Beranda > AQIDAH, Artikel Mutiara Sunnah > Sebagian Catatan dari Kajian Ushulus Sunnah bersama al-Ustadz Dzulqarnain di Masjid I’tisham

Sebagian Catatan dari Kajian Ushulus Sunnah bersama al-Ustadz Dzulqarnain di Masjid I’tisham

Sedikit Oleh-oleh dari Kajian Ushulus Sunnah pada Pokok Masalah Takdir, bersama al-Ustadz Dzulqarnain di Masjid I’tisham, 24 Shafar 1432 H/29 januari 2011

 

Al-Ustadz Dzulqarnain –hafidzahullah- membacakan matan kitab Ushul As-Sunnah sebagai berikut:

Bisyr bin Musa menceritakan kepada kami, beliau benrkata, al-Humaidi menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: “As-Sunnah menurut kami adalah:

Seseorang beriman kepadaal-Qadar (takdir) yang baik ataukah yang jelek, yang menyenangkan ataukah yang menyusahkan. Dan sepatutnya dia mengetahui bahwa musibah yang Allah tetapkan atas dirinya tidak akan meleset darinya, dan apa yang Allah tidak tetapkan atasnya, tidak akan mengenainya. Kesemuanya itu adalah Qadha (ketentuan) dari Allah ‘Azza wa Jalla.”

Kenapa Dimulai dengan Masalah Takdir?

Karena kadang para Imam hanya membahas [yakni, menitik beratkan, ed-] masalah aqidah yang banyak diingkari pada masa itu saja [dan tidak menafikan pembahasan masalah aqidah yang lain di tempat yang lain lagi, Wallahu A’lam, ed-].

Kemudian, beliau memberi penjelasan, yakni ada 7 hal pokok yang wajib diyakini pada masalah takdir, antara lain:

  1. Wajib meyakini segala yang ditakdirkan oleh Allah, Allah mengetahuinya[1].
  2. Wajib meyakini bahwa segala yang ditakdirkan, telah tercatat di Lauhul Mahfudz[2] [3]
  3. Wajib meyakini bahwa segala yang ditakdirkan, Allah menghendakinya[4]
  4. Wajib meyakini bahwa apa yang Allah takdirkan, Allah yang mengadakannya dan yang menciptakannya[5]
  5. Wajib meyakini bahwa makhluk punya kehendak dan keinginan, namun kehendak dan keinginannya tidak keluar dari kehendak Allah[6]
  6. Meyakini keumuman hikmah Allah atas apa yang Dia takdirkan.
  7. meyakini bahwa tidak ada pertentangan antara syariat dan takdir Allah.[7]

Pada pembahasan masalah takdir, ada dua kelompok yang menyimpang:

1. Qodariyah

Pada qodari ekstrim, mereka mengingkari pokok pertama dan kedua, yang dengan hal ini menyebabkan  mereka keluar dari Islam. Jika kita hendak berdebat dengan seorang qodari, tanyakan terlebih dahulu kepada mereka, “Apakah Allah mengilmui apa yang Dia takdirkan?” Jika mereka membenarkan keIlmuan Allah, maka lanjutkan diskusi, karena masih diharapkan dia menyadari penyimpangannya, tapi jika mengingkari keIlmuan Allah atas takdir-Nya, maka tinggalkan mereka. Karena tidak layak berjidal pada orang kafir.

Sedangkan dari pihak qodari yangpertengahan, mereka mengingkari pokok ke-3 dan ke-4. Dan ini yang banyak kita saksikan pada keumuman kondisi muslimin di Indonesia.

2. Jabriyah

Mereka melepaskan perbuatan hamba dari kehendak hamba. Yang bebuat dan berkehendak [kata mereka, ed-] adalah dari Allah semata. Sedangkan secara terperinci, jabriyah ekstrim menisbatkan dzahir dan batin kepada Allah. Dan pada jabriyah yang pertengahan, dzahir amalan dinisbatkan kepada hamba, sedangkan kehendak batinnya dinisbatkan kepada Allah.

Sebab-sebab manusia menyimpang pada masalah takdir:

1. Karena mereka mengkiyaskan perbuatan hamba pada perbuatan Allah. Letak kesesatannya ada pada mempersamakan Allah dengan makhluk.

2. Dia tidak membedakan antara dua jenis Iradah Allah, yaitu kauniyah dan syar’iyah.

Letak perbedaan mendasar antara Iradah Kauniyah dan Iradah Syar’iyah adalah:

  1. Iradah Kauni bermakna kehendak Allah, dan Iradah Syar’i bermakna kecintaan Allah.
  2. Iradah Kauni pasti terjadi, tapi iradah syar’i tidak harus terjadi.
  3. Iradah kauni kadang dicintai Allah dan kadang tidak, sedangkan iradah syar’i pasti dicintai oleh Allah.
  4. Iradah kauni berkaitan dengan Rububiyah Allah dan Iradah syar’I berkaitan dengan Uluhiyah Allah.[8]

3. Akal dijadikan sebagai sumber patokan di dalam menghukumi baik buruknya perbuatan.[9]

4. Terlalu banyak mencari-cari hikmah dari takdir yang terjadi.[10]

 

Selesai diketik di Jati Padang, Pasar Minggu, 25 Shafar 1432 H/ 29 Januari 2011

Referensi footnote:

  1. Kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir
  2. http://almanhaj.or.id/category/view/20/page/1 pada kategori Qadha dan Qadar

Footnote:

[1] Dalilnya:

“Dia-lah Allah Yang tidak ada ilah (yang berhak untuk diibadahi dengan benar) selain Dia, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata … .” [Al-Hasyr: 22]

Firman-Nya yang lain:

“…Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka… .” [Al-Baqarah: 255]

Juga firman Allah yang lain:

“…(Rabb-ku) Yang mengetahui yang ghaib. Tidak ada yang ter-sembunyi dari-Nya seberat dzarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” [Saba’: 3]

Dan firman Allah:

“… Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan… .” [Al-An’aam: 124]

Juga firman-Nya:

“Sesungguhnya Rabb-mu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al-Qalam : 7]

Serta firman-Nya:

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan. Tidak sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah ataupun yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” [Al-An’aam: 59]

Dan firman Allah yang lain:

“Jika mereka berangkat bersamamu, niscaya mereka tidak menambah kepadamu selain dari kerusakan belaka… .” [At-Taubah: 47]

Juga firman-Nya:

“… Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka.” [Al-An’am: 28]

Serta firman-Nya:

“Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).” [Al-Anfaal: 23]

[2] Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” [Al-Hajj: 70]

Firman Allah yang lain:

“…Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” [Yaasiin: 12]

Juga firman-Nya:

“Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami… .’” [At-Taubah: 51]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman tentang do’a Nabi Musa Alaihissalam:
“Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia … .” [Al-A’raaf: 156]

Dia berfirman tentang bantahan Nabi Musa Alaihissalam kepada Fir’aun:

“Berkata Fir’aun, ‘Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?’ Musa menjawab, ‘Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabb-ku, di dalam sebuah kitab, Rabb-ku tidak akan salah dan tidak (pula) lupa… .’” [Thaahaa: 51-52]

[3] Masa-masa pentakdiran:

a. Di lauhul Mahfudz, dengan kata lain dia disebut At-Taqdiirul ‘Aam (Takdir yang bersifat umum)Jenis ini ditunjukkan oleh berbagai dalil, di antaranya firman Allah Ta’ala:

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”. [Al-Hajj: 70]

Dalam Shahiih Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Allah menentukan berbagai ketentuan para makhluk, 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. “Beliau bersabda, “Dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air.”

b. Ketika diambil janji di alam ruh/At-Taqdiirul Basyari (Takdir yang berlaku untuk manusia)Allah berfirman:

“Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), Bukankah Aku ini Rabb-mu. Mereka menjawab, Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb).” [Al-A’raaf:172]

c. Ketika ditiupkan ruh di janin pada saat berumur 120 hari/ At-Taqdiirul ‘Umri (Takdir yang berlaku bagi usia)
Hal tersebut ditunjukkan oleh hadits ash-Shadiqul Mashduq (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dalam Shahiihain dari Ibnu Mas’ud secara marfu’:

“Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama mpat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah seperti itu pula (empat puluh hari), kemudian menjadi segumpal daging seperti itu pula, kemudian Dia mengutus seorang Malaikat untuk meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan (untuk menulis) dengan empat kalimat: untuk menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia(nya)

[HR. Al-Bukhari, (VII/210, no. 3208), Muslim, (VIII/44, no. 2643), dan Ibnu Majah, (I/29, no. 76). (Dan lafazhnya adalah dari riwayat Muslim,-ed.)]

d. Pada saat Lailatul Qadar/ At-Taqdiirus Sanawi (Takdir yang berlaku tahunan)Hal itu ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala:

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” [Ad-Dukhaan: 4]

Dan dalam firman-Nya:

“Pada malam itu turun para Malaikat dan juga Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” [Al-Qadr: 4-5]

Disebutkan, bahwa pada malam tersebut ditulis apa yang akan terjadi dalam setahun (ke depan,-ed.) mengenai kematian, kehidupan, kemuliaan dan kehinaan, juga rizki dan hujan, hingga (mengenai siapakah) orang-orang yang (akan) berhaji. Dikatakan (pada takdir itu), fulan akan berhaji dan fulan akan berhaji.

Penjelasan ini diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, demikian juga al-Hasan serta Sa’id bin Jubair.

[Lihat, Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, (VII/338), Tafsiir al-Qur-aanil ‘Azhiim, Ibnu Katsir, (IV/140), dan Fat-hul Qadiir, asy-Syaukani, (IV/572).]

e. Pentakdiran harian/ At-Taqdiirul Yaumi (Takdir yang berlaku harian)
Dalilnya ialah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

“Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” [Ar-Rahmaan: 29]

Disebutkan mengenai tafsir ayat tersebut: Kesibukan-Nya ialah memuliakan dan menghinakan, meninggikan dan merendahkan (derajat), memberi dan menghalangi, menjadikan kaya dan fakir, membuat tertawa dan menangis, mematikan dan menghidupkan, dan seterusnya.

[Lihat, Zaadul Masiir, (VIII/114), Tafsiir al-Qur-aanil Azhiim, Ibnu Katsir, (IV/275), dan Fat-hul Qadiir, (V/136).]

[4] firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan Rabb-mu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya… .” [Al-Qashash: 68]

Firman Allah yang lain:

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” [At-Takwiir: 29]

Dan firman Allah:

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi,’ kecuali (dengan menyebut), ‘Insya Allah… .’” [Al-Kahfi: 23-24]

Juga firman-Nya:

“Kalau sekiranya Kami turunkan Malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu kehadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki… .” [Al-An’aam: 111]

Serta firman-Nya:

“…Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya) niscaya disesatkan-Nya, dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk mendapat petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.” [Al-An’aam: 39]

“…Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka saling mem-bunuh. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” [Al-Baqarah: 253]

“…Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk … .” [Al-An’aam: 35]

Firman Allah yang lain:

“Dan kalau Allah menghendaki niscaya mereka tidak memper-sekutukan(-Nya)… .” [Al-An’aam: 107]

Juga firman-Nya:

“Dan jikalau Rabb-mu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya… .” [Yunus: 99] [3]

[5] Dalil-dalil mengenai tingkatan ini nyaris tidak terbilang, di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

“Allah Yang menciptakan segala sesuatu… .” [Az-Zumar: 62]

Firman Allah yang lain:

“Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang … .” [Al-An’aam: 1]

Dan firman-Nya:

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia mengujimu, siapa-kah di antaramu yang terbaik amalnya… .” [Al-Mulk: 2]

Serta firman Allah:

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari yang satu, dan daripadanya Allah mencip-takan isterinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak… .” [An-Nisaa’: 1]

Juga firman Allah:

“Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” [Al-Anbiyaa’: 33]

Dan firman-Nya:

“…Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepadamu dari langit dan dari bumi… .” [Faathir: 3]

[6] “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” [At-Takwiir: 29]

[7] Maka keliru orang yang mengatakan:

“Kalau memang sudah ditakdirkan, untuk apa kita beramal?”

“Saya berbuat dosa ini karena ditakdirkan oleh Allah.” Kemudian dia tetap melakukan dosa tersebut dan tidak menghentikannya.

[8] Maka keliru orang yang mengatakan, “Semua kehendak Allah harus bersifat baik.”

[9] Mu’tazilah mengatakan, “Akal adalah sumber hukum mutlak.”

Jabriyah mengatakan, “Apa yang disyariatkan baik itu baik di sisi kami, dan apa yang dikatakan syariat jelek, itu jelek menurut kami.” Mereka menghendaki dengan ucapan tersebut bahwa akal tidak berperan sama sekali dalam hal ini.

Sedangkan Ahlis Sunnah mengatakan, “Akal adalah  anugerah dari Allah, dan akal mampu memahami al-Qur’an dan as-Sunnah, tapi tidak dipakai untuk menghukumi al-Qur’an dan as-Sunnah bila betentangan dengan akal.

[10] laa yus-alu amma yaf’al, wa hum yus-aluun. (Dia tidak ditanya ttg perbuatanNya, tapi mereka manusia yang bakalan ditanya) Q.S. Al Anbiyaa: 23

 

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: