Beranda > FAIDAH ILMIYYAH, Tela-ah Haadits > Keutamaan Dan Hukum Berjabat Tangan

Keutamaan Dan Hukum Berjabat Tangan

Thalibul Ilmi Ma’had Al Furqon

Sungguh pada diri Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat suri tauladan yang baik bagi umatnya. Baik dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah, dan semua aspek kehidupan. Akhlak Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangatlah terpuji sehingga Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya tentang akhlak beliau, ia mengatakan bahwa akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-qur’an. Penutup para nabi ini dalam bermuamalah dengan para sahabatnya tidaklah membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lain.

Didalam kitab-kitab hadits banyak terdapat hadits shahih yang menerangkan disyariatkan amalan ini yakni jabat tangan dengan sesama jenis ketika bertemu saudaranya sesama muslim (laki-laki dengan laki-laki atau mahramnya, wanita dengan wanita atau mahramnya)

Dalam suatu hadits dari al-Bara’, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “ tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan kecuali keduanya diampuninya (dosanya) sebelum lepas jabat tangan mereka. [1]

Hadits diatas secara jelas menunjukkan keutamaan berjabat tangan. Syaikh Salim bin ied Al Hilaliy hafidhahullah berkata, dalam hadits ini Allah ‘Azza wa jallah mengutamakan umat ini di atas umat-umat yang lain dengan menjadikan jabat tangan sebagai penebus dosa atau pelebur dosa.

Hukum Berjabat Tangan

Bila ditinjau dari segi hukum, jabat tangan dibagi menjadi beberapa bagian :

1. Sunnah atau Mustahabbah

Dari Qotadah, ia berkata : “ saya bertanya kepada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, apakah jabat tangan telah ada pada jaman sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Anas menjawab, ya”[2]

Ibnu Bathol rahimahullah berkata, “jabat tangan adalah baik menurut para ulama. “ Imam Malik rahimahullah menyatakan bahwa jabat tangan mustahab(sunnah) setelah sebelumnya dia membencinya. Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “jabat tangan adalah sunnah yang telah disepakati ketika bertemu.

Dari al Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam “ jika dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan dan memuji Allah Ta’ala dan meminta ampun padaNya maka diampuni dosa keduanya.” [3]

Mubarakfuri rahimahullah berkata, “ Hadist ini menunjukkan disunnahkannya berjabat tangan ketika bertemu  dan disunnahkan juga memuji Allah Ta’ala dan meminta ampun pada-Nya yaitu dengan mengatakan : “Semoga Allah mengampuni kami dan kalian”.

Jabat tangan ini suatu ibadah, maka sudah seharusnya seorang muslim mengamalkan dengan ikhlas hanya mengharap pahala Allah ‘Azza wa jalla semata. Janganlah berjabat tangan hanya sekedar basa basi atau untuk mengharap urusan duniawi seperti yang dilakukan oleh orang kafir. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, “ tidaklah dua orang muslim bertemu lalu salah satunya mengucapkan salam pada yang lain dan menjabat tangannya, tidaklah menjabatnya kecuali karena Allah Ta’ala, tidaklah keduanya melepas jabatan tangan sehingga diampuni. [4]

2. Haram

Jabat tangan yang kedua ini ada kalanya berupa kemaksiatan dan ada kalanya berupa kebid’ahan. Adapun macam yang pertama adalah jabat tangan seperti jabat tangan seorang lelaki dengan wanita yang bukan mahramnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat keras melarang perbuatan ini dalam hadits-hadist yang banyak sekali, diantaranya :

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, “ sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak barjabat tangan dengan wanita ketika membaiat. [5]

Dari Umaimah bintu Ruqoiqoh radhiyallahu ‘anha dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘ sesungguhnya aku tidak menjabat tangan para wanita, hanyalah perkataanku untuk seratus orang wanita seperti perkataanku untuk satu orang wanita. [6]

Dari Ma’qol bin Yasar radhiyallahu ‘anha dia berkata, “ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Sungguh kepala laki-laki ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.[7]

Hadits-hadits diatas jelas melarang kita berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram kita. Tapi kadang muncul dalam benak kita bagaimana jika wanita itu sudah tua dan dia menggunakan kain sebagai pembatas? Maka tidak ada obat bagi orang yang tidak tahu kecuali bertanya kepada orang alim. Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah pernah ditanya masalah ini dan beliau menjawab, “ Tidak boleh berjabat tangan dengan wanita-wanita yang bukan mahramnya secara mutlak baik wanita itu masih muda atau sudah tua, baik yang menjabat tangan itu pemuda maupun kakek-kakek, karena padanya ada bahaya fitnah bagi keduanya.” Kemudian beliau membawakan dua hadits lalu melanjutkan perkataannya. “ dan tidak ada bedanya berjabat tangan menggunakan pembatas (kain, sarung tangan) ataupun tidak, karena keumuman dalil tersebut, dan untuk membedung sarana yang bisa membawa kepada fitnah.” [8]

Adapun jabat tangan yang termasuk kategori bid’ah adalah seperti jabat tangan setelah shalat subuh dan ashar. Berkata ‘Izz bin Abdus Salam, “ berjabat tangan setelah shalat subuh dan ashar termasuk bid’ah.[9]

Adapun perkataan Imam an-Nawawi rahimahullah, “ adapun jabat tangan yang biasa yang dilakukan manusia setelah shalat subuh dan ashar adalah tidak ada asalnya dalam syariat akan tetapi tidak mengapa dikerjakan karena asal dari jabat tangan adalah sunnah. Dan keberadaan manusia menjaga amalan ini pada sebagian keadaan dan meninggalkan pada sebagian yang lain atau memperbanyak amalan ini tidaklah keluar dari asal jabat tangan yang dikeluarkan.

Maka berkata Ali Al Qori setelah menyebutkan perkataan Imam an-Nawawi rahimahullah diatas, “ dan tidak samar bahwa pada perkataan Imam an-Nawawi rahimahullah ada pertentangan, karena melakukan sunnah pada sebagian waktu tidak dikatakan bid’ah, sedangkan amalan manusia  pada dua waktu ini (jabat tangan setelah shalat subuh dan ashar) tidaklah disunnhakan oleh syariat. Sesungguhnya jabat tangan yang disyariatkan adalah awal waktu bertemu. Dan kadang terjadi sekelompok manusia saling bertemu tanpa jabat tangan dan langsung sambut menyambut dengan obrolan atau mempelajari ilmu sampai waktu yang lama, kemudian setelah shalat mereka berjabat tangan. Apakah ini termasuk sunnah yang disyariatkan……?? Oleh karena itu sebagian ulama mempertegas bahwa jabat tangan setelah shalat dibenci dan hal itu termasuk bid’ah yang tercela.

Dan berkata Qodi Basyirudin Al Qonwajiy rahimahullah, dan demikianlah jabat tangan dan saling merangkul setelah shalat ‘iedul Adha dan ‘iedul fitri termasuk bid’ah yang tercela dan menyelisih syariat.” [10]

Dari keterangan-keterangan yang telah berlalu dapat kita ambil beberapa faedah penting diantaranya :

  • Jabat tangan adalah amalan yang disunnahkan dan sangat dianjurkan oleh syariat karena besarnya keutamaan yang dikandungnya diantaranya dia adalah sebab diampuni dosa seseorang.
  • Hadits-hadits diatas menunujukkan bahwa jabat tangan disunnahkan ketika bertemu. Tapi hal ini tidak menafikan bolehnya berjabat tangan ketika hendak berpisah karena adanya dalil-dalil yang menerangkan tersebut.
  • Kita harus membedakan antara jabat tangan yang sunnah dan jabat tangan yang haram sekalipun pada asalnya jabat tangan itu disyariatkan.
  • Anjuran atau istihbabnya seorang yang alim terhadap suatu amalan yang tidak didasari dengan dalil termasuk sebab munculnya bid’ah.

Demikian pembahasan kami yang dapat kami nukil dari beberapa kitab ulama salaf dalam masalah ini. Semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi kita semua. Dan kami berdo’a kepada Allah Ta’ala agar menunjuki kita ke jalan-Nya yang lurus dalam semua urusan kita. Amin…

Sumber: Majalah Al Furqon Edisi 7/Th IV/1426-2005

Artikel: ibnuabbaskendari.wordpress.com

Catatan Kaki:


[1] HR. Tirmidzi, Abu dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan dishahihkan oleh Al albani rahimahullah dalam shohih sunan tirmidzi

[2] HR. Tirmidzi

[3] HR. Abu Dawud dishahihkan oleh Syaikh al-Albany rahimahullah dalam shahih Sunan Abu Dawud

[4] HR. Ahmad, sanadnya dishahihkan oleh Hamzah Ahmad Zain dalam syarah musnad Ahmad

[5] HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Salim Al Hilaly hafidhahullah

[6] HR. Tirmidzi, Nasai, Malik dishahihkan oleh Syaikh Salim Al Hilaly hafidhahullah

[7] HR. Tabrani dan dihasankan oleh Syaikh Salim Al Hilaly hafidhahullah

[8] Fatawa Islamiyyah

[9] Al Qaulul Mubin

[10] Tuhfatul Ahwadzi

Artikel yang akan Dikaitkan, Insya Allah:

  • Keutamaan Berjabat Tangan Ketika Bertemu
  • Seputar Jabat Tangan
  • Hukum Jabat Tangan Dengan Lawan Jenis

Kembali ke Fadhailul A’mal

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: