Beranda > Artikel Mutiara Sunnah, Kesehatan, TANYA JAWAB > Dialog Para Dokter Bersama asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah (ke-4 dan bagian awal ke-5)

Dialog Para Dokter Bersama asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah (ke-4 dan bagian awal ke-5)

Syaikh al-Utsaimin:

(9) Dan saya berpesan kepada saudara-saudara: untuk beriman dan yakin bahwa usaha saudara-saudara ini hanya sekedar (menunaikan) sebab, sedangkan keputusan (akhir) berada di tangan siapa? Berada di tangan siapa? Berada di Tangan Allah ‘Azza wa Jalla! Terkadang, seseorang telah melakukan suatu sebab dengan sempurna, tapi tidak ada hasilnya, karena keputusan (akhir) di Tangan Allah. Oleh karena itu, apabila seseorang mengutip hadits:

“Jinten hitam (habatus sauda’) adalah obat dari segala penyakit kecuali maut.”.

maka (sekan-akan) konsekuensinya: tidak ada seorang pun akan sakit, tidak seorang pun akan sakit. Tapi (ketahuilah) bukan seperti itu keadaannya (kenyataannya). Habatus sauda’ adalah suatu sebab (kesembuhan), hal ini tidak diragukan lagi! Tapi sebab (sarana) ini terkadang tidak mendapatkan hasil karena adanya penghalang.

Maka, terkadang usaha Anda tidak mendatangkan hasil sesuai dengan keinginan Anda. Ketahuilah, bahwa keputusan berada di Tangan Allah.

(10) Saya berpesan kepada saudara-saudara untuk mengucapkan basmallah ketika memulai proses pengobatan dan operasi. Karena setiap perkara penting apabila tidak dimulai dengan basmallah, maka perkara itu akan terputus berkahnya.

Inilah yang bisa sampaikan, mudah-mudahan Allah menjadikan pesan-pesan ini bermanfaat untuk saudara-saudara dan menjadikan amal-amal saudara sekalian ikhlas kepada Allah dan bermanfaat untuk para hamba Allah ‘azza wa Jalla. Kita dengarkan pertanyaan-pertanyaan!

Moderator: Saudara-saudara sekalian, kami mengharapkan kepada dokter Abdurrahman untuk membacakan pertanyaan-pertanyaan.

Syaikh al-Utsaimin: Harus memenuhi tiga syarat, siap melakukan syarat itu?

Dr. Abdurrahman: Insya Allah

Syaikhal-Utsaimin : Harus memenuhi tiga syarat

Dr. Abdurrahman:Insya Allah, tapi tolong diringankan sedikit syaratnya, jazaakallaahu khairan

_________Kemudian Syaikh pun hanya memberikan dua syarat________

Syaikh al-Utsaimin: Yang pertama, harus sesuai dengan kaidah bahasa!

Dr. Abdurrahman: Mudah-mudahan, Insya Allah. Itu betul-betul menyulitkan saya

_________pengunjung dan syaikh tertawa____________________

Dr. Abdurrahman: Mudah-mudahan insya Allah kami bisa melakukan.

Syaikh al-Utsaimin : Yang kedua, baik dalam menyampaikan

Dr. Abdurrahman: Insya Allah

Syaikh al-Utsaimin: Kalau suara tidak masalah, karena itu dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Dr. Abdurrahman: Jazaakallaahu khair, suara saya tidak akan mengalahkan suara Anda

Syaikh al-Utsaimin: Baarakallaahu fiik

Dr. Abdurrahman:

Bismillah, Ash Sholatu was salaamu ‘ala Rosulillah, Alhamdulillah, hadirin benar-benar berbahagia, dan kebahagiaan mereka berlipat-lipat dengan pembahasan yang telah Anda sampaikan. Kami memohon kepada Allah untuk memberikan manfaat dengan hal itu.

Syaikh al-Utsaimin: Aamiin

Dr. Abdurrahman:

Sebenarnya banyak teman-teman yang mengirim pertanyaan, tapi barangkali kita akan memulai dari pertanyaan yang dikumpulkan terlebih dahulu. Kami memohon kepada Allah mudah-mudahan Dia berkenan menolong Syaikh, dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan (tasaa-ulat). Mudah-mudahan Allah memberikan taufik dan bimbinganNya.

Syaikh al-Utsaimin:

Ketika kamu menyebutkan kata “tasaa-ulat”, apakah kalimat itu sesuai dengan nahwu atau tidak?

Dr. Abdurrahman: mungkin sama dengan “musaa-alat”?

Syaikh al-Utsaimin:

Itu lain! Tadi saya juga mendengar “at-tawaajud” (kehadiran). Fulan ada di rumah, tawajud fulan fii kadza, di tempat fulan. Kata ini sama sekali bukan berasal dari bahasa Arab. Yang benar adalah “al-wujud”, wujud fulan fii kadza (fulan berada di…). Adapun kata “tawaajud”, salah! Ini sedikit faidah.

Dr. Abdurrahman: Jazaakallaahu khairan Ya Syaikh, jazaakallaahu khairan.

Syaikh al-Utsaimin : Na’am

Dr. Abdurrahman:

Hadir juga bersama kita saudara-saudara dari Jeddah, kami ucapkan selamat datang dan kami ucapkan terima kasih, mudah-mudahan Allah menolong kita dan mereka.

Soal pertama berbunyi:

“Fadhilatusy Syaikh (Syaikh yang terhormat),” sebenarnya sebagian besar soal-soal yang ada didahului dengan kata-kata: “Saya mencintai Anda karena Allah….!” Tapi kami ringkas sehingga kami lewati. Kami semua mencintai Syaikh karena Allah.

Syaikh al-Utsaimin: Saya mohon kepada Allah mudah-mudahan kita termasuk kekasihNya dan wali-waliNya serta orang-orang pilihanNya.

Dr. Abdurrahman:

Saudara kita ini menanyakan, apa hukum syariat dalam masalah kesalahan-kesalahan praktek kedokteran yang secara tidak sengaja, di mana saya sudah bersungguh-sungguh dan tidak gegabah dalam memeriksa kondisi (pasien), serta tidak mengurangi sedikit pun dalam pengobatan, tapi kemudian Allah menakdirkan kematian pasien. Saya mohon penjelasan rinci tentang hal ini dan dari segala sisi, apakah saya dianggap berdosa karena hal ini, ataukah hal itu sebagaimana hakim yang berijtihad kemudian salah? Perlu diketahui bahwa saya sudah bersungguh-sungguh dalam belajar dan mengikuti perkembangan setiap hal-hal baru. Jazaakallaahu khairan

Syaikh al-Utsaimin

Pertama, saya nasehatkan kepada penanya dan yang lainnya untuk tidak bertanya kepada seseorang dengan mengatakan: “apa hukum syariat?” Mengapa? Karena orang yang ditanya terkadang salah dan terkadang benar. Apabila dia salah padahal masalah tersebut dinisbatkan kepada syariat, maka kesalahan tersebut akan menjadi kesalahan dalam syariat. Ya, bisa dikatakan: “apa hukum syariat menurut pandangan Anda?” atau, “apa pendapat Anda dalam masalah ini?”  Maka kita harus memperhatikan hal ini. Adapun tentang kesalahan praktek, maka sang dokter apabila dia mumpuni (profesional), ini syarat, artinya dia menguasai ilmu kedokteran baik dengan membaca teori sebelumnya atau dengan pengalaman praktek. Ini adalah syarat. Harus professional.

Yang kedua, tidak melebihi tempat pengobatan, tidak melebihi tempat pengobatan. Missal, suatu luka hanya membutuhkan pembedahan sepanjang satu ruas jari, tetapi dokter itu membedah sepanjang dua ruas jari, maka dalam hal ini dia melebihi tempat (obyek) pengobatan. Para ulama –rahimahumullah- berpendapat bahwa kelebihan (batas) ini dianggap sebagai kesalahan bukan kesengajaan. Meskipun pasien mati, maka ia (dokter) tidak diqisas, tetapi harus membayar denda/diat, apabila berbentuk diat (denda yang sudah ada ketentuannya sesuai dengan jenis kesalahan); atau hukumah (denda yang tidak ada ketentuannya secara khusus dalam syariat), apabila bentuknya hukumah.

Maka terdapat perbedaan antara kesalahan yang terjadi di tempat (obyek) pengobatan, maka itu tidak mengapa. Sebagaimana para ahli fikih yang melakukan kesalahan, dan  demikian juga para qodhi (hakim). Adapun jika melampaui tempat (obyek) pengobatan, maka kita katakan kelampauan batas ini adalah kesalahan, walaupun mengakibatkan kematian, karena dia tidak sengaja membunuhnya.

Saya yakin terdapat aturan-aturan yang sudah ma’ruf (diketahui) dalam masalah ini.

_________________

Keterangan:

:: Penomoran di dalam kurung dari Admin

::Arikel Mutiara Sunnah yang kami transkip dari sini pada url:

https://syababpetarukan.wordpress.com/2010/12/13/dialog-para-dokter-bersama-asy-syaikh-ibnu-utsaimin-rahimahullaah-ke-4-dan-bagian-awal-ke-5/

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: