelih Binatang Dengan Niat Lillah, Dilarang Dilakukan di Tempat yang Dipergunakan Untuk Menyembelih Binatang Bukan Lillah

Kitab Tauhid Bab 11/-  (1)

Firman Allah Subhaanahu Wa Ta’ala,

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِّمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِن قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ {} لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan”. Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu shalat dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (At-Taubah: 107-108)

Tsabit bin adh-Dhahhak Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan,

نذر رجل أن ينحر إبلاً ببوانة، فسأله النبي صلى الله عليه وسلم فقال: (هل كان فيها وثن من أوثان الجاهلية يعبد)؟ قالوا: لا. قال: (فهل كان فيها عيد من أعيادهم)؟ قالوا: لا. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (أوف بنذرك، فإنه لا وفاء لنذر في معصية الله، ولا فيما لا يملك ابن آدم) [رواه أبو داود، وإسنادها على شرطهما].

“Ada seorang yang bernadzar akan menyembelih seekor unta di Buwanah (2)  lalu orang itu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi pun balik bertanya, “Apakah di tempat itu pernah ada berhala jahiliyah yang disembah?” Para sahabat menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya lagi, “Apakah di tempat itu pernah dilaksanakan salah satu perayaan hari raya mereka?” Mereka menjawab, “Tidak.” Maka Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penuhilah nadzarmu itu. Akan tetapi tidak boleh memenuhi nadzar yang menyalahi hukum Allah dan nadzar dalam perkara yang bukan milik seseorang.”  (Hadits riwayat Abu Dawud, dan isnadnya menurut persyaratan Bukhori dan Muslim [Dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shohihul Jami, tambahan dari Admin Syabab Petarukan] ).

Kandungan bab ini:

1. Tafsiran firman Allah tersebut di atas. (3)

2. Kemaksiatan bisa membawa pengaruh di muka bumi, demikian halnya ketaatan kepada Allah.

3. Masalah yang masih meragukan hendaknya dikembalikan kepada masalah yang jelas, untuk menghilangkan keraguan itu.

4. Bila perlu, seorang mufti sebelum memberikan fatwanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mendapatkan keterangan yang jelas.

5. Tidak dilarang menentukan suatu tempat tertentu untuk melaksanakan nadzar, selama tempat itu bebas dari hal-hal yang terlarang.

6. Akan tetapi, jika pernah salah satu dari berhala-berhala kaum jahiliyyah, meskipun sudah tidak ada lagi, maka dilarang melaksanakan nadzar di tempat itu.

7. Dan dilarang pula melakukan nadzar di suatu tempat, jika di tempat itu pernah dilaksanakan salah satu dari perayaan hari raya mereka, walaupun tidak bermaksud demikian.

8. Tidak boleh melaksanakan nadzar di tempat tersebut karena nadzar tersebut termasuk kategori nadzar maksiat.

9. Harus dihindari perbuatan yang menyerupai kaum musyrikin dalam cara keagamaan dan perayaan hari-hari raya mereka, walaupun tidak bermaksud demikian.

10. Tidak boleh bernadzar untuk melaksanakan suatu kemaksiatan.

11. Dan tidak boleh seseorang bernadzar dalam hal yang tidak menjadi hak miliknya.

Sumber:

Kitab Tauhid, Pemurnian Ibadah Kepada Allah, karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi, terbitan Darul Haq, cetakan X, hal 45-47

Catatan kaki:

(1) Relevansi bab ini dengan tauhid, bahwa seserang muslim apabila menyembelih binatang di tempat yang dipakai orang-orang musyrikin, maka ia telah berbuat sama seperti mereka, meskipun kesamaan itu dalam lahirnya saja, karena kesamaan lahir akan membawa kesamaan batin.

(2) Buwanah: nama suatu tempat di sebelah selatan kota Mekkah sebelum Yalamlam, atau anak bukit sebelah Yanbu’.

(3) Ayat ini menunjukkan pula bahwa menyembelih binatang dengan niat Lillah dilarang dilakukan di  tempat yang dipergunakan oleh orang-orang musyrik untuk menyembelih binatang, sebagaimana shalat dengan niat Lillah dilarang dilakukan di masjid yang didirikan atas dasar maksiat kepada Allah.

catatan redaksi:

(هل كان فيها وثن من أوثان الجاهلية يعبد) pada Kitab Tauhid terbitan Darul Haq yang ana salin, tidak ada tulisan كان  pada lafadz tersebut. Sedangkan lafadz hadits yang ana tulis di atas, ana salin dari 

http://www.hadits.net/islamia/fiqih-islam/4074-tempat-terlarang-untuk-menyembelih

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: