Beranda > Biografi Teladan, Kisah Nyata, Nasehat Tuk Penuntut Ilmu > Peran Besar Akhlak Dalam Dakwah: Murid Penulis Kitab Fathul Majid dan Seorang Sufi yang Benci “Wahabi”

Peran Besar Akhlak Dalam Dakwah: Murid Penulis Kitab Fathul Majid dan Seorang Sufi yang Benci “Wahabi”

Kekuatan akhlak mulia dalam menarik simpati masyarakat untuk menerima dakwah al-haq sangatlah besar. Telah banyak bukti sejarah yang membenarkan hal itu, mulai sejak zaman Rasulullah shallallahu’alayhiwasallam hingga zaman ini.

Di antara contoh nyata kekuatan akhak dalam menarik simpati orang kafir sehingga mau memeluk agama Islam adalah sejarah masuknya Islam ke bumi pertiwi. Telepas dari polemik panjang kapan Islam masuk ke Indonesia, apakah abad ke 7 atau abad ke 1 H? Juga terlepas dari polemik apakah ajaran Islam yang masih murni atau ajaran Islam yang sudah tercemari pemikiran tasawuf? Terlepas dari itu semua , para ahli sejarah yang berbicara tentang sejarah masuknya Islam ke Indonesia, mereka semua sepakat bahwa Islam masuk ke Indonesia bukan dengan pedang [baca: kekerasan]. Namun Islam bisa diterima oleh masyarakat Indonesia  yang notabene saat itu telah memeluk agama Hindu dan Budha karena mereka sangat tertarik dengan mulianya budi pekerti para pengemban Islam saat itu sehingga mereka berbondong-bondong memeluk agama Islam dalam waktu kurang dari satu abad karena takjub dengan keindahan akhlak yang diajarkan Islam [Lihat: Induunisiiyaa karya Mahmud Syaakir, Menemukan Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara dan Sejarah Umat Islam Indonesia karya Taufiq Abdullah. Juga Ash-Suufiyyah fii Induniisiyaa Nasya’tuhaa wa Tathawwuruhaa karya Farhan Dhaifru]

Di antara contoh nyata kekuatan akhlak dalam menarik Ahlul Bid’ah dari kaum Muslimin untuk kembali ke sunnah adalah kisah perjuangan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Diantara rahasia keberhasilan dakwah yang diusung beliau dan murid-muridnya adalah besarnya peran akhlak mulia dalam menarik simpati orang-orang yang pada awalnya sangat memusuhi dakwah itu.

Di antara para ulama yang termasuk dalam jajaran para dai besar dakwah tauhid yang dirintis Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang tinggal d kota Mekah adalah Syaikh Ahmad bin Isa, beliau adalah salah satu murid pengarang kitab Fathul Majid: Syaikh Abdurrahman bin Hasan cucu Syakh Muhammad bin Abdul Wahhab -rahimahumullaahu-.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Syaikh Ahmad bin Isa berdagang kain. Setiap tahunnya beliau membeli kain dengan jumlah besar di kota Jedah dari seorang pedagang sufi bernama Abdul Qadir At-Tilmisani. Kain itu seharga 1000 Junaih emas, sebagai uang muka Syaikh Ahmad membayar 400 Junaih, adapun sisanya maka beliau cicil perbulan. Cicilan terakhir beliau berikan kepada At-Tilmisani  ketika dia pergi berhaji ke Mekah.

Bertahun-tahun transaksi bisnis antara mereka berdua berjalan demikian. Syaikh Ahmad selalu tepat waktu dalam membayar cicilan dan sama sekali tidak pernah terlambat dalam menunaikan hak At-Tilmisani.

Maka suatu hari At-Tilmisani berkata, “Saya telah bergaul dan bertransaksi dengan berbagai macam bentuk manusia selama empat puluh tahun tapi aku tidak pernah menemukan orang yang lebih baik dari akhlakmu wahai Wahabi! Tampaknya isu-isu buruk tentang kalian semata-mata kedustaan dari musuh-musuh politik kalian! Mereka menuduh kalian tidak mau bershalawat kepada Nabi  shallallahu’alayhiwasallam!”

Serta merta Syaikh Ahmad membalas, “Subhnallah, ini adalah kedustaan yang amat besar! madzhab yang kami anut [madzhab Hanbali] berpendapat bahwa orang yang tidak bershalawat kepada Nabi ketika tasyahud akhir shalatnya tidak sah! Akidah yang kami anut meyakini bahwa orang yang tidak cinta kepada Nabi shallallahu’alayiwasallam maka dia kafir! Sebenarnya yang kami ingkari adalah sikap pengagungan yang berlebihan yang telah dilarang oleh Nabi shalallahu’alauhiwasallam, kami juga mengingkari perbuatan istighatsah serta minta tolong kepada orang-orang yang telah mati. Seluruh ibadah itu hanya kami persembahkan kepada Allah semata!”

Kemudian terjadilah diskusi antara Syaikh Ahmad dengan At-Tilimisani seputar tauhid uluhiyyah selama tiga hari hingga Allah membuka hati At-Tilmisani untuk menerima aqidah salaf. Adapun dalam  masalah Tauhid Asma wa Shifat maka diskusi antara mereka berdua berlangsung selama lima belas hari karena At-Tilmisiani pernah belajar di Al-Azhar Mesir sehingga aqidah asy’ariyyah sudah sangat mendarah daging dalam dirinya. Namun akhirnya Allah Ta’ala membuka juga hati At-Tilmisani untuk menerima akidah salaf dalam masalah asma wa shifat.

Setelah itu, Syaikh At-Tilmisani pun menjadi donatur dakwah salaf utuk membiayai percetakan dan penyebaran kitab-kitab salaf serta menjadi salah satu da’i yang menyeru kepada manhaj salaf. Setelah sebelumnya beliau amat  benci dakwah “Wahabi”  yang dicetuskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab [lihat: Ulama Najd karya Syaikh Abdullah al-Bassaam 156-158]

{Disalin oleh Fandi Satia Engge dari Buku: 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah karya Ust.Abdullah Zaen M.A. hal 21-24 dari url:

http://www.facebook.com/notes/fandi-satia-engge/kisah-nyata-1-peran-besar-akhlak-dalam-dakwah-murid-penulis-kitab-fathul-majid-d/10150120291660149

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: