Beranda > Nasehat Tuk Penuntut Ilmu > ILMU DAN BEBERAPA AKHLAQ AHLI ILMU

ILMU DAN BEBERAPA AKHLAQ AHLI ILMU

Judul asli: AL ILMU WA AHLAKU AHLIHI

Penulis: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz

Judul dalam Bahasa indonesia
Ilmu Dan Beberapa Akhlak Ahli Ilmu

Penerjemah: Al Ukh Ummu Fauziyah & Al Ukh Ummu Aiman

Muroja’ah: Ustadz Abu Bakar Ramli bin Haya

Kata Pengantar Penerjemah

Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Segala puji adalah milik Allah, Rabb semesta alam, hanya kepada-Nya kami memuji, memohon pertolongan dan memohon ampunan atas segala dosa-dosa.

Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada utusan yang mulia yakni Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik sampai tegaknya hari kiamat.

Kami juga menyampaikan banyak terima kasih kepada Ustadz kami Ustadz Ramli bin Haya حفظه الله yang telah membimbing kami selama menterjemahkan kitab ini, semoga Allah memberikan pahala atas semua jasa beliau. Dan tak lupa pula juga kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu didalam penyelesaian kitab ini semoga Allah membalas jerih payah mereka dengan balasan pahala yang setimpal.

Ilmu dan beberapa Akhlak Ahli Ilmu Merupakan Terjemahan Dari Kitab Karya Syailkh Abdul Aziz bin Baaz رحمالله Yaitu ” AL ILMU WA AHLAKU AHLIHI” Kami mencermati dan merenungkan isi kitab tersebut, didalamnya mengandung banyak pelajaran, sehingga menjadi motivasi bagi kami untuk menterjemahkannya. Diantara isi kitab tersebut mengandung nasehat kepada para penuntut ilmu agar mereka bersemangat didalam menuntut ilmu yang haq, yakni ilmu yang sesuai dengan kitabullah dan sunnah Rosul-Nya dan sesuai pemahaman para sahabatnya sebab dengan ilmu tersebut mereka akan mengenal Robb-Nya, dan beribadah dengan benar kepada-Nya, selain itu begitu besar pahala yang akan mereka dapatkan dengan mempelajari ilmu syar’ie. Didalam kitab tersebut juga mengandung peringatan bagi para penuntut ilmu yang menuntut ilmu syar’ie dengan maksud bukan untuk mengharapkan wajah Allah

Dan akhirnya kita memohon kepada Allah agar senantiasa diberikan petunjuk didalam kehidupan ini agar senantiasa dikaruniakan ilmu yang bermanfaat yakni ilmu yang bukan hanya sekedar pengetahuan semata, akan tetapi ilmu yang sertai dengan amalan dan kita berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Kami berharap kepada Allah semoga amalan ini ikhlas hanya mengharapkan Wajah-Nya, dan semoga dapat memberikan manfaat bagi kaum muslimin khususnya bagi mereka para penuntut ilmu.

Diterjemahkan oleh:
Al Ukh Ummu Fauziyah & Al Ukh Ummu Aiman
Kendari – Rojab-1429 H

Ilmu Dan Akhlak Beberapa
Ahli Ilmu
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz رحمالله

Segala puji adalah Bagi Allah, yakni Rabb semesta Alam. Kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. Sholawat dan Salam tercurah atas hamba-Nya, Rosul-Nya, dan Pilihan-Nya dari Makhluk Ciptaan-Nya. Dan Kepercayaan-Nya untuk membawakan Wahyu-Nya, yakni Nabi kami dan Imam kami yakni Muhammad bin Abdillah dan Sholawat dan Salam pula atas keluarganya dan para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jalannya hingga hari pembalasan.

Adapun setelah itu,
Ilmu adalah telah diketahui pada semua sisi keutamannya. Dan sesungguhnya semulia-mulia sesuatu yang para penuntut ilmu menuntutnya dan orang-orang yang bersemangat berusaha untuk mendapatkannya adalah ‘Ilmu Syar’ie. Maka sesungguhnya ilmu jika dimutlakkan (disebutkan) atas sesuatu adalah banyak. Akan tetapi disisi para ulama islam yang dimaksud dengan Ilmu adalah Ilmu Syar’ie, yakni Kitabullah dan Sunnah Rosulullah

Ketika dimutlakkan, maka yang dimaksud dengan ilmu adalah ilmu tentang Allah, tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, dan ilmu tentang hak Allah atas para hamba-Nya, dan tentang apa-apa yang Allah syari’atkan bagi para hamba , Maha Suci Allah dan Maha Tinggi.
Dan secara mutlak pula, ilmu tersebut adalah ilmu tentang metode dan jalan yang mengantarkan kepada ilmu syar’ie, dan tentang pembagian-pembagian ilmu syar’ie. Dan ilmu tentang Tujuan dan Akhir yang para hamba akan berakhir kepadanya dinegeri akhirat.

Ilmu syar’ie ini adalah seutama-utama ilmu. Dan sepantasnya untuk dituntut dan bersemangat untuk mendapatkannya. Karena sesungguhnya dengan ilmu syar’ie tersebut akan diketahui (dikenal) Allah . Dan dengan ilmu syar’ie pula Allah akan disembah. Dan dengan ilmu ini maka akan diketahui apa-apa yang Allah telah halalkan, dan apa-apa yang Allah telah haromkan, serta akan diketahui pula apa-apa yang Allah meridhoinya dan apa-apa yang Allah membencinya. Dan dengan ilmu ini maka akan diketahui tempat kembali kepada Allah dan akhir dari kehidupan ini. Dan sesungguhnya pembagian dari mereka para mukallaf ada diantara mereka akan berakhir kepada surga dan kebahagiaan. Dan sesungguhnya kelompok yang lain dari mereka dalam keadaan yang paling banyak akan berakhir kepada negeri kehinaan dan kesengsaraan. Sungguh ahlul ilmi telah memperhatiakan atas perkara ini dan mereka menjelaskan bahwa sesungguhnya ilmu dibatasi pada makna ini. Dan diantara orang-orang yang telah menjelaskan atas perkara ini adalah seorang hakim (qodhi) yakni Ibnu Abil Izzi pensyaroh kitab thahawiyah diawal syarohnya, dan yang telah menjelaskan atas perkara ini selainnya seperti Ibnul Qayyim dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah serta jamaah ulama yang lain.

Dan ilmu ini telah jelas dan berbeda dalam keutamaan sesuai dengan keterkaitanya, maka seutama-utamanya ilmu, seagung-agungnya ilmu dan semulia-mulianya ilmu adalah ilmu yang berhubungan tentang Allah, tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah. Ilmu tersebut adalah Ilmu Aqidah. Maka Allah baginya mempunyai sifat-sifat yang tinggi , Maha Suci bagi-Nya dan Maha Tinggi. Dan Allah bagi-Nya memiliki sifat yang Tinggi dari semua sisi, baik dari zat-Nya, Nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, maupun perbuatan-perbuatan-Nya.

Kemudian berikutnya ilmu yang berhubungan tentang hak Allah atas para hamba-Nya, apa-apa yang Allah syari’atkan berupa hukum-hukum dan ilmu tentang orang-orang yang beramal akan berakhir kepadanya (kepada Allah).

Kemudian ilmu yang mengiringi ilmu tersebut diatas dari perkara-perkara yang menolong atas ilmu tersebut, dan mengantarkan kepada ilmu tersebut berupa ilmu kaidah arabiyah, istilah-istilah islam di dalam ushul fiqih, ilmu tentang istilah hadist, dan pada Selain dari yang demikian itu dari apa-apa yang berhubungan dengan ilmu tersebut diatas dan yang membantu atas ilmu tersebut. membantu atas pemahamannya dan atas kesempurnaan didalam ilmu tersebut.

Dan selanjutnya ilmu Siroh Nabawiyah, Sejarah Islam, Biografi Periwayat Hadist dan Biografi Para Pemimpin Islam. Dan selanjutnya setiap apa-apa yang bagi-Nya ada hubungan dengan ilmu diatas.

Dan sungguh Allah telah memuliakan pemilik ilmu ini. Allah telah memuji mereka dan mengagungkan kedudukan mereka. Maha Suci bagi Allah dan diatas keikhlasan bagi-Nya. Ketika Allah telah berfirman dalam Al Qur’an Surat Ali Imran, Ayat 18 Artinya :
“ Allah, para malaikat dan orang-orang yang berilmu dalam keadaan menegakkan keadilan, menyatakan bahwa sesungguhnya tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah, yang Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana”.

Maka Allah menjadikan persaksian ahlul ilmi bersama para malaikat diatas keesaan-Nya. Maka para malaikat dan orang-orang yang mempunyai ilmu syar’ie , mereka adalah para saksi atas keesaan Allah dan keikhlasan bagi-Nya. Para malaikat dan orang-orang yang mempunyai ilmu syar’ie juga bersaksi bahwa sesungguhnya Allah adalah Rabb semesta alam dan bahwa sesungguhnya Allah adalah sesembahan yang haq dan bahwa sesungguhnya peribadahan untuk selain Allah adalah Batil. Dan cukuplah dengan surat ini sebagai Pemuliaan bagi ahlul ilmi ketika Allah menjadikan persaksian mereka atas keesaan-Nya dan kekhususan hak Allah dalam peribadatan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi. Dan Allah Telah menjelaskan bahwa sesungguhnya mereka (ahli ilmu) tidaklah sama bersama dengan selain mereka (yang bukan ahli ilmu) dengan firman Allah dalam Surat Az Zumar, Ayat 9 :
“ Katakanlah, Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ? Sesungguhnya hanyalah orang-orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran,”

Dan Allah berfirman dalam Surat Ar Ra’du , Ayat 19 Artinya :
“ Apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu berupa kebenaran, sama dengan orang yang buta? Sesungguhnya hanyalah orang-orang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.”

Maka tidaklah sama mereka dan mereka. Tidaklah sama orang-orang yang mengetahui bahwa sesungguhnya apa yang Allah turunkan adalah haq (kebenaran) dan petunjuk, dan bahwa sesungguhnya apa yang Allah turunkan adalah jalan kebahagiaan, bersama dengan orang-orang yang sungguh buta tentang jalan ini dan tentang ilmu ini. Perbedaan yang sangat besar antara mereka dan mereka, yakni perbedaan antara orang-orang yang mengetahui kebenaran, mendapatkan cahaya dengan cahaya Allah dan berjalan diatas petunjuk Allah hingga dia bertemu Rabbnya dan memperoleh kemuliaan dan kebahagiaan, dan antara orang yang buta dari jalan ini dan orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berjalan dijalan syaiton dan hawa nafsu.

Tidaklah sama mereka dan mereka (orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui), dan sungguh Allah telah menjelaskan bahwa sesungguhnya Allah mengangkat beberapa derajat ahlul ilmi dan tidaklah yang demikian itu melainkan karena agungnya atsar mereka bagi manusia dan manfaat mereka (ahlul ilmi) bagi manusia. Dan karena ini, maka ahlul ilmi berkata : “ betapa bagusnya atsar (pengaruh) mereka atas manusia dan betapa buruknya atsar manusia atas mereka.

Maka atsar ahlul ilmi adalah dengan pengarahan manusia kepada kebaikan, pengajaran mereka kepada kebenaran, dan penghubung manusia kepada petunjuk. Atsar tersebut adalah atsar yang agung, yang Allah memuji atsar tersebut untuk ahlul ilmi, dan orang-orang yang beriman mensyukuri atsar tersebut. Dan atas pemimpin mereka para Rasul . Maka para ahlul ilmi adalah para pemberi petunjuk dan para da’i. Dan ahlul ilmi adalah manusia yang paling mengetahui tentang Allah dan tentang syari’at Allah, dan ahlul ilmi adalah manusia yang paling afdhol (utama) setelah para Rosul dan mereka yang paling mengikuti apa-apa yang para Rosul membawanya, dan mereka yang paling sempurna da’wahnya kepada Allah, dan mereka yang paling sempurna kesabaran atas-Nya dan pengarahan kepada-Nya . Allah telah berkata dalam Surat Al Mujadilah, Ayat 11 :Artinya :
“niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Dan Allah telah berfirman dalam Surat Al An’am,Ayat 83 Artinya :
“Dan itulah keterangan kami yang kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya, kami tinggikan siapa yang kami kehendaki berapa derajat.”

Dan Allah telah menjelaskan sesungguhnya ahli ilmu adalah orang-orang yang takut kepada Allah secara benar dan sempurna. Dan meskipun keadaan perasaan takut itu terdapat pada orang-orang mukmin secara umum dan pada sebagian yang lain, akan tetapi ketakutan kepada Allah secara sempurna dan secara benar hanya bagi para ulama, dan atas pemimpin mereka yaitu para Rosul
Artinya :
“ Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama” (Qs. Fathir : 28 ).

Ayat tersebut bermakna rasa takut yang sempurna.

Para ulama adalah orang-orang yang mengetahui tentang Allah, tentang nama-nama Allah dan tentang sifat-sifat Allah, serta tentang syari’at-Nya yang Allah mengutus para Rosul-Nya dengan syari’at tersebut. Karena ini, Nabi kami yakni Muhammad telah berkata, ketika ada sebagian manusia berkata kepadanya dalam keadaan mengecilkan ilmu yang Allah telah anugrahkan kepadanya : “ Kami tidaklah seperti engkau wahai Rosulullah Sungguh Allah telah mengampuni bagimu apa-apa yang terdahulu dari dosamu dan apa-apa yang akan datang.” Muhammad berkata : “ Adapun demi Allah, sesungguhnya aku adalah manusia yang paling takut kepada Allah diantara kalian dan manusia yang paling bertakwa diantara kalian kepada Allah,”

Maka orang-orang yang mengetahui tentang Allah, tentang agama Allah, tentang nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya adalah manusia yang paling takut kepada Allah dan manusia yang paling kokoh dalam kebenaran sesuai dengan ilmu mereka dan sesuai dengan derajat mereka dalam ilmu tersebut. Dan yang paling tinggi dan yang paling sempurna diantara mereka dan ilmu tersebut adalah para Rosul Alaissalatu Wassalam . Maka mereka adalah manusia yang paling takut Dan mereka yang paling bertakwa kepada Allah. Dan sungguh telah datang beberapa hadits dari Rosulullah didalam penjelasan tentang keutamaan ilmu dan hadits-hadits tersebut telah banyak didalam yang demikian itu.

Maka diantara hadits tersebut adalah perkataan Rosulullah :
من سلك طر يقا يلتمس فيه علما سهل ا لله له به طر يقا الي الجنة
“ Barang siapa yang menempuh suatu jalan, yang dengan jalan itu dia menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan jalan baginya kesurga.”
Muslim telah mengeluarkan hadits tersebut didalam shohihnya, semoga Allah merahmatinya.

Maka hadits ini menunjukan kepada kita bahwa sesungguhnya para penuntut ilmu berada diatas kebaikan yang besar. Dan bahwa sesungguhnya para penuntut ilmu berada diatas jalan keselamatan dan kebahagiaan bagi orang yang Allah memperbaiki niatnya di dalam menuntut ilmu, dan mengharapkan dengan ilmu tersebut wajah Allah .

Dan tujuan dari ilmu adalah untuk diri ilmu tersebut dan untuk beramal. Bukanlah untuk tujuan Riya’ dan untuk didengar atau bukanlah untuk maksud-maksud (tujuan-tujuan) yang lain dari tujuan-tujuan dunia. Dan sesungguhnya seorang penuntut ilmu itu hanyalah untuk mengetahui agamanya, dan mengilmui (meyakini) tentang perkara yang Allah wajibkan atasnya, dan agar Dia berusaha mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Maka seorang penuntut ilmu , mempelajari ilmu, dan mengamalkan ilmu tersebut, dan mengajarkan ilmu tersebut kepada selainnya merupakan tujuan-tujuan yang baik yang orang-orang muslim diperintahkan dengannya. Maka setiap jalan yang seorang penuntut ilmu menempuhnya didalam menuntut ilmu, maka jalam tersebut merupakan jalan menuju kesurga. Dan seluruh jalan-jalan, baik yang secara indrawi maupun secara maknawiyah. Maka perjalanannya dari suatu negeri ke negeri yang lain, perpindahannya dari halaqoh ke halaqoh dan dari masjid ke masjid dengan maksud untuk menuntut ilmu, maka ini semuanya merupakan jalan-jalan untuk mendapatkan ilmu. Dan demikian juga mudzakaroh (mengulang-ulang) dalam kitab-kitab ilmu, dan memuthola’ah (menelaah) dan penulisan, semuanya itu termasuk jalan-jalan untuk mendapatkan ilmu juga.

Maka yang pantas bagi seorang penuntut ilmu adalah agar dia memperhatikan seluruh jalan-jalan yang mengantarkan kepada ilmu, dan agar dia bersemangat diatas jala-jalan tersebut, dalam keadaan dia bertujuan mengharapkan wajah Rabbnya . Dia menginginkan Allah dan negeri akhirat, dia menginginkan agar dia memahami agama Allah dan meyakini tentang agamanya Allah, dia menginginkan agar dia mengetahui apa yang Allah wajibkan atasnya dan apa yang Allah haramkan atasnya. Dia menginginkan agar dia mengenal Rabbnya diatas keyakinan dan hujjah, kemudian dia beramal dengannya. Dia menginginkan agar dia menyelamatkan manusia. Dan menjadikan dia seorang dari da’i-da’I yang memberikan petunjuk, seorang dari penolong-penolong kebenaran, dan sebagai orang yang memberikan pengarahan menuju kepada Allah diatas ilmu dan petunjuk. Maka seorang penuntut ilmu apapun kegiatannya adalah berada diatas kebaikan yang besar dengan niat yang sholeh ini. Sehingga tidurnya seorang penuntut ilmu, termasuk jalan-jalan menuju surga, apabila dia tidur : supaya dia menjadi kuat dalam menuntut ilmu, dan supaya dia kuat dalam menyelesaikan pelajaran-pelajarannya sebagaimana mestinya, agar dia menjadi kuat dalam menghafal kitab ilmu, dan agar dia menjadi kuat dalam perjalanan menuntut ilmu, maka tidurnya penuntut ilmu tersebut adalah ibadah, dan perjalanannya adalah ibadah dan kegiatan-kegiatan yang lain dengan niat yang sholeh ini adalah ibadah. Berbeda bagi orang buruk niatnya, maka orang tersebut berada diatas bahaya yang besar. Telah datang dalam sebuah hadits dari Rosululllah , bahwa sesungguhnya Rosulullah telah berkata
من تعلم علما مما يبتفى به و جه ا لله لا يتعلمه الا ليصيب به عر ضا من الد نيا لم يجد عر ف الجنة
“Barang siapa yang mempelajari ilmu yang mana selayaknya dia mengharapkan dengan ilmu tersebut wajah Allah, bukanlah dia mempelajari ilmu melainkan agar dia memperoleh dengan ilmu tersebut perbendaharaan dari dunia, maka dia tidak akan mendapatkan baunya surga.”

Abu Daud رحمالله telah meriwayatkan hadits tersebut dengan sanad yang baik.
Ini adalah suatu ancaman yang besar bagi orang yang niatnya jelek. Dan telah diriwayatkan dari Rosulullah , bahwa sesungguhnya dia telah berkata :
من تعلم العلم ليبا هي به العلما ء اوليما ر ي به ا لسفها ا و ليصر ف به و جو ه ا لنا س اليه فا لنا ر النا ر
“Barang siapa yang mempelajari ilmu agar dia berbangga dengan ilmu tersebut dihadapan para ulama atau agar dia mendebat dengan ilmu tersebut orang-orang bodoh, atau agar dia memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya dengan ilmu tersebut, maka baginya neraka-neraka.”

Seorang penuntut ilmu yang mempelajari ilmu, seharusnya pelajaran tersebut adalah untuk mengetahui ilmu dan beramal dengan ilmu tersebut karena Allah. Karena sesungguhnya Allah telah memerintahkan yang demikian itu, dan seorang penuntut ilmu menjadikan wasilah dengan ilmu tersebut untuk mengetahui kebenaran. Telah datang sebuah hadits yang shohih :
ان اول من تسعر بهم النا ر ثلا ثة منهم الزي طلب العلم و قر القران لغير الله ليقا ل هو عالم و ليقا ل له : قا ر ئ
“Sesungguhnya orang-orang yang pertama kali dinyalakan bagi mereka api neraka ada 3 golongan : diantaranya : adalah orang yang manuntut ilmu dan membaca Al Qur’an untuk selain Allah, agar dikatakan : dia adalah seorang yang alim, dan agar dikatakan baginya, bahwa dia adalah qari’ .”
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah.
Maka wajib atasmu wahai hamba Allah, wahai penuntut ilmu : wajib atasmu untuk ikhlas dalam beribadah dan berniat karena Allah semata. Dan wajib atasmu dengan kesungguhan dan giat dalam menempuh jalan-jalan ilmu dan bersabar diatas jalan tersebut. Kemudian beramal dengan ketetapan ilmu, maka sesungguhnya yang dimaksud dengan ilmu adalah beramal dan bukan yang dimaksud dengan ilmu agar engkau menjadi alim, atau agar engkau mendapatkan bukti (ijazah) yang tinggi didalam ilmu. Maka sesungguhnya yang dimaksud dari semua itu adalah engkau beramal dengan ilmumu, dan agar engkau mengarahkan manusia kepada kebaikkan, dan agar engkau menjadi pengganti para Rosul dalam berda’wah kepada kebenaran. Dan sungguh telah berkata Rosulullah dalam hadits yang shohih :
من يرد الله به خيرا يفقهه في لر ين. متفق على صحته
“Barang siapa yang Allah menginginkan kebaikan dengannya, maka Allah akan memahamkannya didalam agama. “

Maka hadits ini menunjukan atas keutamaan ilmu dan sesungguhnya hadits ini menunjukan pula diantara tanda-tanda kabaikkan dan kebahagiaan, dan diantara tanda-tanda taufik. Dan sesungguhnya Allah jika menghendaki bagi hambanya suatu kebaikan, maka Allah akan memahamkannya didalam agamanya, dan Allah akan meyakinkannya dalam agamanya tersebut, sehingga seorang hamba mengetahui kebenaran dari kebatilan, dan mengetahui petunjuk dari kesesatan, dan sehingga seorang hamba mengenal Rabbnya, dengan nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, dan mengetahui agungnya hak-hak Rabbnya, dan sehingga seorang hamba mengetahui akhir kesudahan bagi wali-wali Allah dan musuh-musuh Allah.

Maka akhir kesudahan bagi wali-wali Allah adalah surga dan kebahagiaan dengan perlindungan Rabb yang mulia, dan penglihatan kepada wajah Allah , didalam negeri kemuliaan.

Dan akhir kesudahan bagi orang-orang yang memusuhi Allah adalah negeri malapetaka, penyiksaan dan kehinaan, dan tertutup (terhalang) dari melihat wajah Allah .
Dan dengan penjelasan ini, maka kami mengetahui keagungan dan kemuliaan ilmu. Dan sesungguhnya ilmu adalah sesuatu yang paling utama dan paling mulia bagi orang yang Allah telah memperbaiki niatnya. Karena sesungguhnya dengan ilmu tersebut mengantarkan seseorang kepada pemahaman tentang seutama-utamanya dan seagung-agungnya kewajiban, yakni bertauhid kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya. Dan dengan ilmu tersebut mengantarkan pula kepada pengetahuan tentang hukum-hukum Allah dan apa-apa yang Allah wajibkan atas para hamba-Nya, yakni kewajiban yang agung yang mengantarkan kepada pemenuhan kewajiban-kewajiban yang agung. Tidak ada kebahagiaan bagi seorang hamba dan tidak ada keselamatan bagi mereka kecuali dengan izin Allah, kemudian dengan ilmu tentang hukum Allah dan berpegang teguh dengan ilmu-ilmu Allah dan beristiqomah diatas ilmu tersebut.

Para ulama adalah orang-orang yang menampakkan ilmu. Mereka adalah sebaik-baik manusia dan manusia yang paling afdhol (utama) dimuka bumi. Dan atas pemimpin mereka (para ulama) adalah imam-imam mereka yakni para Rosul , dan para nabi, maka mereka adalah contoh dan mereka adalah dasar dalam da’wah, ilmu dan keutamaan. Dan setelah para Nabi dan Rosul Adalah para ulama sesuai dengan tingkatan mereka maka setiap orang yang keadaannya lebih mengetahui tentang Allah, tentang nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, dan yang lebih sempurna dalam beramal dan berdakwah, maka dia adalahmanusia yang paling dekat kepada para Rosul, dan yang paling dekat dari derajat para Rosul dan kedudukan para Rosul disurga. Maka ahlul ‘ilmi adalah para pemimpin dibumi ini, cahaya bumi ini dan pelitanya bumi ini. Dan mereka adalah yang lebih utama dimuka bumi ini dari selain mereka. Ahlul ‘ilmi mengarahkan mereka kejalan kebahagiaan, dan mereka menunjukan manusia kepada sebab-sebab keselamatan dan mengantarkan mereka kepada apa-apa yang didalamnya Allah ridhoi, dan mengantarkan kepada kemuliaan Allah dan menjauhkan dari sebab-sebab kemarahan dan azab Allah.

Maka para ulama adalah pewaris para nabi dan mereka adalah pemimpin-pemimpin manusia setelah para Nabi, yang mereka itu menunjukan kepada (jalan) Allah dan mengarahkan kepada (jalan ) Allah. Mereka mengajarkan manusia tentang agama mereka. Dengan ini semua maka akhlak-akhlak mereka yang agung dan sifat-sifat mereka yang terpuji. Mereka adalah para ulama kebenaran, para ulama yang memberikan petunjuk, mereka adalah pengganti para Rosul yang mereka itu senantiasa merasa takut kepada Allah dan mereka senatiasa diawasi oleh Allah, dan mereka (para ulama) memuliakan perintah Allah. Ini semua merupakan bentuk pengagungannya Allah . Mereka yakni ahklak-ahklak mereka adalah setinggi-tinggi dan semulia-mulia ahklak.Karena sesungguhnya mereka adalah orana yang menempuh jalannya para Rosul dalam berdakwah kepada Allah diatas keyakinan dan didalam mewaspadai sebab-sebab kemarahan Allah dan bersegera kepada apa-apa yang mereka kenal dari kebaikkan baik perkataan maupun amalan. Maka mereka (para ulama) adalah contoh dan teladan setelah para nabi, didalam ahklak-ahklak mereka yang agung dan sifat-sifat mereka yang terpuji dan amalan-amalan mereka yang mulia, dan mereka adalah yang mengamalkan, mengajarkan dan mengarahkan murid-murid mereka kepada setinggi-tinggi ahklak dan sebaik-baik jalan.

Penjelasan terdahulu bahwa sesungguhnya ilmu adalah perkataan Allah, perkataan Rosul-Nya. Ini adalah ilmu yang syar’ie. Ilmu syar’ie adalah ilmu tentang kitabullah, dan sunnah Rosulullah , dan ilmu yang membantu atas kitabullah dan sunnah Rosul-Nya. Maka, wajib bagi ahlul ‘ilmi agar mereka berpegang pada asas yang agung ini, dan agar mereka mengajak manusia kepada ilmu dan agar mereka mengarahkan murid-murid mereka kepada asas tersebut, dan agar tujuan selamanya adalah berilmu dengan apa-apa yang Allah katakan dan Rosul-Nya katakan, dan beramal dengan perkataan Allah dan Rosul-Nya tersebut, dan pengarahan manusia dan pengajaran mereka kepada yang demikian itu. Tidak boleh berpecah dan berselisih, dan tidak boleh pula berdakwah kepada kelompok fulan dan kelompok fulan, dan tidak berdakwah kepada pendapat fulan dan perkataan fulan. Sesungguhnya hanyalah yang wajib agar keberadaan da’wah itu adalah satu, kepada Allah dan Rosul-Nya, kepada kitabullah dan sunnah Rosul-Nya , Bukanlah kepada madzhab fulan atau kepada dakwah fulan, dan bukanlah kepada kelompok fulaniy dan pendapat fulaniy. Wajib bagi orang-orang muslim agar jalan mereka adalah satu dan tujuan mereka adalah satu, dan tujuan itu adalah mengikuti kitabullah dan sunnah Rosul-Nya .

Adapun, apa yang terjadi dari perselisihan antara ahlul ilmi didalam madzhab-madzhab yang empat dan selain dari madzhab-madzhab yang empat tersebut, maka yang wajib adalah ahlul ilmi mengambil dari perbedaan tersebut berupa apa-apa yang paling dekat kepada kebenaran dan agar dia mengambil dari perkataan yang paling dekat kepada apa-apa yang Allah dan Rosul-Nya katakan secara Nash (jelas), atau sesuai dengan ketetapan kaidah-kaidah syari’at. Maka sesungguhnya para imam adalah orang-orang yang mujtahid, sesungguhnya tujuan mereka hanyalah yang demikian itu, dan sebelum mereka adalah para sahabat semoga Allah meridhoi mereka dan Allah telah meridhoi mereka kepada Allah. Mereka adalah pemimpin-pemimpin setelah Rosul , maka mereka adalah manusia yang paling mengetahui tentang Allah dan mereka adalah manusia yang paling utama dan paling sempurna dalam ilmu dan akhlak. Maka sungguh telah terjadi pada mereka perselisihan pada sebagian masalah, akan tetapi dakwah mereka adalah satu dan jalan mereka adalah satu, mereka mengajak kepada kitabullah dan sunnah Rosul . Demikian juga diantara orang-orang setelah mereka (para sahabat) dari para tabi’in dan atba’ut tabi’in, seperti :Imam Malik رحمالله, Imam Abu Hanifah رحمالله, Imam Syafi’I رحمالله, dan Imam Ahmad رحمالله, dan selain mereka dari Imam-imam yang memberikan petunjuk seperti : Al Auza’I رحمالله, Ats Tsauri رحمالله, Ibn ‘Uyainah رحمالله, Ishak Ibn Raahawaih رحمالله, dan yang semisal mereka,Dakwah mereka adalah satu, yaitu mengajak kepada kitabullah dan sunnah Rosul , dan keadaan para Imam itu adalah melarang murid-murid mereka mengikuti mereka karena taqlid kepada mereka, dan para Imam itu berkata : Ambillah kalian sebagaimana yang kami ambil, yakni dari kitab dan sunnah.

Barang siapa yang jahil kepada kebenaran, maka wajib atasnya agar dia bertanya kepada ahlul ‘ilmi yang dikenal tentang keilmuan dan keutamannya, yang baik akidah dan perjalanannya (tingkah lakunya), dan dia meyakini (mengilmui) dengan yakin dari jawaban ahlul ‘ilmi tersebut, bersama dengan mengagungkan para ulama, dan mengenal keutamaan mereka dan mendo’akan mereka dengan tambahan berupa taufik dan besarnya pahala, karena sesungguhnya mereka adalah pendahulu kepada kebaikkan yang agung, mereka mengilmui,mengarahkan dan menjelaskan jalan yang baik, maka semoga rahmat Allah atas mereka. Maka bagi mereka keutamaan sebagai pendahulu, dan keutamaan ilmu dan da’wah mereka kepada Allah yaitu : dari para sahabat dan setelah para sahabat diantara ahlul ilmi dan iman. Maka dikenallah, kedudukan dan keutamaan mereka, dan dido’akan rahmat atas mereka, dijadikan dengan mereka contoh dalam kegiatan, dalam berilmu dan berdakwah kepada Allah, dan dalam mendahulukan apa-apa yang Allah dan Rosul-Nya katakan atas selainnya dan dalam bersabar diatas mendakwahkan apa-apa yang Allah dan Rosul-Nya katakan dan dalam bersegera kepada amal yang saleh, menjadikan teladan dengan mereka didalam keutamaan-keutamaan yang agung ini, dan mendoakan rahmat atas mereka, akan tetapi tidak boleh selamanya ta’assub (fanatik) kepada salah seorang diantara mereka secara mutlak dan juga tidak boleh dikatakan kepadanya bahwa perkataannya adalah suatu kebenaran secara mutlak, bahkan dikatakan bahwa setiap orang kadang dia salah dan kadang dia benar. Sedang kebenaran adalah dalam perkara yang sesuai dengan apa-apa yang Allah dan Rosul-Nya mengatakannya, dan dari jalan kitab dan sunnah dan kesepakatan (ijma’) ahlul ilmi. Maka apabila mereka berselisih, maka wajib kembali kepada Allah dan Rosul-Nya, sebagaimana yang Allah katakana dalam Surat An Nisa, Ayat 59 :
“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya).”

Dan Allah berfirman dalam Surat Asy Syura, Ayat 10 :
“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, Maka putusannya (terserah) kepada Allah. “

Demikian perkataan ahlul ilmi yang dahulu dan yang sekarang.
Dan Ta’ashshub (fanatik) selamanya tidak boleh kepada zaid atau amir, dan ta’ashub tidak boleh pula kepada pendapat fulan atau ‘alan, dan tidak boleh pula ta’ashub kepada kelompok fulan atau jalannya fulaniy, atau jama’ah fulaniy, semuanya ini adalah berupa kesalahan-kesalahan yang baru yang kebanyakan dari manusia terjatuh padanya.

Maka wajib agar keadaan orang-orang muslim tujuan mereka adalah satu, dan tujuan tersebut adalah mengikuti kitabullah dan sunnah Rosul-Nya didalam seluruh keadaan, baik didalam kesempitan maupun kelapangan, dalam kesusahan maupun, kemudahan, baik dalam bersafar maupun barmukim, dan dalam semua keadaan. Dan ketika terjadi perbedaan diantara ahlul ilmi, maka penuntut ilmu melihat pendapat-pendapat mereka, dan mengaitkan dari pendapat tersebut kepada apa-apa yang mencocoki dalil dengan tanpa ta’ashshub kepada salah seorang diantara manusia.

Adapun orang awam dan yang semisal orang awam, maka mereka bertanya kepada ahlul ilmi, dan mereka memilih dari uhlul ilmi tersebut siapa yang paling dekat kepada kebaikkan dan yang paling dekat kepada kelurusan dan keistiqomahan. Mereka menanyakan kepada ahlul ilmi tentang syari’at Allah, dan ahlul ilmi mengajarkan mereka tentang syari’at Allah tersebut, dan mengarahkan mereka kepada kebenaran yang sesuai dengan apa-apa yang telah datang didalam kitab dan sunnah, dan perkara yang ahlul ilmi telah bersepakat atasnya.

Dan seorang ‘alim itu diketahui dengan kesabarannya dan ketakwaannya kepada Allah, dan ketakutannya kepada Allah , dan bersegeranya kepada apa-apa yang Allah dan Rosul-Nya wajibkan, dan menjauhkannya dari apa-apa yang Allah dan Rosul-Nya haramkan.

Demikian juga keadaan seorang ‘alim adalah sama, baik keadaannya sebagai pengajar, qodhi (hakim) ataupun keadaannya sebagai da’i kepada Allah atau pada setiap amalan, maka kewajibannya adalah agar keadaannya sebagai teladan dan contoh dalam kebaikkan. Dia senantiasa mengamalkan ilmunya dan senatiasa bertakwah kepada Allah dimana saja keadaannya, dan dia mengarahkan manusia kepada kebaikan, sehingga dia menjadi contoh yang baik bagi murid-muridnya, bagi keluarganya, dan tetangganya, dan bagi selain mereka diantara orang-orang yang mengenalnya. Mereka semua menjadikan dasar dengan orang alim tersebut baik dengan perkataan-perkataannya, maupun perbuatan-perbuatannya yang sesuai dengan syari’at Allah, dan seorang penuntut ilmu wajib berhati-hati dengan puncak kehati-hatian dari meremehkan didalam apa-apa yang Allah wajibkan atau berhati-hati dari terjatuh pada perkara-perkara yang Allah haromkan. Maka sesungguhnya orang alim itu dijadikan contoh baginya pada perkara-perkara yang Allah haromkan dan perkara-perkara yang Allah wajibkan. Maka apabila seorang alim meremehkan perkara yang demikian, maka orang yang selain orang alim tersebut akan meremehkannya pula. demikian pula perkara sunnah dan perkara yang makruh, sepantasnya bagi seorang alim agar dia bersemangat untuk melaksanakan sunnah-sunnah, meskipun sunnah-sunnah tersebut bukan suatu kewajiban, agar dia membiasakan sunnah-sunnah tersebut dan agar manusia menjadikan dasar (contoh) dengan seorang alim tersebut dalam perkara-perkara sunnah. Dan agar seorang alim menjauhkan diri dari perkara-perkara yang makruh dan syubhat sehingga tidak ada manusia yang mencontoh orang alim tersebut pada perkara-perkara yang makruh dan syubhat tersebut.

Maka seorang penuntut ilmu baginya mempunyai kedudukan yang agung (besar), dan ahlul ilmi adalah inti sari dalam keberadaan ini, dan karena ini, maka atas para penuntut ilmu ada kewajiban-kewajian dan penjagaan-penjagaan yang tidak terdapat pada selain dari mereka. Berkata Rosulullah :
كلكم راع و كلكم مسؤ و ل عن ر عيته
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanyakan tentang kepemimpinannya (rakyatnya).”

Maka ahlul ilmi adalah para pemimpin dan para pemberi petunjuk, maka wajib atas mereka agar memperhatikan tentang kepemimpinan mereka, setiap bangsa-bangsa mempunyai rakyat bagi mereka, maka wajib atas mereka agar memperhatikan tentang rakyatnya ini, dan agar mereka takut kepda Allah dalam kepemimpinannya, dan agar mereka mengarahkan rakyatnya kepada sebab-sebab keselamatan, dan memperingatkan rakyatnya dari sebab-sebab kabinasaan, dan agar mereka mananamkan diantara mereka kecintaan kepada Allah dan Rosul-Nya, dan keistiqomahan diatas agama Allah. Kerinduan kepada Allah dan kepada surganya dan kemuliannya, dan mewaspadai dari neraka, maka neraka adalah seburuk-buruk tempat kembali. Wajib berhati-hati dan waspada dari neraka. Dan manusia yang paling utama dengan perkara ini adalah para ulama dan para panuntut ilmu. Demikianlah keadaan mereka, akhlak-akhlak mereka selamanya, yaitu bersegera kepada keridhoan Allah dan menjauhkan dari bermaksiat kepada Allah dan berdakwah kepada (jalan) Allah, pengarahan kepada (jalan) Allah dan berhenti (patuh) disisi peraturan-peraturan Allah, dan mengambil dengan kehati-hatian selamanya, dan menjauhi dari apa-apa yang Allah haromkan, dan dari apa-apa yang Allah membencinya, sehingga saudara-saudara mereka dari orang-orang mukmin menjadikan contoh dengan mereka, sehingga orang-orang muslim menjadi terpengaruh dengan ahli ilmu tersebut dimanapun mereka berada.

Dan aku memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya yang tinggi agar Dia memberikan taufik kepada kami dan kepada kalian kepada apa-apa yang diridhoinya, dan agar Dia memperbaiki hati-hati kami dan amal-amal kami seluruhnya, dan agar Dia menjadikan kami dan kalian para pemberi petunjuk yang memberikan hidayah, dan menjadikan kami dan kalian orang-orang yang baik yang memperbaiki, sebagaimana aku memohon kepada Allah agar Dia menolong agama-Nya, dan meninggikan kalimat-Nya, dan memberikan taufik kepada pemimpin kaum muslimin bagi setiap apa-apa yang didalamnya terdapat keridhoan Allah. Dan kebaikkan para hamba dan negeri-negeri islam dan agar Dia memperbaiki bagi para pemimpin batin-batinnya, dan agar Dia mengaruniakan atas para pemimpin untuk berhukum dengan syari’at Allah diantara para hamba-Nya dan memutuskan perkara dengan syari’at-Nya, dan menjauhi dengan apa-apa yang berlawanan dengan syari’at-Nya.

Adapun ilmu-ilmu yang lain, maka ilmu-ilmu tersebut mempunyai urusan yang lain, diantaranya penggalian tambang dan urusan-urusan pertanian dan perkebunan dan dari semua macam-macam perindustrian yang bermanfaat, terkadang diantara ilmu-ilmu menjadi wajib hukumnya selama orang-orang muslim membutuhkannya. Terkadang pula keadannya adalah fardhu kifayah. Dan bagi waliyul amri hendaknya dia memerintahkan kepada apa-apa yang kaum muslimin membutuhkannya didalam mempelajari ilmu-ilmu tersebut, dan hendaknya waliyul amri membantu orang yang menekuni ilmu-ilmu tersebut dalam hal yang demikian itu yakni setiap apa-apa yang dapat membantu mereka diatas kemanfaatan orang-orang muslim dan persiapan untuk melawan musuh-musuh mereka. Dan sesuai dengan niat seorang hamba maka amal-amalanya itu adalah ibadah kepada Allah ketika niatnya sholeh dan murni (ikhlas) karena Allah. Jika seorang hamba menekuni ilmu tersebut dengan tanpa niat yang sholeh maka ilmu-ilmu tersebut keadannya menjadi mubah, yang saya maksudkan dari ilmu-ilmu tersebut adalah : jenis-jenis perindustrian yang mubah, penggalian tambang, pertanian, perkebunan dan selain dari ilmu-ilmu tersebut.

Dan semua ilmu-ilmu tersebut adalah perkara-perkara yang dituntut bersama dengan kesholehan (baiknya) niat, maka ilmu-ilmu tersebut menjadi ibadah. Dan bersama dengan kosongnya (tidak adanya) niat yang sholeh didalam mempelajari ilmu-ilmu tersebut, maka ilmu itu menjadi perkara yang mubah, dan terkadang keadaan ilmu-ilmu tersebut adalah fardhu kifayah pada sebagian keadaan. Jika ada kebutuhan yang mendorong kepada ilmu tersebut, maka wajib atas waliyul amri agar menetapkan siapa yang ahli pada ilmu tersebut. Maka ilmu tersebut adalah perkara yang baginya mempunyai kedudukan tersendiri, dan baginya mempunyai keadaan-keadaan yang mendorong untuk mempelajari ilmu tersebut, dan keadaan-keadaan yang mendorong tersebut berbeda-beda sesuai dengan niat dan kebutuhannya.

Adapun ilmu syar’ie, maka suatu keharusan darinya.dan Allah telah menciptakan jin dan manusia agar mereka beribadah kepada Allah dan agar mereka bertakwa kepada Allah tiada jalan menuju peribadahan dan ketakwan kepada Allah kecuali dengan ilmu syar’ie, yakni ilmu dari kitabullah dan sunnah sebagaimana penjelasan yang terdahulu.

Dan kalian , wahai sekalian penuntut ilmu, dengan pujian kepada Allah, disini, di universitas islam (madinah), kalian datang dari daerah-daerah yang banyak (berbagai macam penjuru) dan dari jenis-jenis (bangsa-bangsa) yang bermacam-macam, untuk bertafaqquh (memahami) didalam agama dan mempelajari hukum-hukum Allah, dan meyakini didalam agama dan hukum-hukum Allah tersebut. Dan untuk mengenal aqidah salafiyah yang shohih yang Rosulullah dan sahabat-sahabatnya berjalan diatas aqidah tersebut, dan pengikut-pengikut mereka dengan baik berjalan diatas aqidah tersebut, yaitu beriman kepada Allah dan Rosul-Nya, dan beriman tentang nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, dan menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah tersebut sebagaimana sifat-sifat itu telah datang diatas segi yang sesuai dengan Allah , dengan tanpa memalingkan, tanpa menolak, tanpa membagaimanakan, tanpa mempermisalkan, tanpa menambah-nambah dan tanpa mengurangi.

Demikian ahlul ilmu berada diatas jalan yang para Rosul semoga shalawat Allah dan salam-Nya atas mereka semuanya, dan sahabat-sahabat mereka dan pengikut-pengikut mereka dengan baik berjalan diatas jalan tersebut.

Maka kami memohon kepada Allah agar Dia memberikan taufik kepada kalian dan agar Dia menolong kalian diatas seluruh apa-apa yang didalamnya terdapat keridhoannya, dan agar Dia mengembalikan kalian kepada negeri-negeri kalian dalam sepuncak-puncak taufik, ketakwaan, ilmu dan keimanan, dan agar Dia memberikan petunjuk kepada para hamba melalui kalian, Dan agar Dia memperbaiki keadaan-keadaan para hamba melalui kalian, sesungguhnya Allah adalah maha kuasa atas segala sesuatu, dan semoga Allah memberikan sholawat dan salam atas Nabi kami Muhammad, hamba Allah dan Rosul-Nya dan atas keluarganya, sahabat-sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik.

Sumber:

Blog Ibnu Abbas Kendari

Arikel Terkait:

Keutamaan Ilmu dan Ahlinya

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: