Beranda > Artikel Mutiara Sunnah, Nasehat Tuk Penuntut Ilmu, TANYA JAWAB > Bagaimana Solusi Agar Seorang Salafy Tidak Dicap Surury?

Bagaimana Solusi Agar Seorang Salafy Tidak Dicap Surury?

“Bagaimana Solusi Agar Seorang Salafy Tidak Dicap Surury?” Pertanyaan seperti ini sering kali terbetik pada diri seseorang yang menisbahkan diri manhaj salaf. Akan tetapi, di sisi lain dia dicap sebagai surury oleh orang yang sama-sama berusaha meniti manhaj salaf, tentu karena ada qarinah-qarinah yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Lalu apa solusinya? Mari kita lihat di bawah ini, tanya jawab yang mirip dengan pertanyaan di atas yang kita permasalahkan pada topik kali ini. [Admin Mutiara Sunnah]

Pertanyaan :

Sebagian saudara-saudara kita dituduh Sururiyun dengan sebab mereka bermuamalah dengan para Hizbiyin dalam berdakwah. Bagaimana menurut pendapat Syaikh tentang masalah ini?

Jawaban :

Syaikh Ali bin Hasan -hafidzahullah- berkata:

Solusinya mudah sekali! Kalian jangan bermuamalah dengan para Hizbiyin! Dengan demikian kalian bisa menyangkal orang yang menuduh kalian Sururiyun!

Karena bermuamalah dengan Hizbiyin, berarti bermuamalah dengan orang-orang yang berpenyakit menular! Tidak ada orang yang selamat dari penyakit yang mereka bawa tatkala bermuamalah dengan mereka! Minimalnya, penyakit pertama yang akan ia dapatkan adalah tuduhan-tuduhan ini! Oleh karena itu, selamatkanlah dirimu… selamatkanlah dirimu!

Seorang Salafi sejati, tentu tidak akan bermuamalah dengan Hizbiyin, kecuali dalam rangka mendakwahinya saja!

Adapun bermuamalah dan bekerjasama dengan mereka, maka ini adalah pintu fitnah yang wajib ditutup!

Sumber:

Tanya Jawab ketika kajian umum bersama Syaikh Ali Hasan & Syaikh Salim hafizhohumallah, di Jakarta Islamic Center (JIC) – Jakarta. Ahad, 11 Februari 2007. Diterjemahkan oleh Ustadz Arief Budiman, Lc. hafizhohullah. Naskah nukilan di atas diambil dari www.salafiyunpad.wordpress.com

Kemudian, pada kolom komentar dari sumber yang saya nukil, Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal memberi tambahan penting:

penjelasan Syaikh di atas perlu dirinci lagi, agar tidak disalahpahami, perlu diterangkan apa bentuk muamalah yang dimaksud.

Kalau memang yang dimaksud adalah muamalah dalam mendukung dakwah hizbiyin maka jelas hal ini tidak dibolehkan.

Namun kalau yang dimaksudkn adalah muamalah duniawi, tidak ada kaitan dengan dakwah, maka kami rasa ini tidak mengapa. Semacam dulu saja syaikh muqbil pernah menjamu orang-orang syi’ah di rumahnya layaknya tamu istimewa, namun di luar itu beliau membantah mereka habis-habisan. Cerita ini diperoleh dari Ustadz Abu Qotadah dalam video beliau tentag biografi syaikh muqbil -rahimahullah-.

Begitu pula kita boleh ngisi [kajian] di tempat hizbiyin, namun yang kita dakwahkan adalah masih dakwah salaf, bukan dakwah hizbi. Para ulama juga pernah ngisi muhadhoroh di tempat yang diniliai sebagai ahlu bid’ah. Semacam Syaikh Ibnu Utsaimin saja pernah melakukan semacam ini, bahkan di salah satu videonya beliau ngisi di hadapan anak-anak pramuka.

Namun, adakah yang menyalahkan syaikh? Tidak. Karena syaikh ngisi [kajian] di tempat mereka namun beliau tidak mendakwahkan jalan dakwah hizbi tersebut yang keliru, beliau tetap mengajarkan ajaran as-salafush sholeh.
Begitu juga Syaikh Robi’ pernah dakwah di masjid orang sufi. Namun yang beliau dakwahkan adalah dakwah ahlus sunnah yang bertentangan dengan dakwah sufi. Silakan lihat 14 hikmah dalam berdakwah yg ditulis oleh Ustadz Abdullah Zaen.

Jadi,perhatikanlah dua bentuk muamalah seperti yang kami sebutkan di atas. Jangan cepat menghukumi kalau ada seorang ustadz ngisi kajian di masjid hizbiyin, maka dia juga hizbi. Mana dalilnya menghukumi [orang] seperti ini? Wong ustadznya tetap mendakwahi tauhid dan ajaran salaf, kok dituduh hizbi?
Jadi, sekali lagi bedakanlah! Jangan cepat menghukumi sesuatu. Semoga kita selalu mendapatkan taufik-NYA ke jalan yang lurus dan dijauhkan dari berbagai jalan menyimpang.

(Lihat komentar Ust Abduh di atas pada komentar di link sumber nukilan di atas.)

Saya katakan, hukum asal mu’amalah dengan orang atau kelompok yang menyelisihi Sunnah dan ulamanya adalah boleh. Tapi jika dilihat dari sisi muru’ah, seorang sunny, lebih baik baginya untuk saling berta’awun kepada sesama Ahlussunnah, semisal lebih mengutamakan jual beli terhadap sesama sunny. Apalagi dalam hal yang dia masih tergantung padanya. Misalnya pada soal dana, tempat belajar, dan lain-lain.

Alasannya:

1. Karena jika sampai dia merendahkan diri kepada ahlul bid’ah agar ahlil bid’ah tersebut memberikan bantuan finansial, baik dengan lisan atau proposal donatur, maka bagaimana seorang sunny mau membantahnya dengan tanpa beban!? Berbeda halnya jika para pemilik dana tersebut mendatangi Ahlussunnah, memberikan dana tanpa syarat-syarat yang mengekang dan memberatkan dakwah sunnah, sedangkan di satu sisi tidak ada sunny lain yang mampu membantu kebutuhan dakwah, maka insya Allah hal ini tidak mengapa.

2. Kita lihat bagaimana para salaf kita menyikapi harta, mereka -rahimahumullah- telah memberikan teladan yang baik untuk kita. Seperti kisah Syaikh Ibnu Utsaimin yang menolak diberikan finansial secara berlebihan dari kerajaan. Padahal kita tahu, pihak kerajaan tidak hendak mengekang beliau -rahimahullah-. Tidakkah kita mau mencontohnya?

Wallaahu A’lam wal Musta’an.

Komentar ditulis pada 7 January 2011

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: