Beranda > FAIDAH ILMIYYAH, Tela-ah Haadits > Keutamaan Mempelajari dan Mengajarkan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Keutamaan Mempelajari dan Mengajarkan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

عن زيد بن ثابت قال: سمعتُ رسولَ الله يقول: ((نَضَّرَ اللهُ امْرَءاً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثاً فَحَفِظَهُ – وفي لفظٍ: فَوَعَاها وَحَفِظَها – حَتَّى يُبَلِّغَهُ، فَرُبَّ حامِلِ فِقْهٍ إلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ)).

Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semoga Allah mencerahkan (mengelokkan rupa) orang yang mendengar hadits dariku, lalu dia menghafalnya – dalam lafazh riwayat lain: lalu dia memahami dan menghafalnya –, hingga (kemudian) dia menyampaikannya (kepada orang lain), terkadang orang yang membawa ilmu agama menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya, dan terkadang orang yang membawa ilmu agama tidak memahaminya” (Hadits yang shahih dan mutawatir)[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan kemuliaan orang yang mempelajari, memahami, kemudian menyampaikan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits beliau kepada umat manusia. Sampai-sampai Imam Ibnul Qayyim rahimahullah ketika mengomentari hadits ini, beliau rahimahullah berkata: “Seandainya tidak ada keutamaan mempelajari ilmu (tentang hadits Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) kecuali (keutamaan yang disebutkan dalam hadits) ini, maka cukuplah itu sebagai kemuliaan (yang agung)., karena sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kebaikan bagi orang yang mendengar ucapan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian memahami, menghafal dan menyampaikannya (kepada orang lain)”[2].

Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

– Doa kebaikan yang berupa kecerahan dan keindahan (rupa), yang diucapkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi orang-orang yang mempelajari dan menyampaikan petunjuk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat ini adalah sebagai al-Jaza’u min jinsil ‘amal (balasan yang sesuai dengan perbuatan baik mereka), karena mereka telah mengusahakan sebab sampainya petunjuk dan bimbingan kebaikan dalam hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada manusia, yang dengan mengamalkan ini semua, wajah manusia akan menjadi putih berseri pada hari kiamat nanti, sebagaimana yang digambarkan dalam firman Allah Ta’ala:

{يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ، فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُون. وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُون}

“Pada hari yang (di waktu itu) ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman, karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya” (QS Ali ‘Imraan: 106-107)[3].

– Imam Mulla ‘Ali al-Qari rahimahullah berkata: “Ada yang mengatakan: Sungguh Allah telah mengabulkan doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (tersebut), oleh karena itu kamu dapati para (ulama) ahli hadits adalah orang yang paling bagus (elok) wajahnya dan indah penampilannya. Diriwayatkan dari imam Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah bahwa beliau berkata: “Tidak ada seorangpun yang menuntut (ilmu) hadits kecuali (terlihat) pada wajahnya kecerahan”[4], yaitu: keindahan yang tampak atau (yang bersifat) maknawi (tidak tampak)” [5].

– Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini (keindahan rupa) mengandung arti keindahan/keelokan pada lahir dan batin, karena (kata) an-nadhrah berarti kecerahan dan keindahan yang menghiasi wajah, (yang bersumber) dari pengaruh iman (dalam hati), serta kegembiraan, kesenangan dan kebahagiaan (yang dirasakan dalam) batin dengan keimanan tersebut, sehingga kegembiraan, kesenangan dan kebahagiaan itu akan tampak (nyata) berupa kecerahan pada wajah. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala mengumpulkan kesenangan dan kebahagiaan (dalam hati) dengan keceriaan (pada wajah, sebagai balasan kemuliaan bagi penduduk surga), sebagaimana dalam firman-Nya:

{فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورً}

“Maka Allah menjaga mereka dari keburukan pada hari itu dan menganugerahkan kepada mereka kecerahan (pada wajah mereka) serta kegembiraan (dalam hati mereka)” (QS al-Insaan: 11).

Maka kecerahan (ada) pada wajah-wajah mereka dan kegembiraan/kebahagiaan (ada) pada hati mereka, (ini berarti) bahwa kesenangan dan kegembiraan (dalam) hati akan menampakkan (pegaruh baik berupa) kecerahan pada wajah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala (tentang keadaan penduduk surga):

{تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيم}

“Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan” (QS al- Muthaffifiin:24).

Kesimpulannya, kecerahan pada wajah bagi orang yang mendengarkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian memahami, menghafal dan menyampaikannya (kepada orang lain), ini adalah pengaruh kemanisan (iman), dan kesenangan serta kebahagiaan (yang dirasakannya) di dalam hati”[6].

– Hadits ini mengisyaratkan tentang maraatib (tingakatan/tahapan) yang harus ditempuh dalam menuntut ilmu agama, agar ilmu yang dipelajari benar-benar dapat dipahami dengan baik dan bermanfaat bagi orang yang mempelajarinya. Tahapan-tahapan tersebut adalah:

1- Mendengarkan/menyimak ilmu dari sumbernya, sumber ilmu yang utama adalah al-Qur’an dan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan termasuk dalam hal ini membaca dan menelaah kitab-kitab ilmu agama yang bersumber dari wahyu Allah Ta’ala tersebut.

2- Berusaha memahami dan meresapi kandungan maknanya, agar ilmu itu benar-benar menetap dalam hati dan tidak hilang.

3- Berusaha menjaga dan menghafalnya, agar tidak dilupakan.

4- Menyebarkan dan menyampaikannya kepada umat, supaya kebaikan dan petunjuk Allah Ta’ala tersebar dan diamalkan dalam kehidupan manusia, karena ilmu agama itu ibaratnya seperti perbendaharaan harta yang terpendam dalam tanah, kalau tidak segera dikeluarkan maka harta itu terancam akan musnah[7].

– Sabda Rasulullah Ta’ala (di akhir hadits) ini merupakan peringatan akan pentingnya menyampaikan (petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat). Karena terkadang orang yang disampaikan kepadanya (hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) lebih paham (makna hadits tersebut) daripada orang yang menyampaikannya, sehingga orang tersebut mendapatkan (manfaat besar) dari hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang disampaikan kepadanya) melebihi yang didapatkan si penyampai. Atau (bisa juga) diartikan bahwa orang yang disampaikan kepadanya (hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) lebih paham (makna hadits tersebut) daripada orang yang menyampaikannya, maka ketika dia mendengarkan hadits tersebut, dia akan mengartikannya dengan sebaik-baik kandungan makna, menarik kesimpulan (hukum-hukum) fikih, dan memahami kandungan (yang benar) dari hadits tersebut[8].

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 23 Muharram 1431

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

Artikel: ibnuabbaskendari.wordpress.com

Catatan Kaki:


[1] Hadits ini diriwayatkan oleh imam Abu Dawud (no. 3660), at-Tirmidzi (no. 2656), Ibnu Majah (no. 230), ad-Darimi (no. 229), Ahmad (5/183), Ibnu Hibban (no. 680), dan imam-imam lainnya, dinyatakan shahih dan mutawatir oleh banyak imam ahli hadits. Lihat kitab “sislsilatul ahaaditsish shahiihah” (1 bag. 2/761).

[2] Kitab “Miftahu daaris sa’aadah” (1/71).

[3] Lihat kitab “Dirasatu hadits: nadhdharallahu imraan sami’a maqaalati…” (3/446).

[4] Dinukil oleh imam al-Khathib al-Baghdadi rahimahullah dalam kitab “Syarafu ashhaabil hadits (hal. 27).

[5] Kitab “Mirqaatul mafaatiih syarhu misykaatil mashaabiih” (1/288).

[6] Kitab “Miftahu daaris sa’aadah” (1/71).

[7] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab “Miftahu daaris sa’aadah” (1/71-72).

[8] Ucapan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau “Miftahu daaris sa’aadah” (1/72).

Kembali ke Fadhailul A’mal

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: