Beranda > Artikel Mutiara Sunnah, Hadits Lemah, Kisah Tak Nyata > Mereka Enggan Menyusui Rosulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam

Mereka Enggan Menyusui Rosulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam

Dinukil secara bebas dengan beberapa tambahan dari Tahdzirud Da’iyah minal Qoshosh al-Wahiyah oleh Syaikh Ali bin Ibrahim al-Hasyisy hal. 42-48

MUQODDIMAH

Sesuatu yang tidak diragukan lagi, dalam sejarah awal kehidupan Rosulullah, bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam disusui oleh dua orang, yaitu Tsuwaibah maula Abi Lahab dan Halimah as-Sa’diyah, seorang wanita dari Bani Sa’d bin Bakr.

Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah saat menyebutkan tentang ibu susu Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: “Di antara mereka adalah Tsuwaibah maula Abi Lahab, dia menyusui Rosulullah beberapa hari, dan yang menyusu kepada Tsuwaibah bersama Rosulullah adalah Abu Salamah bin Abdul Asad al-Makhzumi dengan susu anaknya yang bernama Masruh. Juga menyusu bersama keduanya adalah Hamzah bin Abdul Mutholib rodhiyallahu ‘anhu paman beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama berselisih tentang keislaman Tsuwaibah.

Kemudian Rosulullah disusui oleh Halimah as-Sa’diyah. Para ulama berselisih tentang keIslaman kedua orang tua susu beliau. Yang juga menyusu kepada Halimah bersama beliau adalah Abu Sufyan bin Abdul Harits bin Abdul Mutholib. Hamzah paman Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menyusu pada salah seorang wanita dari Bani Sa’d, dan suatu hari Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah menyusu pada wanita tersebut, oleh karenanya Hamzah adalah saudara sesusuan Rosulullah dari dua ibu, dari Tsuwaibah dan dari wanita dari Bani Sa’d tersebut. (Lihat Zaadul Ma’ad 1/82)

Namun terdapat sebuah kisah yang cukup masyhur berhubungan dengan awal kisah persusuan Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan Halimah as-Sa’diyah, kisah tersebut adalah:

AL-KISAH

Singkat cerita, dikisahkan bahwa suatu ketika Halimah as-Sa’diyah pergi dari negerinya bersama suaminya dan anaknya yang masih kecil bersama beberapa wanita dari Bani Sa’d. Tujuan mereka adalah mencari anak yang bisa mereka susui. Peristiwa itu terjadi saat musim paceklik. Tidak banyak bekal yang dia bawa dan Halimah pun pergi hanya menunggang seekor keledai betina dan seekor unta yang sudah tua, yang sudah tidak lagi mengeluarkan susu walau setetes. Sepanjang malam dia tidak bisa tidur karena harus menidurkan anaknya yang terus rewel karena lapar, sedangkan air susunya pun sudah tidak banyak bisa diharapkan.

Sesampainya di kota Makkah, mereka segera mencari anak susuan, namun setiap kali mereka ditawari bayi Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka pasti menolaknya, setelah mereka mengetahui bahwa bayi itu anak yatim. Hal ini tidaklah mengherankan sebab mereka menyusui bayi dengan harapan imbalan yang setimpal dari bapak bayi tersebut. Sampai akhirnya semua wanita dari rombongan tersebut sudah mendapatkan bayi susuan, kecuali Halimah seorang diri. Akhirnya tidak ada pilihan lain baginya kecuali menerima bayi Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Lalu kembalilah Halimah as-Sa’diyah beserta rombongannya. Sebuah keajaiban terjadi, saat disusui, maka beliau segera meminumnya hingga kenyang, bahkan anak Halimah pun bisa minum hingga kenyang, padahal sebelumnya dia selalu menangis karena lapar. Suami Halimah pun mendatangi untanya yang sudah tua, ternyata dia penuh dengan air susu, lalu dia pun memerahnya dan meminumnya hingga semuanya kenyang.

Di tengah perjalanan, keledai yang asalnya sangat lemah menjadi kuat dan berjalan dengan sangat cepat sehingga meninggalkan rombongan lainnya yang hal ini membuat mereka kaheranan.

TAKHRIJ KISAH INI

Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad beliau no:7163, Thobroni dalam Mu’jam al-Kabir no:545, Abu Nu’aim dalam Dala’il Nubuwwah no:94, Ibnu Hibban: 294, ibnu Hisyam dalam Siroh beliau 1/211.

Semuanya dari jalan Ibnu Ishaq, dia berkata: “Telah menceritakan kepadaku Jahm bin Abi Jahm maula Harits bin Hathib al-Jumahi dari Abdullah bin Ja’far bin Abi Tholib atau dari seseorang yang menceritakan dari Abdullah bin Ja’far berkata: ” -lalu beliau menceritakan kisah di atas-. ”

DERAJAT KISAH INI

Kisah ini lemah. Sebab kelemahannya karena terdapat dua cacat dalam sanad kisah ini:

Pertama, Jahm bin Abi Jahm.

Dia seorang yang majhul (tidak dikenal). Imam adz-Dzahabi berkata tentang dia: “Jahm bin Abi Jahm meriwayatkan dari Ibnu Ja’far bin Abi Tholib, dan dia diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq. Dia orang yang tidak dikenal. Dialah yang meriwayatkan kisah Halimahas-Sa’diyah.” (Mizan I’tidal 1/426/1584)

Ucapan beliau ini disetujui oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam dalam Lisanul Mizan 1/178.

Kedua, terputusnya sanad.

Pada sanad di atas ada yang terputus pada dua keadaan: antara Jahm bin Abi Jahm dengan Abdullah bin Ja’far dan antara Abdullah bin Ja’far dengan Halimah as-Sa’diyah.

Saat DR. Muhammad Sa’id Romadhan al-Buthi mencantumkan riwayat ini, Syaikh al-Albani rahimahullah membantahnya dengan berkata: “Kisah ini tidak datang dengan sanad yang bisa dijadikan sebagai hujjah. Sanad yang paling masyhur adalah dari riwayat Muhammad bin Ishaq dari Abu Jahm dari Abdullah bin Ja’far bin Abdul Mutholib dari Halimah binti Harits as-Sa’diyah……” Sanad ini lemah, karena ada dua cacat : Pertama: kegoncangan dalam sanadnya. Kedua: sanad hadits ini berkisar pada jahm bin Abi Jahm, dan dia seorang yang majhul hal. (Lihat Difa’ anil Hadits Nabawi hal: 39 oleh al-Albani secara ringkas)

SANAD LAIN KISAH INI

Syaikh Ali Hasyisy berkata: “Kisah ini mempunyai sanad lain sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Thobaqot beliau 1/52: “Muhammad bin Umar bin Waqid al-Aslami telah mengabarkan kepada kami, telah mengabarkan kepada kami Zakariya bin Yahya bin Yazid as-Sa’di dari bapaknya berkata: “Ada sepuluh wanita dari Bani Sa’d bin Bakr yang mencari anak susuan, semua mendapatkan anak susuan kecuali Halimah…..”

DERAJAT SANAD INI

Sanad inipun lemah, karena dalam sanadnya terdapat rowi yang bernama Muhammad bin Umar bin Waqid al-Aslami.

Imam adz-Dzahabi menukil perkataan para ulama tentang perowi ini. Ibnu Ma’in berkata: “Dia bukan orang terpercaya”, beliau pun pernah berkata: “Dia tidak boleh ditulis haditsnya.” Imam Bukhori dan Abu Hatim berkata: “Dia orang yang ditinggalkan haditsnya.” Abu Hatim dan an-Nasai berkata : “Dia pemalsu hadits.” Ad-Daruquthni berkata: “Ada kelemahan padanya.” Ibnu Adi berkata: “Hadits-haditsnya tidak terpercaya, dia sumber malapetaka.” Imam Bukhori juga pernah berkata: “para ulama mendiamkannya, tidak ada satu huruf pun yang saya riwayatkan darinya.”

Ishaq bin Rohawaih berkata: “Bagiku, dia termasuk orang yang memalsu hadits.” (Lihat Mizanul I’tidal 7993. Lihat pula al-Majruhin Ibnu Hibban 2/290, Tarikh Kabir Imam Bukhori 543 serta lainnya)

Ucapan dari para imam tersebut menunjukkan bahwa perowi ini sangat lemah dan riwayatnya tidak bisa digunakan untuk menguatkan riwayat sebelumnya. Oleh karena itu meskipun terdapat dua sanad tetap tidak bisa diangkat untuk menghasankan terlebih menshohihkan kisah ini. Wallaahu A’lam

Penulis

Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdullatif Abu Yusuf -hafidzahullah-

 

Diketik ulang dengan adanya perubahan tanda baca, dari Majalah Al Furqon Edisi 11 tahun kedelapan, Jumadi Tsaniyah 1430 H/ Juni 2009

Arikel Mutiara Sunnah pada url https://syababpetarukan.wordpress.com/2011/01/03/mereka-enggan-menyusui-rosulullah-shallallaahu-alaihi-wa-sallam/

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: