Beranda > Kesehatan, TANYA JAWAB > Nasehat Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dari Mempertanyakan Status Hukum Syariat Pada Masalah-Masalah Pelik

Nasehat Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dari Mempertanyakan Status Hukum Syariat Pada Masalah-Masalah Pelik

3 Februari 2011

Pertanyaan:

Saudara kita ini menanyakan, apa hukum syariat dalam masalah kesalahan-kesalahan praktek kedokteran yang secara tidak sengaja, di mana saya sudah bersungguh-sungguh dan tidak gegabah dalam memeriksa kondisi (pasien), serta tidak mengurangi sedikit pun dalam pengobatan, tapi kemudian Allah menakdirkan kematian pasien. Saya mohon penjelasan rinci tentang hal ini dan dari segala sisi, apakah saya dianggap berdosa karena hal ini, ataukah hal itu sebagaimana hakim yang berijtihad kemudian salah? Perlu diketahui bahwa saya sudah bersungguh-sungguh dalam belajar dan mengikuti perkembangan setiap hal-hal baru. Jazaakallaahu khairan

Syaikh al-Utsaimin menjawab:

Pertama, saya nasehatkan kepada penanya dan yang lainnya untuk tidak bertanya kepada seseorang dengan mengatakan: “apa hukum syariat?” Mengapa? Karena orang yang ditanya terkadang salah dan terkadang benar. Apabila dia salah padahal masalah tersebut dinisbatkan kepada syariat, maka kesalahan tersebut akan menjadi kesalahan dalam syariat. Ya, bisa dikatakan: “apa hukum syariat menurut pandangan Anda?” atau, “apa pendapat Anda dalam masalah ini?”  Maka kita harus memperhatikan hal ini. Adapun tentang kesalahan praktek, maka sang dokter apabila dia mumpuni (profesional), ini syarat, artinya dia menguasai ilmu kedokteran baik dengan membaca teori sebelumnya atau dengan pengalaman praktek. Ini adalah syarat. Harus professional.

Yang kedua, tidak melebihi tempat pengobatan, tidak melebihi tempat pengobatan. Missal, suatu luka hanya membutuhkan pembedahan sepanjang satu ruas jari, tetapi dokter itu membedah sepanjang dua ruas jari, maka dalam hal ini dia melebihi tempat (obyek) pengobatan. Para ulama –rahimahumullah- berpendapat bahwa kelebihan (batas) ini dianggap sebagai kesalahan bukan kesengajaan. Meskipun pasien mati, maka ia (dokter) tidak diqisas, tetapi harus membayar denda/diat, apabila berbentuk diat (denda yang sudah ada ketentuannya sesuai dengan jenis kesalahan); atau hukumah (denda yang tidak ada ketentuannya secara khusus dalam syariat), apabila bentuknya hukumah.

Maka terdapat perbedaan antara kesalahan yang terjadi di tempat (obyek) pengobatan, maka itu tidak mengapa. Sebagaimana para ahli fikih yang melakukan kesalahan, dan  demikian juga para qodhi (hakim). Adapun jika melampaui tempat (obyek) pengobatan, maka kita katakan kelampauan batas ini adalah kesalahan, walaupun mengakibatkan kematian, karena dia tidak sengaja membunuhnya.

Saya yakin terdapat aturan-aturan yang sudah ma’ruf (diketahui) dalam masalah ini.

Sumber:

Bagian dari Artikel

Dialog Para Dokter Bersama asy-Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullaah-

%d blogger menyukai ini: