Beranda > Keluarga, TANYA JAWAB > Penghasilan Orang Tua dari Pekerjaan yang Haram

Penghasilan Orang Tua dari Pekerjaan yang Haram

Pertanyaan

Assalamu’alikum,
Ustad ana mau tanya. Bila seorang anak mengetahui bahwa uang yang didapatkan orang tua bukan dari jalan yang haq (tidak sesuai dengan ilmu syar’i) entah dari jalan riba atau yang lainnya, dan si anak sudah berusaha mengingatkan orang tua, tapi tidak membuahkan hasil, bahkan si anak sampai dinilai macam-macam oleh keluarganya (bisa dikatakan hubungan antara orang tua dan anak menjadi renggang)apa yang sebaiknya anak itu lakukan? si anak tahu bahwa uang itu uang yang tidak halal.apa hukumnya bila si anak menggunakan uang tersebut? mengingat si anak belum bisa mencari uang sendiri. Mohon jawabannya. Jazakumulloh khoiron katsiron.

Jawaban Ustadz:

Wa’alaikum salam warohmatullohi wabarakatuh,
Jika penghasilannya murni dari yang haram saja, tanpa ada penghasilan lain, maka si anak tidak boleh menerima pemberiannya, maka si anak wajib untuk berusaha mencari nafkah lain, jika ia tidak mampu maka ia tidak boleh mengambil lebih dari kebutuhannya sehari-hari sampai ia mampu untuk mencari nafkah sendiri, atau ia mohon bantuan dari saudara atau karib kerabatnya yang lain.

Tetapi bila hartanya bercampur antara yang halal dengan yang haram maka usahakan untuk menjauhi yang haram, di samping selalu berdoa kepada Alloh supaya orang tuanya diberi usaha yang halal serta menempuh cara-cara yang memungkinkan untuk membuatnya sadar dan kembali kepada jalan yang benar. Seperti memberi tahu bahwa harta yang haram adalah penghalang untuk dikabulkannya do’a seseorang. Wallohu A’lam. Wassalamu’alaikum warohmatulloh.

***

Penanya: Nabila
Dijawab Oleh: Ustadz Dr. Ali Musri

Sumber: muslim.or.id

melalui Konsultasi Syari’ah

Kategori:Keluarga, TANYA JAWAB
  1. fa....
    25 Desember 2010 pukul 23:45

    Ass..pak ustadz,saya seorang ibu yg blm lama ditinggal meninggal suami mempunyai 4 org anak yg sudah berumah tangga,3 org anak saya hidup rumah tangga secara normal namun anak yg terakhir (perempuan) bermasalah,sejak dia duduk di bangku SD kls 4.saat ini dia bekerja yg saya sendiri tdk tahu jenis pekerjaannya tetapi sangat mudah mendapatkan uang,terakhir saya mendapat info bahwa dia bekerja dgn cara yg diharamkan oleh agama (berzinah),saat ini dia baru bercerai dgn suaminya (nikah siri).kami sbg org tua senantiasa selalu berkomunikasi secara halus bahkan secara keraspun telah kami lakukan dan mengarahkan dia pada norma-norma agama tetapi tdk ada hasilnya,pertanyaan saya apa yg harus saya lakukan dan bagaimana sikap kami,secara ekonomi saya sbg org tua tdk menuntut utk menghidupi saya..,mhn solusinys,terima kasih,wassalam.

    • 26 Desember 2010 pukul 15:00

      Wa’alaikumus salaam wa rahmatullaah wabarakaatuh

      Sebelum saya menjawab pertanyaan ibu, saya tegaskan bahwa saya bukanlah seorang ustadz. Sehingga ketika ibu menanyakan hal ini, saya usahakan untuk mencari pertanyaan serupa yang telah dijelaskan solusinya oleh para asatidzul karim. Tapi ketika saya belum mendapatinya, maka dengan memohon pertolongan kepada Allah, akan saya jawab permasalahan yang ibu hadapi.

      1. Hendaknya dalam menghadapi segala kesulitan, kita meminta pertolongan kepada Allah untuk memudahkannya, begitu pula ketika kita menghadapi permasalahan pelik dalam rumah tangga.
      2. Ibu jelaskan kepada anak ibu akan besarnya ancaman atas dosa zina dan keutamaan mencari rizki yang halal.

      Hukuman bagi pelaku zina yang belum menikah (ghairu muhsan) didasarkan pada ayat al-Qur’an, yakni didera seratus kali. Sementara bagi pezina muhsan dikenakan sanksi rajam. Adapun siksaan para pezina -baik laki-laki maupun perempuan- di alam barzakh adalah ditempatkan di dapur api yang atasnya sempit dan bawahnya luas. Dari bawah tempat tersebut, api dinyalakan. Sedang mereka berada didalamnya dalam keadaan talanjang. Jika dinyalakan mereka teriak, melolong dan memanjat ke atas hingga hampir-hampir saja mereka bisa keluar, tapi bila api dipadamkan, mereka kembali lagi ke tempatnya semula (di bawah) lalu api kembali lagi dinyalakan. Demikian terus berlangsung hingga datangnya hari kiamat.

      Keadaannya akan lebih buruk lagi jika ada seorang laki-laki sudah tua tapi terus saja berbuat zina, padahal kematian hampir menjemputnya, tetapi Allah Tabaroka wata’ala masih memberinya tenggang waktu.

      Dalam hadits marfu’ dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu disebutkan :

      “Tiga (jenis manusia) yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, juga Allah tidak akan menyucikan mereka dan tidak pula memandang kepada mereka, sedang bagi mereka siksa yang pedih, yaitu laki-laki tua yang suka berzina, seorang raja pendusta, dan orang miskin yang sombong”. (HR Muslim : 1/102-103).

      Di antara cara mencari rizki yang terburuk adalah mahrul baghyi. yaitu upah yang diberikan kepada wanita pezina oleh laki-laki yang menzinainya.

      Pezina yang mencari rizki dengan dengan menjajakan kemaluannya tidak diterima doanya. Walaupun do’a itu dipanjatkan ditengah malam, saat pintu-pintu langit dibuka. (Hadits masalah ini terdapat dalam shahihul jami’ : 2971)

      Kebutuhan dan kemiskinan bukanlah suatu alasan yang dibenarkan syara’ sehingga seseorang boleh melanggar ketentuan dan hukum-hukum Allah.
      Lihat pembahasan mengenai hal ini di sini

      Kemudian,
      3. Jangan lupakan tarbiyah yang baik. Seperti telah disebutkan di atas, berilah penyadaran hukum. Kemudian, suruhlah dia bertobat. Mungkin, sebagai manusia biasa, seperti juga kita, ia juga bisa saja berbuat salah dan kekeliruan. Berilah nasihat dengan penuh hikmat.

      Hal terakhir yang kami nasihatkan, jangan menganggap seagalanya telah berakhir. Selama napas masih berhembus, masih tetap ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Orang-orang yang hidup dalam bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja masih ada yang bisa berbuat maksiat, apalagi di lingkungan kehidupan seperti sekarang ini.

      Berilah kesempatan bagi anak ibu untuk bertobat. Jangan memaksa dirinya untuk mengakui segala kesalahannya. Apa pun yang pernah dia lakukan, perintahkan dia untuk kembali ke jalan yang benar. Jangan lupa, aktiflah hadir di majlis-majlis ilmu, sering-sering mendengarkan ceramah keagamaan dan bacaan al-Quran secara murattal. Dengan cara itu, niscaya ibu pun akan berbahagia dengan mendapati anak yang shalihah, sebagai anugerah kenikmatan yang tiada bandingnya, insya Allah.

      Namun, bila segala cara sudah diusahakan dan anak ibu tidak juga berubah, maka tetaplah bersabar dalam menasihati, Allah tidak membebani suatu kaum melebihi batas kemampuan kaum tersebut. Jangan lupa berdo’a, terutama di penghujung malam.

      Wallaahu a’lam wal musta’an

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: