Beranda > Keluarga > Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ I ]

Istri-Istri Rasululloh adalah Ibu Kaum Mukminin [ I ]

Pengantar

ust. ahmad sabiq abu yusufPembahasan ini adalah renungan atas firman Alloh Ta’ala dalam surat al Ahzab ayat 6 :

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُوْلُوا اْلأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلآ أَن تَفْعَلُوا إِلَى أَوْلِيَآئِكُم مَّعْرُوفًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Alloh daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Alloh).”

Dalam ayat ini Alloh Ta’ala menyebut istri-istri Rosululloh sebagai ibunya kaum mukminin.

  1. Apakah yang dimaksud dengan keibuan disini ?
  2. Bagaimana konsekuensinya?
  3. Apa yang harus kita lakukan untuk memenuhi hak mereka?
  • Syaikh Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin al Abbad telah mengupasnya dengan bagus dalam risalah beliau tersebut, dan inilah kesimpulannya .

I. Sisi keibuan istri-istri Rosululloh

Secara tegas Alloh menyebut istri-istri Rosululloh sebagai ibunya kaum mu’minin, padahal dalam ayat lainnya Alloh Ta’ala menyebutkan bahwa yang dinamalkan dengan ibu adalah wanita yang telah melahirkan kita. Sebagaimana dalam firman Nya :

إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلاَّ الَّئِى وَلَدْنَهُمْ

“Tidaklah ibu-ibu mereka itu kecuali yang telah melahirkan mereka.”

(QS. Al Mujadilah : 2)

II. Lalu apa yang dimaksud dengan keibuan bagi ummat islam ini ?

  • Imam Ibnu Jarir menukil dari Qotadah bahwa beliau berkata tentang ayat ini : “Alloh mengagungkan kedudukan para istri Rosululloh dengan sebutan ini.” (Tafsir Ibnu Jarir 11/122)
  • Qotadah juga pernah berkata : “Mereka adalah ibu ummat islam dalam sisi kehormatannya, dan tidak halal bagi seorang muslimpun untuk menikah dengan salah seorang dari mereka pada masa hidup Rosululloh seandainya beliau menceraikanya juga sepeninggal Rosululloh. Pernikahan ini harom atas setiap muslim sebagaimana keharaman menikah dengan ibunya sendiri.” (Lihat Ad Durrul Mantsur oleh As Suyuthi 21/566)
  • Berkata Imam Syafi’i : “Firman Alloh :”Mereka adalah ibunya kaum mukminin.” Ini Cuma berlaku pada sebagian makna keibuan saja, maksudnya adalah tidak halal bagi kaum mukminin menikah dengan mereka namun tidak haram menikah dengan anak-anak wanita mereka seandainya ada, tidak sebagaimana keharaman menikah dengan anak-anak wanita ibu yang telah melahirkan atau menyusui mereka.

Kalau ada yang bertanya : Apa yang menjadi dasar pemahaman ini ?

kami jawab :

Dasarnya adalah Bahwa Rosululloh menikahkan putri beliau Fathimah dengan Ali, menikahkan Ruqoyyah dan Ummu Khultsum dengan Utsman bin Affan, Zainab binti Ummu Salamah juga menikah, Zubair bin Awam menikah dengan putrinya Abu Bakr dan Thohah bin Ubaidilah menikah dengan putrid beliau lainnya, padahal keduanya adalah saudara ummul mu’minin serta Abdur Rohman bin Auf menikah dengan putrinya Jahsy padahal dia adalah saudaranya Ummul MU’minin Zainab nbinti Jahsy. Para ummahatul mu’minin itu tidak bisa mewarisi kaum mumin begitu pula sebailknya , mereka disebut sebagai ibu karena kedudukan dan hak mereka atas ummat islam serta tidak bolehnya menikah dengan mereka.” (Lihat Al Umm 5/151)

  • Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “Ummat islam telah sepakat atas haramnya menikah dengan mereka setelah wafatnya Rosululloh, dan atas wajibnya menghormati mereka, karena mereka adalah ibunya ummat islam dari sisi kehormatan dan bukan dari sisi kemahroman, oleh karena itu tidak boleh untuk kholwat dengan mereka sebagaimana kholwatnya sseorang dengan salah satu mahromnya.dari sinilah maka mereka diperintahkan untuk memakai hijab, sebagaiman firman Alloh :

يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ

Wahai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak wanitamu, dan istrinya kaum mu’minin agar mereka menurunkan jilbab-jilbab mereka, karena hal ini lebih dekat agar mereka dikenali dan tidak disakiti.”

(QS. Al Ahzab : 59)

Juga firman Nya :

الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَسْئَلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَاكَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللهِ وَلآَأَن تَنكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِن بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِندَ اللهِ عَظِيمًا

“Kalau kalian minta sesuatu kepada mereka (istri Rosululloh) maa mintalah dari balik hijab. Karena yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka, dan tidak patut bagi kaian untuk menyakiti Rosululloh dan janganlah kalian menikah dengan istri-istrinya setelah wafatny beliau selamanya karena itu adalah sebuah perkara yang besar disisi Alloh.”” (QS. Al Ahzab : 53).”

(Lihat Minhajus sunnah 4/369)

  • Ucapan yang senada dengan ini semua dikatakan oleh Imam Ibnu Katsir dan Al Qurthubi, Asy Syinqithi serta ulama’ tafsir lainnya.

Dengan keterangan ini dapat kta ketahui bahwa keberadan mereka sebagai ibu kaum mu’minin tidak bertentangan dengan firman Alloh yang menyatakan bahwa yang dinamakan dengan ibu adalah wanita yang telah melahirkan kita, karena ibu dalam islam ada dua macam, yaitu :

Pertama : Keibuan dari sisi agama

  • Dan ini cuma berlaku pada istri-istri Rosululloh , karena mereka adalah istri Rosululloh yang merupakan bapak dari seluruh ummat islam, juga karena mereka telah berjuang sekuat tenaga untuk menyebarkan hadits-hadits beliau serta perbuatannya mereka lainnya.
  • Dengan ini semua maka wajib untuk menghormati dan menjalankan hak-hak mereka sebagaimana kedudukan seorang ibu.
  • Keibuan ini berkonsekwensi haramnya menikah dengan mereka namun tidak saling mewarisi dan tidak bisa menjadi mahrom sebagaiman keterangan para ulama’ diatas.

Kedua : Keibuan dari sisi nasab

  • Inilah yang dimaksud oleh firman Alloh dalam surat Al Mujadilah : 2 , yakni yang dimaksud dengan ibu adalah wanita yang telah melahirkan kita. Adapun kewajiban dan hak-hak mereka sangat masyhur dalam bebagai kitab. (lihat Taisir Karimir Rohman oleh Syaikh Abdur Rohman As Sa’di 6/98)

—bersambung—

CATATAN:

Pembahasan ini disarikan dari Risalah “Ta’ammulat fi qoulihi Ta’ala : Wa Azwajuhu ummahatuhum.” Oleh Syaikh Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin al Abbad Al Badr Hafidlohulloh Ta’ala dengan beberapa tambahan dari referensi lainnnya.

Penulis:

Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf

Bagian 2

Kategori:Keluarga
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: