Beranda > Artikel Mutiara Sunnah, fatwa, Kesehatan > Dialog Para Dokter Bersama asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah (bagian ke-7)

Dialog Para Dokter Bersama asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah (bagian ke-7)

Dr. Abdurrahman:

Dalam banyak kesempatan (banyak terjadi) seorang pasien meninggal tanpa sempat diketahui jenis penyakitnya. Khususnya penyakit-penyakit yang membutuhkan  penanganan serius. Bolehkah diadakan bedah pada mayit (autopsy) setelah meninggalnya untuk mengetahui jenis penyakitnya, karena hal ini memberikan manfaat yang besar untuk penanganan pengobatan kasus-kasus yang sama di masa yang akan datang. Perlu diketahui, autopsy ini tidak menimbulkan kerusakan yang tampak di badan mayit (jenazah). Apabila ternyata autopsy tidak boleh, maka bolehkah pengambilan sample jaringan dengan suntikan setelah meninggal dari sebagian tubuh (mayit), misalnya hati atau paru-paru?

Syaikh Ibnu Utsaimin:

Pertama, tidak boleh merusak tubuh mayit, kecuali apabila untuk suatu kepentingan yang bersifat darurat. Artinya, apabila kita butuh untuk mengetahui sebab kematiannya. Ini berarti kebutuhan. Dan autopsy di zaman sekarang bukan merupakan pengrusakan jazad karena akan diambil sample jaringan, kemudian jazad tadi akan disatukan lagi sehingga tidak tampak lagi adanya kerusakan atau cacat pada jazad mayit. Tapi kapan hal ini dibolehkan? Apabila ada kebutuhan yang berkaitan dengan kepentingan orang yang meninggal(mayat), adapun apabila untuk kepentingan orang lain maka tidak boleh dilakukan. Misalnya kita ingin mengetahui jenis penyakit apa yang menimpanya dan bagaimana proses yang terjadi sampai penyakit tersebut menyebabkan kematian, yang seperti ini tidak boleh. Karena ini untuk kepentingan orang lain, bukan kepentingan sang mayit. Adapun masalah pengambilan sample jaringan dengan menggunakan suntikan ke dalam hati atau selainnya, maka menurut saya tidak mengapa (boleh).

Pertama, karena hati dan yang lainnya adalah organ dalam, tidak akan tampak adanya pengrusakan (cacat),

Kedua, sample yang diambil sedikit, bisa berupa darah atau sejenisnya, maka tidak berpengaruh.

Na’am

Dr. Abdurrahman:

Berkata penanya:

Fadhilatusy Syaikh, Assalaamu ‘alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh.

Apabila sang dokter mengetahui bahwa pasien ternyata menderita penyakit yang parah (tidak bisa diobati) misalnya: kangker. Apakah sang dokter memberi tahu pasien secara terus terang tentang penyakitnya, ataukah hanya menggunakan kata-kata sindiran (isyarat) dan tidak terus terang karena dikhawatirkan akan mempengaruhi kondisi psikologis/ jiwa pasien? Apa yang harus dilakukan dokter apabila pasien bertanya langsung kepadanya tentang jenis penyakit yang dideritanya? Apakah dia harus berkata jujur, apapun yang terjadi atau apa yang harus dilakukan?

Syaikh Ibnu Utsaimin:

Masalah ini –baarakallaahu fiik—harus disikapi berlainan sesuai dengan para penderita. Sebagian penderita jiwanya kuat. Dia tidak peduli apakah penyakitnya berbahaya atau tidak. Seperti mereka ini, wajib diberi tahu kenyataan yang terjadi. Karena pasien tersebut barang kali masih memiliki tanggungan-tanggungan, khususnya berkaitan dengan keluarganya atau orang lain pada umumnya. Dia juga butuh untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan, maka wajib diberi tahu (terus terang). Alhamdulillah tidak masalah. Adapun jika sang pasien lemah secara kejiwaan dan dikhawatirkan apabila diberi tahu kenyataan yang ada bahwa penyakitnya berbahaya, dia akan sangat terpengaruhi sehingga dia selalu memikirkan penyakitnya –padahal kita ketahui, apabila seseorang pasien selalu memikirkan penyakitnya dan selalu terngiang-ngiang  di pikirannya (maka akan memperlambat proses penyembuhan, admin_)–. Sebaliknya, apabila berusaha melalaikannya dan berusaha melupakannya seakan-akan tidak terjadi apa-apa, maka hal itu termasuk sebab terbesar untuk kesembuhannya (pengobatannya).

Jadi, permasalahan ini berbeda-beda sesuai kondisi pasien. Na’am

Dr. Abdurrahman:

Pertanyaan: apa batasan dibolehkan melakukan sesuatu yang terlarang dengan tujuan untuk menjaga (mempertahankan, admin_) kehidupan. Padahal larangan ini jelas-jelas bertentangan dengan kebutuhan darurat yang lebih dari hanya sekedar keselamatan jiwa , yaitu (keselamatan) agama. Misal darinya: disyariatkan makn daging babi (bagi, admin_) orang yang tahu akan terancam kebinasaan,

Syaikh Ibnu Utsaimin: Disyariatkan?

Dr. Abdurrahman: Dibolehkan

Syaikh Ibnu Utsaimin: Na’am

Dr. Abdurrahman: Bagi orang yang tahu akan terancam kebinasaan, tapi ternyata tidak boleh meminum racun, dan juga diharamkannya nusyroh (mengobati sihir dengan sihir)

Syaikh Ibnu Utsaimin: Nusyroh?

Dr. Abdurrahman: Nusyroh, dan menurut pendapat Anda (Ya Syaikh), tidak boleh (melakukan, admin_) pencangkokan organ. Padahal diperkirakan ada manfaat yang bisa diambil dengan dugaan yang kuat.

Syaikh Ibnu Utsaimin:

Letak perbedaannya adalah dengan memakan bangkai didugakuat bisa menghilangkan kondisi darurat yang dialami dan benar-benar ada kebutuhan yang mendesak untuk memakannya. Jadi, ada dua hal:

  1. kondisi darurat yang mendesak untuk memakan bangkai, karena kalau dia tidak memakannya niscaya akan binasa.
  2. betul-betul bisa dipastikan bahwa dengan memakan bangkai, kondisi darurat tadi akan hilang.

Adapun selain kondisi (di luar dua hal di atas tersebut), maka tidak dibolehkan (untuk melanggar larangan), mungkin karena seseorang tidak dalam kondisi (darurat yang mendesak) untuk memakannya   atau (barang haram itu) tidak bisa menghilangkan kondisi darurat tersebut. Kita akan memberikan contoh dalam masalah…….minum khomr, misalnya. Apabila sang dokter berkata, “tidak ada yang bisa mengobatimu kecuali minum khomr!”

Maka kita katakan, “Tidak, tidak boleh meminumnya!”

Pertama, karena orang tadi tidak terdesak untuk meminumnya, karena orang sakit bisa sembuh walaupun tanpa obat. Bukankah begitu? Jawablah!

Hadirin: Bisa!

Syaikh Ibnu Utsaimin: Ya!

Yang kedua, (kalau memang darurat, maka) tidak bisa dipastikan hilangnya kondisi darurat dengan khomr. Karena terkadang orang yang sakit menggunakan suatu obat yang sangat manjur dan bermanfaat, tapi ternyata tidak bermanfaat buatnya, ini kejadian yang banyak kita jumpai. Hal ini berbeda dengan memakan bangkai bagi orang yang betul-betul terdesak. Oleh karena itu, para ulama berkata: “Seandainya tenggorokan seseorang tersumbat oleh makanan dan didekatnya tidak ada apapun kecuali segelas khomr, maka boleh baginya untuk meminum khomr itu untuk sekedar mendorong sumbatan saja, kemudian berhenti (tidak meminum lagi).” Mengapa?

Karena dalam kondisi ini kita bisa memastikan, (memastikan) apa?

Memastikan betul-betul mendesaknya keadaan untuk meminumnya

Kita bisa memastikan hilangnya kondisi darurat  tadi dengan meminum khomr. Na’am

Dr. Abdurrahman:

Banyak pertanyaan berkisar masalah jam kerja, dan tadi sebenarnya Anda telah mengingatkan kami, di antaranya tentang hal itu. Tapi tidak mengapa, akan kita sebutkan secara singkat. Sebagian penanya berkata: Terkadang (pada hari-hari tertentu) dia pulang ½-1 jam sebelum jam kerja berakhir, karena atasannya yang langsung mengepalainya tidak melarangnya.

Syaikh Ibnu Utsaimin: Na’am?

Dr. Abdurrahman:

Sebagian penanya berkata: Terkadang (pada hari-hari tertentu) dia pulang ½-1 jam sebelum jam kerja berakhir, karena atasannya yang langsung mengepalainya tidak melarang hal itu. Sebagian lagi berkata: saya keluar (ketika jam kerja) untuk mengerjakan kepentingan lain karena dia tidak diserahi tanggung jawab yang langsung berkaitan dengan para pasien, khususnya ketika dia sudah meniatkan sebagian waktu di luar jam kerja untuk menyelesaikan pekerjaan yang berhubungan dengan pekerjaannya. Bagaimana menjawab pertanyaan mereka?

Syaikh Ibnu Utsaimin:

Kita katakan kepada mereka:

Apakah jenis pekeerjaan Anda berkenaan dengan lapangan (bergantung ada tidaknya obyek) atau berkenaan dengan waktu kerja? Kalau memang pekerjaannya bersifat lapangan, maka silakan. Kalau tidak ada pekerjaan yang harus ditangani, pergi tidak apa-apa. Tapi jika jenis pekerjaan Anda terikat oleh waktu, maka Anda wajib memenuhi semua waktu, walaupun tidak ada pekerjaan yang harus Anda tangani. Adapun jika kepala bagian menyetujui hal ini, maka dilihat:

Apakah dia adalah orang yang memiliki wewenang perizinan dalam hal ini? Missal untuk memberi izin sehari atau dua hari, maka tidak masalah. Tapi jika tidak memiliki wewenang dalam perizinan, maka keringanan yang dia berikan tidak berlaku.

Penerjemah: Ust. Abu Usamah Zaid Susanto, lc hafidzahullah

Arikel Mutiara Sunnah pada url:

https://syababpetarukan.wordpress.com/2010/12/19/dialog-para-dokter-bersama-asy-syaikh-ibnu-utsaimin-rahimahullaah-bagian-ke-7/

Lihat kumpulan video yang kami transkip di sini

  1. WIDIANTI
    9 Maret 2012 pukul 20:22

    ASSALAAMU ‘ALAIKUM WR.WB.
    SAYA SEBAGAI MAHASISWA KEBIDANAN SANGAT SENANG BISA MENEMUKAN TERJEMAHAN DIALOG PARA DOKTER DENGAN ASY-SYAIKH UTSAIMIN DENGAN LENGKAP. ILMU INI SANGAT BERGUNA SEKALI UNTUK SAYA. SAYA MINTA IZIN UNTUK MENGKOPY MATERI INI UNTUK SAYA BAGIKAN KE TEMAN-TEMAN KARENA SAYA YAKIN MEREKA BELUM ADA YANG TAHU MENGENAI HUKUM-HUKUM INI. SYUKRON. JAZAKUMULLAH KHAIRON KATSIRON.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: