Beranda > Bedah Kitab, Koreksi dan Bantahan, MANHAJ > Telaah Kritis Terhadap Buku : “Jagalah Dakwah Salaf Jangan Dikotori”

Telaah Kritis Terhadap Buku : “Jagalah Dakwah Salaf Jangan Dikotori”

Jagalah Dakwah Salaf [?1]

Telah sampai kepada kami sebuah buku yang berjudul Jagalah Dakwah Salaf Jangan Dikotori ! Sebuah Upaya Memurnikan Dakwah Salaf.

Melihat judul buku ini seakan-akan kita melihat sosok seorang yang perduli dengan Dakwah Salafiyyah sehingga berusaha membenahi kekurangan yang terjadi di dalam dakwah Salafiyyah. Akan tetapi, setelah kami cermati isi buku ini ternyata ada kejanggalan-kejanggalan di dalamnya dan penuh dengan syubhat-syubhat yang sangat berbahaya. Oleh karna itulah, dalan pembahasan kali ini kami berusaha melakukan telaah kritis terhadap buku ini sebagai nasihat kepada kaum muslimin dan pembelaan kepada manhaj yang haq.

Penulis dan Penerbit Buku Ini

Pada halaman depan buku disebutkan bahwa judul asli buku ini adalah Kasyful Haqaiq Al-Khafiyyah ‘Inda Mudda’is Salafiyyah, ditulis oleh Abdul Aziz bin Saryan A-’Ashimi (dan Dr. Khalid bin Ustman As-Sabt), dan diterjemahkan oleh Najib Junaidi, dan diterbitkan oleh Pustaka eLBA Surabaya cetakan pertama Jumadil Ula 1429/Mei 2008.

Kejanggalan-kejanggalan Buku Ini

1. Pergantian Nama Penulis Kitab Asli :

Di dalam kitab aslinya cetakan yang lama tertera bahwa penulis buku ini adalah Mu’tab bin Saryan al-’Ushaimi. Demikian juga sampai sekarang nama ini masih tertera sebagai penulis kitab ini di dalam link-link download kitab ini seperti :

dan yang lainya.

Cetakan lama tahun 1425 H dengan nama penulis Mu’tab bin Saryan Al-’Ushaimi telah diterjemahkan oleh Wahyuddin dan Abu Ja’far Al-Indunisy dengan judul Beda Salaf Dengan Salafi yang diterbitkan oleh Media Islamika Solo cetakan pertama Agustus 2007. Buku tersebut telah kami bahas di dalam Majalah AL FURQON Tahun ke-7 Edisi 8 Rubrik kitab dengan judul bahasan : Buku Beda Salaf Dengan Salafi Sebuah Makar Untuk Menjatuhkan Manhaj Salafi.

Kemudian di dalam kitab asli cetakan baru tahun 1429 H nama tersebut berubah menjadi Abdul Aziz bin Saryan Al-’Ushaimi. Cetakan baru inilah yang diterjemahkan oleh Najib Junaidi dan diterbitkan oleh Pustaka eLBA Surabaya cetakan pertama Jumadil Ula 1429 H/Mei 2008 M.

Kami kurang tahu tentang sebab perubahan nama ini. Entah namanya Mu’tab atau Abdul Aziz, yang jelas disebutkan bahwa dia tinggal di Makkah sebagaimana tertera didalam sampul kitabnya. Siapakah dia ini ? Wallahu A’lam tentang jati dirinya

2. Nama Penulis Kitab yang Tertera di Dalam Terjemahan Pustaka eLBA :

Di dalam halaman 3 edisi terjemahan Pustaka eLBA ini tertera bahwa judul aslinya :

ﮐﺸﻒ ﺍﳊﻘﺎﺋﻖ ﺍﳋﻔﻴﺔ ﻋﻨﺪ ﻣﺪ ﻋﻲ ﺍﻟﺴﳌﻔﻴﺔ ﻭﺃﺧﻼﻕ ﺍﻟﻜﺒﺎﺭ

Kemudian disebutkan bahwa penulisnya adalah : Abdul Aziz bin Saryan Al-‘Ushaimi, Dr. Khalid bin Utsaman As-Sabt, demikianlah dikesankan bahwa buku aslinya adalah satu kitab dengan judul di atas dengan dua orang penulis, dan kenyataannya bahwa yang benar adalah dua kitab :

  • Kitab pertama judul aslinya

ﮐﺸﻒ ﺍﳊﻘﺎﺋﻖ ﺍﳋﻔﻴﺔ ﻋﻨﺪ ﻣﺪ ﻋﻲ ﺍﻟﺴﳌﻔﻴﺔ

Dengan penulis Abdul Aziz bin Saryan al-‘Ushaimi, dan

  • Kitab kedua judulnya ﺃﺧﻼﻕ ﺍﻟﻜﺒﺎﺭ dengan penulis Dr. Khalid bin Utsman As-Sabt.

Menyebarkan Keraguan Terhadap Manhaj Tashnif

Tashnifun-Nas (Klasifikasi Manusia) adalah : menisbahkan pelaku bid’ah kepada bid’ahnya, menisbahkan pendusta kepada kedustaannya, dan menisbahkan seorang yang di-jarh (dicela) kepada jarh (jenis celaan)nya sebagaimana di dalam kitab-kitab jarh wa ta’dil.
Penulis telah menyabarkan keraguan-keraguan terhadap manhaj tashnif ini dengan menyebutnya sebagai tugas iblis (hlm. 51) dan dia sebut pula sebagai fitnah!! (hlm. 74).
Padahal tashnif ini adalah haq tanpa ada keraguan di dalamnya. Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah telah sepakat atas shohihnya penisbahan orang yang dikenal dengan suatu kebid’ahan kepada bid’ahnya sebagaimana deketahui oleh setiap orang yang mau menelaah kitab-kitab salaf. Barang siapa yang dikenal dengan bid’ah qodar maka dia dikatakan Qodari, barang siapa yang dikenal dengan bid’ah Khowarij maka dia dikatakan Khoriji, barang siapa yang dikenal dengan bid’ah irja’ maka dia dikatakan Murji’, barang siapa yang dikenal dengan bid’ah rofdh maka dia dikatakan Rofidhi, dan seterusnya. Tashnif ini juga terdapat dalam hadits-hadits Rosululloh Sollallahu’alaihiwasallam seperti penisbahan kelompok pengingkar takdir kepada bid’ah mereka sebagaimana dalam sabda Rosulullah Sollallahu’alaihiwasallam, yang artinya :
“Qodariyyah adalah Majusi-nya umat ini, jika mereka sakit maka janganlah kalian menjenguk mereka, dan jika mereka mati maka janganlah kalian melawat mereka.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya : 4:222 dan dihasankan oeh Syaikh al-Albani daam Shohihul-Jami’ : 442)

Demikian juga kelompok Khowarij yang diisyaratkan oleh Nabi Sollallahu’alaihiwasallam di dalam hadits-hadits yang banyak sekali yang mencapai derajat mutawatir.
Tashnif ini juga terdapat di dalam perkataan para salafush-sholih dari kalangan sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, dan para imam, seperti riwayat dari Abu Umamah ketika beliau menafsirkan firman Alloh Ta’ala, yang artinya :
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka…”.(QS. Al-An’am[6]: 159)
Abu Umamah menafsirkan bahwa “mereka” adalah Khowarij (lihat Tafsir Ibnu Katsir:2/197).
Abdulloh bin Abi Aufa Rodiallohu’anhu-salah seorang sahabat-berkata: “Semoga Alloh melaknat Azariqoh, semoga Alloh melaknat Azariqoh. Sungguh Nabi Sollallahu’alaihiwasallam telah mengabarkan kepada kami bahwa mereka adalah anjing-anjing neraka.” Maka berkatalah perawi darinya: “Azariqoh saja ataukah Khowarij semuanya?” Dia berkata: “Bahkan Khowarij semuanya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam Musnad-nya dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Zhilalul-Jannah fi Takhrijis-Sunnah)
Imam Sufyan bin Uyainah Rohimahullah berkata tentang Ismail bin Humaid: “Dia adalah Baihasi.” Al-Hafizh Ibnu Hajar Rohimahullah berkata: “Baihasiyyah adalah nama sebuah kelompok Khowarij dinisbahkan kepada Abu Baihas seorang gembong Khowarij dari kelompok Shofariyyah yang memandang wajibnya memberontak kepada para pemimpin yang curang.” (Tahdzibut-Tahdzib:1/305)
Imam Abu Dawud Rohimahullah berkata tentang Ishaq bin Robi’: “Dia adalah Qodari.” (Tahdzibut-Tahdzib: 1/203)
Demikianlah, sejak dulu para ulama kita telah membeda-bedakan: ini Mu’tazilah, ini Sufiyyah, ini Murji’ah, ini Khowarij, dan ini Syiah; sehingga istilah-istilah ini terkenal. Itulah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hazm-misalnya-dalam al-Fishol Fil-Milal wal-Ahwa’ wan-Nihal, Abdul Qohir bin Muhammad al-Baghdadi dalam al-Farq Bainal-Firoq, asy-Syahrostani dalam al-Milal wan-Nihal. Begitu pula ulama-ulama mutaakhirin pun menggunakan istilah-istilah untuk jama’ah dakwah agar bisa dibedakan dari dakwah Ahlus-Sunnah. Di antara mereka adalah Syaikh Ibnu Bazz Rohimahullah, Syaikh al-Albani Rohimahullah dalam berbagai kitab dan kasetnya, Syaikh at-Tuwaijiri dalam at-Tahdzir al-Baligh min Jama’ah at-Tabligh, Syaikh al-Fauzan Hafidzohullah dalam al-Ajwibah al-Mufidah, Syaikh Ahmad an-Najmi hafidzohullah, dan lainnya.
Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi Rohimahullah berkata: “Para salaf telah menggolong-golongkan manusia kedalam (beberapa golongan, seperti): Khowarij, Rofidhoh, Mu’tazilah, Murji’ah, Jahmiyyah. Mereka membagi setiap firqoh (golongan). Telah ditulis beberapa kitab dalam hal itu berdasarkan realita golongan-golongan itu.” (lihat al-Hadd al-Fishil hlm. 140-141 terbitan Maktabah al-furqon, 1421 H)
Maka tashnifun-nas adalah hal yang disepakati oleh umat ini dan bukanlah perkara yang baru (lihat ar-Rod-dul-Ilmi ‘Ala Munkiri Tashnif kar. Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim dari Maktabah Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim oleh www.islamspirit.com dan bahasan Tashnifun-Nas di dalam Majalah AL FURQON Tahun ke-7 Edisi 8 Rubrik Manhaj).

Kontradiksi Penulis

Penulis begitu sinis terhadap manhaj tashnif tetapi dia sendiri memakainya. Pada hlm. 94-98 buku ini dia klasifikasi lawan-lawanya menjadi 6 kelompok: Pendengki, Pengangguran, Pengais rezeki, Pengekor, Tertipu, dan Pencela.(!)
Kami katakan:
Duhai alangkah miripnya hari ini dengan kemarin. Dahulu, Muhammad Surur membagi lawan-lawanya menjadi 6 tingkatan penghambaan: 1. George Bush presiden Amerika; 2. Para penguasa di negeri-negeri Arab; 3. Para pembantu penguasa negeri-negeri Arab dari para menteri, para penasehat, dan yang lainnya; 4, 5, dan 6 adalah para pejabat tinggi di kementerian. Kemudian dia katakan bahwa para Ulama Saudi seperti Syaikh Ibnu Bazz, Syaikh al-Utsaimin, dan Syaikh Sholih al-Fauzan sebagai budak budak budak budaknya budak dan majikan mereka adalah orang Nasrani!! (Majalah as-Sunnah al-Britaniyyah, edisi 26 Jumadil Ula 1413 H, hlm. 2-3)

﴾ﺗﺸﺒﻬﺖ ﻗﻠﻮﺑﻬﻢ ﻗﺪ ﺑﻴﻨﺎ ﭐﻷﻳﺖ ﻟﻘﻮﻡ ﻳﻮﻗﻨﻮﻥ …﴿

…..Hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin . (QS. al-Baqoroh [2]: 118)
Dan lihatlah bagaimana teman-teman Muhammad Surur dari kelompok Quthbiyyin membagi para ulama menjadi ulama yang paham waqi’ (realita) dan ulama yang tidak paham waqi’. Mereka merendahkan dan melecehkan para ulama Salafiyyin dengan mengatakan bahwa mereka bukanlah rujukan kaum muslimin karena mereka tidak paham waqi’. Iniah sebagaimana yang dikatakan oleh Salman dalam Majalah al-Islah Emirat Arab edisi 223-28/1, dan Abdurrohman Abdul Kholiq dalam kitabnya Khuthuth Ro’isiyah Liba’tsil Ummah Islamiyyah hlm. 73-78. (Madarikun-Nazhor hlm. 271 dan Jama’ah Wahidah hlm. 40).

Di sisi lain, mereka membagi Ulama menjadi ulama sulthon (ulama penguasa) dan sulthonul-ulama’ yaitu kelompok mereka sebagaimana dikatakan oleh Aidh a-Qorni di dalam qoshidah-nya yang berjudul Da’il Hawasyi Wakhruj (tinggalkanlah para antek penguasa dan keluarlah)!
Maka kami katakan bahwa penulis bersikap plin-plan dalam menyikapi tashnif, jika tashnif dirasa merugikannya maka dia tolak, dan jika dirasakan menguntungkanya maka dia pakai. Hal seperti inilah yang dilakukan oleh para ahli bid’ah dan pengekor hawa nafsu, mengklasifikasikan manusia semau mereka sesuai dengan hawa nafsu mereka. Mereka mengklasifikasikan para ulama menjadi ulama politik serta ulama haid dan nifas! Di sisi lain, tatkala para ulama Sunnah men-tashnif (mengklasifikasikan) para gembong mereka kepada masing-masing kebid’ahan mereka maka dengan serentak mereka marah dan membabi buta, mereka sebarkan keragu-raguan kepada umat tentang masalah tashnif yang haq dengan maksud untuk melindungi nama dan kedudukan gembong-gembong mereka.

Menyebarkan Kebencian Terhadap Istilah Salafi dan Salafiyah

Penulis begitu getol di dalam menyebarkan kebencian terhadap nisbah Salafi dan Salafiyyah. Dia katakan bahwa nisbah as-Salafi atau al-Atsari merupakan suatu kesombongan! (hlm 78) bahkan dia buat manusia ngeri memakai istilah Salafi dengan dia katakan bahwa para pengaku Salafi adalah pelaku kejahatan!! (hlm.99)

Padahal tidak ada yang lebih membanggakan seorang muslim daripada menisbahkan diri kepada Salaf. Lafazh Salafiyyah atau Salafi tidaklah digunakan oleh para ulama Ahlus-Sunnah kecuali dalam kebaikan. Lihatlah dalam kitab-kitab para ulama terutama dalam kitab-kitab biografi, mereka tidaklah menyebut Salaf atau Salafi melainkan sebagai pujian. Betapa sering para ulama menyebutkan di antara manaqib-nya adalah karena dia berjalan diatas manhaj salaf!
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rohimahullah berkata : “Tidak ada cela bagi orang yang menampakkan madzhab salaf, menisbahkan diri kepadanya, dan membanggakanya; bahkan wajib diterima semua itu darinya berdasarkan kesepakatan ulama. Karena sesungguhnya madzhab salaf adalah haq. Jika dia sesuai dengan salaf secara lahir dan batin, maka dia seperti seorang mukmin yang diatas kebenaran secara lahir dan batin.” (Majmu’ Fatawa: 4/149)

Al-Hafizh adz-Dzahabi Rohimahullah sering menyebutkan nisbah kepada salaf (as-Salafi) ketika menyebutkan biografi para ulama.
Ketika menyebutkan biografi Ya’qub bin Sufyan al-Fasawi dalam Siyar A’lamin Nubala’(13/187) adz-Dzahabi berkata : “Aku tidaklah mengetahui Ya’qub al-Fasawi kecuali (bahwa dia adalah) seorang Salafi.”
Ketika menyebutkan biografi Muhammad bin Muhammad al-Bahroni, beliau berkata : “Dia adalah seorang yang beragama, baik, dan seorang Salafi. “ (Mu’jam Syuyukh no. 843)
Ketika menyebutkan biografi Imam ad-Daruquthni beliau mengatakan : “Dia tidak pernah sama sekali masuk dalam ilmu kalam dan jadal (debat), bahkan dia adalah seorang Salafi.” (Siyar: 16/457)
Ketika menyebutkan biografi Abu Thohir as-Silafi, beliau mengatakan : “As-Silafi diambil dari kata as-Salafi yaitu berjalan diatas manhaj Salaf.” (Siyar: 21/6)
Ketika menyebutkan biografi al-Hafizh Sholah, beliau mengatakan : “Dia adalah seorang Salafi, bagus aqidahnya…” (Tadzkirotul-Huffazh: 4/1431) (Lihat risalah Tabshirul-Kholaf Bisyar’iyyatil-Intisab Ila Salaf kar. Syaihuna al-Fadhil Dr. Milfi bin Na’im ash-Sho’idi)
Dan merupakan hal yang dimaklumi bahwa kelompok-kelompok bid’ah sangat menjauhi intisab (menisbahkan diri) kepada Salaf, sampai-sampai kelompok yang mengaku beraqidah salaf pun juga menjauhi dan menghindari penisbahan kepada salaf. Inilah syi’ar ahli bid’ah dari masa ke masa, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah Rohimahullah “Syi’ar ahli bid’ah adalah tidak mau ittiba’ (mengikut) kepada salaf.” (Majmu’ Fatawa: 4/100)
Kelompok-kelompok bid’ah ini mengetahui bahwasanya dengan meninggalkan intisab kepada Salaf maka mereka akan bisa leluasa menghukumi segala sesuatu dengan akal, perasaan, dan eksperimen-eksperimen mereka!
Inilah realita yang menunjukkan keagungan taqdir Alloh Ta’ala, agar nampak jelas dakwah yang haq dari setiap kebatilan yang hendak menyerupainya, dan agar dakwah yang haq murni dari segala macam kotoran hendak mencampurinya.

Membuat Opini Bahwa Para Ulama Membenci Nisbah Salafi dan Salafiyyah

Penulis banyak menukil perkataan para ulama yang mengesankan bahwa para ulama tersebut tidak suka kepada nisbah as-Salafi, al-Atsari, as-Salafiyyah, dan yang semisalnya. Padahal kenyataan yang sebenarnya, para ulama tersebut selalu mengajak manusia agar ittiba’ kepada manhaj salafi sebagaimana tampak di dalam nukilan-nukilan berikut ini :

Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Bazz Rohimahullah ketika ditanya tentang siapakah Firqotun-Najiyah, beliau menjawab : “Mereka adalah Salafiyyun dan setiap orang yang berada di atas jalan salafush-sholih.” (Minhaj Firqatun Bajiyah hlm. 15)
Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Bazz Rohimahullah juga pernah ditanya : “Bagaimana pendapat anda terhadap orang yang menamakan dirinya Salafi dan Atsari, apakah ini termasuk memuji diri?” Beliau menjawab “Apabila dia benar-benar Atsari atau Salafi maka tidak mengapa. Hal ini seperti yang pernah dikatakan oleh para salaf dahulu : Fulan Salafi, fulan Atsari. Ini termasuk pujian yang harus dan wajib.” (Dari kaset ceramah dengan judul Haqqul-Muslim di kota Tho’if pada 16 Muharrom 1413)
Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin Rohimahullah berkata : “Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah adalah yang meyakini aqidah Salaf. (Bahkan) sampai orang yang datang belakangan di hari kiamat, jika dia berada di atas jalan Rasulullah Sollallahu’alaihiwasallam dan para sahabatnya maka dia adalah Salafi.” (Syarh Aqidah Wasithiyyah: 1/53-54)
Telah datang suatu pertanyaan kepada Syaikh Sholih al-Fauzan Rahimahullah yang berbunyi : “Apakah salafiyyah adalah suatu hizb (kelompok) dan apakah menisbahkan diri kepadanya adalah hal yang tercela?”
Maka beliau menjawab : “Salafiyyah adalah Firqotun-Najiyah (kelompok yang selamat). Mereka adalah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, bukan suatu hizb yang dinamakan (dalam istilah) sekarang sebagai kelompok-kelompok atau partai-partai. Sesungguhnya ia (Salafiyyah) adalah suatu jama’ah, (yakni) jama’ah yang berjalan di atas sunnah… maka Salafiyyah adalah jama’ah yang berjalan diatas madzhab salaf dan di atas jalan Rosululloh Sollallahu’alaihiwasallam dan para sahabatnya. Dan ia bukanlah salah satu kelompok dari kelompok-kelompok yang muncul sekarang ini, karena ia adalah jama’ah yang terdahulu dari zaman Rosulullah Sollallahu’alaihiwasallam dan terus berlanjut terus-menerus di atas kebenaran dan nampak hingga hari kiamat sebagaimana diberitakan oleh Rosulullah Sollallahu’alaihiwasallam. “ (Dari kaset yang berjudul at-Tahdzir minal-Bida’)
Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid Rahimahullah berkata : “Jika disebut salaf atau Salafiyyun atau Salafiyyah, maka ia adalah nisbah kepada salafush-sholih, (yaitu) para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan; bukan orang-orang yang cenderung kepada hawa nafsu dari generasi sesudah sahabat dan menyempal dari jalan para sahabat dengan nama atau simbol – mereka inilah yang disebut kholafi, nisbah kepada kholaf. Adapun orang-orang yang teguh di atas manhaj kenabian menisbahkan diri kepada salafush-sholih sehingga mereka disebut salaf dan salafiyyun dan nisbah kepada mereka adalah salafi.” (Hukmul-Intima’ hlm. 90)
Syaikh Bakar bin Abdulloh Abu Zaid Rohimahulloh juga berkata : “Jadilah engkau sebagai seorang Salafi yang menelusuri jejak salafush-sholih dari kalangan sahabat dan yang mengikuti mereka dengan baik dalam permasalahan agama ini seperti tauhid, ibadah, dan selainnya.” (Hilyah Tholibil-Ilmi hlm. 28 dengan syarah Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin)

Penutup

Inilah di antara penjelasan terhadap sebagian syubhat-syubhat buku ini yang bisa kami paparkan. Sebetulnya masih banyak hal-hal lain yang belum kami bahas mengingat keterbatasan tempat.

Semoga yang kami paparkan di atas bisa menjadi pelita bagi kita dari kesamaran syubhat-syubhat tersebut dan semoga Alloh selalu menunjukkan kepada kita jalan-Nya yang lurus dan dijauhkan dari semua jalan-jalan kesesatan. Amin.

[Ditulis ulang dan di upload ke dalam situs ini oleh Juned As Sidarji dari Majalah AL FURQON Edisi 05 th. Ke-8 1429/2008, buah karya Ustadzduna Al Fadhil Al Ustadz Abu Ahmad as-Salafi hafidhohullah via Abu Namira’s blog]

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: