Beranda > fatwa, MANHAJ, Nasehat Tuk Penuntut Ilmu > Apakah Sama Pendapat Saudara kita tentang Mubtadi’ dan Hajr Mubtadi’ dengan Pendapat Para Ulama?

Apakah Sama Pendapat Saudara kita tentang Mubtadi’ dan Hajr Mubtadi’ dengan Pendapat Para Ulama?

A. Ucapan Muhadditsul Ashr al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani

Samahatul Imam, Muhaddits al-Ashr, Muhammad Nashirudin al-Albany rahimahullahu berkata di dalam mendefinisikan siapakah mubtadi’ itu sebagai berikut :

أثر أبي هريرة رضي الله عنه يصلح أن يكون مثالاً عن أنَّ وقوع العالم في بدعة لا يعني أنه مبتدع, وأنَّ وقوع العالم في ارتكاب محرّم أي القول في إباحة ما هو محرم اجتهادًا منه لا يعني أنه ارتكب محرما. فأقول : أثر أبي هريرة رضي الله عنه هذا الذي ينصّ على أنّه كان يقوم يوم الجمعة قبل الصلاة يعظ الناس, يصلح بأن يكون مثالاً صالحاً, كون البدعة قد تقع من عالم وليس مع ذلك أنه مبتدع.

“Atsar Abu Hurairoh radhiallahu ‘anhu sesuai untuk dijadikan sebagai contoh dari permasalahan bahwa jatuhnya seorang alim ke dalam kebid’ahan tidak otomatis menjadikannya mubtadi’. Dan jatuhnya seorang  alim ke dalam perbuatan haram yaitu dengan berpendapat tentang bolehnya sesuatu yang haram karena hasil ijtihadnya maka tidak otomatis menyebabkannya sebagai pelaku keharaman. Aku katakan, atsar Abu Hurairoh radhiallahu ‘anhu ini yang menashkan/menunjukkan bahwa beliau berdiri pada hari Jum’at sebelum sholat, memberikan nasehat kepada manusia, merupakan contoh tepat yang sesuai, bahwasanya terkadang bid’ah itu dilakukan oleh seorang yang alim namun tidaklah menjadikannya sebagai mubtadi’ begitu saja.”

وقبل الخوض في تمام الجواب أقول : المبتدع هو أولا الذي من عادته الابتداع في الدين, وليس الذي يبتدع بدعة ولو كان هو فعلا ليس عن اجتهاد وإنما عن هوى, مع هذا لا يسمى مبتدعاً. وأوضه مثال لتقريب هذا المثال, أن الحاكم الظالم قد يعدل في بعض أحكامه فلا يقال فيه عادل, كما أن العادل قد يظلم في بعض أحكامه فلا يقال فيه ظالم, وهذا يؤكد القاعدة الإسلامية الفقهية أن الإنسان بما يغلب عليه من خير أو شر إذا عرفنا هذه الحقيقة عرفنا من هو المبتدع.

”Sebelum masuk lebih mendalam kepada jawaban, aku katakan : pertama, mubtadi’ itu adalah orang yang kebiasaannya mengada-adakan bid’ah di dalam agama. Dan tidaklah orang yang melakukan kebid’ahan walaupun ia melakukannya bukan dari ijtihadnya tetapi dari hawa nafsunya, namun walau demikian ia tidak dikatakan sebagai mubtadi’. Aku terangkan sebuah contoh yang mirip dengan contoh ini, seorang hakim yang zhalim, terkadang berlaku adil dalam sebagian keputusannya namun dia tidaklah dikatakan sebagai hakim yang adil, sebagaimana juga hakim yang adil terkadang melakukan kezhaliman pada sebagian keputusannya namun dia tidak dikatakan sebagai hakim yang zhalim. Hal ini menyokong suatu kaidah fikih islami bahwasanya seseorang itu dihukumi dari kebaikan dan keburukan yang dominan pada dirinya, apabila kita telah mengetahui realita ini niscaya kita mengetahui siapakah mubtadi’ itu.”

فيشترط إذن في المبتدع شرطان : أولاً : أن لا يكون مجتهدا وإنما يكون متّبعاً للهوى, والثاني : أن يكون ذلك من عادته ومن دينه.

”Kalau begitu, disyaratkan bagi mubtadi’ itu dua syarat, yaitu : pertama, dia bukanlah termasuk mujtahid namun ia adalah pengikut hawa nafsu, dan kedua yaitu, dia tidaklah melakukannya sebagai kebiasaannya atau sebagai bagian dari agamanya.

[Dari kaset Man Huwa al-Mubtadi’, Silsilah al-Huda wan Nur ash-Shoutiyah no. 785, side B; dinukil dari buku Aqwaalu wa Fataawa al-Ulama`u fit Tahdziiri min Jama’ati al-Hajri wat Tabdii’, penyusun : Kumpulan Penuntut Ilmu, cet. II, 1424 H., tanpa penerbit, hal. 18-19.]

 

Syaikh ditanya tentang hajr zaman ini

Samahatul Imam juga ditanya dengan pertanyaan sebagai berikut :

السائل : هل صحيح أن هجر المبتدعة في هذا الزمان لا يطبق؟

“Apakah benar bahwa menghajr ahli bid’ah di zaman ini tidak tepat untuk diimplementasikan?”

Samahatul Imam rahimahullahu menjawab :

هو يريد أن يقول لا يحسن أن يطبق, هل صحيح لا يطبق؟ هو لا يطبق لأنه المبتدعة و الفساق والفجار هم الغالبون, ولكن هو يريد أن يقول لا يحسن أن يطبق, وهو كأنه السائل يعنيني أولا يعنيني. فأقول: نعم, هو كذلك, لا يحسن أن يطبق, وقد قلت هذا صراحة آنفا حينما ضربت المثل الشامي: أنت مسكّر وأنا مبطّل.

“Dia (penanya) bermaksud mengatakan bahwa praktek hajr tidak layak untuk diterapkan, apakah benar tidak layak diterapkan? Yang benar adalah praktek hajr memang tidak diterapkan karena mubtadi’, orang-orang fasik dan fajir (durhaka) adalah dominan di zaman ini. Akan tetapi dia (penanya) ingin mengatakan tidak layak untuk diimplementasikan. Dan penanya seakan-akan memaksudkanku dengan pertanyaannya ataukah tidak memaksudkanku. Maka aku katakan, “iya” keadaannya adalah demikian, tidak layak untuk diterapkan. Saya telah mengatakannya dengan jelas tadi ketika aku membuat permisalan tentang pepatah Syaami (orang Syam) : “Kamu menutup (pintu masjid) maka aku tidak jadi sholat.”

[Dari kaset Haqiqotul Bida’ wal Kufri, Silsilah al-Huda wan Nur no. 666, side B; dinukil dari al-Manhajus Salaf ‘inda asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani karya ‘Amru ‘Abdul Mun’im Salim hal. 90-91; Bagi yang ingin mendapatkan terjemahan lengkap ceramah ini bisa didownload di http://geocities.com/fsms_sunnah (Download Centre Maktabah Abu Salma).]

Beliau rahimahullahu ditanya kembali :

السائل :  لكن مثلاً إذا وجدت بيئة, الغالب في هذه البيئة أهل السنة مثلاً, ثم وجدت بعض النوابت ابتدعوا في دين الله عزّ وجل, فهنا يطبق أم لا يطبق؟

“Tapi (wahai syaikh), misalkan ada sebuah lingkungan, dan yang dominan di lingkungan ini adalah ahlus sunnah misalnya,  kemudian ditemukan ada sekelompok orang yang berbuat bid’ah di dalam agama Alloh Azza wa Jalla, maka apakah (hajr) diterapkan ataukan tidak?”

Beliau rahimahullahu menjawab :

يجب هنا استعمال الحكمة, هذه الفئة الظاهرة القوية, هل إذا قاطعت الفئة المنحرفة عن الجماعة, يعود الكلام سابق هل ذلك ينفع الطائفة المتمسكة أم يضّرها, هذا من جهتهم, ثمّ هل ينفع المقاطعين والمهجورين من الطائفة المنصورة أم يضّرهم, هذا سبق جوابه كذلك. يعني لا ينبغي أن تأخذ مثل هذه الأمور بالحماس وبالعاطفة وإنما بالروية والأناة و الحكمة…

“Yang wajib adalah kita harus menggunakan hikmah. Jika kelompok yang lebih kuat yang mayoritas yang menghajr kelompok yang menyeleweng –kita kembalikan kepada pembahasan yang telah lalu– apakah hal ini akan memberikan manfaat pada kelompok yang berpegang pada kebenaran ataukah malah akan mencederai (memudharatkan)nya? Ini dari satu sisi. Kemudian dari sisi lain apakah hajr yang diterapkan oleh ath-Thaifah al-Manshurah bermanfaat bagi kelompok yang dihajr atau justru menimbulkan mudharat bagi mereka. Jawabannya telah lalu, yaitu tidaklah patut dalam permasalahan seperti ini kita mengambil sikap dengan semangat dan perasaan belaka, namun seharusnya dengan sikap hati-hati, tenang (tidak gegabah) dan penuh hikmah…”

[Dari kaset Haqiqotul Bida’ wal Kufri, Silsilah al-Huda wan Nur no. 666, side B; dinukil dari al-Manhajus Salaf ‘inda asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani karya ‘Amru ‘Abdul Mun’im Salim hal. 90-91; Bagi yang ingin mendapatkan terjemahan lengkap ceramah ini bisa didownload di http://geocities.com/fsms_sunnah (Download Centre Maktabah Abu Salma).]

B. Ucapan Faqiihuz Zaman Samahatus Syaikh Muhammad Sholih al-Utsaimin

Samahatul Imam, Faqiihuz Zaman, Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullahu berkata :

فإذا كان في الهجر من فعل معصية لترك واجب أو فعل محرم فائدة فإنه يهجر حتى تتحقق الفائدة ، وأما من كان هجره لا يفيد شيئاً بل لا يزيد الأمر إلا شدة وإلا بعداً عن أهل الخير فلا يهجر ، لأن الشرع جاء بالمصالح وليس بالمفاسد ، فإذا علمنا أننا لو هجرنا هذا العاصي لم يزدد إلا شراً وكراهة لنا وكراهة ما معنا من الخير ، فإننا لا نهجره ، نسلم عليه ونرد عليه السلام لأنه وإن عصى الله ، والمؤمن لا يهجر فوق ثلاث ، هذا هو الحكم فيما يتعلق بالهجر ،

Apabila menghajr orang yang melakukan kemaksiatan dan meninggalkan kewajiban atau berbuat kemaksiatan memberikan faidah, maka dia (perlu) dihajr hingga dapat mewujudkan faidah. Akan tetapi orang yang hajrnya tidak membuahkan faidah sedikitpun, namun malah menambah keras kepala dan menjauh dari kebenaran, maka janganlah dihajr. Karena syariat itu datang dengan membawa kemashlahatan bukan kerusakan. Apabila kita telah tahu bahwa apabila kita menerapkan hajr pada kemaksiatan ini tidaklah menambah melainkan keburukan, kebencian terhadap kita dan kebencian terhadap apa yang kita bawa berupa kebaikan, maka kita jangan menghajrnya. Kita ucapkan salam padanya dan kita jawab salamnya. Karena, walaupun dia telah bermaksiat kepada Alloh, seorang mukmin itu tidaklah dihajr lebih dari tiga hari. Inilah hukum yang berkaitan dengan hajr.

وفي النهاية يسوءني أن أحد المسلمين اليوم يمر بعضهم ببعض لا يسلم أحدهم على الآخر ، يتلاقيان يضرب كتف أحدهما كتف الآخر لا يسلم عليه وكأنما مر بجيفة أو يهودي أو نصراني ، مع أنهم أخوه ، ومع هذا إذا سلم عليه ماذا يستفيد ؟ عشر حسنات نقداً ، إيمان ، محبة ، ألفة ، دخول الجنة .قال النبي صلى الله عليه وسلم : ( والله لا تدخلوا الجنة حتى تؤمنوا ولا تؤمنوا حتى تحابوا أفلا أخبركم بشئ إذا فعلتموه تحاببتم أفشوا السلام بينكم ) فبين أن إفشاء السلام من أسباب المحبة من الإيمان والإيمان سبب لدخول الجنة

”(Keadaan) akhir-akhir ini sungguh mengecewakanku, bahwasanya ada seorang muslim pada hari ini, mereka berlalu melewati sebagian lainnya namun tidak saling mengucapkan salam antar satu dengan lainnya, seakan-akan mereka berlalu dengan ketakutan atau seakan-akan mereka melewati orang Yahudi atau Nasrani, padahal mereka adalah saudaranya, padahal apabila dia mengucapkan salam, apa faidah yang dapat ia peroleh? (dia akan memperoleh) sepuluh kebaikan secara sempurna, keimanan, kecintaan, keterpaduan dan masuk ke dalam surga. Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :

والله لا تدخلوا الجنة حتى تؤمنوا ولا تؤمنوا حتى تحابوا أفلا أخبركم بشئ إذا فعلتموه تحاببتم أفشوا السلام بينكم

”Demi Alloh, kalian tidak bakal masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah  kalian aku beritakan dengan sesuatu amalan yang apabila kalian laksanakan maka kalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkan salam di tengah-tengah kalian.”

Beliau menjelaskan bahwa menyebarkan salam termasuk sebab-sebab yang dapat menghantarkan kepada kecintaan dan keimanan, sedangkan keimanan itu merupakan sebab masuk ke dalam surga.

ويؤسفنا جداً أن نرى مسلمين يلتقي بعضهم ببعض ولا يسلم ، بل ربما كانا أخوين زميلين في الدراسة ، سواء في دراسة المسجد أو في دراسة الكلية أو المعهد أو المدارس الأخرى ، لا يسلم بعضهم على بعض إذاً ما فائدة العلم ؟ ما فائدة طلب العلم ؟إذا لم يتربَّ طالب العلم بالتربية الحسنة التي دل عليها الكتاب والسنة ،

Sungguh sangat menyedihkan sekali, kami melihat kaum muslimin bertemu antara satu dengan lainnya namun tidak saling mengucapkan salam. Bahkan betapa banyak dua orang bersaudara yang berteman baik di suatu sekolah, baik di Masjid, perkuliahan, ma’had ataupun sekolahan lainnya, mereka tidak saling mengucapkan salam antara satu dengan lainnya. Lantas, apa manfaatnya ilmu?!! Apa faidahnya menuntut ilmu?!! Apabila tidak berimplikasi sama sekali terhadap seorang penuntut ilmu  pendidikan yang baik, yang telah ditunjukkan oleh Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

 

وكان عليها رسول الله صلى الله عليه وسلم فما الفائدة من التعليم فهو والجاهل سواء ، إن لم يكن الجاهل خيراً منه ، ولهذا احثكم على إفشاء السلام لفوائدة العظيمة ، وهو لايضر ، لأنه عمل اللسان ، واللسان لو يعمل من الصباح إلى الغروب ما كلَّ ولا ملَّ فنسأل الله لنا ولكم الهداية والتوفيق والعصمة والتوبة إنه على كل شئ قدير .

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam telah mewajibkan untuk menuntut ilmu, lantas apa faidahnya belajar apabila dirinya dengan orang bodoh itu sama saja?!! Kalau tidak demikian maka orang bodoh itu lebih baik baginya. Oleh karena itu, aku anjurkan kalian semua untuk menyebarkan salam agar memperolah faidah yang agung, dan hal ini (menyebarkan salam) tidaklah membahayakan, dikarenakan hal ini merupakan perbuatan lisan, dan lisan apabila dipergunakan dari pagi hari sampai sore, tidak bakal habis dan berkurang. Kami memohon kepada Alloh hidayah, taufiq, keterpeliharaan dan taubat bagi diri kami dan kalian, sesungguhnya Dia atas yang demikian ini adalah Maha Mampu.”

[Syarh Riyadhus Shalihin oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, tahqiq : Syaikh Abdullah ath-Thoyar, cet. I, 1415 H./1995 M, Darul Wathon, Riyadh,  juz IV, hal. 219-220.]

Syaikh rahimahullahu juga berkata :

فكل مؤمن وإن كان فاسقاً فإنه يحرم هجره ما لم يكن في الهجر مصلحة ، فإذا كان في الهجر مصلحة هجرناه ، لأن الهجر حينئذ دواء ، أما إذا لم يكن فيه مصلحة أو كان فيه زيادة في المعصية والعتو ، فإن مالا مصلحة فيه تركه هو المصلحة .

”Maka setiap mukmin, walaupun ia seorang yang fasiq, haram menghajrnya selama tidak mendatangkan faidah. Namun jika bermashlahat maka kita lakukan. Karena hajr adalah obat, jika hajr tidak mempunyai mashlahat atau justru malah menambah kemaksiatan dan kedurhakaan, maka sesuatu yang tidak bermashlahat meninggalkannya adalah suatu mashlahat pula.

[Lihat Muzilul Ilbas fi Hukmi ‘ala an-Naasi karya Said bin Shabir Abduh, hal. 252; Melalui perantaraan Aqwalu A`immah ad-Da’wah as-Salafiyah fi hadzal ‘Ashr fi Mas`alati al-Hajr wat Tabdi’di dalam www.muslm.net/vb]

C. Ucapan Muhaddits Yaman al-’Allamah asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i

Berkata asy-Syaikh al-’Allamah al-Muhaddits Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullahu ketika ditanya tentang  kriteria di dalam menghajr :

الحمد لله رب العالمين وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله أما بعد:

”Segala puji hanyalah milik Alloh Pemelihara alam semesta, sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau dan para sahabatnya seluruhya. Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq selain Alloh semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma Ba’du :

فالهجر : هجر المسلم يعتبر من الكبائر والرسول صلى الله عليه وسلم يقول : ( لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث ) نعم ويقول أيضاً :( إن الله سبحانه وتعالى يغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن فيقول انظروا هذين حتى يصطلحا ) فهجر المسلم يعتبر من الكبائر ،

Hajr (dalam artian) menghajr seorang muslim itu termasuk dosa besar, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :

لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث

Tidak halal bagi seorang muslim menghajr saudaranya lebih dari tiga hari.”

Dan sabda beliau pula :

إن الله سبحانه وتعالى يغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن فيقول انظروا هذين حتى يصطلحا

”Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengampuni seluruh hamba-Nya kecuali orang yang musyrik dan orang yang bertikai. Lantas beliau berkata : perhatikanlah dua perkara ini sampai keduanya terbebas

Maka menghajr seorang muslim itu termasuk dosa besar.

وقد وقع مع النبي صلى الله عليه وسلم أن هجر الثلاثة الذين خلفوا عن غزوة تبوك هجرهم نحو خمسين ليلة وهكذا أيضاً هجر نساءه عند أن تظاهرن عليه وطلبن منه النفقة فيما لا يقدر عليه هجرهن شهراً ثم بعد ذلك أمره الله أن يخيرهن بين البقاء معه وبين الفراق ( يا أيها النبي قل لأزواجك إن كنتن تردن الحياة الدنيا وزينتها فتعالين أمتعكن وأسرحكن سراحاً جميلاُ وإن كنتن تردن الله ورسوله والدار الآخرة فإن الله أعد للمحسنات منكنَّ أجراً عظيماً )

Terjadi di zaman Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam bahwasanya beliau menghajr tiga orang yang tidak turut dalam perang Tabuk, beliau menghajr mereka selama 50 malam. Beliau juga menghajr isteri-isteri beliau tatkala mereka membangkang dari beliau dan menuntut harta kepada nabi yang tidak beliau sanggupi, beliau hajr mereka selama sebulan, kemudian setelah itu beliau memberikan pilihan kepada mereka antara tetap bersama beliau ataukah perceraian.

يا أيها النبي قل لأزواجك إن كنتن تردن الحياة الدنيا وزينتها فتعالين أمتعكن وأسرحكن سراحاً جميلاُ وإن كنتن تردن الله ورسوله والدار الآخرة فإن الله أعد للمحسنات منكنَّ أجراً عظيماً

”Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, Maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan Aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki Allah dan Rasulnya-Nya serta negeri akhirat, Maka Sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (al-Ahzab : 28-29)

Beliau rahimahullahu lalu melanjutkan perkataannya :

فالهجر الذي وقع من النبي صلى الله عليه سلم قليل وقليل ، فلا ينبغي لكل من رأي منه تقصيراً أن تهجره فإن النبي صلى الله عليه وسلم يقول : ( حق المسلم على المسلم خمس ومنها إذا لقيتها فسلم عليه ) والهجر في هذا الزمن وفي غير هذا الزمن لابد أن لا يكون شهوة . بينك وبين صاحبك خصام قلت : أنا أهجرك لله ، لكن لو فتشت نفسك وأنصفت لكان الهجر لأجل نفسك فلا يكون لحظ النفس

Hajr yang terjadi dari Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam sangatlah sedikit dan sedikit. Maka tidaklah sepatutnya bagi setiap orang yang ia melihat ada kekurangan pada seseorang lantas kamu menghajrnya, karena Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :

حق المسلم على المسلم خمس ومنها إذا لقيتها فسلم عليه

”Hak muslim yang satu dengan muslim lainnya ada lima, diantaranya apabila bertemu maka ucapkan salam padanya.”

Hajr di zaman ini dan selain zaman ini, haruslah tidak boleh atas dasar syahwat (hawa nafsu). Jika ada permusuhan antara dirimu dengan temanmu, kamu berkata : ”aku menghajrmu karena Alloh” akan tetapi jika kau tilik dirimu dan kau berlaku adil maka sesungguhnya hajr itu adalah untuk dirimu bukan untuk kebahagiaan diri.

تهجر لله سبحانه وتعالى فمثلاً ولدك أو أخوك أو جارك أخوك في الله هجرته وما شعرت إلا وقد انحرف ، أو ذهب إلى الشيوعين ، أو إلى غيرهم ، وأنت تعتبر آثماً وأنت المتسبب في انحرافه ، فلا بد أن تنظر المصلحة ، مثلاً إذا هجرت ولدك يوماً أو يومين وهو محتاج إليك ، وسيرجع وأنت متأكد أنه سيرجع ، أما إذا كان سيخطفه الخربيون ، أو كان سيضيع ويميع في الشوارع ، فعليك أن تصبر عليه وتدعو الله له بالهداية ، فإن دعوتك بإذن الله مستجابة تدعو الله أن يهديه

Kamu menghajr karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala, misalnya anakmu, atau saudaramu, atau tetangga saudaramu, menghajrnya di jalan Alloh, dan tidaklah kamu rasakan melainkan tambah menyimpang, atau berubah menjadi sosialis atau selainnnya, maka kamu menjadi dosa dan menjadi sebab atas penyimpangannya. Maka haruslah kamu perhatikan maslahatnya. Misalnya apabila kamu hajr anakmu sehari atau dua hari sedangkan ia butuh kepadamu dan dia akan kembali (taubat)  maka kamu harus yakin bahwa dia bakal kembali. Adapun jika hizbiyun akan merenggutnya, atau dia akan menyia-nyiakan dan meremehkan syariat, maka kamu wajib bersabar atasnya dan do’akan baginya hidayah dari Alloh, karena do’amu dengan izin Alloh adalah mustajabah, maka berdo’alah kepada Alloh supaya Ia memberinya hidayah.

نعم أنصحكم أن لا تحضروا محاضرة المبتدعة من حزبيين ، ومن غيرهم لماذا ؟ لأنهم يبثون السموم فيها شعرتم أو لم تشعروا ، أما إذا لقيته في الطريق فالسلام عليكم ، وعليكم السلام ، وإذا صافحك فصافحه ، لكن من أجل سلامة قلوبكم والمحافظة على قلوبكم من الشبه أنصحكم أن لا تحضروا محاضرات المبتدعة سواء كانوا حزبيين أم غيرهم ، نعم من أجل المحافظة على سلامة القلوب فإن أحدكم ربما يخرج على سيارته من صنعاء إلى حضرموت وليس له إلا أن يدعو إلى حزبه المغلف ، أو إلى حزبه الظاهر والله المستعان .

Iya, aku nasehatkan kalian untuk tidak menghadiri pengajiannya mubtadi’, baik dari kaum hizbiyin ataupun selain mereka, kenapa? Karena mereka akan menancapkan bisa beracunnya  baik kamu rasakan maupun tidak kamu rasakan. Adapun apabila kamu bertemu dengannya di jalan, maka ucapkan assalamu’alaykum, wa’alaykumus salam, apabila dia mengajakmu bersalaman maka bersalamanlah dengannya. Akan tetapi, dalam rangka untuk keselamatan hati kalian dan menjaga hati kalian dari syubuhat, maka aku nasehatkan kalian supaya tidak menghadiri pengajian mubtadi’, baik mereka dari hizbiyin ataupun selainnya. Iya, dalam rangka untuk menjaga keselamatan hati. Karena sesungguhnya, betapa banyak salah seorang diantara kalian keluar melakukan perjalanan dari Shon’a menuju Hadhromaut, tidak ada yang mengajak dirinya melainkan orang yang mengajak kepada partainya yang tertutup (tersembunyi) atau kepada partainya yang tampak, Dan hanya kepada Alloh kita memohon pertolongan.”

Lihat al-Ajwibah as-Sadidah fi Fatawa al-‘Aqidah oleh al-‘Allamah Muqbil bin Hadi, juz I, hal. 167-168;

Melalui perantaraan Aqwalu A`immah ad-Da’wah as-Salafiyah fi hadzal ‘Ashr fi Mas`alati al-Hajr wat Tabdi’di dalam www.muslm.net/vb

___________

Disarikan dari tulisan Fathul Baari pada 12 Januari 2011 jam 20:22 di facebook:

http://www.facebook.com/notes/fathul-baari/apakah-sama-pendapat-saudara-kita-tentang-mubtadi-dan-hajr-mubtadi-dengan-pendap/10150090387362958

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: