Beranda > AQIDAH, MANHAJ > Apa perbedaan antara manhaj dan akidah? [1]

Apa perbedaan antara manhaj dan akidah? [1]

Penjelasan Syeikh Yahya Al Hajuri hafizhohullah

الفرق بين المنهاج و العقيدة
السؤال: ما معني المنهاج و ما الفرق بينه و بين العقيدة؟

Syaikh Yahya bin Ali al Hajuri pernah mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, “Apa makna manhaj? Apa perbedaan antara manhaj dan akidah?”

الإجابة:
الله عز و جل يقول: اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ (الأعراف:3)

Jawaban Syaikh Yahya al Hajuri,

“Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti berbagai sesembahan selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)” (QS al A’raf:3).

ويقول سبحانه: لِئَلا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ (النساء:165)

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-rasul itu”(QS an Nisa:165).

و يقول سبحانه: وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (النساء:١١٥)

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS an Nisa:115).

و أدلة من هذا الباب كثير. كلها تدل على اتباع كتاب الله و سنة رسوله و أن الكتاب و السنة على فهم السلف الصالح

Dalil-dalil yang semakna dengan dalil di atas sangat banyak. Seluruhnya menunjukkan kewajiban untuk mengikuti al Qur’an dan sunah rasul-Nya dan al qur’an dan sunah itu dipahami sebagaimana pemahaman salafus saleh.

هما معتقد أهل السنة و هما منهج أهل السنة فتؤخذ العقيدة و المنهاج و الأخلاق و الآداب و المعاملات و الولاء لأهل الحق و البراء من أهل الباطل كل بحسبه … من كتاب الله و سنة رسوله.

Al Qur’an dan Sunnah adalah sumber akidah ahli sunnah dan keduanya adalah manhaj (jalan) ahli sunah. Akidah, manhaj, akhlak, adab, muamalah, loyalitas kepada pembela kebenaran dan memusuhi para pengusung kebatilan – masing-masing pengusung kebatilan itu dimusuhi sebanding dengan kadar kebatilan yang mereka usung- seluruhnya diambil dari al Qur’an dan sunah rasul-Nya.

و أحسن كتاب في العقيدة هو كتاب الله عز و جل و صحيح سنة رسول الله- صلى الله عليه و سلم – و ليس فيهما دليل إلا و هو يؤيد منهج أهل السنة و عقيدة أهل السنة و يدفع و يدمغ الباطل و أهله من الذين زاغوا و زلت أقدامهم و طاشت أفهامهم من ذوي الأهواء.

Sebaik-baik buku akidah adalah al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih. Tidak ada satupun dalil yang ada dalam al Qur’an dan Sunnah melainkan menguatkan manhaj dan akidah Ahli Sunnah serta meluluhlantakkan kebatilan dan para pengusungnya. Itulah para pengekor hawa nafsu yang menyimpang, tergelincir dan memiliki pemahaman yang menyimpang.

فنعم، إن العقيدة و منهج كتاب الله و سنة رسوله الذي سار عليه السلف الصالح من الصحابة و من بعدهم، واحد.

Sesungguhnya akidah dan manhaj al Qur’an dan Sunnah rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang dipahami oleh salafus saleh dari kalangan sahabat dan orang-orang sesudahnya adalah suatu hal yang sama.

و أن التقسيم فيه النظر، و أن العقيدة هي التى اعتني بها السلف و سموا كتبهم السنة و يعنون بذلك معتقد أهل السنة و سموها أيضا العقيدة كالعقيدة الواسطية و العقيدة الطحاوية و عقيدة السلف. و يأتون في تلك الكتب بآيات و أحاديث و آثار ترد على ذوي الأهواء و يسمونها العقيدة.

Membedakan akidah dan manhaj adalah suatu hal yang tidak tepat. Akidah-lah yang menjadi pusat perhatian ulama salaf. Mereka menamai buku-buku karya mereka dengan Sunnah dan yang mereka maksud dengan istilah Sunnah di sini adalah akidah Ahli Sunnah. Memang sebagian ulama menamai buku karya mereka dengan nama akidah semisal Akidah Wasithiyyah, Akidah Thahawiyyah dan Aqidah al Salaf. Dalam buku-buku tersebut mereka bawakan berbagai ayat, hadits dan atsar salaf yang mengandung bantahan terhadap ahli bid’ah. Itulah yang mereka sebut dengan akidah.

و الله جل جلاله أمرنا بأمرين اتباع كتاب الله و سنة رسوله و فهم السلف الصالح

Allah memerintahkan dua hal kepada kita yaitu mengikuti al Qur’an dan sunah serta mengikuti pemahaman salafus saleh.

قال الله تعالي: وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (النساء:١١٥)

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS an Nisa:115).

و قال عز من قائل: هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ (التوبة:٣٣)

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dialah yang telah mengutus rasulNya dengan membawa alhuda atau petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama” (QS at Taubah:33).

و قال صلى الله عليه و سلم : انما بعثت لأتمم صالح الأخلاق (رواه ابن سعد في الطبقات و البخاري في الأدب المفرد و الحاكم في المستدرك و البيهقي في شعب الإيمان عن أبي هريرة).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia” (HR Ibnu Saad dalam al Thabaqat, al Bukhari dalam al Adab al Mufrad, al Hakim dalam al Mustadrak dan al Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari Abu Hurairah).

و الهدي كتاب الله و سنة رسوله صلى الله عليه و سلم علي فهم السلف الصالح رضوان الله عليهم.

Yang dimaksud dengan al huda dalam ayat di atas adalah al Qur’an dan sunah rasul-Nya sebagaimana pemahaman salafus saleh.

فهذا هو المعتقد الصحيح و هو المنهج الصحيح الذي سار عليه سلفنا بغير التفريق بينهما و لا دليل على التفريق من كتاب الله ولا من سنة رسوله صلى الله عليه و سلم.

Inilah akidah yang benar dan itulah manhaj yang benar. Di atasnyalah para ulama salaf berjalan tanpa ada pembedaan antara akidah dengan manhaj. Tidak ada dalil dari al Qur’an dan sunah yang membedakan pengertian antara keduanya”.

أسئلة أهل السنة بسقطري-1 بتاريخ 13 محرم 1423 هـ دماج- دار الحديث.

___________

Jawaban Syaikh Yahya di atas terdapat dalam kaset pertama yang berisi pertanyaan-pertanyaan Ahlu Sunnah yang tinggal di daerah Saqthari yang diajukan kepada beliau pada tanggal 13 Muharram 1423 di Darul Hadits Dammaj.

الكنز الثمين في الإجابة عن أسئلة طلبة العلم و الزائرين، المجموعة الأولي، المجلد الأول أجاب عنها فضيلة الشيخ أبو عبد الرحمن يحي بن علي الحجوري ص161-163 دار الكتاب و السنة: عين شمس الشرقية- القاهرة- مصر

Fatwa di atas saya baca dan saya dapatkan di sebuah buku kumpulan fatwa-fatwa Syaikh Abu Abdurrahman Yahya bin Ali al Hajuri yang berjudul al Kanzu al Samin fi al Ijabah ‘an as-ilah Thalabah al Ilmi wa al Zairin, seri pertama, jilid kesatu halaman 161-163, penerbit Darul Kitab was Sunah Kairo, Mesir.

Catatan:
Berdasarkan penjelasan di atas tidak ada dalil dari al Qur’an dan sunah yang membedakan pengertian akidah ahli sunah dengan manhaj ahli sunah. Sehingga manhaj (baca: jalan) ahli sunah adalah akidah ahli sunah itu sendiri.
Sebagaimana sering kita dengar bahwa akidah adalah pondasi bagi bangunan agama yang lain. Demikianlah makna manhaj.
Oleh karena itu orang yang membedakan antara pengertian akidah dan manhaj maka itu sekedar istilah yang dibuat oleh orang tersebut dan orang-orang yang menerima pendapatnya.
Jika pembedaan antara dua hal ini dianggap sebagai bagian dari pengertian agama maka kita wajib bertanya apa dalil dari al Qur’an dan sunah yang membedakannya?

Renungan:
Banyak pihak yang menjadikan ‘manhaj ahli sunnah’ sebagai disiplin ilmu dan mata pelajaran tersendiri terpisah dari akidah dengan buku-buku tertentu sebagai buku pegangannya. Namun jika kita telaah buku-buku yang membahas tahapan dan ilmu apa saja yang seharusnya dikaji dan dipelajari oleh orang yang hendak serius belajar agama semisal Kitabul Ilmi karya Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah dan Hilyah Thalib al Ilmi karya Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah tidak kita jumpai bahasan tentang disiplin ilmu ‘manhaj ahli sunnah’ dan buku-buku pegangannya.

Artikel www.ustadzaris.com

 

Kategori:AQIDAH, MANHAJ
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: