Beranda > AQIDAH, MANHAJ > Adakah Beda Antara Aqidah dan Manhaj? [3]

Adakah Beda Antara Aqidah dan Manhaj? [3]

Tulisan berikut adalah lanjutan dari dua tulisan sebelumnya mengenai “Adakah perbedaan antara aqidah dan Manhaj?”

بسم الله الرحمن الرحيم …
فالسلام عليكم و رحمة الله و بركاته …
في الفترة الأخيرة ظهرت كلمة لم تعرف من قبل على ألسنة طلبة العلم خاصة وهي كلمة المنهج. وهذه الكلمة وإن كان ظاهرها الصغر لكنها أدت إلى عواقب وخيمة فأصبح بعضهم يبدع الآخر و الآخر يكفر الأول. وبعضهم يفسق الآخر وهلم جرا. فكل واحد يستعمل هذا اللفظ لكي يتحصل من مصالحه. فنحن نعم أن المنهج من العقيدة لكن استعمالها وفهمها الصحيح بالإضافة إلى تطبيقها على الشرع لا اتباعا للهوي و إعراضا عن الحق.

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin mendapatkan pertanyaan yang dibuka dengan basmalah, ucapan salam dan mukadimah. Setelah itu penanya mengatakan, “Di waktu-waktu belakangan ini muncul sebuah istilah yang sebelumnya tidak pernah dikenal menjadi bahan pembicaraan terutama di antara para penuntut ilmu. Itulah istilah manhaj. Istilah ini meski secara sekilas nampak remeh namun menimbulkan dampak yang gawat. Yaitu sebagian orang melontarkan vonis ahli bid’ah pada pihak lain. Akhirnya pihak kedua memvonis kafir pihak pertama. Ada juga yang menembakkan vonis fasik kepada yang lain dan seterusnya. Setiap orang menggunakan istilah manhaj untuk mewujudkan apa yang menjadi keinginannya. Memang kami mengakui bahwa manhaj itu bagian dari akidah namun dengan penerapan dan pemahaman yang tepat untuk istilah tersebut disamping diterapkan sesuai dengan aturan syariat bukan karena mengikuti hawa nafsu dan berpaling dari kebenaran.

فنرجو من حضرتكم تقبل هذا السؤال المتواضع ولكن لعظم عواقبه وخطورة نتيجته أردنا الاستفسار عن هذا الأمر فعلمني معنى كلمة المنهج وعلى ماذا تطلق؟ وهل لكل من هب و دب الحكم على أشخاص على عدم المنهج أم للمنهج ضوابط يعرف بها فمن خرج عن تلك الضوابط فقد خرج عن المنهج الصحيح؟ أفيدونا وجزاكم الله خيرا

Kami harap Anda menerima pertanyaan sederhana ini namun mengingat dampaknya yang gawat dan mengerikan. Oleh karena itu kami memohon penjelasan kepada anda tentang masalah ini. Ajarilah aku makna istilah manhaj dan untuk hal apa sajakah istilah ini digunakan? Apakah semua orang bisa memvonis person-person tertentu tidak memiliki manhaj ataukah manhaj itu memiliki koridor sehingga semua orang yang melanggar koridor tersebut maka dia keluar dari manhaj yang benar? Berilah kami penjelasan, moga Allah memberi balasan kebaikan kepada anda”.

بسم الله الرحمن الرحيم
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته وعلى من حملكم السلام إلينا
المنهج هو الطريق البين الواضح الذي يسير عليه المرء في عمله الديني و الدنيوي.

Setelah basmalah dan menjawab salam, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin mengatakan, “Manhaj adalah jalan (abstrak) yang jelas. Di atas jalan tersebut seorang melakukan aktivitas agama dan aktivitas dunia.

ويطلق في عرف المعاصرين على السلوك الحزبي. ولا شك أن تحزب المسلمين إلى أحزاب متفرقة متناحرة مخالف لما تقتضيه الشريعة الإسلامية من الائتلاف و الاتفاق، موافق لما يريده الشيطان من التحريش بين المسلمين وإيقاع العداوة و البغضاء وصدهم عن ذكر الله وعن الصلاة.

Dalam bahasa orang-orang sekarang, istilah manhaj digunakan untuk perilaku hizbiyyah (fanatisme golongan). Tidak diragukan bahwa terpecahnya kaum muslimin ke dalam berbagai kelompok yang terpecah belah dan saling gontok-gontokan itu tidak sesuai dengan ajaran Islam yang mengajarkan persatuan dan kesatuan. Fenomena perpecahan itu sesuai dengan keinginan setan untuk menimbulkan permusuhan di antara kaum muslimin, memancing timbulnya permusuhan dan kebencian (di antara kaum muslimin) dan menghalangi kaum muslimin dari mengingat Allah dan menegakkan shalat.

قال الله تعالى: إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ (٩٢)

Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan aku adalah tuhanmu maka sembahlah aku” (QS al Anbiya:92).

وفي الآية الأخري: وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ (٥٢)

Dalam ayat yang lain, “Dan aku adalah tuhanmu maka bertakwalah kepada-Ku” (QS al Mukminun:52).

وقال تعالى: وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا(١٠٣)

Allah berfirman yang artinya, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai” (QS Ali Imran:103).

وقال تعالى: وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (١٠٥)

Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” (QS Ali Imran:105).

فاجتهدوا في جمع الكلمة وترك التنابز والتفرق فإن التنازع والتفرق سبب للخذلان و الفشل.

Berusahalah semaksimal mungkin untuk menyatukan kaum muslimin, meninggalkan pemberian gelaran-gelaran buruk dan perpecahan. Keributan dan perpecahan hanyalah menyebabkan kekalahan dan kelemahan.

أسأل الله تعالى أن يصلح أمور المسلمين ويجمع كلمتهم على الحق إنه على كل شيء قدير.
كتبه محمد صالح العثيمين
في 13 صفر 1419 هـ

Aku berdoa kepada Allah agar Dia memperbaiki kondisi kaum muslimin dan menyatukan barisan kaum muslimin di atas kebenaran. Sesungguhnya Dia adalah maha kuasa atas segala sesuatu”.

Ditulis oleh Muhammad Shalih al Utsaimin pada tanggal 13 Shafar 1419 H.
Fatwa di atas bisa dibaca di Majmu Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin jilid 27 hal 339-342, cetakan pertama 1430 H terbitan Dar Tsuraya Riyadh.

Catatan:
Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin mendefinisikan istilah manhaj sebagaimana makna aslinya dalam bahasa arab yaitu jalan yang bersifat abstrak.

Beliau membagi manhaj menjadi dua bagian:
a. manhaj dalam amaliah keagamaan. Jalan abstrak yang ditempuh seorang muslim dalam menerapkan amaliah keagamaanlah itulah yang disebut dengan manhaj dan jalan seorang muslim dalam hal ini adalah seluruh ajaran al Qur’an dan As Sunnah. Sehingga seluruh aturan Allah dan rasul-Nya yang terdapat dalam al Qur’an dan sunah itulah manhaj seorang muslim.

b. Manhaj dalam aktivitas duniawi. Itulah manajemen seorang muslim dalam beraktivitas duniawi. Boleh jadi manhaj seorang muslim dalam hal ini tidak tertata dan tidak terpola karena tidak ada target dan jadwal. Boleh jadi pula, manhajnya dalam beraktivitas dunia adalah manhaj yang terprogram.

Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin bahwa saat ini banyak orang yang menggunakan istilah manhaj dengan tujuan hizbiyyah (baca: fanatisme golongan). Oleh karena itu, sebagian orang menggunakan istilah manhaj dengan pengertian hal-hal tertentu (semisal masalah pendirian yayasan atau organisasi, menerima bantuan atau berhubungan dan pihak-pihak tertentu yang dipermasalahkan) yang mereka jadikan sebagai tolak ukur kawan dan lawan (baca: wala dan bara) padahal Allah dan rasul-Nya tidak pernah menjadikan hal tersebut sebagai tolak ukur kawan dan lawan. Orang yang mengambil pendapat yang berbeda dengan pendapat yang mereka pilih serta merta akan mereka tuduh dengan orang yang tidak jelasnya manhajnya. Padahal perkara-perkara yang mereka nilai sebagai perkara manhaj bukanlah perkara yang disepakati oleh seluruh ulama ahli sunah sehingga bukanlah perkara yang membedakan antara ahli sunah dengan bukan ahli sunah.

Sehingga tidaklah penggunaan istilah manhaj bagi mereka kecuali untuk perilaku hizbiyyah yaitu fanatisme terhadap kelompok tertentu yang landasan dasarnya adalah pendapat ustad atau ulama tertentu. Akhirnya istilah manhaj -dalam pemahaman mereka- menjadi sebab timbulnya perpecahan di antara sesama kaum muslimin secara umum dan ahli sunah serta para penuntut ilmu secara khusus.

Artikel www.ustadzaris.com

Iklan
Kategori:AQIDAH, MANHAJ
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: