Beranda > Biografi Teladan, Kisah Nyata > Pentingnya “Kreatifitas” Dalam Berdakwah: Mengajarkan Tauhid Lewat Pintu Pengajaran Baca Al-Quran

Pentingnya “Kreatifitas” Dalam Berdakwah: Mengajarkan Tauhid Lewat Pintu Pengajaran Baca Al-Quran

Di antara yang menerapkan metode ini adalah seorang Da’i Ahlussunnah di zaman ini*.

Kisah itu dimulai ketika belilau membuka ladang dakwah di daerah yang sudah amat menjamur di dalamnya praktek-praktek syirik dan ritual-ritual bid’ah telah mendarah daging dalam kehiduan penduduknya.

Beliau memulai dakwahnya dengan menawarkan diri kepada orang-orang yang ada di situ untuk mengajari anak-anak mereka tulis menulis dan membaca Al-Quran. Dengan senang hati para orang tua menyerahkan anak-anak mereka untuk dididik oleh Syaikh tadi. Meskipun mereka tetap waspada dan terus mengawasi ‘orang baru’ tersebut, jangan-jangan dia membawa pemahaman ‘nyeleneh’

Hari berganti baru, bulan berganti bulan, dengan penuh kesabaran syaikh tersebut mendidik anak-anak kampung itu hingga muliailah terlihat buah jerih payahnya. Anak-anak mulai bisa membaca Al-Quran dan mereka semakin hormat serta rajin membantu orang tuanya karena di sela-sela belajar Al-Quran sang Syaikh tidak pernah lupa menasehati santri-santrinya agar selalu berbakti dengan baik kepada orang tua mereka.

Mulailah kecintaan dan penghormatan penduduk kampung terhadap syaikh tumbuh subur karena mereka merasa bahwa beliau telah banyak berjasa merubah anak-anak mereka menjadi lebih baik. Ketika Syaikh melihat bahwa saatnya telah tiba, beliaupun mulai menafsirkan beberapa ayat yang berisi perintah untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata, sambil menyinggung beberapa praktek kesyirikan yang ada.

Hingga datanglah saat dimana penduduk kampung melakukan kebiasaan ritual syirik mereka. Begitu mereka akan mulai acara sebagian santri-santri Syaikh menegur bapak-bapak mereka sembari mengingatkan bahwa acara-acara seperti ini dilarang di dalam Al-Quran surat dan ayat sekian. Bapak-bapak pun terheran-heran dan dengan emosi mereka bertanya siapa yang mengajari mereka ajaran ini?! anak-anak menjawab dengan ringan, “Syaikh kami”. Ketika mendengar jawaban anak-anak tersebut, emosi yang telah memuncak turun dengan teratur karena ternyata orang yang membawa ‘pemahaman baru’ tersebut adalah orang yang mereka cintai dan hormati yang telah banyak berjasa mendidik anak-anak mereka.

Maka merka pun berangkat menemui syaikh di Masjidnya. Dengan penuh kearifan dan sikap lemah lembut, syaikh menjelaskan duduk permasalahan ritual syirik itu di dalam pandangan syariat Islam. Akhirnya berkat hidayah dari Allah kampung yang awalnya merupakan salah satu basis terbesar kesyirikan dan kebid’ahan di negeri itu berubah menjadi salah satu markas para pengusung tauhid dan pembela sunnah negeri tersebut! Allahu Akbar!

*****

*Penulis [Ust. Abdullah Zaen, ed-] mendapat kisah ini kurang lebih empat tahun yang lalu dari Sayikh Prof. Dr. Abdurazzaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad. Kami tanyakan kembali kepada beliau tentang tokoh dan kisah tersebut namun beliau lupa nama tokoh tersebut dan yang beliau ingat tokoh tersebut adalah seorang da’i Ahlussunnah di negeri Pakistan.

——————————————————————————————————————————————–

{Disalin oleh Fandi Satia Engge dari Buku: 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah karya Ust. Abdullah Zaen M.A. hal 52-53}

Bersambung insyaa Allah ke kisah-kisah yang berikutnya dalam hal penerapan hikmah dalam berdakwah…

Lihat juga: [Kisah Nyata 1] Peran Besar Akhlak Dalam Dakwah: Murid Penulis Kitab Fathul Majid dan Seorang Sufi yang Benci “Wahabi”

Sumber:

http://www.facebook.com/home.php?sk=group_142308879154138&ref=notif&notif_t=group_activity#!/note.php?note_id=10150120836215149

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: