Fenomena Kritik Yang Ironis

Jiwa manusia ibarat sebuah kaca yang mudah pecah. Apabila kita menasehatinya dengan cara yang baik maka akan dapat menumbuhkan kecintaan pada jiwa itu. Namun jika sebaliknya, maka kita akan dapat menyebabkan kehancurannya dan mengekalkan kedengkian di dalamnya.Nasehat atau kritikan yang disampaikan kepada manusia ada yang diterima dan ada yang ditolak. Kritikan itu umumnya diterima jika disampaikan dengan tutur kata yang baik. Jika tidak, maka akan ditolak.

Jika diperhatikan sekarang ini ditengah masyarakat Islam, kita dapatkan fenomena berbahaya yang membingungkan akal. Yaitu adanya sebagian orang yang gemar menghujat pihak lain yang berbeda pendapat dengannya meskipun dalam masalah yang terdapat khilaf didalamnya.

Hal ini menunjukkan kepada kita terhadap bahaya dan keburukan yang besar. Ironisnya, semua itu muncul dengan alasan yang dikait-kaitkan dengan salah satu cabang ilmu syar’i oleh orang-orang yang kurang berkompeten didalamnya, sehingga tidak sesuai dengan fitrahnya sendiri apalagi orang yang menyelisihinya.

Mereka hanya mengandalkan niat baik dan mengaku-aku mendekatkan diri kepada Allah dengan mengkritisi pihak-pihak yang berselisih dengannya dengan mengatas namakan ilmu jarh wat ta’dil.

Sebenarnya, Ilmu ini dibangun atas kaidah kokoh yang dipersembahkan oleh ulama besar yang dipersaksikan keluasan ilmunya, takwa dan kezuhudannya. Beliau adalah seorang Imam di negerinya, rujukan bagi ulama-ulama pada zamannya, yang lebih sibuk mengurusi aibnya daripada aib orang lain. Kecuali apabila kemashlahatan memaksa beliau untuk mengkritisi orang menyimpang, yang apabila diam bisa menyebabkan kerusakan yang lebih besar.Itupun setelah betul-betul mencari yang benar dan mendahulukan nasehat dengan sembunyi-sembunyi. Tidaklah juga beliau mengkritisi permasalahan yang terdapat khilaf ulama didalamnya.

Adapun orang yang belum belajar dengan benar atau baru belajar 5 tahun bahkan kurang, juga belum menguasai ilmu alat yang harus dimiliki oleh seorang mujtahid serta belum terpenuhi syarat-syarat baginya untuk menjadi orang yang berhak men-jarh atau menghukumi, maka penilaiannya terhadap seseorang itu tidaklah dianggap hujjah. Hal ini karena penilaiannya tidak akan keluar dari 6 kemungkinan yang kita berlindung daripadanya:

* Berlebihan-lebihan dalam menilai,
* Menghujat orang yang tidak perlu dihujat,
* Balas dendam,
* Menghukum,
* Ingin terkenal
* Mencari kedekatan dari orang yang menjadi kiblat keagamaannya

Hal ini terjadi karena sedikitnya ilmu dan tergesa-gesa sebelum menguasainya. Dan alangkah banyaknya hal ini terjadi saat ini.

Bagaimanapun juga kemashlahatan umat tidak dapat dibangun diatas pondasi kebencian, permusuhan, perampasan hak dan menyia-nyiakan kemampuan ilmiyah seseorang hanya karena alasan yang kurang tepat. Akan tetapi kemashlahatan dibangun dengan mengikuti petunjuk islam, berhenti pada tempat berhentinya para salaf. Dan terkadang, manusia hari ini berbuat salah maka esok dia akan meninggalkannya karena memang demikianlah manusia tercipta.

Abu Darda berkata :

إذا تغير أخوك وحال عما كان عليه فلا تدعه لأجل ذلك فإن أخاك يعوج مرةً ويستقيم أخرى

” Apabila suatu ketika saudaramu berubah dari kebiasaannya maka jangan engkau meninggalkannya semata karena perubahan itu. Karena suatu ketika ia berbelok dan pada saat yang lain ia akan kembali lurus.”

Penulis

Syaikh Shadiq bin Muhammad Al Baidhoni

Sumber : An Naqd Al Marfudh Oleh Syaikh Shadiq AlBaidhoni di http://baidhani.com/ melalui: http://www.direktori-islam.com

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: