Beranda > Bedah Kitab, Tela-ah Haadits > Penjelasan Para Ulama tentang Hadits Sihir

Penjelasan Para Ulama tentang Hadits Sihir

1. Ibnul Qayyim Rahimahullah

 

Ketika menjelaskan kedudukan hadits sihir, beliau menjelaskan:
“Hadits ini Tsabit (Shahih) menurut para ahli ilmu dalam bidang hadits, mereka telah menerimanya dan tidak berselisih tentang keshahihannya. Walaupun banyak kalangan ahli kalam dan selainnya yang membantahnya, mengingkari dengan keras bahkan menganggapnya dusta. Sebagian mereka ada yang menulis karangan khusus tentang hal ini dan menuduh Hisyam (bin Urwah) sebagai penyebab (lemahnya).Dan yang maksimal (cercaan terhadap Hisyam bahwa mereka) menuduh Hisyam telah keliru dan tersamarkan hadits ini atasnya, padahal sedikitpun dirinya tidak demikian. Lalu (mereka) berkata:”Karena Nabi Shalallahu alaihi wasalam tidak mungkin terkena sihir, sebab hal itu akan membenarkan perkataan kaum kuffar:

Tidaklah Kalian mengikuti kecuali seorang yang tersihir” (Q.S Al Furqon :8)

Lalu mereka berkata; “dan seperti apa yang dikatakan oleh Fir’aun kepada Musa:

“Sesungguhnya aku menganggapmu-wahai Musa-orang yang tersihir “(Q.S Al-Isra:101)

Dan perkataan Kaum kepada Shaleh ‘Alaihi Salam:
“Sesunguhnya engkau hanyalah termasuk orang-orang yang tersihir “(Asy-Syu’ara:153)

Juga seperti perkataan Kaum Syu’aib kepada Syu’aib ‘Alaihi Salam:
“Sesunguhnya engkau hanyalah orang yang tersihir “.(Q.S Asy’ara:185)

Mereka juga mengatakan:”para Nabi tidak mungkin disihir, sebab yang demikian itu meniadakan pemeliharaan Allah subahanahu wa ta’ala terhadapnya dan menjaganya dari para Syaitan”.

Semua yang mereka katakan tersebut tertolak menurut ahli ilmu. Sesungguhnya Hisyam termasuk perawi yang paling tsiqah dan berilmu, tidak seorang pun dari kalangan Imam mencelanya yang mengakibatkan tertolaknya hadits (yang diriwayatkannya). Apa pula urusan ahli kalam ikut-ikutan membicarakan hal ini? Telah diriwayatkan pula dari selain Hisyam Radhiallahu anhu dari ‘Aisyah radhiallahuanha dan telah sepakat pemilik dua Shahih (Bukhari dan Muslim) dalam menshahihkan hadits ini, tidak seorangpun dari kalangan ahli Hadits dan Fiqih yang menolaknya. Kisah ini Masyhur bagi ahli tafsir, sunan, hadits, sejarah, dan fuqaha’. Mereka lebih alim tentang keadaan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan kesehariannya daripada ahli kalam . (at-Tafsir al Qayyim :5/406-407)

Lalu Mengatakan: “Sihir yang menimpa beliau Shalallahu ‘alaihi wasalam adalah sejenis penyakit dari penyakit-penyakit yang muncul, kemudian Allah Subahanahu wata’ala menyembuhkannya. Hal tersebut bukan merupakan kekurangan (bagi Rasul) dan tidak ada celaan sedikitpun padanya, sesungguhnya penyakit boleh menimpa para nabi,  demikian pula pingsan. Sungguh Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam pernah pingsan ketika sakit, pernah terjatuh hingga terluka kaki beliau Shalallahu ‘alaihi wasalam dan tergores kulitnya.Ini termasuk bala’ (cobaan) yang dengannya Allah subahanahu wa ta’ala mengangkat derajat beliau shallalahu ‘alaihi wasalam serta dengannya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam mendapat keutamaannya.

Adapun cobaan paling berat yang di rasakan oleh para Nabi adalah cobaan yang mereka terima dari umatnya dari berbagai macam ujian, berupa pembunuhan dan pemukulan, celaan dan penahanan. Maka bukanlah suatu hal yang baru Jika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam mendapatkan ujian dari sebagian musuh-musuhnya dengan sejenis sihir, sebagaimana Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam telah diuji dengan lemparan panah dari musuhnya lalu panah tersebut melukai Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam juga pernah diuji dengan diletakannya kotoran di atas punggung Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam tatkala sujud, dan selain itu. (Ini semua,ed-) tidak menunjukan kekurangan dan aib atas mereka (para nabi), bahkan menunjukan kesempurnaan dan ketinggian derajat mereka di sisi Allah subahanahu wata’ala. (Tafsir al Qayyim, Jilid:5/408)

2. Abu Fadhl ‘Iyyadh bin Musa bin ‘Iyyadh al Yahshubi , yang Masyhur dengan nama ” al Qadhi bin ‘Iyyadh “

Beliau Rahimahullah mengatakan dalam kitabnya ” Asy-Syifa’ “, ketika menjawab syubhat orang-orang yang meragukan hadits tentang tersihirnya Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam.

“Ketahuilah -semoga Allah subahanahu wata’ala memberi taufik kepada kami dan kalian- bahwa hadits ini adalah hadits yang shahih yang di sepakati keshahihannya. Kaum mulhid (atheis) telah mencerca hadits ini –dan hal itu semakin menguatkan kerendahan akal mereka- juga pengkaburan (al-haq) dari orang-orang yang semisal dengan mereka untuk membuat keraguan dalam syari’at. Sungguh Allah subahanahu wata’ala telah mensucikan syari’at serta nabi-Nya dari sesuatu yang mengaburkan perkaranya (berupa wahyu). Sihir yang dimaksud disini hanyalah sejenis penyakit yang timbul, maka boleh menimpa Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam sebagaimana berbagai jenis penyakit lain yang tidak mungkin diingkari, dan hal itu tidaklah merusak kenabian Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam.

Adapun yang terdapat dalam riwayat bahwa dikhayalkan kepada Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam telah melakukan sesuatu padahal tidak melakukannya, maka ini tidaklah merusak sedikit pun apa yang Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam sampaikan, [apa yang, ed-] Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam syari’atkan, atau merusak kejujuran Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam. Sebab dalil telah jelas dan mayoritas Ulama telah bersepakat bahwa Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam adalah maksum. Hal ini Hanyalah kejadian yang mungkin saja muncul dalam perkara duniawi-yang Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam tidak diutus karena (urusan dunia) dan tidak ada keutamaan padanya. Sehingga selama di dunia, bisa saja Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam tertimpa berbagai penyakit [seperti, ed-] halnya manusia lain. Maka bukanlah suatu hal yang mustahi lantas dikhayalkan kepada Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam beberapa urusan yang pada hakekatnya tidak ada. Akhirnya, Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam pun terbebas darinya dan kembali seperti sedia kala.

Telah ditafsirkan juga bahwa perkara yang di khayalkan tersebut –dalam hadits yang lain- dari kalimat” sehingga dikhayalkan kepada Beliau shalallahu n’alaihi wasalam telah mendatangi istrinya padahal Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam tidak mendatanginya.”

Sufyan rahimahullah mengatakan : “Tidak ada khabar lain yang dinukilkan dari Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam selain dari yang telah dikhabarkan – Sufyan – bahwa Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam ingin melakukannya dan ternyata beliau tidak melakukannya, namun itu hanyalah bersifat goresan hati dan khayalan.

Adapula yang mengatakan, “Yang dimaksud dalam hadits ini adalah Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam membayangkan sesuatu bahwa beliau melakukannya namun ternyata tidak melakukannya. Namun itu adalah khayalan yang Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam sendiri tidak meyakini kebenarannya. Maka semua keyakinan Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam tetaplah benar dan apa yang Beliau ucapkan tetaplah terjaga.

Inilah yang aku temukan dari jawaban para Ulama kita tentang Hadits ini dengan tambahan penjelasan dari kami tentang makna perkataan mereka serta terhadap beberapa isyarat yang mereka sebutkan dan setiap jawaban tersebut memuaskan.

Namun telah nampak bagiku penakwilan yang terdapat dalam hadits ini -yang lebih jelas dan lebih selamat dari celaan orang-orang yang sesat-yang dapat kita petik dari hadits itu sendiri.”

Kemudian Beliau Rahimahullah menyebutkan beberapa riwayat dan lafadz hadits ini, lalu melanjutkan: “Dari kandungan riwayat-riwayat tersebut jelaslah bahwa sihir itu hanya menimpa zhahirnya Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam dan jasadnya, bukan hati, keyakinan dan akalnya. Dan hal itu hanya memberikan pengaruh pada penglihatan, mencegah dari menetubuhi istri dan makan beliau shalallahu ‘alaihi wasalam, sehingga tubuh Beliau shlallahu ‘alaihi wasalam lemas dan menyebabkan sakit. Maka makna perkataan “………dibayangkan kepada Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam mendatangi istrinya, namun tatkala Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam telah mendekatinya sihir tersebut mempengaruhi tubuhnya (menjadi lemah), sehingga Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam tidak mampu melakukannya, sebagaimana sesuatu yang menimpa secara tiba-tiba sehingga melemahkan Beliau shalallahu ‘alahi wasalam.

Adapun perkataan Aisyah, “……..dan di khayalkan kepada Beliau bahwa Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam melakukan sesuatu dalam penglihatannya, sebagimana yang disebutkan dalam hadits: ”Bahwa Beliau menyangka akan mampu melihat seseorang dari orang lain, lalu yang ternyata tidak seperti yang beliau shalallahu ‘alaihi wasalam bayangkan, karena apa yang menimpa pandangannya menyebabkan (tubuh Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam) menjadi lemah -bukan sesuatu yang merusak pikirannya . (Kitab Asy-Syifa’, Al Qadhi Iyyadh : 2/856-869, tahqiq Al Bijawi, Maktabah al-Iman)

3. Al Imam Al-Maziri rahimahullah

Beliau Rahimahullah Mengatakan: “Sebagian ahli Bid’ah telah mengingkari hadits ini dan menyangka hadits tersebut merendahkan kedudukan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan membuat keragu-raguan padanya, lalu mereka berkata: “segala sesuatu yang mengantarkan kepada (keraguan) tersebut maka itu bathil. Mereka menyangka bahwa terjadinya hal tersebut pada Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam dapat menghilangkan kepercayaan terhadap syari’at beliau shalallahu ‘alaihi wasalam bawa, sebab ada kemungkinan dengan kejadian ini dikhayalkan kepada beliau telah melihat jibril Alaihi salam padahal Jibril tidak ada disana, dan menyangka telah diwahyukan kepada Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam sesuatu, padahal tidak ada wahyu yang turun kepadanya,”

Beliau Melanjutkan: “Semua ini tertolak . Sebab, dalil telah nyata menunjukan kejujuran Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam terhadap apa yang disampaikannya dari Allah subahanahu wata’ala dan terpeliharanya penyampaian Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam. Berbagai mu’jizat menjadi saksi kejujuran Beliau shalallahu ‘alahi wasalam. Maka beranggapan terhadap sesuatu yang telah terdapat dalil –yang menyelisihi hal tersebut- adalah suatu kebatilan. Adapun yang berhubungan dengan sebagian perkara dunia yang Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam pun tertimpa apa yang menimpa manusia lainnya seperti berbagai penyakit, maka Bukan hal yang mustahil pula di khayalkan kepada Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam urusan dunia yang pada hakekatnya tidak ada, dalam keadaan Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam tetap terpelihara darinya dalam perkara agama. (dinukilkan Oleh Al-Hafidz dalam Fathul Bari: 10/237. Demikian pula An Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim:14/175 dan Kitab Difa’ ‘an as-Sunnah, Muhammad Abu Syahbah:26

4. Al Muhallab rahimahullah

Beliau rahimahullah berkata: “Terjaganya Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dari para syaithon tidaklah mencegah kehendak mereka untuk menggangu Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam. Telah disebutkan dalam “as-Shahih” bahwa syaitan ingin merusak shalat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam maka Allah menyelamatkannya dari syaithan tersebut. Demikian pula sihir yang mendatangkan kemudharatan kepadanya shalallahu ‘alaihi wasalam tidaklah mengurangi sedikitpun apa yang beliau sampaikan (dalam urusan agama), namun ini termasuk jenis kemudharatan berbagai penyakit apa yang beliau alami berupa kelemahan untuk berbicara, ketidakmampuan melakukan sebagian perbuatan, atau terjadinya sesuatu yang membayangkan serta tidak berkepanjangan, tetapi segera sirna dan Allah subahanahu wata’ala membatalkan tipu daya para syaithan. (di nukil Oleh Al Hafidz dalam Fathul Bari: 10/238)

5. Fatwa Lajnah ad-Da’imah

Pertanyaannya sebagai berikut:

Apakah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam pernah terkena Sihir, dan apakah memberi pengaruh padanya?

Jawab:

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam adalah seorang manusia, dapat menimpa Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam apa-apa yang menimpa manusia lainnya dari berbagai penyakit, sikap melampaui batas sebagian manusia terhadapnya dan tindak kedzaliman mereka terhadap Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam sebagaimana manusia yang lainnya. Demikian pula hal-hal lain yang berhubungan dengan perkara dunia yang Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam tertimpa sesuatu penyakit atau sikap melampaui batas orang lain terhadap beliau -dengan sihir misalnya- yang dengan sebab itu, Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam membayangkan sesuatu urusan dunia yang hakekatnya tidak ada.

Dibayangkan kepada Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam menyetubuhi istrinya padahal Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam tidak melakukannya, atau Beliau shalallahu ‘alahi wasalam memiliki kekuatan untuk menyetubuhinya, namun tatkala mendekati salah seorang dari mereka, tiba-tiba muncul kelemahan dan hilang kekuatan beliau untuk melakukannya.Tetapi musibah yang menimpa Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam penyakit, atau sihir tersebut tidaklah mempengaruhi penerimaan wahyu dari Allah subahanahu wata’ala dan tidak berhubungan dengan apa yang beliau sampaikan dari Allah subahanahu wata’ala kepada umatnya, karena telah tegaknya berbagai dalil dari Al Qur’an dan sunnah dan kesepakatan para pendahulu umat ini yang menunjukan kemaksumannya (terpeliaharanya) Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam dalam menerima wahyu, menyampaikan, dan semua yang berhubungan dengan perkara-perkara agama. Dan sihir adalah sejenis penyakit yang menimpa Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam.”

Kemudian Al-Lajnah menyebutkan Hadits Aisyah radhiallahu anha, lalu melanjutkan: “Barang siapa yang mengingkari terjadinya hal itu, sungguh dia telah menyelisih dalil-dalil, ijma’ para sahabat, dan pendahulu umat ini. Lalu berpegang dengan syubhat dan prasangka yang tidak memiliki pondasi kebenaran, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai sandaran. Telah dirinci masalah ini oleh Al-Allamah Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zadul Ma’ad dan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.”

Wabillahi at-taufiq, washalallahu ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi washabihi wasallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
Wakil: Abdurrazzaq Afifi
Anggota: Abdullah bin Qu’ud
Abdullah bin Ghudyyan

(Fatawa al Lajnah ad-Da’imah: No.4015)

6. Fatwa Syaikh bin Baz rahimahullah

Beliau rahimahullah menjawab pertanyaan seputar Hadits tentang tersihirnya Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam: “Ini benar adanya, terdapat dalam hadits yang shahih dan hal itu terjadi di Madinah. Tatkala wahyu telah turun (secara berangsur) dan telah tegak tonggak risalah (yang beliau sampaikan), telah tampak berbagai tanda kenabian Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam dan kebenaran risalahnya, serta Allah subahanahu wata’ala menolong nabi-Nya mengalahkan kaum musyrikin dan menghinakan mereka; seorang dari Yahudi yang bernama Labid bin Al-A’sham ingin mengganggu Beliau shalallahu ‘alahi wasalam. Dia pun membuat simpul sihir pada sisir, rontokan rambut, dan mayang kurma jantan, sehingga dibayangkan kepada beliau shalallahu ‘alaihi wasalam melakukan sesuatu terhadap keluarganya padahal ternyata tidak melakukannya. Namun tetap-walhamdulillah- akalnya, perasaannya, dan pemahamannya terhadap [yang, ed-] Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam beritakan kepada manusia tidaklah terganggu. Beliau shalallahu alaihi wasalam tetap memberitakan kepada manusia kebenaran yang telah Allah subahanahu wata’ala wahyukan kepadanya, namun beliau shalallahu ‘alaihi wasalam merasakan sesuatu yang memberikan sebagian pengaruh dalam hubungannya dengan Istrinya, sebagaimana yang dikatakan Aisyah radhiallahu anha bahwa dibayangkan kepada beliau shalallahu ‘alaihi wasalam melakukan sesuatu bersama keluarganya di rumah dan ternyata Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam tidak melakukannya. Maka datanglah wahyu kepada Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam dari Rabb-Nya subahanahu wata’ala melalui Jibril ‘alaihi salam mengabarkan apa yang telah terjadi pada Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam. Diutuslah (sebagian sahabat) untuk mengeluarkan (simpul sihir) dari sumur milik salah seorang Anshar tersebut dan melenyapkan (pengaruh sihir )-nya. Akhirnya hilanglah pengaruh tersebut-segala puji bagi Allah- Allah menurunkan kepada Beliau shlallahu ‘alaihi wasalam dua surat : almu’awwidzatain (al Falaq dan An-Nas, pen), Lalu Beliau shalallahu ‘alahi wasalam membacanya. Maka hilanglah setiap gangguan tersebut. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

“tidak ada seorang yang berita’awwudz yang menandingi keduanya”. (HR. Abu Dawud dari ‘Ugbah bin Amir dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ : 7949,pen)

Dan (hal itu) tidaklah mengakibatkan sesuatu yang memudharatkan manusia, atau merusak risalah atau wahyu yang Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam bawa. Allah subahanahu wata’ala telah memeliharanya dari manusia atas sesuatu yang mencegah terhalanginya risalah yang Beliau bawa, atau tercegah dari menyampaikannya.

Adapun yang menimpa para rasul berupa jenis-jenis gangguan, Beliau shalallahu ‘alaihi waslam pun tidak terpelihara darinya, hal itu pun menimpa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam. Diantaranya juga, terlukanya Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam pada perang Uhud, kepala Beliau dipukul dengan alat pelindung kepala hingga sebagian besinya masuk ke dalam dua pipi Beliau shlallahu ‘alaihi wasallam, serta terjatuh pada sebagian lubang yang terdapat di sana. Dan mereka (Rasulullah dan para sahabat) telah disempitkan kehidupannya sewaktu di Makkah, Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam mengalami sesuatu yang telah menimpa para rasul sebelumnya. Inilah Sunatullah, dengannya Allah subahanahu wata’ala mengangkat derajat Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam meninggikan kedudukannya, dan melipatgandakan kebaikan-kebaikannya. Namun Allah senantiasa memelihara Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam dari sisi bahwa mereka tidak mampu membunuhnya, dan tidak mampu mencegahnya menyampaikan risalah. Tidak satupun yang mampu menghalangi apa saja yang wajib beliau sampaikan, sungguh Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, mudah-mudahan shalawat dan salam Allah subahanahu wata’ala senantiasa tercurah atas Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam. (Fatwa Syaikh bin Baz :1/6.Bab. Al-llaj Li Man bihi Sharf aw ‘Athf aw Sihr)

Disarikan dari Kitab:

Meluruskan Pemahaman tentang Hadits Sihir
(studi Kritis Buku: Benarkah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam Pernah Tersihir? karya Ali Umar Al Habsyi) Halaman : 237 – 253, Oleh: Al-Ustadz Askari Bin Jamal al-Bugisi

diambil melalui:

http://abunamira.wordpress.com/2010/12/25/penjelasan-para-ulama-tentang-hadits-sihir/trackback/

Iklan
  1. 15 Januari 2011 pukul 17:29

    Assalamu’alaikum

    Wa ‘aalaikumus salaam wa rahmatullaah

    • abu ayyasy
      19 Februari 2012 pukul 10:26

      yup … syukran atas ilmu nya …

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: