Beranda > Artikel Mutiara Sunnah, Kesehatan > Dialog Para Dokter Bersama asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah (3)

Dialog Para Dokter Bersama asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah (3)

Terakhir, sedikit nasehat untuk saudara-saudara sekalian:

1. Mengikhlaskan niat dalam pekerjaan saudara-saudara, bukan bekerja untuk mendapatkan gaji atau upah (semata), kehormatan dan lain-lain, tapi saudara bekerja untuk menghilangkan sakit dengan takdir Allah melalui usaha saudara-saudara. Dan dengan tujuan berbuat baik kepada orang-orang yang saudara-saudara obati. Dengan niat yang ikhlas inilah pekerjaan akan mememberikan hasil yang baik, begitu pula sebaliknya.

2. Bersungguh-sungguh untuk mengingatkan pasien untuk bertobat, istighfar, dan memperbanyak dzikir, membaca al-Qur’an terlebih untuk mengucapkan dua kalimat yang telah disebutkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

Ada dua kalimat yang ringan (diucapkan) di lidah, tapi berat di timbangan (di akhirat) dan dicintai oleh ar-Rahman (yaitu) Subhaanallaahi wa bihamdihi Subhaanallaahil ‘adzim “.

Orang yang sakit (pasien) tidak akan kesulitan untuk mengucapkan dua kalimat ini. Doronglah ia untuk menggunakan waktu (dengan sebaik-baiknya).

3. Apabila telah ditakdirkan pasien Anda menjemput ajalnya, maka kewajiban saudara-saudara adalah mentalkinnya dengan kalimat syahadat Laa ilaha illallah, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Bimbinglah orang yang akan meninggal di antara kalian (untuk mengucapkan) Laa ilaha illallah.”

Tapi (yang perlu diperhatikan), hendaklah talkin itu dilakukan dengan lembut. Apakah Anda (harus) mengatakan kepadanya: “Wahai Fulan (Pak), ucapkanlah Laa ilaha illa Allah, karena (sebentar lagi) ajal akan menjemputmu!” Jawablah wahai saudara-saudara…. Tidak. Jangan katakana seperti itu, karena barangkali kesusahan yang dia rasakan, akan (menyebabkannya) mengatakan: “Tidak mau.” Mungkin cara yang baik (dalam mentalkin) adalah: Anda berdzikir di sampingnya Laa ilaha illa Allah. Apabila Anda berdzikir kepada Allah di sampingnya, niscaya dia akan ingat (dan mengikuti).

Memang, seandainya si pasien adalah orang kafir, maka Anda katakan padanya: “Katakanlah Laa ilaha illallah”, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada pamannya, Abu Thalib tatkala ajal menjemputnya:

Wahai pamanku, katakanlah Laa ilaha illa Allah, suatu kalimat yang akan aku jadikan alasan (hujjah) untuk membelamu di hadapan Allah……

Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga melakukan hal yang sama kepada seorangpemuda Yahudi di Madinah. Tatkala Nabi shallallaahi ‘alaihi wa sallam menengoknya saat ajal menjemputnya, Beliau menawarkan agama Islam kepadanya, maka pemuda itu menoleh kepada bapaknya, seakan-akan meminta ijin, maka bapaknya berkata: “Taatilah Abu Qasim (Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam)!” Akhirnya pemuda itu masuk Islam. Maka Nabi  shallallaahi ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari Neraka.

Lihat! Rosulullah shallallaahi ‘alaihi wa sallam memuji Allah tatkala pemuda itu berpindah dari agama Yahudi kepada Islam!

Selain itu, Anda juga tanyakan bagaimana shalatnya? Bersucinya? Anda ajarkan padanya sesuai dengan ilmu yang Anda kuasai, karena sebagian pasien tidak bersuci sebagaiman mestinya. Karena sebagian pasien terdapat najis di pakaiannya dan berkata, “Apabila Allah sudah menyembuhkan, maka (barulah) aku akan bersuci dan shalat”. Sebagian pasien mengqasar shalatnya, padahal dia tinggal di kotanya. Dan mengira bahwa apabila (seseorang) boleh menjamak (maka) berarti (dia juga) boleh mengqasar. Hal ini tidak benar! Qasar hanya boleh dilakukan oleh siapa? Untuk siapa? Untuk musafir saja! Apabila si pasien adalah penduduk Riyadh (dia dirawat di Riyadh), kemudian kita katakana padanya: “Anda boleh menjamak antara dua shalat apabila Anda merasa kesulitan untuk shalat pada waktunya masing-masing.” Maka tidak boleh baginya untuk mengqasar! Tapi seandainya pasien berasal dari kota lain dan dia berobat di Riyadh, maka kita katakana kepadanya: “Silakan qasar dan jamaklah (shalat Anda).”

4. Pesan saya juga untuk saudara-saudara sekalian: Apakah pasien adalah lawan jenis dalam arti, apabila tertuntut oleh keadaan yang darurat, sehingga seorang dokter pria mengobati  pasien wanita. Waspadalah terhadap fitnah ini! Maka janganlah membuka bagian tubuhnya kecuali sesuai kebutuhan saja dan mengurangi obrolan-obrolan dan penanganan, karena “syaitan berjalan dalam tubuh anak Adam (di dalam) jalan darahnya.

Terkadang Anda akan berkomentar dalam kondisi semacam ini: “Tidak mungkin seseorang akan tergoda syahwatnya” atau komentar-komentar semisalnya.    Maka kita jawab, “itu benar, itulah asalnya, tapi apa pendapat Anda apabila syetan berjalan dalam tubuh manusia (di dalam) peredaran darahnya? Bukankah mungkin sekali dia akan menyesatkan orang ini?” Jawabnya: “Iya, mungkin, mungkin sekali.”

(5) Juga wasiat (pesan) saya kepada saudara-saudara untuk bersungguh-sunggguh menghadapkan si pasien ke arah kiblat tatkala shalat, semampu mungkin! Kakau perlu dengan cara kita putar ranjangnya, jika memungkinkan maka lakukanlah! Jika tidak mungkin, maka katakan pada pasien Anda: “Bertakwalah kepada Allah bagaimanapun keadaannya.” Allah ‘azza wa jalla berfirman:

وَلِلَّهِ ٱلۡمَشۡرِقُ وَٱلۡمَغۡرِبُ‌ۚ فَأَيۡنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجۡهُ ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ وَٲسِعٌ عَلِيمٌ۬

Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat, maka kemana pun kamu menghadap di situlah Wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmatnya) Lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 115)

Juga Allah berfirman:

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَا‌ۚ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

(QS. al-Baqarah: 286)

Juga Allah ‘azza wa jalla berfirman:

فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.”(QS. at-Taghabun:16)

Anda tenangkan hatinya, dan katakan kepadanya: “Apabila kebiasaanmu adalah shalat menghadap kiblat –dan inilah kenyataan— maka telah menuliskan bagimu pahala (menghadap kiblat) itu secara sempurna!” Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

”Apabila seorang hamba sakit atau melakukan safar, (maka) dituliskan baginya pahala amalan-amalan yang dia kerjakan tatkala dia sehat dan mukim.

(6) Dan juga wasiat (pesan) untuk saudara-saudara untuk berwasiat/berpesan kepada para pasien, apabila mereka (disatukan satu sama lain) di dalam satu kamar. Saudara pesankan kepada mereka untuk tidak saling mengganggu satu sama lain. Karena sebagian pasien terkadang mengganggu pasien lainnya, terkadang dengan mendengarkan tape recorder atau radio. Apabila perkara ini memang dilarang, maka barangkali saja dia mengganggu dengan bacaan al-Qur’an, membaca al-Qur’an dan mengeraskan suaranya! Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada sahabat-sahabatnya yang sebagian mengeraskan bacaannya. Apa yang beliau ucapkan? Beliau bersabda:

“Janganlah kalian saling mengganggu satu sama lain dalam membaca al-Qur’an!”

(7) Saya juga berpesan kepada saudara-saudara sekalian: untuk tidak memperbanyak obrolan dengan para perawat wanita kecuali dengan tingkat kedaruratan (kebutuhan) dengan berusaha menjaga pandangan. Karena masalah ini sangat berbahaya. Terkadang obrolan-obrolan itu mendorong kepada hal-hal yang lebih buruk lagi! Tapi apabila hal itu dibutuhkan (darurat) maka boleh dilakukan, hanya saja tetap menjaga pandangan semampu mungkin.

(8) Saya juga berpesan kepada saudara-saudara: untuk menjaga jam kerja (disiplin). Jangan sampai terlambat dari awal waktu kehadiran, dan jangan keluar sebelum waktu keluar. Karena waktu ini bukanlah hak kalian! Jam kerja bukanlah hak dia, karena dia telah mengambil upah dari jam kerjanya, setiap detiknya ada perhitungan baginya dari upahnya! Maka tidak halal bagi seseorang untuk terlambat dari awal jam kehadiran, dan tidak boleh maju dari jam pulang, seseorang harus menunaikan amanahnya!

_________________

Keterngan:

:: Penomoran di dalam kurung dari Admin

:: Video dapat dilihat di sini

Arikel Mutiara Sunnah

https://syababpetarukan.wordpress.com/2010/12/13/dialog-para-dokter-bersama-asy-syaikh-ibnu-utsaimin-rahimahullaah-3/

 

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: