Beranda > Artikel Mutiara Sunnah, Kesehatan, TANYA JAWAB > Dialog Para Dokter Bersama asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah (Bagian ke-6)

Dialog Para Dokter Bersama asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah (Bagian ke-6)

Dr. Abdurrahman:

Penanya berkata: keutamaan ilmu syar’I sudah kami ketahui, yaitu bahwa dia merupakan warisan para nabi, maka kami berharap kepada anda untuk memberi penjelasan apa pahala bagi para dokter di mana mereka begadang di malam hari untuk mengobati pasien? Membaca ilmu kedokteran dan mengulanginya?

Syaikh Ibnu Utsaimin:

na’am, tidak diragukan lagi bahwa pahala mereka sesuai dengan niat dan amalan mereka. Karena kedokteran itu sendiri bukan merupakan tujuan, tetapi merupakan sarana untuk mencapai perkara lain, sebagian ulama berpendapat bahwa mempelajari ilmu kedokteran adalah fardhu kifayah. Wajib bagi kaum muslimin untuk memiliki para dokter. Maka para ulama menggolongkan kedokteran sebagai fardhu kifayah, karena hal ini termasuk perkara yang dibutuhkan umat. Maka apabila seseorang dalam beramal (dibidang kedokteran) meniatkan untuk menunaikan fardhu kifayah ini, dan berbuat baik kepada para mahluk, maka dia akan mendapatkan pahala yang banyak.

Seseorang, bisa saja dia menjual sesuatu, dan ternyata dia berdosa karena jual belinya. Membeli sesuatu juga bisa berdosa, kemudian dia menjualnya (ternyata) mendapat pahala. Seandainya anda menjual barang ini kepada seseorang yang membutuhkanya dan ketika menjualnya anda meniatkan untuk memenuhi kebutuhan orang tersebut, anda akan mendapat pahala atau tidak? Anda akan mendapat pahala, padahal anda mendapat upah yaitu ganti. Tapi seandainya anda jual kepada seseorang yang ingin menggunakanya untuk memerangi kaum muslimin, maka anda berdosa. Maka niat memiliki pengaruh yang kuat dalam pahala. Na’am.

Dr. Abdurrahman:

Penanya berkata: “datang seorang perempuan bersama anaknya yang sakit ke ruang periksa tanpa mahrom, kemudian saya masuk ruangan tersebut dan saya tutup pintu ruangan. Apakah hal ini termasuk khalwat yang diharamkan? Padahal dia bersama anaknya? Apabila memang haram, apa nasihat Anda?”

Syaikh Ibnu Utsaimin:

Na’am. Tidak diragukan lagi bahwa khalwat itu haram. Apabila dokter tersebut masuk kepada wanita yang bukan mahramnya, tidak ada hubungan mahram antara mereka, kemudian menutup pintu, maka hal itu khalwat, tidak diragukan lagi. Tidak boleh seseorang melakukan hal ini. Kalau memang harus dilakukan, maka hendaklah dia buka pintu (ruangan). Sehingga tidak merupakan khalwat, karena dengandibukanya pintu, artinya setiap orang bisa melihatnya. Na’am.

Dr. Abdurrahman:

Penanya berkata, “ Apakah hokum menggugurkan kandungan apabila janin tersebut cacat yaitu tidak memiliki otak, karena hal ini berarti dia tidak mampu hidup setelah proses kelahiran -sebatas pemahaman kami- dan hal ini terjadi dalam setiap keadaan, khususnya apabila sang ibu telah melahirkan dengan operasi Caesar sebelumnya berkali-kali, tiga kali atau lebih, sudah merupakan dugaan kuat bahwa proses kelahirannya akan melalui proses Caesar.

Kondisi semacam ini tidak diragukan lagi pasti berbahaya, padahal sudah dipastikan sang bayi akan mati setelah lahir. Apabila hal ini tidak boleh, apakah ada batas maksimal yang masih dibolehkan untuk menggugurkan kandungan?

Syaikh Ibnu Utsaimin:

Batas maksimal kandungan yang masih dibolehkan untuk digugurkan adalah empat bulan. Apabila sudah tepat empat bulan, berarti sudah menjadi manusia. Dan manusia tidak boleh dibunuh, baik dia cacat atau normal (sehat). Biarkan saja, jika Allah menghendakinya hidup, maka hiduplah dia. Kalau Allah menghedaki mati, maka matilah dia. Hanya terkadang ada yang berkata:

Seandainya janin itu dibiarkan hidup setelahberumur empat bulan, maka janin itu akan mati dan sang ibu akan mati karena kematian janin itu. Kita jawab: biarkan hal itu terjadi, karena jika janin itu sudah mati, maka boleh untuk dikeluarkan, karena hal ini bukanlah pembunuhan.

Kesimpulannya: menggugurkan kandungan sebelum empat bulan tidak mengapa apabila memang dibutuhkan. Sedangkan menggugurkan kandungan setelah empat bulan tidak mungkin (tidak boleh) bagaimanapun kondisinya, karena saat itu janin sudah menjadi seorang manusia. Bagaimana pendapat saudara-saudara, apabila seorang bayi keluar dari perut ibunya dalam keadaan cacat, bolehkah kita membunuhnya? Tidak boleh! Kita serahkan urusannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla! Saya akan mengatakan sesuatu kepada Anda sekalian walaupun sebenarnya saya tidak suka untuk mengatakannya di hadapansaudara-saudara. Sebagian dokter memutuskan/ mendiagnosa kondisi seorang ibu hamil, bahwa anak yang di perutnya cacat dan harus digugurkan, akan tetapi sang ibu dan suaminya enggan untuk menggugurkan.

Mereka berkata: “Tidak mungkin kami gugurkan!” Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki kandungan itu bertahan (berlanjut) sehingga kelahirannya, dan bayi itu menjadi paling rupawan dibanding saudara-saudaranya. Subhaanallaah!! Jadi, manusia terkadang salah dalam memperkirakan sesuatu. Yang jelas, pedoman yang saya sampaikan kepada saudara-saudara adalah sebagai dasar. Di saat janin sudah berumur empat bulan, maka diharamkan untuk menggugurkannya, sedangkan apabila kurang dari itu, boleh digugurkan apabila dibutuhkan. Na’am.

Dr. Abdurrahman:

Pertanyaan lain yang berkaitan dengan kandungan dan kelahiran, apabila diputuskan atas (ibu hamil) yang sakit dengan penyakit tertentu, bahwa kelahiran akan dilakukan dengan operasi Caesar,  dan janin dalam kondisi bahaya, akan tetapi sang ibu menolak karena takut pengaruh bius dan berakibat melemahkan terhadap dirinya, sedangkan sang suami menyetujui untuk dilakukan operasi. Maka bolehkah memaksa sang ibu untuk dioperasi dan membiusnya dengan paksa? Apabila hal itu tidak boleh, maka bolehkah bagi sang ibu membunuh sang janin karena sang ibu tidak setuju untuk dioperasi?

Syaikh Ibnu Utsaimin:

Pertama, tidak boleh bagi kita untuk berbuat sekehendak hati kita atas wanita tersebut tanpa izin darinya, kita belah perutnya karena hal ini menyakitinya. Adapun masalah janin dalam kandungannya dia tidak punya campur tangan karena hal ini berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla, tetapi disarankan kepadanya bahwa yang lebih utama adalah untuk mengizinkan mengeluarkan janin dengan operasi caaesar. Karena hal itu berarti berbuat baik pada bayinya dan juga dirinya. Tapi kalau dipaksa untuk operasi, maka hal ini tidak boleh. Seseorang sebagaimana dia bebas dalam hartanya, maka bebas pula dalam badannya. Na’am

Dr. Abdurrahman:Sebagian wanita yang sudah manupause membutuhkan beberapa “hormon pengganti”, hormon-hormon pengganti,

Syaikh Ibnu Utsaimin: baru?

Dr. Abdurrahman:

bukan, pengganti. Yaitu berupa pengganti hormone, diberi kapsul hormone, untuk mencegah pengeroposan tulang dan penyakit jantung. Padahal kapsul-kapsul tersebut menyebabkan keluar darah dari rahim, seperti darah haidh. Apa hukumnya tetap mengerjakan shalat di saat keluarnya darah tersebut? Dan apakah darah tersebut darah istihadhah atau darah apa?

Syaikh Ibnu Utsaimin:

Darah haidh adalah darah kebiasaan yang keluar tanpa sebab. Adapun darah-darah yang keluar karena ada sebab-sebab tertentu, maka hal itu seperti yang dikatakan oleh Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam kepada wanita yang istihadhah:

“Sesungguhnya darahmu itu hanyalah darah irq (berasal dari pecahnya pembuluh darah)”, maka hukumnya tidak sama dengan darah haidh, ia merupakan darah yang rusak. Maka wanita tersebut dalam kondisi semacam itu harus tetap shalat dan tetap berpuasa. Dan juga suami boleh mengumpulinya, apabila dia wanita yang telah bersuami, sama sekali tidak ada larangan untuknya. Inilah satu kaedah yang telah ditetapkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yaitu, “Sesungguhnya darahmu itu hanyalah darah…….” Apa? Darah Irq. Darah seperti ini sudah diketahui sebabnya. Maka darah itu Karena  irq dan tidak dihukumi dengan hukum haidh. Na’am

Arikel Mutiara Sunnah pada url:

https://syababpetarukan.wordpress.com/2010/12/14/dialog-para-dokter-bersama-asy-syaikh-ibnu-utsaimin-rahimahullaah-bagian-ke-6/

Lihat kumpulan video dialog Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- yang kami transkip di sini

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: