Beranda > Artikel Mutiara Sunnah, Bedah Kitab, Koreksi dan Bantahan > Abu Hurairah -Radhiallahu’anhu- Teraniaya (bag-1)

Abu Hurairah -Radhiallahu’anhu- Teraniaya (bag-1)

Mencela dan melecehkan para sahabat dengan penghinaan dan tuduhan ngawur merupakan cara-cara pengikut iblis dan musuh-musuh Islam. Mereka, sebenarnya bertujuan mencela dan merendahkan para saksi kebenaran Islam, dan hendak mencela Rasulullah. Yaitu dengan menyatakan, bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam memiliki sahabat-sahabat yang jelek dan tidak memilih sahabat yang baik saja. Dengan cara ini, mereka ingin menghancurkan dan memadamkna cahaya Islam. Akan tetapi, mereka mereka tidak akan mampu. Allah tidak ingin cahaya agama-Nya padam, bahkan Allah menyempurnakan cahaya agama-Nya, meskipun kaum kafir pengikut iblis tidak suka dan marah.

Mereka hendak memadamkan sunnah Rasulullah dengan slogan-slogan yang seakan rahmat dan ilmiyah, namun hakikatnya menyimpan dendam, penipuan besar dan pander. Misalnya dengan mengusung istilah “studi kritis hadits”, “studi ilmiyah dan kebebasan berpendapat”. Ini semua hanyalah tipuan belaka dan fatamorgana. Tujuannya satu, yaitu menghancurkan Islam dengan segala cara. Oleh sebab itu, wahai kaum muslimin. Berhati-hatilah terhadap racun yang ditebarkan di mana-mana untuk merusak aqidah dan syariat kita.

Di antara sahabat yang menjadi sasaran mereka adalah perawi yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dialah Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Dalam makalah singkat ini, kami berusaha mengungkap beberapa tuduhan yang dilontarkan musuh Islam kepada Abu Hurairah, yang merupakan tokoh besar dalam periwayatan hadits-hadits Nabi s. kami berusaha membantah dan membedahnya dengan tetap memohon kemudahan dan petunjuk Allah.

Berikut beberapa tuduhan dan kecaman para musuh Islam yang dilontarkan secara dzalim atas diri Abu Hurairah.[i]

Mereka[ii] menyatakan: Berbeda dengan para sahabat lain, para ahli sejarah tidak dapat memastikan nama sebenarnya dari Abu Hurairah, namanya dizaman jahiliyah maupun dizaman Islam. Begitu pula asal usulnya.[iii].

-Juga menyatakan :

Abu Hurairah bukan sahabat besar, bukan dari kaum muhajirin bukan Anshor, bukan penyair Rasul, bukan keluarga Rasul, malah asal-usulnya, orang tuanya, bahkan nama aslinya pun tidak diketahui orang.[iv]

Tanggapan:

Memang Abu Hurairah Radhiallahu’anhu terkenal dengan kun-yah (julukannya) melebihi namanya. Namun pernyataan diatas tidak benar seluruhnya dan tidak dapat dijadikan alasan untuk melecehkan Abu Hurairah. Adapun sejarah Abu Hurairah Radhiallahu’anhu pada masa jahiliyah memang tidak dikenal, namun, demikian itu satu kewajaran, karena bangsa Arab -seluruhnya- tenggelam dalam ke-jahiliyah-an dan terkungkung di wilayah jazirahnya saja. Mereka tidak peduli dengan keadaan dunia. Begitu juga dunia tidak peduli dengan keadaan dan kondisi mereka, kecuali yang berhubungan dengan perniagaan, karena melintasi wilayah mereka.

Baru, ketika Islam datang, Allah memuliakan dan menjadikan mereka sebagai pengemban risalahNya, jadilah setiap individu dari mereka memiliki sejarah yang ditulis menjadi bahan pembicaraan. Dan para perawi, selalu memperhatikan berita mereka, serta mereka memiliki murid yang mengambil ilmu dan petunjuk dari mereka.

Para ahli sejarah sudah memahami, bahwa terkenalnya seseorang dengan gelar atau julukan merupakan perkara biasa dan wajar. Bahkan, terkadang seseorang berselisih dalam hal nama dan kun-yah (julukan)nya, sebagaimana terjadi atas khalifah pertama, beliau dikenal dengan gelarnya Abu Bakar. Begitu juga dengan Abu Ubaidah, Abu Dujanah dan Abu Darda’. Mereka merupakan tokoh besar dan pahlawan dari kalangan sahabat. Namun lebih dikenal dengan gelar-gelar mereka, hingga sebagian besar manusia tidak mengetahui nama mereka yang sebenarnya. Belum pernah kita dengar pada kurun waktu tertentu, bahwa kedudukan dan keturunan dapat menentukan penghargaan intelektualitas.[v] Karenanya, celaan dan pelecehan terhadap julukan Abu Hurairah dan ketenaran beliau dengannya melebihi namanya adalah tidak benar. Apalagi para ulama Islam telah me-rajih-kan nama beliau di zaman Jahiliyah adalah Abdus Syamsi dan setelah masuk Islam adalah Abdurrahman. Kemudian tuduhan beliau tidak jelas asal usulnya juga satu kebodohan dari para penuduh ini karena asal-usul dan nasab Abu Hurairah cukup terhormat.[vi]

Apakah ihwal Abu Hurairah Radhiallahu’anhu dalam hal ini berbeda dengan ihwal sahabat-sahabat Nabi sallallaahu ‘alaihi wa sallam lainnya? Lalu, mengapa ketiak-jelasan sejarah kehidupan Abu Hurairah Radhiallahu’anhu pada masa jahiliyah merusak kedudukan dan menghancurkan posisi beliau dalam Islam? Apakah ada dalam Kitabullah, bahwa orang yang tidak dikenal sejarahnya sebelum Islam harus direndahkan dan dilecehkan posisi dan kedudukannya serta meragukan terhadap semua riwayatnya dari hadits-hadits Rasul? Maha Suci Allah, sesungguhnya ini merupakan tuduhan dan tipu daya yang besar.[vii]

-Mereka menyatakan:

Abu Hurairah ada di Madinah hanya 1 tahun 9 bulan di Shuffah. Abu Hurairah datang kepada Rasulullah pada bulan Safar tahun 7 Hijriyah, setelah perang Khaibar dan tinggal di emperan masjid Madinah (Shuffah) sampai bulan Zulqaidah tahun 8 Hijriyah, karena pada bulan itu ia disuruh Rasul ke Bahrain menemani Al Ala’ Al Hadhrami sebagai Muadzdzin.[viii]

Tanggapan:

Pernyataan ini tidak benar, sebab Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bersahabat dengan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sekitar 4 tahun lebih[ix]. Sebagaimana ditegaskan oleh Humaid bin Abdurrahman Al Himyari dalam pernyataannya,

[Laqiitu rojulan shohiban nabiyyi shallallaahu ‘alaihi wa sallama arba’a siniina kamaa shohibahu abuu huroirota, ed-]

“Aku berteman dan berjumpa dengan orang-orang yang bersahabat dengan Nabi sebagaimana persahabatan Abu Hurairah dengan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam selama empat tahun.”. [x]

Sedang kepergiannya menemani Al ‘Alaa’  Al Hadhrami tidak menunjukkan beliau menetap di sana sampai Rasulullah meninggal, apalagi adanya riwayat yang menyatakan beliau ber-mulazamah dengan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam selama empat tahun di atas. Demikian juga pendapat yang didukung riwayat otentik menunjukkan beliau ikut serta perang Khaibar walaupun tidak seluruhnya[xi] dan mengikuti haji bersama Abu Bakar Ash Shidiq Radhiallahu’anhu tahun 9 H.

-Mereka menyatakan :

Ia sendiri menceritakan bahwa ia mendatangi Rasul bukan karena ia mendapat hidayah atau karena kecintaannya kepada Nabi –Shallallahu’alaihi Wasallam- seperti yang lain, tapi untuk mendapatkan makanan.

Dalam riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim, Abu Hurairah berkata: “Aku adalah seorang miskin, aku bersahabat dengan Rasul Allah untuk mengisi perutku.” Dan dalam riwayat lain: “Untuk memenuhi perutku yang lapar.” Dalam riwayat Muslim: “Aku melayani Rasul Alllah untuk mengisi perutku.” Atau Aku menetap dengan Rasul Allah untuk mengisi perutku”[xii]

kemudian mereka menyatakan lagi :

Ia juga punya hobi makan, karena kesukaannya yang berlebihan akan makanan, maka sering juga disebut sebagai pembawa ‘hadist lesung’ (lesung –al-mihras– , alat untuk menumbuk dan mengulek makanan. Lihat, “Hadits Lalat” dan “Hadits Pundi-pundi”)[xiii]

Tanggapan:

Riwayat-riwayat yang dipakai mereka sebagai dasar tuduhan mereka terhadap Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, bahwa beliau melakukan aktivitas mendengar hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam hanya untuk mencari sesuap nasi yang mengenyangkan perutnya dalam kata lain melakukannya hanya karena sedikit dunia yang rendah, memang diriwayatkan secara shahih dengan lafadz:

“Sesungguhnya Abu Hurairah berkata: ‘Kalian akan menyatakan, bahwa Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadits. Dan Allahlah tempat (untuk membuktikan) janji. Juga mengatakan ‘Mengapa orang-orang Al Muhajirin dan Anshar tidak banyak meriwayatkan hadits, seperti periwayatan Abu Hurairah?’ Sungguh, saudara- saudaraku dari Muhajirin disibukkan dengan jual-beli di pasar. Sedangkan saudara- saudaraku dari Anshar disibukkan oleh pengelolaan harta mereka. Adapun aku seorang miskin yang selalu mengikuti Rasulullah selama perutku berisi. Aku hadir saat mereka tidak hadir, dan aku ingat dan paham saat mereka lupa.”[xiv]

Pernyataan Beliau Radhiallahu’anhu di lafadz pertama “Allah-lah tempat (membuktikan) janji” maksudnya adalah, bahwa Allah akan menghisabku jika aku sengaja berdusta, (dan) sekaligus akan menghisab orang-orang yang menuduhku dengan tuduhan yang keji.[xv] Adapun pernyataan beliau Radhiallahu’anhu : selama  perutku berisi, yakni merasa telah puas dengan sesuap makanan, sehingga beliau tidak pernah tidak hadir di sisi Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam[xvi].

Dengan demikian, tuduhan atas beliau Radhiallahu’anhu sangat dipaksakan sekali dan tidak ilmiah. Hal itu karena Abu Hurairah Radhiallahu’anhu tidak sekedar menceritakan persahabatannya yang sama-sama dimiliki sahabat lainnya semata. Namun, dalam pernyatannya tersebut, beliau Radhiallahu’anhu juga ingin menceritakan keistimewaan (yang dimilikinya). Keistimewaan tersebut adalah kebersamaan Beliau bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang tidak dimiliki oleh yang lainnya.

Keistimewaan tersebut beliau jelaskan dengan caranya (yang)  tawadhu’, dengan menyatakan: “Selama perutku berisi“, lalu menyebutkan keistimewaan para sahabat lainnya, sebagai orang-orang yang mampu dan kuat mencari penghidupan. Hal ini, demi Allah, merupakan kesantunan yang luar biasa.[xvii]

Tuduhan Abu Hurairah Radhiallahu’anhu banyak makan dan bersemangat mendapatkan makanan serta bersahabat dengan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam hanya karena makanan, bukan karena hidayah Islam atau kecintaan pada beliau merupakan tuduhan keji yang hanya dilontarkan orang yang hasad atau orang yang memiliki kerusakan syaraf. Jika tidak, bagaimana mungkin seorang yang berakal dapat membenarkan pemahaman, bahwa Abu Hurairah Radhiallahu’anhu sanggup meninggalkan negerinya, kabilah dan tanah airnya demi menjumpai Rasul Shallallahu’alaihi Wasallam hanya (sekadar) untuk makan dan minum semata?

Apakah Abu Hurairah Radhiallahu’anhu di kabilahnya tidak mendapatkan makan dan minum? Lalu untuk apa Abu Hurairah Radhiallahu’anhu datang ke Madinah? Apakah di negerinya ia tidak bisa mendapat makanan dan minuman sebagaimana yang diperoleh para petani dan pedagang di sana? Tuduhan ini betul-betul pelecehan terhadap sahabat yang mulia ini. Dan para penuduh lebih layak dilecehkan dan diragukan keikhlasannya dibandingkan beliau. Radhiallahu’anhu. Hingga sampai sejauh inikah kebutaan hati dan kedengkian mereka?

Kemudian dalam pernyataan mereka ini terdapat penyimpangan makna, karena dalam riwayat tersebut bukan dengan lafadz Shuhbah (bersahabat), namun yang benar, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dengan lafadz ‘Alzamu‘ (selalu menemani dan mengikuti).

Demikian juga Imam Muslim meriwayatkannya dengan lafadz: “Aku adalah seorang miskin yang melayani Rasul selama perutku berisi”. Hal ini menunjukkan penyimpangan yang jelas dari pernyataan beliau Radhiallahu’anhu, sebab kata “persahabatan” (shuhbah) tidak sama dengan kta “mulazamah” dan “al khidmah” (melayani dan membantu). Sehingga pernyataan beliau Radhiallahu’anhu ini untuk menjelaskan sebab banyaknya periwayatan beliau terhadap hadits-hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam seperti telah jelas dari alur pernyataannya.

Demikian juga para penuduh ini disamping telah melakukan tahrif (penyimpangan) di atas juga memotong pernyataan beliau Radhiallahu’anhu yang merubah konotasi maknanya, sehingga terfahami bahwa pendorong utama persahabatan beliau adalah mencari sesuap makanan. Padahal semua itu, beliau katakan untuk menjelaskan sebab pendorong menjadi sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits.

Demikianlah, tahrif (menyimpangkan sesuatu dari lafadz atau makna sebenarnya) sudah menjadi adat kebiasaan orang yang menyimpang dari jalan yang lurus dan penyembah hawa nafsu.

Darimana mereka mengklaim diri mereka mampu mengungkapkan secara benar dan jelas sebab persahabatan Abu Hurairah Radhiallahu’anhu dengan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam? Apakah mereka lebih tahu dari Rasulullah yang telah memberikan pengakuan dan pujiannya kepada Abu Hurairah?[xviii]

Mereka tidak cukup hanya dengan itu, bahkan menyatakan, bahwa makna lafadz (‘alaa, ed-) pada perkataan Abu Hurairah Radhiallahu’anhu (‘alaa mil-I bathnii) bermakna untuk yang menunjukkan sebab. Ini juga merupakan kedustaan dan penipuan lain, sekaligus sebagai bukti mereka selalu mencari jalan untuk menjatuhkan pribadi Abu Hurairah Radhiallahu’anhu.

Pernyataan Abu Hurairah ini telah difahami dengan benar oleh para ulama Islam, seperti pernyataan Imam Nawawi ketika menjelaskan perkataan Abu Hurairah Radhiallahu’anhu (ala mil’i bathni): “Maknanya aku senantiasa mulazamah dengan Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam. Aku rela dengan makananku. Aku tidak mengumpulkan harta untuk simpanan dan tidak untuk yang lainnya. Dan akupun tidak berusaha menambah porsi makanan bagiku. sedangkan maksud pernyataan beliau ‘melayani‘, bukan sebagai upaya untuk memperoleh gaji atau upah.[xix] Sungguh sangat jelas kebatilan tuduhan ini.

Mereka berkata:

Ia mendatangi para sahabat seperti ‘Umar dan Abu Bakar dengan berpura-pura meminta dibacakan sebuah ayat Al Qur’an, menurut pengakuannya sendiri, padahal ia ingin agar ditawari makanan, tetapi tiada seorang sahabatpun menawarkan makanan kepadanya, kecuali Ja’far bin Abi Thalib, yang langsung mengajak Abu Hurairah ke rumahnya.

Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah: Demi Allah, tiada lain kecuali Dia, aku sering menekan perutku ke bumi karena lapar, dan pada suatu hari, karena lapar, aku menekan perutku dengan batu sambil duduk di jalan tempat mereka keluar dari masjid. Aku bertemu Abu Bakar dan aku bertanya kepadanya tentang ayat kitab Allah, dan aku tidak menanyainya kecuali (dengan maksud) agar dia memberi aku makan; tapi ia berlalu dan tidak melakukannya. Dan ‘Umar bertemu denganku dan aku bertanya mengenai ayat kitab Allah, aku tidak bertanya (kepadanya) kecuali agar ia mengajak aku makan, dan ia tidak melakukannya.

Bukhari: “Aku bila bertanya mengenai sebuah ayat (al Qur’an) kepada Ja’far (bin Abu Tholib) maka dia tidak akan menjawab kecuali setelah ia mengajakku kerumahnya”. Di bagian lain: “Aku meminta kepada Ja’far bin Abi Thalib untuk membacakan kepadaku ayat (Al Qur’an) yaitu artinya, agar dia memberi aku makan, dan dia (Ja’far bin Abu Tholib) adalah orang yang paling baik terhadap orang miskin. Ia mengajak kami ke rumahnya dan memberi kami makan seadanya”.[xx]

Tanggapan:

Kisah ini dibawakan imam Al Bukhari yang lengkapnya berbunyi:

“Demi Allah. Tidak ada sesembahan yang benar, kecuali Dia. Sungguh aku tempelkan perutku ke tanah karena lapar dan aku ganjal perutku dengan batu menahan lapar. Sungguh pada suatu hari aku duduk di jalan yang biasa mereka pakai pulang dari (bertemu) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam Lalu Abu Bakar melintasi jalan itu. Aku pun bertanya kepadanya tentang satu ayat Al Qur’an. Dan tidaklah aku menanyakannya, kecuali agar Abu Bakar menjamuku. Beliau pun melewatiku dan tidak berbuat apa-apa. Lalu melintas di jalan itu, Umar bin Al Khaththab. Aku pun bertanya kepadanya satu ayat Qur’an. Dan tidaklah kutanyakan hal itu, kecuali agar beliau menjamuku. Namun beliau pun melintas dan tidak berbuat apa-apa. Kemudian setelah itu Abul Qasim Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam melintas di jalan itu seraya tersenyum ketika memandangku. Beliau mengetahui yang sedang bergejolak dalam hatiku dan yang tersirat dari wajahku. Kemudian Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam memanggilku,”Wahai, Abu Hirr,” aku pun menjawabnya,”Aku penuhi panggilanmu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda,”Ikuti aku.” Beliau beranjak meninggalkanku dan aku pun mengiringi di belakang Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau masuk rumah dan aku pun meminta izin dan diizinkan. Ketika Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam memasuki rumah, beliau mendapati susu dalam gelas besar (bejana). Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bertanya, “Darimana susu ini?” Mereka (isteri-isteri Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam) Radhiallahu’anhunna menjawab,”Hadiah dari fulan atau fulanah untuk engkau.” Beliaupun memanggilku,”Wahai, Abu Hirr.” Aku pun menjawabnya,”Kupenuhi panggilanmu, wahai Rasul.” Beliau bersabda,”Temuilah Ahlush Shuffah dan undanglah mereka kesini.” Kata Abu Hurairah, Ahlush Shuffah adalah tamu Islam. Mereka tidak bersandar kepada keluarga tertentu. Tidak memiliki harta dan famili seorang pun juga. Jika datang kepada Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam shadaqah, Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam kirimkan makanan tersebut kepada mereka dan sama sekali tidak ikut mencicipi makanan tersebut. Jika datang kepada Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam berupa hadiah (untuknya), maka Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam pun mengirimkannya kepada Ahlush Shuffah dan ikut bersama menikmatinya. Hal itu kurang berkenan bagiku, maka aku berkata (dalam hati),”Apakah susu ini cukup untuk Ahlush Suffah?!

Menurutku, akulah yang berhak pertama kali meminum susu agar aku menjadi kuat dengannya. Maka ketika Beliau datang, Beliau memerintahku untuk membagikannya kepada mereka. Padahal, mungkin susu itu tidak akan sampai kepadaku. Namun, mentaati Allah dan RasulNya merupakan keharusan, maka akupun mendatangi dan mengundang mereka. Lalu mereka datang dan mohon izin masuk. Kemudian Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam pun mengizinkannya. Lalu mereka mengambil posisi masing-masing di tempat yang ada di rumah Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau memanggilku,”Wahai, Abu Hirr.” Aku pun menjawabnya, “Kupenuhi panggilanmu, wahai Rasul ….” Beliau bersabda lagi, “Ambil dan bagikan kepada mereka.” Aku pun mengambil gelas dan memberikannya kepada salah seorang (diantara mereka); ia meminumnya hingga puas dan kenyang, lalu ia kembalikan gelas itu dan aku berikan kepada orang lain; lalu meminumnya sampai puas dan kenyang. Begitu seterusnya hingga berakhir kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam keadaan seluruh Ahlush Shufah kenyang. Lalu Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam mengambil gelas tadi dan meletakkannya di atas tangan Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam seraya memandangku sambil tersenyum dan bersabda, “Wahai, Abu Hirr. Duduk dan minumlah.” Akupun duduk dan meminumnya. Lalu Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda lagi, “Minumlah,” lalu aku minum. Beliau terus memerintahku minum, sehingga aku berkata,”Cukup. Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, tidak lagi aku dapati tempat untuk minuman dalam tubuhku. Beliau bersabda,”Berikanlah kepadaku,” aku pun menyerahkan gelas tadi, kemudian Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam memuji Allah dan meminum susu yang tersisa“.[xxi]

Mereka berdalih dengan kisah ini untuk menguatkan pernyataan mereka terdahulu dalam mencela Abu Hurairah sebagai orang yang beramal untuk sesuap makanan, namun apakah karena kejadian tersebut, lalu kita tolak seluruh hadits beliau? Apalagi sampai menghina beliau sebagai orang yang punya hobi makan dan disebut sebagai pembawa hadits lesung?!.

Orang yang meneliti kehidupan para sahabat akan mendapatkan bahwa dalam hal ini beliau Radhiallahu’anhu tidak sendirian. Ada diantara sahabat yang berbuat hal yang serupa, diantaranya Watsilah bin Al Asqaa’ sebagaimana diriwayatkan Al Hakim dengan lafadz:

“Kami bertempat tinggal selama tiga hari. Setiap orang yang menuju masjid mengajak dua dan tiga orang sesuai dengan kemampuannya, dan memberi mereka makan”. Beliau berkata lagi,”Aku termasuk yang tidak dibawa selama tiga hari tiga malam. Tiba-tiba aku melihat Abu Bakar di kegelapan malam. Aku pun mendatanginya dan memintanya untuk membacakan surat Saba’ hingga sampai di rumahnya. Aku berharap ia mengundangku makan malam. Lalu beliaupun membacakannya kepadaku hingga depan pintu rumah (beliau) kemudian berhenti  di depan pintu sampai selesai membacakan seluruhnya. Kemudian ia masuk dan meninggalkanku di luar. Kemudian aku menemui Umar. Aku berbuat seperti itu dan beliau (pun) berbuat serupa dengan perbuatan Abu Bakar terdahulu. Keesokan harinya, pagi-pagi aku menemui Rasul Shallallahu’alaihi Wasallam dan menceritakan hal tersebut padanya, dan Beliaupun menjamuku.” [xxii]

Apakah kita menolak seluruh hadits Waatsilah karena peristiwa ini?

Sedangkan kisah beliau dengan Ja’far bin Abu Thalib dibawakan Imam Bukhari dengan lafadz:

Sebaik-baik manusia terhadap orang miskin adalah Ja’far bin Abu Thalib. Dia terus mengunjungi kami dan memberi makan kami apa yang ada di rumahnya, sampai-sampai membawa tempat makanan tanpa berisi makanan. Kami pun memegangnya, lalu menjilati sisa yang ada di tempat makanan tersebut.[xxiii]

Lihatlah perbedaan dan penukilan ngawur yang menjadi cirri khas ahli bid’ah dan musuh Islam!!!

Mereka menyatakan:

Keperibadian Abu Hurairah lemah. Tatkala kembali dari Bahrain, Umar bin Khathab mencurigainya menggelapkan uang baitul mal. ‘Umar menuduhnya sebagai pencuri dan menyebutnya sebagai musuh Allah dan musuh kaum muslimin, dalam riwayat lain, musuh Kitab atau musuh Islam. [xxiv]

Tanggapan:

Pernyataan mereka ini berdasarkan riwayat yang disampaikan Ibnu Sa’ad dengan sanad yang shahih tentang kisah kepulangan Abu Hurairah dari tugasnya sebagai amir (gubernur) Bahrain. Beliau menghadap Umar bin Khathab dengan membawa uang sebanyak 400.000 dari Bahrain. Umar Radhiallahu’anhu bertanya padanya: “Apakah engkau menzhalimi seseorang?” Ia menjawab,“Tidak.” Umar Radhiallahu’anhu bertanya lagi,“Apakah engkau mengambil sesuatu dengan tidak benar?” Ia menjawab,“Tidak.” Umar Radhiallahu’anhu bertanya lagi, “Berapa banyak yang engkau bawa untuk pribadi?” Ia menjawab, “Sebanyak 20.000.” Umar Radhiallahu’anhu bertanya, “Dari mana engkau mendapatkannya?” Ia menjawab, “Aku berdagang.” Umar Radhiallahu’anhu berkata, “Hitunglah modal dan rizkimu (gajimu), maka ambillah. Sedang yang lainnya simpanlah diBaitul Mal.”[xxv]

Dan dalam lafazh Abu Ubaid, (disebutkan) Umar berkata padanya: “Wahai, musuh Allah dan musuh KitabNya. Apakah engkau  mengambil (mencuri) harta?” Ia menjawab, “Aku bukan musuh Allah dan bukan musuh KitabNya. Akan tetapi aku adalah musuh bagi yang menentang keduanya dan aku tidak mencuri harta Allah.” Umar bertanya kembali: “Dari mana berkumpul untukmu uang sejumlah 10.000 dirham?” Ia menjawab, “Kudaku berkembang biak. Pemberian untukku selalu aku dapatkan. Begitu juga sahamku (bagianku dari pembagian rampasan perang), juga berkembang dan bertambah.” Lalu Umar mengambilnya dariku. Abu Hurairah Radhiallahu’anhu berkata, “Ketika kutunaikan shalat Shubuh, aku mintakan ampunan untuk Amirul mukminin.”[xxvi]

Perhatikanlah! Bagaimana para musuh Abu Hurairah Radhiallahu’anhu memanfaatkan perkataan keras Umar Radhiallahu’anhu ini untuk mencaci Abu Hurairah Radhiallahu’anhu dan menuduhnya mencuri dan merampas; padahal permasalahannya tidak demikian. Umar Radhiallahu’anhu melakukan pengambilan sebagian harta tersebut terhadap sejumlah pejabatnya[xxvii] dan tidak mengkhususkan kepada Abu Hurairah dengan perlakuan semacam ini. Sebabnya, ketika Amr bin Ash Sha’iq melihat harta para pejabat semakin bertambah banyak, ia merasa aneh, lalu menulis surat kepada Umar bin Al Khaththab dalam bentuk bait-bait syi’ir.[xxviii] Lalu Umar Radhiallahu’anhu pun mengirim utusan kepada para petugas. Diantara mereka adalah Sa’ad Radhiallahu’anhu, dan Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, lalu ia mengambil harta mereka menjadi setengah bagian.[xxix] Begitu juga ia memutasi Abu Musa Al Asy’ari dari tugas di Bashrah, dan hartanya dibagi menjadi dua bagian. Demikian juga pada Al Haarits bin Wahb.[xxx]

Umar Radhiallahu’anhu tidaklah menuduh Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, dan tidak juga hanya mengambil harta miliknya saja. Bahkan itulah sistem politik Umar Radhiallahu’anhu terhadap para pejabatnya; bukan atas dasar syubhat, namun itu merupakan ijtihad dan kehebatan beliau dalam mengatur perkara-perkara kaum muslimin.[xxxi] Sungguh Umar Radhiallahu’anhu sangat mencintai sahabat, sebagaimana ia mencintai dirinya. Dan beliau sangat tidak suka, bila salah seorang dari mereka mendapatkan harta yang berbau syubhat. Berita perbuatan beliau ini banyak diriwayatkan dalam perjalanan hidupnya.[xxxii]

Khalifah Umar Radhiallahu’anhu khawatir atas mereka. Jangan-jangan orang bermu’amalah dalam perdagangan dan usaha dengan mereka karena jabatan yang disandangnya. Karenanya beliau mengambil sebagian dari harta mereka dan meletakkannya di Baitul Mal agar terlepas tanggung jawabnya di hadapan Allah Ta’ala. Kemudian ia pun memberikannya kepada mereka setelah pengambilan tersebut dari harta Baitul Mal sesuai jumlah yang layak. Dengan demikian menjadi halallah bagi mereka tanpa ada syubhat.[xxxiii]

Para penuduh tersebut hanya memandang dan menukil riwayat ini sesuai dengan keinginannya, lalu menjadikanya sebagai senjata untuk menyerang sahabat Abu Hurairah dan menuduhnya berkepribadian lemah, tanpa menyebutkan riwayat secara lengkap. Padahal dalam riwayat tersebut terdapat bantahan Abu Hurairah Radhiallahu’anhu terhadap Umar Radhiallahu’anhu, ketika Umar Radhiallahu’anhu berkata padanya“Wahai, musuh Allah dan musuh kitabNya. Apakah engkau telah mencuri harta Allah?”, Abu Hurairah Radhiallahu’anhu menjawab,“Aku bukan musuh Allah dan bukan musuh KitabNya. Akan tetapi aku adalah musuh bagi yang menentang keduanya.”

Dengan demikian jelaslah Umar tidak mencurigai dan menuduh Abu Hurairah mencuri. Hal ini dibuktikan dengan keinginan beliau mengangkat kembali Abu Hurairah untuk kedua kalinya. Sebagaiman diriwayatkan Abu Ubaid setelah riwayat diatas dengan bunyi: “Kemudian, setelah itu Umar Radhiallahu’anhu berkata kepadaku: “Bukankah engkau mau bertugas kembali?” Aku menjawabnya: “Tidak”. Ia berkata: “Mengapa, (tidak mau) padahal telah bertugas orang yang lebih baik darimu, yakni Yusuf”. Akupun menimpalinya,“Sesungguhnya Yusuf seorang Nabi dan anak seorang Nabi pula. Sedangkan aku adalah anak Umaimah, dan aku takut tiga dan dua”. Umar Radhiallahu’anhu berkata, “Kenapa engkau tidak berkata lima?” Abu Hurairah Radhiallahu’anhu menjawab, “Aku takut berbicara tanpa dasar ilmu dan memutuskan tanpa hilm (sabar dan hati-hati).” Atau ia berkata: “Aku berkata tanpa hilm (sabar dan hati-hati), dan aku memutuskan perkara tanpa dasar ilmu”.

Seorang perawi (dari Ibnu Sirin) berkata: “Keraguan ini berasal dari Ibnu Sirin”. (Lalu Abu Hurairah berkata lagi, ed-),“Dan aku takut akan dipukul punggungku dan dicela kehormatanku dan diambil hartaku dengan paksa.”[xxxiv]

Seandainya Umar Radhiallahu’anhu telah mengetahui Abu Hurairah Radhiallahu’anhu pernah berkhianat, niscaya tidak akan memakainya sama sekali dan tidak akan memanggilnya untuk kedua kalinya. Seandainya Khalifah Umar Radhiallahu’anhu meragukan sifat amanah Abu Hurairah Radhiallahu’anhu sedikit saja, tentu beliau akan menghakimi dan menghukumnya dengan hukuman syar’i. Akan tetapi, beliau telah mengetahui sifat amanah dan keikhlasannya, maka beliaupun kembali menemui Abu Hurairah meminta menjadi pejabat beliau.[xxxv]

[Bersambung, insya Allah]

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

Artikel Disalin dari UstadzKholid.com..Peletakan nomor footnote pada naskah telah dicocokkan dengan artikel di Majalah As-Sunnah Edisi 03/ Tahun VIII/1425H/1994M, hal. 22-29, dengan judul Abu Hurairah -Radhiallahu’anhu- Teraniaya


[i] Semua tuduhan dan kecaman dalam pembahasan ini diambil dari sebagian syubhat yang dilontarkan dalam buku Saqifah Awal Peerselisihan Umat, karya seorang penganut syi’ah bernama O.Hashem, cetakan ketiga tahun 1415H-1994 M, penerbit Al Muntazhar, Jakarta Barat.

Hal ini dilakukan karena buku ini hanya menukil tuduhan dan kecaman para pendahulunya dari kalangan orang syi’ah dan musuh-musuh Islam. Peringatan kami, hendaklah kaum muslimin berhati-hati terhadap buku ini karena berisi kebohongan dan kelicikan dalam mengolah kata, sehingga dapat mengelabuhi kaum muslimin yang tidak memiliki dasar pengetahuan Islam yang baik. Kemudian jawabannya kami ambil dari kitab Difa’un ‘An Abi hurairah, karya Abdul Mun’im Shalih Al ‘Ali Al ‘Izzi, tanpa tahun, Dar Al Syuruq, Bairut dan juga kitab As Sunnah Qabla At Tadwin karya Dr. Muhammad ‘Ajal Al Khatib, cetakan kelima, tahun 1401 H, Dar El Fikar, Bairut, dan kitab-kitab hadits serta beberapa referensi lainnya.

[ii] Kami gunakan kata ‘mereka‘ disini karena tuduhan ini juga dilontarkan orang lain, baik di Indonesia atau di negara lain agar lebih bersifat umum. Karena penulis buku Saqifah hanya mengekor dan menukil dari orang lain, diantaranya Abu Rayah (di Mesir) atau orang-orang syi’ah lainnya.

[iii] Saqifah, op.cit hlm 12

[iv] Ibid, hlm 20

[v] Dikutip dari kitab Difa’un ‘An Abu Hurairah dari pernyataan Al Ustadz Al Khathib dalam kitab Abu Hurairah Rawiyatul ISlam, halaman 213.

[vi] Lihatbiografi beliau di sini dan disini

[vii] Dikutip dari pernyataan Dr. As Siba’i dalam Sunnah Wa Makanatuha, halaman 307.

[viii] Saqifah op.cit hlm 11

[ix] Siar A’lami An Nubala, karya Al Dzahabiy, Tahqiq Syu’aib Al Arnauth, Maktabah Al Risalah, Bairut hlm II/426.

[x] Musnad Ahmad,no. 16793; Abu Dawud, dalam Sunannya, kitab Al Thoharoh, Bab Al Nahyu ‘an Dzalika no 73 hlm I/19; Al Nasa’i, dalam sunannya kitan Al Ziinaah bab Al Akhdzi ‘An Al Syaarib no. 4968 hlm I/130 dengan sanad-sanad yang shahih.

[xi] Lihat Riwayat-riwayat tersebut dalam kitab Difa’ ‘An Abi Hurairoh karya Abdul Mun’im Al’Izzi. Hlm 25-26.

[xii] Saqifah op.cit 12

[xiii] Ibid hlm 14.

[xiv] Al Bukhari,dalam Shahihnya, kitab Al Buyu’ Bab Ma Ja’a Fi Qaulihi Ta’ala Faidza Qadhaita Al Sholat no. 1906 – III/135. dan Ahmad bin Hambal dalam Musnad Ahmad hadits no. 7273

[xv] Fathul Bari, karya Ibnu Hajar, tanpa tahun, Maktabah Al Salafiyah, hlm V/28

[xvi] Fathul Bari, op.cit IV/288..

[xvii] Dari pernyataan Al Mualimi rahimahullah dalam Al Anwaar Al Kaasyifah, halaman 147

[xviii] Akan dating penjelasannya, insya Allah. Ed-

[xix] Syarh An Nawawi terhadap Shahih Muslim, tashhih Syeikh Kholil Ma’muun Syeihaa, cetakan ketiga tahun 1317 H, Dar Al Ma’rifah, Baerut hlm XV/270.

[xx] Saqifah, op.cit.hlm.12

[xxi] Shahih Al Bukhari,dalam Shahihnya kitab Al Riqaaq, Bab Kaifa ‘Isy Rasululloh wa Ashhabihi Wa Takhallihim min Al Dunya no. 5971 hlm VIII/120

[xxii] Dinukil dari Difa’un ‘An Abi Hurairoh, op.cit hlm 45-46 dari Al Mustadrak, IV/116.

[xxiii] Al Bukhari, dalam Shahihnya kitab Al Ath’imah, Bab Al Halwa wa Al Asl, no. 5431 hlm IX/557.

[xxiv] Saqifah, op.cit.hlm.13

[xxv] Thabaqaat Ibnu Sa’ad, IV/336 dengan sanad yang shahih.

[xxvi] Al Amwaal, oleh Abu Ubaid, halaman 269.

[xxvii] Al Bidayah Wan Nihayah, VlIII/13.

[xxviii] Al Amwaal, oleh Abu Ubaid, halaman 269. Muhammad ‘Ajaj Al Khathib menyebutkan di hlm. 225 dari Thabaqat Ibnu Sa’ad, 105/J.3/Q.2. pembagian Sa’ad.

[xxix] Al Amwaal, oleh Abu Ubaid, halaman 269; dinukil dari Difa’ ‘An Abi Hurairoh op.cit hlm 141 dan menyatakan bahwa Muhammad ‘Ajaj Al Khathib menyebutkan di halaman 225 dari Tahabaqat lbnu Saad, 105/J.3/Q.2.

[xxx] Difa’ ‘An Abi Hurairoh op.cit hlm 140 dan menyatakan bahwa Muhammad ‘Ajaj mengisyaratkan di halaman 225, bahwa Ibnu Abdi Rabbih menyebutkan berita keduanya dalam Al Aqdu Al Farid, I/33.

[xxxi] Abu Hurairah Rawiyatul Islam, halaman 225; As Sunnah Qabla At Tadwin, halaman 438.

[xxxii] Al Anwaar Al Kasyifah, karya Abdurrahman Al Mu’allimiy halaman 213.

[xxxiii] Ibid

[xxxiv] Al Amwaal, oleh Ibnu Ubaid, halaman 269 dengan sanad yang shahih dari jalan Yazid bin Ibrahim At Tasatuni dari lbnu Sirin, dan kisah itu sendiri dalam Al Mustadrak, 11/ 347 dan Uyunu Al Atsaar, I/53. diambil dari AL Difa’ ‘An Abu Hurairoh op.cit hlm 142.

[xxxv] As Sunnah Qabla At Tadwin, halaman 438.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: