Beranda > Keluarga, TANYA JAWAB > Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ II ]

Istri-Istri Rasulullah adalah Ibu Kaum Mukminin [ II ]

Apakah Rosululloh Boleh Disebut Sebagai Bapaknya Kaum Muminin ?


cinta Nabi adalah dengan mengikuti sunnah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Para istri Rosululloh bisa menjadi ibunya kaum mu’minin  adalah karena mengikuti beliau, seandainya Rosululloh bukan bapaknya kaum mu’minin maka meeka tidak mungkin menjadi ibunya kaum mu’minin.” (Lihat Minhajus sunnah 5/237)

Bahkan Ibnu Abbas pernah membaca ayat ini dengan lafadz :

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ وَ هو أب لهم وأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan beliau adalah bapak mereka serta  isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.”

Sebagamana yang diriwayatkan oleh Hakim dalam Al Mustadrok dan beliau mengatakan : Sanadnya shohih hanya saja tidak diriwayatkan oleh Bukhori Muslim.

Bacaan yang sama juga diriwayatkan dari Mujahid dan ikrimah  dan lainnya

  • Imam Ibnu Katsir berkata: “Diriwayakan dari Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Abbas bahwa keduanya membaca ayat ini : “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan beliau adalah bapak mereka serta  isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.” Hal ini juga diriwayatkan dari Mu’awiyah, Mujahid, Ikrimah dan Hasan Al Bashri.” (Tafsir Ibnu Katsir 6/382, lihat juga Tafsir Ath Thobari 21/122 dan Ad Dur Al Mantsur 21/567)
  • Meskipun bacaan ini syadzah (bukan mutawatir)  namun secara makna hal ini diisyaratkan oleh bacaan mutawatir yang terdapat malam mushaf sekarang, karena memang Rosululloh adalah bapaknya umat islam dari sisi kegamaan, dengan makna bahwa beliaulah yang mendidik dan menunjukkan ummat pada kebaikan, bahkan Mujahid pernah mengatakan : Semua Nabi adalah bapak bagi umatnya.”  Sebagaimana yang dinukil oleh al Alusi dalam Ruhul Ma’ani  21/152

Yang semakan mengautkan akan hal ini adalah  apa yang dikatakan oleh Rosululloh :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْوَالِدِ أُعَلِّمُكُمْ فَإِذَا أَتَى أَحَدُكُمُ الْغَائِطَ فَلَا يَسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ وَلَا يَسْتَدْبِرْهَا وَلَا يَسْتَطِبْ بِيَمِينِهِ وَكَانَ يَأْمُرُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ وَيَنْهَى عَنِ الرَّوْثِ وَالرِّمَّةِ *

Dari Abu Huroiroh berkata : Rosululloh bersabda : “Sesungguhnya saya seperti orang tua kalian, saya mengajari kalan yaitu jika salah seorang dari kalian  ke WC maka jangalah menghadap kiblat dan janganlah membelakanginya serta janganlah beristinjak dengan tangan kanannya. Rosululloh juga memerintahkan untuk beristinjak dengan tiga batu dan melaang beristijak menggunakan kiotoran binatang dan tulang.”

(HR. Ahmad 2/247, Abu Dawud 1/3, Nasa’i 1/38, Ibnu Majah 1/114 dan dihasankan oleh Imam Al Albani dalam Shohihul Jami’ 2/284)

Hadits ini menunjukkan bahwa Rosululloh adalah bapaknya ummat islam dalam makna yang disebutkan hadits ini yatiu Rosululloh mendidik mereka dan mengarahkan mereka kepada jalan yang benar.

  • Syaikh Abdur Rohman As Sa’di berkata: “Beliau adalah bapaknya ummat islam, sebagaimana dalam sebagain bacaan para sahabat karena beliau mendidik mereka sebagaimana seorang bapak mendidik anak-anaknya.” (Lihat Tafsir AS Sa’di 6/98)

Namun ada sebagian para ulama yang tidak membolehkan menamakan Rosululloh sebagai bapaknya ummat islam, berdasarkan pada firman Alloh Ta’ala ;

مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(QS. Al Ahzab : 40)

  • Pendapat ini dinukil oleh Imam Al Qurthubi, dan setelah memarkan madzhab ini beliau mengometari : “Yang benar adalah bahwa hal ini diperbolehkan untuk mengatakan bahwa beliau adalah bapaknya ummat islam dari sisi kehormatan dan kedudukannya, sedangkan firman Alloh : ”Muhammad itu sekali-kali bukan bapak seorang laki-laki diantara kamu.” Maksudnya adalah bapak secara nasab.” (Lihat Tafsir beliau 14/84 dan Tafsir Ibnu Ktsir 6/382 serta Adlwa’ul bayan oleh Asy Syinqithi 15/570)
  • Imam asy Syinqiti saat menyebutkan  adanya pertentangan antara kedua ayat iini dalam kitab beliau : Daf’ iham idltirob , beliau menjawab : “Jawaban atas masalah ini sangat jelas sekali yaitu  sebutan bapak yang ditetapkan adalah bapak dai sisi keagamaan sedangkan yang dinafikan adalah dari sisi nasab.”

—-bersambung—-

Sumber:

Blog Ustadz Ahmad Sabiq

Bagian 1

Kategori:Keluarga, TANYA JAWAB
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: