Beranda > Manhaj Salafiyyah, Motivasi dan Peringatan, Nasehat Tuk Penuntut Ilmu > Di Antara Rahasia Kesuksesan dalam Berdakwah

Di Antara Rahasia Kesuksesan dalam Berdakwah

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

 

Harus kita syukuri, pada saat ini, Walhamdulillah, dakwah Islam yang shahih semakin membumi di negeri yang kita cintai ini. Kebebasan dalam mendakwahkan Islam yang benar, telah diberikan oleh Pemimpin Islam di Nusantara ini khususnya pasca Orde Baru. Maraknya kajian-kajian islam yang sesuai dengan Sunnah Nabi hadir hampir di setiap kota dan pedesaan. Bahkan, kemudahan dalam mempelajari agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah dan para Sahabatnya, dapat dinikmati oleh seluruh kaum muslimin, baik melalui majelis ta’lim, buku, majalah, radio, termasuk dakwah via internet seperti saat ini. Rutinnya dauroh para ulama Timur Tengah ke negeri ini setiap tahunnya, menjadi bukti akan berkahnya dakwah Sunnah. Kemudahan dan perkembangan ini, seharusnya dapat kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya, sehingga barokah dakwah Sunnah dapat dirasakan oleh seluruh umat.

Akan tetapi, sangat disayangkan, fenomena yang kita saksikan saat ini membuat hati prihatin dan mengelus dada, dikarenakan ulah sebagian ikhwah yang mengaku menisbahkan diri kepada manhaj Ahli Sunnah terkesan “garang” dan “cadas” dalam mendakwahkan manhaj ini. Melalui lisan ataupun tulisan mereka banyak keluar kata-kata cacian, celaan kasar, kata-kata kotor, bahkan seisi “kebun binatang” pun ikut dikeluarkan dari “kandangnya” dengan alasan dakwah! Padahal, dakwah yang suci ini berlepas diri dari hal tersebut! Akhirnya, terbentuklah opini dikalangan masyarakat awwam, -terutama dikalangan para pengusung kebatilan seperti JIL dan sejenisnya- bahwa dakwah Ahli Sunnah atau Salafiyah adalah dakwah yang kasar, jauh dari kelemahlembutan, bahkan dikatakan sebagai antek-antek teroris dan kafirun!? Na’udzubillah min dzalik. Padahal, Allah telah berfirman yang artinya, Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’ : 107). Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (H.R. Imam Bukhari). Semoga risalah singkat (??) ini, dapat menyegarkan kembali pemahaman dan pengamalan kita dalam berdakwah, khususnya bagi penulis pribadi –sebagai penuntut ilmu pemula- juga kepada ikhwan dan akhwat Ahli Sunnah….

Perintah dan keutamaan berdakwah

Saudaraku, semoga Allah memuliakanku juga kepada Antum semua…

Dakwah merupakan salah satu kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada kita. Dakwah merupakan proses mengajak umat manusia agar mengamalkan kebaikan dan menjauhi keburukan atau menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar, mendorong umat manusia agar cinta keutamaan dan membenci kekejian, serta mengajak kepada kebenaran dan meninggalkan kebatilan.

Perintah berdakwah, juga dijelaskan oleh Imam Ahli Sunnah, Muhammad at-Tamimiy rahimahullah, di dalam risalahnya yang agung al-Ushuulu ats-Tsalaatsah tentang kewajiban umat Islam untuk mengetahui empat perkara, salah satunya adalah ad-da’watu ilaih, yaitu berdakwah terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalil tentang empat kewajiban tersebut adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya:

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Adapun yang menjadi Syahid (bukti penguat) tentang kewajiban dakwah adalah pada firman Allah Ta’ala, “…nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran…”.

Saudaraku…

Berdakwah merupakan tugas yang sangat mulia, karena hal ini merupakan tugas para rasul dan pengikutnya. Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya,

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata…” (Q.S. Yusuf: 108)

Ketahuilah, jika seseorang memiliki potensi ilmu dan amal yang sempurna, maka ia akan berusaha untuk berbagi kebaikan tersebut kepada orang lain dalam rangka mengikuti jalan hidup para rasul. Inilah di antara rasa syukur kita kepada Allah, yang telah memberikan nikmat hidayah di atas Sunnah kepada kita. Yaitu, kita berusaha menjadi wasilah agar orang lain mendapatkan hidayah dari Allah.

Sebenarnya banyak ayat al-Qur’an maupun hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjelaskan tentang perintah dan keutamaan untuk berdakwah. Di antaranya firman Allah Tabaroka wa Ta’ala yang artinya,

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?’” (Q.S. Fushilat: 33). Dari ayat yang mulia ini, maka ketauhilah, tidak ada ucapan atau perkataan yang lebih baik di sisi Allah jika dibandingkan dengan ucapan seorang da’i ilallah.

Sungguh, bersyukurlah kita kepada Allah yang telah memuliakan umat Islam dikarenakan dakwah yang kita lakukan, sebagaimana firman-Nya yang artinya,

Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (Q.S. 3:110)

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar,..” (Q.S. at-Taubah: 71)

Syaikhul Islam mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan, inilah umat terbaik bagi manusia. Ia paling banyak memberi manfaat dan paling banyak berbuat baik (ihsan) karena ia menyuruh mereka kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan mereka melakukan itu melalui jihad di jalan Allah dengan jiwa dan harta mereka, dan ini adalah manfaat yang sempurna bagi makhluk. (dikutip secara ma’nawi dari kitab Amar ma’ruf nahi munkar)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, seorang Nabi yang mulia, telah memberi motivasi yang sangat besar kepada kita, tentang pahala yang akan diperoleh bagi orang yang berdakwah dan mengajarkan ilmu. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud radliallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala orang yang mengerjakannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun telah bersabda,

Demi Allah, bahwa Allah memberi hidayah kepada seseorang melalui dakwahmu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah.” (H.R. Imam Bukhari dan Muslim)

Dua hadits di atas sudah cukup menjadi dalil tentang keutamaan dakwah.

Teladani Rasulullah

Saudaraku seiman…

Setelah mengetahui keutamaan dakwah di atas, kita pun harus mengetahui bahwa dakwah kepada jalan Allah merupakan sebuah ibadah. Maka, di dalam berdakwah hendaknya kita selalu mencontoh kepada suri tauladan kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena tidak ada satupun perkara dalam Islam yang luput dari penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya,

“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (Q.S. Al-maidah: 3)

Alhamdulillah, Allah telah mengutus Nabi-Nya untuk membawa agama yang penuh dengan kemudahan dan kelembutan ini. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’ : 107). Dan ini adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Jika kita membaca sirah perjalanan dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, insya Allah kita akan memperoleh banyak faidah tentang keberhasilan dakwah beliau. Keberhasilan beliau di dalam menyampaikan al-haq kepada manusia pasti mempunyai rahasia penting yang harus kita teladani, khususnya bagi para da’i.

Lemah lembut dalam berdakwah

Saudaraku, semoga Allah menjaga kita di atas al-haq…

Ketahuilah, bahwasanya jiwa manusia itu pada hakikatnya menyenangi perkara-perkara yang buruk, perkara yang menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya. Hal ini berdasarkan firman Allah Tabaroka wa Ta’ala yang artinya,

Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan.” (QS. Yusuf :53)

Jika nafsu itu cenderung kepada perkara yang buruk, maka kebenaran merupakan sesuatu yang sulit diterima oleh jiwa manusia. Bagaimana mungkin orang akan menerima kebenaran yang hakikatnya berat diterima oleh jiwa manusia, jika kebenaran itu disampaikan dengan cara-cara yang kasar, cara yang buruk, dan jauh dari hikmah. Tentu, manusia akan semakin lari dan menjauh dari kebenaran. Oleh karena itu, diperlukan cara yang jitu untuk “mengambil” hati orang yang akan didakwahi, salah satunya yaitu dengan cara lemah lembut. Karena asas dalam berdakwah adalah dengan lemah lembut.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala telah yang artinya,

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” (Q.S. An-Nahl: 125)

Syaikh As-Sa’di ketika menjelaskan ayat di atas dalam tafsirnya, mengatakan yang maknanya; Ajaklah para manusia –baik mereka yang beragama Islam maupun mereka yang non muslim- kepada jalan Allah yang lurus dengan hikmah; yang berarti masing-masing sesuai dengan kondisi, tingkat pemahaman, perkataan dan taraf ketaatannya. Juga dengan nasihat yang baik yaitu: perintah dan larangan yang dibarengi dengan motivasi dan ancaman. Adapun jika yang didakwahi tersebut menganggap bahwa apa yang dia kerjakan atau dia yakini selama ini benar, -padahal sebenarnya salah- maka debatlah mereka dengan cara yang baik berlandaskan dalil-dalil syar’i maupun akal. (dikutip dari Muqoddimah 14 Contoh Sikap Hikmah dalam Berdakwah)

Wahai saudaraku…

Amar ma’ruf dan nahi munkar atau berdakwah, harus dilakukan dengan penuh kelemahlembutan, dengan cara yang halus. Karena dengan cara inilah, insya Allah, manusia akan menerima apa yang kita dakwahkan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda dalam haditsnya yang mulia,

Tiadalah sikap halus dalam suatu hal melainkan memperbagus sesuatu itu, dan tiadalah sikap kasar dalam sesuatu hal melainkan hanya memperburuknya.” (H.R. Muslim)

Nabi-Nya juga bersabda,

Allah bersifat sangat halus, menyukai sifat halus dalam semua urusan; dan Dia memberi karena sikap halus itu, sesuatu yang tidak akan dia berikan karena sikap kasar.” (H.R. Muslim)

Jika Rasulullah menyuruh kita untuk bersikap halus atau lemah lembut dalam segala sesuatu, maka begitu pula dalam urusan dakwah. Setiap juru dakwah harus bersikap hilm dan tabah dalam mendakwahi saudara kita yang lainnya.

Dalam melaksanakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar ada tiga pilar pokok yang harus dimiliki oleh juru dakwah, yaitu: ilmu, sikap halus, dan sabar. Ilmu harus dimiliki sebelum kita berdakwah, yaitu ilmu di atas al-Qur’an dan al-Hadits sesuai pemahaman sahabat Nabi, dan orang-orang shalih (salaf). Jangan sampai kita mendakwahkan apa yang tidak kita ilmui. Kemudian, sikap halus bersamaan dalam pelaksanaan dakwah, sedangkan sabar setelah melaksanakan tugas. Walaupun pada hakikatnya, ketiga hal tersebut harus ada dalam setiap keadaan. Maka, tidak boleh melakukan amar ma’ruf nahi munkar kecuali orang yang paham (berilmu) terhadap apa yang dia perintahkan (dakwahkan), paham tentang apa yang dia cegah (larang), bersikap halus terhadap apa yang ia perintahkan atau larang, dan bersabar terhadap apa yang dia perintahkan dan dia larang. Jika kita melalaikan salah satu dari ketiga hal di atas, maka dakwah yang akan kita lakukan tidak akan berjalan dengan baik, bahkan bisa jadi akan memberikan mudhorot bagi orang yang berdakwah tersebut.

Ketika harus menghadapi orang yang salah dan berbeda paham

Dalam hidup bermasyarakat, terkadang -bahkan mungkin sering- kita menemukan orang yang melakukan kesalahan atau kemaksiatan. Banyak sekali perintah Allah yang ditinggalkan, juga larangan Allah yang dilanggar. Sungguuh, kita harus prihatin terhadap kondisi ini. Kesyirikan merajalela, bid’ah pun tak kalah maraknya, kemaksiatan bagaikan makanan sehari-hari. Aurat yang seharusnya dijaga, diumbar di mana-mana, belum lagi budaya korupsi yang semakin menjadi-jadi di era Reformasi ini, dan lain-lain. Hal ini semakin memperburuk kondisi bangsa ini yang notabene-nya adalah mayoritas Muslim. Semoga Allah senatiasa memberikan hidayah kepada masyarakat di negeri ini, juga kepada kita tentunya.

Jika kita merenung tentang manusia, kita akan menemukan bahwa mereka memiliki beragam karakter seperti halnya karakter pada tanah yang juga beraneka ragam. Ada yang lunak dan lembut. Ada juga yang keras dan kaku. Ada yang dermawan seperti tanah yang subur. Dan ada yang kikir seperti tanah yang gersang yang tidak dapat menahan air dan tidak bisa menumbuhkan tanaman. Perlakuan kita terhadap tanah pun berbeda-beda. Jika berjalan di tanah yang lembek atau lunak, kita harus super hati-hati agar tidak terperosok ke dalam tanah. Ketika berjalan di tanah yang keras, kita dapat berjalan dengan santai. Begitu pula jika kita ingin mendakwahi manusia –khususnya kepada mereka yang berbuat kesalahan-, kita harus melihat karakter yang ada pada diri mereka, agar dakwah yang kita sampaikan mengena di sanubarinya.

Saudaraku…

Ketauhilah, semoga Allah merahmatimu. Di dalam menyikapi orang yang melakukan penyimpangan dalam agama -baik melakukan kemaksiatan, maupun kebid’ahan atau kesyirikan- ada dua metode yang dapat kita tempuh. Yaitu metode ta’lif dan metode hajr, dan keduanya pernah dipraktekkan oleh tauladan kita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Metode ta’lif merupakan metode mengambil hati orang yang akan didakwahi, baik dengan cara pendekatan terhadap orang yang bersalah, dengan bermuka manis, menjawab salamnya, memberikan nasihat dengan lemah lembut, mengunjunginya, maupun sikap simpatik lainnya yang dapat membuat orang yang bersalah menerima nasihat yang kita sampaikan. Sedangkan metode hajr merupakan sikap memutuskan hubungan dengan orang yang berbuat kesalahan, baik dengan cara tidak salam salam terhadapnya, tidak berbicara kepadanya, tidak senyum, menjauhinya, dan sikap keras lainnya yang diharapkan dapat memberikan pelajaran (jera) kepada orang yang bersalah, sehingga dia dapat mengoreksi diri sendiri kemudian dapat kembali ke jalan yang lurus. Jadi, sikap ta’lif dan hajr sama-sama bertujuan untuk menyadarkan orang yang bersalah agar kembali ke jalan kebenaran. (dikutip dari 14 Contoh Sikap Hikmah, dengan sedikit perubahan dan penambahan)

Ibnu Taimiyyah Sang Guru umat ini, menjelaskan mengenai metode ta’lif dan hajr, beliau berkata, “Penerapan metode ta’lif terhadap sebagian orang terkadang lebih bermanfaat baginya daripada metode hajr, begitupula penerapan metode hajr bagi sebagian yang lain terkadang lebih bermanfaat baginya daripada metode ta’lif. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menerapkan metode ta’lif kepada sebagian orang dan menerapkan metode hajr kepada sebagian yang lain.” (Majmu’ al-Fatawa XXVIII/206, dikutip dari 14 Contoh Sikap Hikmah).

Contoh perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap kedua metode di atas, misalnya ta’lif yang dilakukan Nabi kepada Shafwan bin Umayyah yang ketika itu masih kafir. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan hadiah yang sangat besar kepadanya yaitu seratus ekor onta, kemudian ditambah lagi seratus, dan ditambah lagi seratus. Jadi totalnya adalah tiga ratus ekor onta yang diberikan kepada Shafwan yang masih kafir dengan harapan agar dia masuk Islam. Dan bagaimana hasil pendekatan beliau? Benar, akhirnya Shafwan menyatakan keislamannya karena sangat mencintai sikap Rasulullah terhadapnya! (H.R. Muslim).

Sedangkan sikap hajr, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah kepada sahabat senior Ka’ab bin Malik dan dua orang temannya radhiallahu ‘anhum selama lima puluh hari karena mereka tidak berangkat berjihad saat perang Tabuk tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at. Akhirnya, mereka bertaubat kepada Allah, dan Allah pun menerima taubat mereka radhiallahu ‘anhum. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Itulah sebagian sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menghadapi orang yang berbuat kesalahan, baik dengan ta’lif maupun hajr. Khususnya tentang hajr, hal ini membutuhkan pembahasan yang terperinci dengan syarat-syaratnya, dan tidak mungkin kita bahas pada kesempatan ini. Hal ini dikarenakan banyak penerapan sikap tahdzir dan hajr yang digunakan secara serampangan oleh sebagian ikhwah penuntut ilmu yang mengaku Salafy.

Saudaraku, kita harus mengetahui bahwa sesungguhnya orang yang berbuat kesalahan seperti halnya orang yang “sakit”. Jika seseorang terkena suatu penyakit di tubuhnya, sang dokter harus memberikan obat yang sesuai dengan cara yang baik pula. Misalnya, kita memberikan obat kepada si sakit, dengan mencampurkan sesuatu yang manis ke dalam obatnya (seperti madu, dll) agar orang tersebut tidak “bertambah sakit” dengan obat yang terasa pahit. Atau, jika penyakit orang tersebut memerlukan operasi, maka sang dokter menyuntikkan obat bius kepada si sakit, agar si sakit tidak merasa tersiksa ketika dioperasi.

Begitu pula ketika menyikapi orang yang bersalah, sikap lemah lembut sangat kita butuhkan, karena memang asal dari dakwah dengan lemah lembut. Jika kita memberikan nasihat atau berdakwah kepada mereka yang bersalah dengan cara yang salah, kasar, maka orang tersebut akan semakin menjauh dari kebenaran, dan bergelimang dengan dosa. Dia tidak akan menerima nasihat kita. Padahal, mungkin di antara mereka yang berbuat kesalahan ada yang melaksanakan kesalahannya karena tidak tahu (jahil). Ada lagi yang hanya ikut-ikutan kebiasaan masyarakat, tetapi pada fithrahnya dia ingin mencari kebenaran cuma karena salah “tempat”, dan sebagainya.

Akan tetapi, perlu kita cermati, sikap lemah lembut dan ta’lif dalam dakwah, bukan berarti bersikap mudaahanah! Yaitu mengorbankan agama demi kemaslahatan dunia; seperti bergaul dengan orang fasik dengan menampakkan keridhaan terhadap kefasikannya tanpa adanya pengingkaran. Akan tetapi, hal ini termasuk mudaaraah yaitu mengorbankan kepentingan duniawi untuk meraih kemaslahatan yang bersifat dunia, agama, atau keduanya; misalnya bersikap lemah lembut dan tidak bersikap keras terhadap masyarakat agar mereka simpatik dengan dakwah kita. (dikutip secara secara ma’nawi dari 14 Contoh Sikap)

Dengan cara lemah lembut dalam berdakwah, kita akan mendapatkan banyak faidah. Di antaranya adalah dapat menyadarkan orang-orang yang telah terjerumus dalam perbuatan dosa dan maksiat hingga mereka dapat kembali ke jalan Rabb­nya. Karena, Allah berfirman yang artinya,

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Al-Fushshilat: 34).

Renungan…

Wahai Akhiy dan Ukhti…semoga Allah menjaga kita di atas Sunnah…

Terakhir, penulis nasihatkan kepada diri pribadi dan juga kepada Anda yang sedang berjihad menegakkan dan menyebarkan agama yang haq ini. Hiasilah dakwah kita dengan akhlak yang mulia. Karena akhlak seorang da’i merupakan akhlaq Islamiyyah yang telah dijelaskan oleh Allah di dalam Kitab-Nya yang agung dan telah dirinci melalui lisan Nabi-Nya dalam Sunnahnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya,

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Q.S. Al-Qolam: 4)

Dan ketika Ummahatul Mukminin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha ditanya tentang akhlak Rasulullah, maka beliau berkata, “Sesungguhnya Akhlaknya (Rasulullah) adalah Al-Qur’an.”

Kemudian, hendaknya kita senantiasa mengikhlaskan segala yang kita lakukan hanya untuk Allah. Selalu koreksi niat kita, baik ketika akan melakukan amalan -termasuk dalam dakwah-, ketika beramal, maupun setelah beramal. Karena sesungguhnya, tidaklah Allah melihat amalan seseorang kecuali dari niat di hatinya. Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khottob rodiyallohu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusairy An-Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling shahih diantara kitab-kitab hadits)

Milikilah sifat jujur, karena banyak ayat dan hadits yang menjelaskan tentang pentingnya sebuah kejujuran dan keutamaannya. Kali ini, penulis persilakan untuk membuka Q.S. at-Taubah: 119 dan Q.S. Al-Maidah: 119. Sesungguhnya, kejujuran merupakan salah satu akhlak yang paling dibutuhkan oleh seorang juru dakwah dan bagi siapapun agar dakwahnya bisa diterima oleh masyarakat. Jujur dalam hati, ucapan, dan perbuatan kita.

Penuhi hati kita dengan kasih sayang terhadap semua orang, serta mengajak kepada kebaikan dengan penuh rasa kasih dan sayang. Karena, salah satu sifat Nabi kita yang paling menonjol adalah kasih sayang dan rahmat beliau. Seperti dijelaskan oleh Allah dalam Q.S. at-Taubah: 128. Dengan kasih sayang, seorang juru dakwah akan merasa ringan dalam menghadapi setiap rintangan yang mungkin muncul. Apalagi sifat kasih sayang ini dipadukan dengan kesabaran, yang insya Allah melahirkan pertolongan dari Allah. Allah berfirman yang artinya, Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah…” (Q.S. An-Nahl: 127).

Dan yang terakhir, bersikaplah tawadlu’ (rendah hati). Jauhilah sikap sombong dan merendahkan orang lain. Ingatlah, ketika dahulu kita masih terjerumus dalam lautan kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan, kemudian Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita berupa hidayah Sunnah. Maka, janganlah meremehkan orang lain, semua orang membutuhkan proses untuk menjadi lebih baik. Sebagaimana proses yang ada pada diri kita untuk menjadi lebih baik. Ketahuilah, dengan sikap rendah hati, Allah akan meninggikan derajatnya, sebagaimana sabda Nabi-Nya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Tidaklah seseorang bersikap tawadlu’ (rendah hati) karena Allah, kecuali Allah akan mengangkatnya.”.

Semoga Allah mengampuni segala kesalahan yang pernah kita lakukan, dikarenakan kebodahan pada diri kita, juga kealpaan kita, termasuk dosa yang kita sengaja dan tidak disengaja. Amin.

Semoga risalah ini bermanfaat bagi kita semua…

Ghafarallahu liy wa lakum…Wallahu Ta’ala a’lam bish-Shawab

Mutiara nasihat…:

“Sebaik-baik juru dakwah adalah orang yang berdakwah

dengan perbuatannya sebelum ucapannya.”

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين،

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Selesai ditulis di suatu malam ditemani rintik hujan anugerah dari Allah, 9 November 2008

di sebuah kamar di Jatinangor

Saudaramu yang selalu membutuhkan ampunan Rabbnya

Abu Zayd al-Posowy

http://salafiyunpad.wordpress.com


  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: