Beranda > Biografi Teladan > Sa’ad bin Abi Waqqash, Sang Pemanah Penjaga Rosululloh Shallallaahu Alaihi wa Sallam

Sa’ad bin Abi Waqqash, Sang Pemanah Penjaga Rosululloh Shallallaahu Alaihi wa Sallam

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Siapa yang menembakkan panah sampai ke sasaran dalam jihad di jalan Alloh, maka ia memperoleh satu derajat di surga.” (HR. Abu Daud (Al ‘Itq, no. 3965) dan An Nasa’i (Al-Jihad, no. 3143)).

Tak banyak yang mengenal sosok Sa’ad bin Abi Waqqash rodhiyallohu ‘anhu padahal beliau adalah satu diantara 10 orang Sahabat yang dijanjikan surga. Sosok ini dikenal sebagai seorang pemanah dalam berbagai peperangan dan penjaga Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam sampai suatu ketika Beliau Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam mendo’akannya. Seorang sahabat yang do’anya senantiasa dikabulkan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.

Mengenal Sosok Sa’ad bin Abi Waqqash

Sa’ad bin Abi Waqqash termasuk salah seorang dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surgadan termasuk kelompok As-Sabiquna Al Awwalun atau sahabat yang pertama-tama masuk Islam. . Beliau adalah pejuang dalam perang Badar dan Hudaibiyah. Beliau masuk Islam pada usia 17 tahun.

Diriwayatkan dari Sa’id bin Al Musayyib, ia berkata, Aku mendengar Sa’ad berkata,

“Ketika aku masuk Islam, aku telah tinggal selama tujuh malam dan menjadi orang Islam yang ketiga.”

Ketika masuk Islam, beliau sempat ditentang oleh ibunya. Diriwayatkan dari Abu Utsman, bahwa Sa’ad berkata,

“Ayat ini diturunkan berkaitan dengan diriku,

وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ

“Jika dia memerangi kamu agar kamu menyekutukan-Ku dengan sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu, maka janganlah kamu menaatinya.” (QS. Al ‘Ankabuut: 8)

Aku tidak bertanggung jawab kepada Ibuku. Ketika aku masuk Islam, Ibuku berkata, ‘Wahai Sa’ad, agama apa yang kamu peluk ini? Kamu tinggalkan agamamu itu atau aku tidak makan dan minum hingga mati, sehingga kamu dikatakan sebagai pembunuh ibumu sendiri.’ Aku menjawab, ‘Wahai ibuku, perlu engkau ketahui, demi Alloh, seandainya engkau mempunyai seratus nyawa, lalu keluar satu per satu, tetap saja aku tidak akan meninggalkan Islam. Silakan makan atau tidak.’ Mendengar pernyataan seperti itu, dia akhirnya makan.”

Penjaga Rosululloh

Sa’ad bin Abi Waqqash adalah sosok sahabat penjaga Rosululloh. ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha pernah bercerita, “Pada suatu malam Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam tidak bisa tidur kemudian beliau berkata,

“Seandainya ada orang sholih dari kalangan sahabatku yang mau menjaga aku malam ini.”

‘Aisyah berkata, “Setelah itu kami mendengar seseorang mendekat dengan bunyi senjatanya.”

Rosululloh bertanya, “Siapa ini?”

Orang itu menjawab, “Sa’ad bin Abi Waqqash.”

Rosululloh bertanya lagi, “Kenapa engkau datang kemari?”

Sa’ad berkata, “Terbetik pada hatiku rasa khawatir terhadapmu wahai Rosululloh, maka aku datang untuk menjagamu.”

Setelah itu Rosululloh tertidur hingga aku mendengar dengkuran beliau Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam.”

Do’a Seorang Sa’ad yang Senantiasa Dikabulkan

Diriwayatkan dari Qais, bahwa Sa’ad menceritakan kepadaku bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda,

“Ya Alloh, kabulkanlah Sa’ad jika dia berdo’a.”

Manakala beliau didoakan seperti itu oleh Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam, maka setiap do’anya senantiasa dikabulkan oleh Alloh. Diriwayatkan dari Jabir bin Samurah, dia berkata,

“Suatu ketika penduduk Makkah mengadukan Sa’ad kepada Umar, mereka mengatakan bahwa sholatnya tidak baik. Sa’ad kemudian membantah, ‘Aku mengerjakan sholat sesuai dengan sholatnya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam. Sholatku pada waktu isya, aku lakukan dengan lama pada dua rakaat pertama sedangkan pada dua rakaat terakhir aku lakukan dengan ringkas.’ Mendengar itu Umar berkata, “Berarti itu hanya prasangka terhadapmu wahai Abu Ishaq.’ Dia kemudian mengutus beberapa orang untuk bertanya tentang dirinya di Kufah, ternyata ketika mereka mendatangi masjid-masjid di Kuffah, mereka mendapat informasi yang baik, hingga ketika mereka datang ke masjid Bani Isa, seorang pria bernama Abu Sa’dah berkata, ‘Demi Alloh, dia tidak adil dalam menetapkan hukum, tidak membagi secara adil dan tidak berjalan (untuk melakukan pemeriksaan) di waktu malam. Setelah itu Sa’ad berkata, ‘Ya Alloh, jika dia bohong maka butakanlah matanya, panjangkanlah usianya dan timpakanlah fitnah kepadanya.’”

Abdul Malik berkata,

“Pada saat itu aku melihat Abu Sa’dah menderita penyakit tuli dan jika ditanya bagaimana keadaanmu, dia menjawab, ‘Orang tua yang terkena fitnah, aku terkutuk oleh do’a Sa’ad.”

(HR. Muttafaq ‘Alaihi)

Diriwayatkan dari Ibnu Al Musayyib, bahwa suatu ketika seorang pria mencela Ali, Thalhah dan Zubair. Mendengar itu, Sa’ad menegurnya,

“Janganlah kamu mencela sahabat-sahabatku.’ Tetapi pria itu tidak mau menerima. Setelah itu Sa’ad berdiri, lalu mengerjakan sholat dua rakaat dan berdo’a. Tiba-tiba seekor unta bukhti (peranakan unta Arab dan Dakhil) muncul menyeruduk pria tersebut hingga jatuh tersungkur di atas tanah, lantas meletakkannya di antara dada dan lantai hingga akhirnya ia terbunuh. Aku melihat orang-orang mengikuti Sa’ad dan berkata, ‘Selamat kamu wahai Abu Ishaq, do’amu terkabulkan.’”

Pemanah Ulung

Beliau adalah sahabat yang pertama kali melepaskan anak panah di jalan Alloh. Bidikannya begitu tepat. Beliau terkenal sebagai pemanah yang ulung. Jika beliau memanah akan mengenai sasarannya dengan izin Alloh. Sa’ad bin Abi Waqqash sangat cinta kepada Rosululloh.

Sa’ad bin Abi Waqqash selalu mengikuti peperangan bersama Rosululloh. Pada waktu perang Uhud, Rosululloh berkata kepada Sa’ad, “Wahai Sa’ad, lepaskanlah anak panah, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu!”

Diriwayatkan dari Amir bin Sa’ad, dari ayahnya, bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersumpah demi kedua orang tuanya, Amir berkata,

“Seorang pria musyrik telah membakar kaum muslimin, maka Rosululloh bersabda, ‘Lepaskanlah anak panah, demi ayah dan ibuku. Aku pun mengambil anak panahyang tidak ada runcingannya hingga mengenai keningnya. Pria itu kemudian terjatuh dengan aurat tersingkap, lalu Rosululloh tertawa hingga gigi serinya terlihat.”

Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu berkata,

“Rosululloh tidak pernah menggandengkan penyebutan ibu dan ayahnya untuk seorang pun selain kepada Sa’ad bin Abi Waqqash.”

Sa’ad bin Abi Waqqash meninggal dunia di Aqiq ketika sedang berada di dalam istananya, tujuh mil dari Madinah, pada tahun 55 Hijriyah. Beliau dikuburkan di perkuburan Baqi’.

[Dipastekan dari artikel berjudul Kisah Sahabat: Sa’ad bin Abi Waqqash, Sang Pemanah Penjaga Rosululloh yang diterbitkan oleh Admin Halaman Biografi Ulama -jazaahumullah khairan-

http://www.facebook.com/note.php?note_id=460083480601&id=246817595834&ref=ss ]

_________
Referensi:
* Abu Umar Ibrahim dan Abu Muhammad Miftah. 2007. Kisah 20 Sahabat Peraih Janji Surga. Penerbit Hikmah Anak Sholih – Yogyakarta.
* Imam Adz Dzahabi. 2008. Ringkasan Siyar A’lam An Nubala. Pustaka Azzam – Jakarta.
* Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah. 2005. Konsep Jihad Menurut Ulama Salaf. Pustaka At Tibyan – Solo.

Kategori:Biografi Teladan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: