Beranda > MANHAJ, Nasehat Tuk Penuntut Ilmu, TANYA JAWAB > Fenomena Membesar-besarkan Kesalahan Ulama

Fenomena Membesar-besarkan Kesalahan Ulama

9 Januari 2011
Tanya:
Membesar-besarkan kesalahan para ulama merupakan karakter yang terlihat pada banyak pemuda. Bagaimanakah anda bisa mengarahkan para pemuda tentang aspek persoalan ini?
Jawab:
Saya katakan, saya memohon kepada Alloh agar menolong para ulama dalam menghadapi ucapan orang-orang bodoh yang menghujat mereka, karena para ulama itu banyak disakiti.
Pertama, kita mendengar banyak pendapat yang dinisbatkan kepada para ulama yang terkemuka, tetapi setelah kita selidiki, kita mendapatkan bahwa persoalannya tidak sebagaimana yang kita dengar itu. Sering kali dikatakan, “Fulan berkata begini”, tetapi setelah kita selidiki, kita mendapati bahwa persoalan ternyata tidak demikian. Ini merupakan kejahatan besar. Rosul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
إن كذبا علي ليس ككذب على أحد
Sesungguhnya satu kedustaan terhadapku, tidak sama dengan kedustaan kepada siapa pun”, atau sabda yang semakna dengan itu.
Maka kedustaan terhadap para ulama menyangkut syariat Alloh tidak bisa disamakan dengan kedustaan terhadap orang-orang lain. Karena ini menyangkut hukum agama yang dinisbatkan kepada ulama yang terpercaya ini.
Karena itu, semakin besar kepercayaan masyarakat kepada seorang ulama, maka kebohongan terhadapnya dalam berbagai persoalan lebih banyak dan juga lebih berbahaya. Karena setiap masyarakat awam, ketika Anda mengatakan,”Si Fulan telah berkata”, maka mereka tidak mau mempercayai omongan Anda. Tetapi jika Anda mengatakan, “Ulama Fulan mengatakan…”, niscaya mereka mempercayai omongan Anda. Anda akan mendapati sebagian orang memiliki pemikiran atau pendapat yang dianggapnya benar, lantas ia berusaha agar orang-orang lain mengikuti pendapatnya itu, tetapi ia tidak mendapatkan jalan untuk meyakinkan mereka kecuali dengan cara berdusta terhadap salah satu ulama yang mereka percaya. Ia pun mengatakan, “ini pendapat ulama Fulan”. Ini satu hal yang sangat berbahaya. Ini tidak hanya akan menghujat ulama secara pribadi, akan tetapi juga berkaitan dengan salah satu hukum Alloh Subhanahu wa Ta’ala.
Kedua, dibesar-besarkannya kesalahan mereka seperti yang telah saya katakan. Ini juga merupakan kesalahan dan kezholiman. Seorang ulama adalah manusia yang kadang keliru dan benar. Tetapi jika seorang ulama keliru, kita wajib melakukan kontak dengannya atau bertanya kepadanya, ‘Apakah Anda pernah mengatakan demikian?’ Jika ia menjawab, ‘Ya’, sedangkan kita menganggap ucapannya ini salah, maka kita tanyakan lagi kepadanya, ‘Apakah Anda mempunyai dalil? Bila kita telah berdialog dengannya, akan jelaslah kebenaran. Setiap ulama yang objektif dan takut kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala pasti mau kembali kepada kebenaran serta mengumumkan kembalinya ia kepada kebenaran itu.
Adapun membesar-besarkan kesalahan, lantas menceritakan kesalahan terbesarnya, maka ini tidak diragukan lagi merupakan kezholiman terhadap saudaramu yang muslim, bahkan juga kezholiman terhadap syariat, bila boleh saya katakan demikian. Karena jika masyarakat telah mempercayai seseorang, kemudian kepercayaan mereka itu digoyahkan, akan kemanakah mereka memberikan kepercayaan?
Akankah masyarakat ini dibiarkan terombang ambing tanpa pemimpin yang memimpin mereka dengan syariat Alloh ataukah mereka akan memberikan kepercayaan mereka kepada orang bodoh yang akan menyesatkan mereka dari jalan Alloh tanpa sengaja, ataukah mereka akan mengarahkan kepercayaan mereka kepada ulama lain yang jahat, atau yang akan menghalangi mereka dari jalan Alloh secara sengaja?!
Judul asli : الى متى هذا الخلاف (sampai kapan kita berselisih)
Pengarang : فضيلة الشيخ العلامة محمد بن صالح العثيمين رحمه الله (Syaikh Ibnu Utsaimin)
Penerjemah : Harwin Murtadlo
Penerbit : Pustaka Al-Qawam
Sumber:

sunnahkami.blogspot.com

%d blogger menyukai ini: