Beranda > FAIDAH ILMIYYAH > Benarkah Istiwa` Diterjemah bersemayam?

Benarkah Istiwa` Diterjemah bersemayam?

Disebutkan dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia):
se•ma•yam, ber•se•ma•yam v 1 hor duduk: baginda pundi atas singgasana dikelilingi oleh para menteri dan hulubalang; 2 hor berkediaman; tinggal: Sultan Iskandar Muda pernah – di Kotaraja; 3 ki tersimpan; terpatri (di hati): sudah lama cita-cita itu – di hatinya; keyakinan yg – di hati;
me•nye•ma•yam•kan v 1 mendudukkan (di atas takhta, singgasana); 2 membaringkan; menginapkan (jenazah): pihak keluarga akan membawa jenazah almarhum setelah -nya di rumah duka;
per•se•ma•yam•an n 1 tempat duduk; 2 tempat kediaman.

[sumber: http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php%5D

Dari sini kita bisa melihat bahwa arti semayam dalam bahasa Indonesia meliputi: Duduk, berdiam, berbaring. Sementara istiwa maknanya tinggi dan berada diatas, dan ini ini adalah ijma’ para ulama bahasa sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Taimiah rahimahullah dan selainnya.

Telah dimaklumi dalam kaidah-kaidah tauhid asma` wa ash-shifat bahwa semua sifat yang tidak ditetapkan dan tidak juga ditolak oleh Allah Ta’ala dari diri-Nya dan tidak pula Ar-Rasul -alaihishshalatu wassalam- dari Allah, maka kita juga tidak boleh menetapkan dan tidak boleh juga menolaknya. Kecuali jika sifat itu mengandung kekurangan bagi Allah maka wajib untuk ditolak dari-Nya.

Maka sifat duduk dan berdiam merupakan sifat yang tidak pernah Allah tetapkan untuk diri-Nya dan tidak pula menolaknya dari diri-Nya, baik dalam Al-Qur`an maupun dalam As-Sunnah, karenanya kita tidak boleh menetapkan kedua sifat ini untuk-Nya dan tidak pula menolaknya dari-Nya. Sementara sifat baring -wallahu a’lam- zhahirnya mengharuskan sifat kurang bagi Allah karenanya harus ditolak dari Allah.

Kesimpulannya:

Menerjemahkan istiwa bermakna bersemayam adalah kurang tepat bahkan salah, karena mengharuskan kita menetapkan sifat yang Allah tidak tetapkan bagi dirinya dan itu bentuk berkata atas nama Allah tanpa ilmu, wallahu a’lam bishshawab.

Sumber:

http://al-atsariyyah.com/benarkah-istiwa-berarti-bersemayam.html

Kategori:FAIDAH ILMIYYAH
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: