Beranda > AQIDAH, Artikel Mutiara Sunnah, TANYA JAWAB > Tanya Jawab Bersama al-Fadhil Abu Hudzaifah al-Atsary tentang Syi’ah

Tanya Jawab Bersama al-Fadhil Abu Hudzaifah al-Atsary tentang Syi’ah

Pertanyaan:

Assalamualaikum…….

saya mau tanya sejarah habaib-habaib yang banyak di Indonesia, apakah mereka bener-bener mempunyai garis keturunan dengan Rasulullah Salallahu alahi Wasalam, kebanyakan mereka mendakwahkan kepada kebid’ahan, dan apakah agama takiah kaum syiah masih dipegang mereka? mohon penjelasannya!
Jazakumullah khair

Jawab:

Tentang Habaib yang banyak di Indonesia, perlu diketahui bahwa asal-usul mereka adalah dari Hadramaut (Yaman Selatan). Memang sebagian besar dari mereka mengaku keturunan Ali bin Abi Thalib, sebab itulah mereka juga disebut Bani Alawi atau Alawiyyin (sebagaimana yang diakui oleh sdr. Novel Alaydrus dalam bukunya: Jalan nan Lurus, Sekilas Pandang Tarekat Bani Alawi). Tapi saya tidak berani memastikan apakah semua yg ngaku ‘habib’ berarti keturunannya Ali.

Tentang akidah mereka, menurut penulis kitab Idaamul Quut fi dzikri buldaani Hadramaut, yang juga ‘habib’ namanya Abdurrahman bin Ubeidillah Assegaf (w. 1375 H), dalam halaman 897 beliau mengatakan bahwa orang-orang Alawiyyin di Hadramaut terbagi dalam tiga periode:

Pertama, sejak leluhur mereka yg bernama Ahmad bin Isa Al Muhajir hingga Al Faqih Al Muqaddam. Al Muhajir yakni yang hijrah dari Irak ke Hadramaut dan menjadi cikal bakal Alawiyyin di sana. Periode ini menurut beliau masih berpenampilan seperti para sahabat dan memanggul senjata, singkatnya mereka masih berakidah Ahlussunnah wal jama’ah.

Periode kedua, adalah sejak Al Faqih Al Muqaddam ke Al Aydrus. Al Faqih Al Muqaddam adalah tokoh mereka yang pertama kali meletakkan senjata dan menganut tasawuf.

Periode ketiga adalah, setelah Al Aydrus hingga abad ketiga belas Hijriyah, yang telah terwarnai dengan tasawuf tulen.

Tidak tahu pasti kapan mereka mulai datang ke Indonesia, tapi yg jelas mereka datang setelah terwarnai ajaran sufi, bukan membawa faham Ahlussunnah yang murni, seperti yang diakui juga oleh Novel Alaydrus dalam bukunya tadi. Dan sebagaimana kita ketahui, tasawuf merupakan gerbang dari banyak aliran sesat dan sarat dengan bid’ah khurafat. Oleh karenanya, setiap aliran sesat bisa saja menyusup lewat tasawuf, lewat kedok cinta kepada ahlul bait, dst  sebagaimana yang dilakukan oleh syi’ah. Apalagi ada kemiripan antara tarekat Bani Alawi dengan syi’ah, yaitu keduanya sama-sama mengajarkan umat untuk cinta kepada Ahlul bait (baca: menyanjung para habaib), dengan cium tangan kepada mereka, menghadiri acara haul mereka,dsb. Iini jelas suatu kemaslahatan yang akan mereka pertahankan, dan sedikit banyak cocok dengan ajaran syi’ah yg juga mengultuskan ahlul bait.

Makanya tidak heran jika banyak dari dedengkot-dedengkot syi’ah baik nasional maupun internasional berasal dari mereka. contohnya Hussein Al Habsyi asal Bangil (dia sudah binasa, bukan yang buta dan pernah dipenjara itu), dia pernah langsung baiat dengan Khomeini, dan pendiri YAPI, salah satu organisasi syiah tertua di Indonesia. Demikian pula Quraisy Shihab, Haidar Bagir, dll. Mereka juga dari kalangan Habaib.

Menyedihkan memang, tatkala orang yeng mengaku anak cucu Rasulullah justeru menjadi musuh ajaran beliau. Bukannya mereka menghidupkan sunnah-sunnah Nabi, namun justeru melestarikan bid’ah khurafat di masyarakat. Saya rasa sebab dari ini semua adalah hawa nafsu dan kepentingan duniawi. Mereka khawatir kehilangan pamor di masyarakat kalau meninggalkan ajaran leluhurnya, mengingat sikap mereka yg sangat eksklusif dalam menjaga nasab dan tradisi. Bahkan karena eksklusivisme inilah akhirnya berdiri Yayasan Al Irsyad sebagai tandingan atas Jami’at Khair yang mereka [para Alawiyin, ed-] dirikan. Al Irsyad berdiri sebagai gerakan pembaharuan atas pemikiran-pemikiran kolot yang mereka tanamkan di masyarakat Indonesia, baik yang pribumi maupun keturunan Arab. Di antara pemikiran tersebut ialah tidak bolehnya seorang wanita ‘alawiyah dinikahi oleh pria yang bukan ‘alawi, walaupun ia orang Arab.

Tentu ini bukan ajaran Islam, tapi fanatisme jahiliyah yang harus direformasi, sebab Nabi sendiri menikahkan dua orang puterinya (Ruqayyah & Ummu Kultsum) kepada Utsman bin Affan yg notabene adalah Bani Umayyah, bukan Ahlul Bait. Kemudian Ali bin Abi Thalib menikahkan puterinya yg bernama Ummu Kultsum (yg berasal dari Fatimah rdhiyallaahu ‘anha) kepada Umar bin Khatthab yg bukan dari Bani Hasyim, namun dari Bani Adiy, dan masih banyak lagi contoh lainnya. Dari sinilah akhirnya muncul dua kubu: Habaib dan Masyayikh. Habaib dengan tradisi tasawufnya, sedangkan Masyayikh (non Habaib) dengan gerakan pembaharuannya, seperti Al Irsyad.

Memang bisa dibilang 99% dari para habaib tadi yang tinggal di Indonesia adalah penganut tarekat (sufi). Itu karena mereka sangat terikat dengan tradisi keluarga yg kolot tadi. Tapi beda dengan kondisi mereka yg terpelajar dan ingin membuka fikirannya. Atau mereka yang tinggal di malaysia, saudi, atau negara-negara maju, mereka tidak lagi terikat dengan tradisi kolot tersebut sehingga banyak yang kembali menjadi salafi, atau paling tidak bukan sufi lagi.

Tentang taqiyyah, saya tidak berani memastikan bhw mereka bertaqiyyah seperti orang syi’ah, karena mayoritas mereka bukan syi’ah namun sufi, dan sufi masih berbeda dgn syi’ah. Karena kaum sufi masih menghargai para sahabat dan tabi’in, bahkan terkadang mengkeramatkan kuburan mereka. Ini jelas berbeda dengan keyakinan syi’ah yang mengkafirkan para sahabat tadi. Tapi kalau sudah diindikasikan syi’ah, ya siapa pun orangnya pasti akan bertaqiyyah, terlepas dari habib-kah dia atau bukan.
Demikian penjelasan ana, semoga membantu, wallaahu ta’aala a’lam.

Pertanyaan:

Bagaimana dengan buku-buku sejarah kebudayaan islam yang selama ini diajarkan di madrasah? Apakah buku-buku tersebut bisa dijadikan rujukan?
Saya masih bingung dengan 12 imam syi’ah itsna asy’ariyah? Apakah kedua belas imam tersebut memang berakidah syi’ah? Atau syi’ah berdusta atas ke12 imam tersebut?
Selain itu, apa benar berdirinya daulah abbasiyah karena adanya bantuan dari syi’ah?
terima kasih..

Jawab:

Tentang buku-buku sejarah yang jadi rujukan di madrasah, itu memerlukan studi khusus untuk dihukumi layak atau tidak-nya. saya sendiri belum membaca semua. Ttapi biasanya semua buku sejarah memiliki karakter sama, yaitu menyebutkan segalanya baik shahih maupun tidak. Oleh karenanya, buku-buku tersebut TIDAK BOLEH DIJADIKAN DALIL ATAS HAL-HAL YG BERKAITAN DGN MASALAH AKIDAH, HALAL-HARAM, DAN IBADAH. Sebab ketiga hal ini harus berdasarkan dalil yang shahih, dan TEMPATNYA BUKAN DALAM BUKU-BUKU SEJARAH.

Oleh karenanya, kesalahan metodologi yang sering dilakukan oleh banyak penulis, terutama dari kalangan ahlul bid’ah ialah berdalil dari kitab-kitab sejarah tanpa memverfikasi kebenarannya.

kemudian tentang 12 imam Syi’ah, perlu kita ketahui bahwa yang diakui dalam sejarah hanya ada 11 imam, karena para sejarawan Ahlussunnah mengatakan bahwa Hasan Al ‘Askari -yg dinobatkan sebagai Imam ke-11 kaum syi’ah- adalah org yg tidak berketurunan. TAPI, berhubung syi’ah harus memiliki genap 12 Imam, maka dibikinlah riwayat-riwayat palsu yang mengatakan bahwa beliau memiliki anak yang dinamakan Al Mahdi, yang sejak umur 5 tahun bersembunyi di gua Samarra di Irak sana.  Dan nanti akan keluar di akhir zaman utk membasmi bangsa Arab, menerapkan hukum Dawud Alaihis Salaam (bukan Sunnah Rasulullah Muhammad), menghidupkan kembali Abu Bakr, Umar, Utsman dan Aisyah (Bukan Abu Jahal, Abu Lahab, Fir’aun dan Haman), kemudian mencambuk mereka karena mereka dianggap bersekongkol merebut kekhalifahan dari Ali bin Abi Thalib, dst  sebagaimana yang tersebut dalam kitab-kitab Syi’ah.

Tentunya ini semua adalah kebohongan bin kedustaan atas ke-11 imam tersebut, dan yang paling sering didustai adalah Ja’far Ash Shadiq. Mereka semua menurut Ahlussunnah adalah tokoh-tokoh Ahlussunnah, namun tidak berarti bahwa mereka adalah orang paling ‘alim di masanya, bahkan banyak juga ulama-ulama lain yang setingkat atau lebih ‘alim dari mereka, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Sikap kita sebagai ahlussunnah ialah mencintai ke-11 imam tersebut sebagai ahlul bait Nabi –demikian pula ahlul bait lainnya dari keturunan Abbas bin Abdulmutthalib, Bani Muttalib, dan lain-lain yang tidak diakui oleh Syi’ah sebagai ahlul bait–. Oleh karenanya, yang harus dicintai dan dihormati sebagai ahlulbait termasuk Bani Abbas, Bani ‘Aqil (saudara kandung ‘Ali yg juga muslim dan punya keturunan hingga kini), dan Bani Mutthalib (di antaranya adalah Imam kita Imam Syafi’i).

kemudian tentang berdirinya Daulah Abbasiyah, seingat yang saya baca di Al Bidayah wan Nihayah-nya Ibnu Katsir, Daulah Abbasiyah berdiri dengan cara kudeta berdarah yang dilakukan oleh Bani Abbas lewat panglima mereka yang bernama Abu Muslim Al Khurrasani (asal Khurasan, Persia atau Iran sekarang), bukan dengan bantuan syi’ah. Bahkan di awal-awal berdirinya, tepatnya di zaman Khalifah Abu Ja’far Al Manshur yang menjabat sebagai khalifah kedua selama 20 tahun (136-156 H) kalo ga’ salah, banyak dari keturunan Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yg memberontak kepada Bani Abbas, padahal keduanya sama-sama Ahlul Bait dari Bani Hasyim. Kesimpulannya, banyak dari peristiwa sejarah yang oleh pihak tertentu dipolitisir untuk kepentingan mereka. Wallahu a’lam bisshawab.
Demikian kira-kira jawaban saya yg sedikit ‘ngalor-ngidul’ tapi ada faedahnya insya Allah…

________

Dikutip dengan adanya pengeditan, dari sesi tanya jawab dalam artikel yang berjudul Hegemoni Syi’ah di muslim.or.id:

http://muslim.or.id/manhaj/hegemoni-syiah.html

  1. yudianto
    26 Juli 2011 pukul 14:06

    Teramat mudah memutarbalikkan sejarah dan tergantung dari sisi mana kita melihat. Sebagai contoh, P. Diponegoro dalam sejarah Indonesia adalah pahlawan, namun bagi Belanda (VOC) dia seorang pemberontak dan penghambat pembangunan.
    Allah melalui para ilmuwan telah mengajarkan, jika hendak melihat suatu hakikat maka kita harus keluar dari hakikat itu dan tidak terkurung dalam hakekat itu. Jadi kalo mau melihat jernih suatu permasalahan, mari keluar dari ego kita.
    Patutkah kita, apalagi mengaku ulama mengatakan pemimpin lain yang wafat dengan kata2 binasa? Nampak kebencian di hati kita, sebagaimana Hindun, istri Abu Sofyan dan Ibu dari Mu’awiyah yang dengan penuh dendam dan kebencian mengoyak jasad Syahidul Hamzah dan memakan hatinya? Mengapa tidak kita biarkan segala sesuatu itu berbeda dan ini sunnatullah. Mengapa harus ada paksaan dan hinaan jika berpendapat lain? Sudah siapkah kita menjadi tuhan dengan menganggap diri kita paling benar? Tugas setiap Muslim hanyalah berdakwah dan bukan mendakwa.
    Para Nabi hingga Rasulullah saaw, khataman nabiyin wa rasulan memberikan contoh kesabaran yang luar biasa (Q.S. Al-Baqarah:153). Semoga Allah membukakan hati kita bisa menerima berbagai perbedaan, membangun tatanan masyarakat yang madani bersama – sama sebagai khalifatullah di bumi. Bukan hanya untuk Islam saja, atau bahkan hanya untuk sunni, wahabi, atau syiah saja, tetapi untuk segenap umat manusia. Musuh kita adalah pemusnahan manusia itu sendiri yang mana pada saat itu kita baru tersadar akan jiwa kemanusiaan kita. Kita tidak pernah memandang dia Islam atau bukan, jika terjadi pemusnahan umat manusia seperti bencana, maka rasa kemanusiaan untuk aktif membantu mereka yang terkena musibah tanpa melihat ;latar belakang ras, suku, dan agamanya. itulah fitrah kita sebagai manusia.

    Ada satu permasalahan yang antum kurang pahami, bahwa Allah menguji manusia dengan hidup dan mati agar terlihat mana yang baik amalannya. Yang baik amalannya, akan Allah sambung nikmat yang telah dia peroleh di dunia dengan kenikmatan yang berlipat-lipat, dan yang buruk amalannya, Allah akan putus kenikmatan itu. Lha, jika seandainya kita bener2 peduli thp manusia, maka kita mengharapkan semua manusia mendapatkan nikmat yang bersambung itu di akhirat, dengan mengajak mereka melewati “ujian” Allah dengan apa yang Dia ridhoi, di samping kita memperdulikan hidup mereka. Bukankah begitu?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: