Beranda > FAIDAH ILMIYYAH, INFORMASI, TANYA JAWAB > Apakah Akal Berada di Jantung atau di Otak?

Apakah Akal Berada di Jantung atau di Otak?

Segala puji milik Alloh semata, sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi yang terakhir. Amma ba’du.

Sebagian orang telah menganggap apa yang terjadi pada masa belakangan ini sebagai permasalahan yang sulit dipahami. Yaitu permasalahan penggantian sebagian anggota tubuh dan penanaman anggota tubuh yang lain. (Transplantasi). Di antaranya, seperti penggantian jantung seseorang dengan jantung orang lain. Dan terkadang, jantung yang ditanamkan itu adalah jantungnya orang kafir, terkadang pula jantung itu diganti dengan jantung buatan. Lalu bagaimana mungkin akal seorang manusia berada pada jantungnya, sedangkan dia tidak terpengaruh oleh penggantian jantung itu dengan jantung yang lain. Padahal Alloh ‘Azza wa Jalla telah berfirman,

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا

“Maka tidak pernahkah mereka berjalan di muka bumi, sehingga qolbu (akal) mereka dapat memahami.” (al-Hajj: 46)

Aku pernah menyaksikan suatu program acara pada salah satu stasiun . Pada acara tersebut seorang dokter spesialis jantung yang terkenal yaitu dokter Kholid al-Jubair menggulirkan permasalahan ini. Lalu pembahasan ini pun didiskusikan dengan menghubungi yang mulia al-’Allamah Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin – rohimahulloh – . Maka beliau pun menjawab mereka dengan menyatakan bahwa akal itu berada di jantung (qolbu). Beliau – rohimahulloh – berdalil dengan ayat yang telah disebutkan di atas. Akan tetapi hal itu tidak menyelesaikan permasalahan yang sulit dipahami ini.

Kemudian, alhamdulillah, setelah memperhatikan dengan seksama, nampaklah bagiku bahwa di sana tidak ada permasalahan yang sulit dipahami, dan juga tidak ada kontradiksi, baik kita mengatakan akal itu berada di jantung ataupun di otak. Karena anggota-anggota tubuh manusia tidak akan bergerak dan berfungsi kecuali jika ada ruh yang menggerakkan anggota-anggota tubuh ini. Maka jantung tidak mungkin memahami sesuatu kecuali dengan adanya ruh. Maka ruh inilah yang menjadi intinya. Dialah yang menjadikan jantung itu bisa memahami atau tidak memahami. Sedangkan jantung itu hanyalah sebatas alat yang digerakkan oleh ruh.

Jika demikian, maka penggantian anggota tubuh seperti jantung tidaklah berpengaruh (yakni terhadap akal seseorang -pent) selama ruh orang itu masih tetap ada. Maka ruh inilah yang sesungguhnya menjadi sandaran bagi suatu perbuatan. Ruh ini menggerakkan setiap anggota tubuh untuk melakukan suatu fungsi tertentu; seperti kaki untuk berjalan, lisan untuk berucap, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan seterusnya. Dan anggota tubuh ini tidak memiliki nilai tanpa adanya ruh. Maka jika jantung seseorang dipindah ke orang lain, jadilah ia jantungnya orang lain tersebut. Dan tidak mungkin dikatakan ini adalah Zaid tapi jantungnya jantung Amr. Tidak mungkin pula dikatakan ini adalah orang yang jantungnya berakal, akan tetapi dikatakan ini adalah orang yang berakal, dan ini adalah orang yang gila. Maka akal itu disandarkan kepada orangnya bukan kepada akalnya. [barangkali yang benar “bukan kepada jantungnya” -pent]

Kemudian setelah itu aku mendapatkan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – rohimahulloh – yang bisa dipahami seperti itu. Maka akan kami bawakan perkataan itu kepada para pembaca yang mulia. Begitu pula apa yang disebutkan oleh para ulama tentang perselisihan masalah keberadaan akal apakah di otak ataukah di jantung.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – rohimahulloh – dalam al-Fatawa berkata, “Adapun perkataannya, dimanakah keberadaan akal? Maka akal ada pada jiwa seorang manusia yang berakal. Sedangkan pada badan, akal itu bergantung pada jantungnya. Sebagaimana firman Alloh ta’ala,

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا

“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai qolbu yang dengan itu mereka dapat memahami.” (al-Hajj: 46)

Ditanyakan kepada Ibnu Abbas: Dengan apa engkau memperoleh ilmu? Dia menjawab, “Dengan lisan yang kritis (banyak bertanya) dan qolbu yang berakal.” Akan tetapi kata “Qolbu” terkadang bermakna segumpal daging yang berbentuk seperti tumubuhan runjung berada di bagian kiri tubuh manusia, dan rongganya adalah gumpalan darah hitam, sebagaimana yang disebutkan dalam ash-Shohihain, dari Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – ,

إنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إذَا صَلَحَتْ صَلَحَ لَهَا سَائِرُ الْجَسَدِ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ لَهَا سَائِرُ الْجَسَدِ

“Sesungguhnya dalam tubuh terdapat segumpal daging, jika ia baik, maka seluruh tubuh pun akan menjadi baik karenanya, dan jika ia rusak, seluruh tubuh pp[un akan menjadi rusak karenanya.”

Dan terkadang kata “Qolbu” bermakna batin dari seorang manusia secara mutlak (yakni mencakup semua apa yang berada di bagian dalam tubuh -pent). Maka qolbu-nya sesuatu adalah batinnya. Seperti disebutnya isi dari biji gandum, buah badam, buah pala dan semisalnya dengan qolbu-nya. Oleh karenanya, sumur disebut juga dengan qoliib karena dia mengeluarkan qolbu-nya, yaitu batinnya (isi yang ada di dalamnya).

Berdasarkan hal ini, jika yang dimaksud dengan qolbu adalah makna yang kedua ini (yakni apa saja yang ada di bagian dalam tubuh manusia -pent), maka akal juga bisa terkait dengan otaknya. Oleh karenanya dikatakan bahwa akal berada di otak. Sebagaimana hal itu dikatakan oleh banyak para dokter, dan dinukilkan juga dari Imam Ahmad. Sekelompok dari sahabat-sahabat beliau (Imam Ahmad) berkata, sesungguhnya akal itu berasal dari qolbu (jantung), lalu jika ia telah sempurna berakhirlah di otak.

Dan yang benar, bahwa ruh yang tidak lain adalah jiwa, memiliki keterkaitan dengan itu semua (jantung dan otak -pent). Dan sifat yang berupa akal ini juga memiliki keterkaitan dengan itu semua. Akan tetapi titik awal dari suatu pikiran dan pandangan berada pada otak. Sedangkan titik awal suatu kehendak berada pada qolbu (jantung). Dan akal itu sendiri terkadang bermakna ilmu dan terkadang bermakna amal. Padahal ilmu dan amal ikhtiari (yang berada di bawah kesadaran manusia -pent) asalnya adalah kehendak. Sedangkan kehendak itu berasal dari qolbu (jantung). Akan tetapi orang yang berkehendak tidak akan memiliki kehendak kecuali setelah memiliki gambaran terhadap apa yang dikehendaki. Maka mestinya qolbu itu telah memiliki suatu gambaran, sehingga terjadilah ilmu dan amal itu darinya. Dan hal itu bermula dari otak, sedangkan pengaruh-pengaruhnya akan naik kembali ke otak. Sehingga otak menjadi titik awal dan titik akhir. Dan kedua pendapat itu (apakah akal berada di jantung atau di otak -pent) sama-sama memiliki sisi kebenaran. Inilah yang bisa dicakup oleh lembaran-lembaran ini, dan Alloh-lah yang lebih tahu.” (Selesai nukilan dari al-Fatawa 9/303)

An-Nawawi dalam Syarh beliau terhadap Shohih Muslim juz 11/29 ketika menjelaskan hadits,

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah sesungguhnya dalam tubuh terdapat segumpal daging, jika ia baik, maka seluruh tubuh akan menjadi baik, dan jika ia rusak, seluruh tubuh pun akan menjadi rusak. Ketahuilah, ia adalah qolbu (jantung).”

Beliau (Imam Nawawi) berkata, “Hadits ini dijadikan sebagai hujah (dalil) bahwa akal itu berada di qolbu (jantung) bukan di kepala. Dan tentang masalah ini ada perselisihan yang masyhur. Pendapat sahabat-sahabat kami (kalangan Syafi’iyah -pent) dan mayoritas ahli kalam, bahwa akal itu berada di jantung. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat bahwa akal itu berada di otak, dan kadang dikatakan berada di kepala. Mereka juga menyebutkan pendapat yang pertama dipegang oleh ahli filsafat sedangkan pendapat kedua dipegang oleh ahli kedokteran.

Al-Maziri berkata, orang-orang yang berpendapat bahwa akal berada di jantung berdalil dengan firman Alloh ta’ala,

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا

“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai qolbu yang dengan itu mereka dapat memahami.” (al-Hajj: 46)

dan juga firman-Nya,

إِنَّ فِي ذٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai qolbu.” (Qoof: 37)

dan juga dengan hadits ini. Karena beliau – shollallohu ‘alaihi wa sallam – menjadikan baik buruknya seluruh tubuh mengikuti jantungnya, padahal otak termasuk salah satu anggota tubuh. Maka baik buruknya otak mengikuti baik buruknya jantung. Dengan itu diketahui bahwa otak bukanlah tempatnya akal.

Sedangkan orang-orang yang berpendapat bahwa akal itu berada di otak berargumen bahwa jika otak rusak maka akal juga ikut rusak. Dan di antara bentuk rusaknya otak – menurut mereka – adalah penyakit gila. Namun (sebenarnya) tidak ada hujah bagi mereka dalam hal itu. Karena Alloh – subhanahu wa ta’ala – telah menjalankan suatu ketetapan akan rusaknya akal ketika otak mengalami kerusakan, meskipun akal tidak berada padanya. Dan ini bukan hal yang tidak mungkin. Al-Maziri berkata, terlebih lagi menurut prinsip mereka dalam masalah adanya kesamaan yang mereka sebutkan antara otak dan jantung. Dan mereka menjadikan adanya kesamaan antara kepala, lambung dan otak. Wallohu a’lam.” (Selesai nukilan dari Syarh an-Nawawi ‘ala Shohih Muslim juz 11 hlm 29)

Ibnu Utsaimin – rohimahulloh – berkata, “Sebagian orang berpendapat (bahwa akal) berada di jantung. Sedangkan yang lain mengatakan di otak. Dan masing-masing memiliki dalilnya. Yang berpendapat bahwa akal berada di jantung berkata, karena Alloh ta’ala berfirman,

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai qolbu yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah qolbu yang di dalam dada.” (al-Hajj: 46)

Dia berfirman, “qolbu yang dengan itu mereka dapat memahami” kemudian berfirman, “qolbu yang di dalam dada”. Jika demikian, maka akal itu berada dalam qolbu (jantung) sedangkan jantung itu berada di dalam dada. Maka akal itu berada pada jantung.

Sebagian orang berpendapat, bahkan akal itu berada di otak, karena jika seorang manusia telah rusak otaknya, maka rusak pula perilakunya. Dan kita menyaksikan di masa-masa belakangan ini, ada seseorang yang jantungnya diganti dengan jantung yang baru akan tetapi akalnya tidak berbeda. Akal dan pemikirannya masih sama dengan yang dahulu. Kita temui seorang yang ditanamkan padanya jantung orang lain yang gila dan tidak bisa bertindak-tanduk dengan baik, akan tetapi orang yang ditanamkan padanya jantung ini masih saja berakal. Lalu bagaimana mungkin akal itu berada pada jantung? Jika demikian, akal itu berada di otak, karena jika otak itu rusak, maka perilaku pun akan rusak, akalnya juga menjadi rusak.

Akan tetapi sebagian ulama berkata, bahwa akal itu berada di qolbu, dan tidak mungkin kita menghindar dari apa yang Alloh – ‘Azza wa Jalla – firmankan. Karena Alloh lah yang mencipta, dan Dialah yang lebih mengetahui tentang makhluknya dari pada yang lain, sebagaimana firman-Nya,

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Apakah Alloh Yang menciptakan itu tidak mengetahui; padahal Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (al-Mulk: 14)

Juga karena Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ

“Ketahuilah sesungguhnya dalam tubuh terdapat segumpal daging, jika ia baik, maka seluruh tubuh akan menjadi baik, dan jika ia rusak, seluruh tubuh pun akan menjadi rusak.”

Maka akal itu berada di jantung, sedangkan jantung berada di dalam dada. Akan tetapi otak itulah yang menerima dan menggambarkan sesuatu kemudian mengirimkan gambaran ini kepada jantung untuk menunggu perintah-perintahnya. Kemudian perintah-perintah itu kembali dari jantung menuju otak kemudian otak melaksanakannya.

Jika demikian, maka otak bagaikan sekretaris yang menyusun dan mengatur berbagai pekerjaan kemudian mengirimkannya ke jantung, kepada penanggung jawab yang berada di atasnya. Lalu jantung ini menandatangani, menyetujui atau membatalkannya, kemudian menyerahkannya kembali kepada otak, dan otak memerintahkan urat-urat sehingga urat-urat itu pun bergerak. Pendapat inilah yang menentramkan jiwa ini, dan inilah yang sesuai dengan kenyataan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga telah mengisyaratkan kepada pendapat ini dalam beberapa kitabnya. Sedangkan Imam Ahmad mengisyaratkan kepadanya secara umum. Beliau berkata, tempat akal ada pada jantung, dan dia memiliki hubungan dengan otak. Akan tetapi perincian yang pertama sangatlah jelas. Yang menerima, mendeskripsikan dan menyaring segala sesuatu adalah otak, kemudian dia mengirimkan hasilnya kepada jantung, kemudian jantung itu memberikan perintah, baik perintah untuk menjalankan atau sebaliknya. Berdasarkan sabda Rosul – shollallohu ‘alaihi wa sallam – , “jika ia baik, maka seluruh tubuh akan menjadi baik, dan jika ia rusak, seluruh tubuh pun akan menjadi rusak.” (Selesai nukilan)

Apa yang kami sebutkan ini telah cukup. Dan Alloh lah yang lebih mengetahui kebenaran, Dialah yang memberi taufik dan memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Semoga Alloh memberikan sholawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabat beliau.

Didiktekan oleh,

al-Faqiir ila Robbihil Mannan

Abdul Muhsin bin Nashir Al-’Ubaikan

Sumber : http://al-obeikan.com/article/94-هل القلب في العقل أم في الدماغ, وكيفية حل مشكلة عملية زرع القلوب .html
Sumber penukilan : www.direktori-islam.com

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: