Beranda > Artikel Mutiara Sunnah, Kesehatan > Dialog Para Dokter Bersama asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah (2)

Dialog Para Dokter Bersama asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah (2)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman

وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمۡ تَكُن تَعۡلَمُ‌ۚ

“Dan Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui…” (QS.an-Nisa:113)

Inilah dia (al-Qur’an) obat untuk penyakit berbahaya yang telah saya sebutkan tadi. Dan hal ini sangatlah mudah bagi orang-orang yang diberi kemudahan oleh Allah. Maksudnya, terdapat beberapa hal yang harus diketahui umat manusia, dan hal-hal tersebut mudah. Mereka bisa mengambilnya dari perkataan-perkataan para ulama, atau dari buku-buku karangan para ulama yang terpercaya, sehingga dia bisa mengambil petunjuk darinya.

Adapun jenis penyakit kedua adalah penyakit fisik yang ada (menyerang) di badan, penyakit jasmani, organ-organ tubuh, atau kulit, dan penyakit-penyakit yang saudara sekalian lebih tau dari saya. Obat dari penyakit ini ada dua:

Pertama, obat yang bermanfaat, lengkap dan luas (kuat) yaitu  obat yang telah disebutkan oleh syariat. Syariat Islam telah membawa obat ini, obat syar’i untuk badan. Insya Allah saya akan menyebutkan suatu hal untuk memperjelas masalah ini. Misal:

al-Qur’an al-Karim adalah obat yang sangat bermanfaat dan manjur untuk penyakit fisik, mental (kejiwaan) dan penyakit-penyakit akal yang tidak bisa disembuhkan dengan obat-obat yang bersifat fisik. Kemudian obat syar’i ini tidak membutuhkan waktu yang lama. Kerena obat syar’i ini dari siapa? Jawab: dari sisi Allah ‘Azza wa Jalla, yang apabila menghendaki sesuatu maka tinggal Dia mengatakan kun fayakun.

Barangkali saudara-saudara pernah mendengar kisah para shahabat yang meminta untuk dijamu sebagai tamu oleh suatu kaum dari kalangan Arab, tapi kaum tersebut menolak mereka, kemudian mereka pun menyingkir, sementara Allah mengutus kalajengking untuk menyengat kepala suku kaum tersebut. Dan sengatan kalajengking itu pun membuatnya sangat kesakitan. Akhirnya mereka pun berunding, “barangkali di antara orang-orang yang tadi singgah ke tempat kita ada yang bisa meruqyah.” Maka datanglah kaum itu kepada para shahabat seraya berkata bahwa kepala suku mereka tersengat kalajengking, “Apakah di antara kalian ada yang bisa meruqyah?” Para shahabat berkata, “Ya, tapi kami tidak mau meruqyah kecuali apabila dibayar dengan beberapa ekor kambing, karena kalian tidak memberikan hak kami sebagai tamu.” Mereka berkata, “Baiklah, kami memenuhi permintaan kalian.” Maka diberikanlah beberapa ekor kambing, maka berangkatlah seorang shahabat kepada orang yang tersengat itu, kemudian dibacakan surat al-Fatihah

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ  sampai selesai.

Maka bangkitlah orang yang tersengat itu seakan-akan baru terbebas dari ikatan yang sangat kuat saat itu juga.

Kasus seperti ini apabila diobati dengan obat-obatan yang bersifat fisik, kalau pun berpengaruh, akan tetapi membutuhkan waktu. Sedangkan obat syar’i ini langsung (berpengaruh). Penyakit-penyakit kejiwaan ini, sering merepotkan para dokter, apabila mereka mengobatinya dengan obat-obatan yang bersifat fisik, tapi bila diobati dengan ruqyah, maka (pengaruhnya) sangat manjur dan bermanfaat. Demikian juga penyakit-penyakit akal. Obat-obat syar’i memberikan hasil (nyata) bagi penyakit-penyakit tersebut, sedangkan obat-obatan fisik terkadang tidak menmpakkan hasil. Oleh karena itu, saya ingin saudara-saudara sekalian memperhatikan hal ini. Terlebih, apabila saudara-saudara bisa menggabungkan antara dua macam obat ini, maka hal itu sangat baik, yaitu obat yang bersifatv fisik dan obat-obat syar’i. Sehingga Anda mengarahkan hati para pasien supaya bergantung kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan ayat-ayatNya.

Dalam kesempatan ini, saya sarankan saudara-saudara untuk (membaca dan menelaah) buku-buku yang ditulis dalam masalah ini. Saudara-saudara baca, hafalkan, dan anjurkanlah para pasien untuk membacanya. Karena ketergantungan para pasien kepada Allah ‘Azza wa Jalla memberi pengaruh yang kuat dalam menghilangkan atau meringankan penyakit (yang dideritanya).

Kedua, obat-obatan yang bersifat fisik yang sudah ma’ruf, obat-obatan ini ada dua macam:Pertama, obat-obatan yang didapatkan manusia melalui jalan syariat, kedua, obat-obatan yang diperoleh manusia melalui jalan uji coba (pengalaman)

Di antara (obat-obat) yang diperoleh melalui jalan syariat (adalah) berobat dengan menggunakan madu. Obar ini adalah obat syar’i, dalilnya firman Allah ‘Azza wa Jalla tentang lebah

يَخۡرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٌ۬ مُّخۡتَلِفٌ أَلۡوَٲنُهُ ۥ فِيهِ شِفَآءٌ۬ لِّلنَّاسِ‌ۗ

“Dari perut lebah itu keluar minuman [madu] yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia” (QS.An-Nahl: 69)

Di antaranya (yang lain): habatus sauda. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“innaha syifaa u min kulli daa in illasy syaam] ya’ni al-maut”

“Dia adalah obat bagi semua penyakit kecuali asy syaam (kematian).”

Dan di antara obat-obat syar’i adalah kam’ah (cendawan/gamus), berasal dari kayu-kayu yang sudah rapuh. Tentang kam’ah ini, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“al_kam-atu minal manna wa maa uha syifaa u lil ‘ain”

“Cendawan itu termasuk manna (anugerah Allah), dan air (perasan)nya adalah obat untuk (sakit) mata.”

Hal ini semua adalah perkara yang bisa diterima, wajib bagi kita untuk mengimaninya. Taruhlah, seandainya tidak (kelihatan) pengaruhnya, maka hal itu bukan karena kekurangan sebab (obat itu), melainkan karena adanya penghalang yang menghalangi untuk bisa mengambil manfaat dari oba-obatan tersebut. Maksudnya, sebab-sebab (kesembuhan) yang disebutkan oleh syariat kadang-kadang tidak mendatangkan hasil karena adanya penghalang. Tapi intinya, obat-obatan ini adalah (obat-obatan) yang bisa diterima (diakui). Adapun jenis kedua dari obat-obatan yang bersifat fisik adalah (obat-obatan yang) diperoleh dari uji coba (pengalaman). Jenis (obat-obatan) ini banyak, bahkan sekarang muncul obat-obatan yang berasal dari orang-orang yang tidak belajar teori kedokteran. Mereka mengambil dari pengalaman, tapi obat-obatan merekalebih baik dibandingkan obat-obat steril yang diolah secara higienis.Kita tidak boleh mengingkari kenyataan ini, tidak boleh!

Banyak kita dengar dari media informasi tentang penemuan-penemuan obat yang berhasil dari tanaman-tanaman dan rerumputan yang belum pernah dibuat sebelumnya, dan (ternyata) pengaruhnya lebih kuat dari obat-obatan yang ada. Semua ini (tentunya) dari takdir dari Allah, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan bahwa:

“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, kecuali pasti akan menurunkkan pula obatnya. Akan tahu orang yang mengetahuinya dan tidak tahu orang yang tidak mengetahuinya.”

Oleh karena itu, kadang-kadang kesembuhan dari penyakit tertentu bisa diperoleh dengan menggunakan obat yang tidak biasa digunakan untuk mengobati penyakit tersebut. Hal ini terjadi secara tiba-tiba, (kejadian) semacam ini termasuk dalam sabda beliau: “….tidak tahu orang-orang yang tidak mengetahuinya.” Tapi yakinlah, bahwa hal ini terjadi dengan takdir dari Allah ‘Azza wa Jalla. Dialah yang menurunkan (penyakit) itu dan juga telah menurunkan obatnya. Dan terkadang Dia menghilangkan penyakit itu dengan tanpa sebab apapun juga. Karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Arikel ini milik Mutiara Sunnah yang kami transkip dari sini pada url:

https://syababpetarukan.wordpress.com/2010/12/13/dialog-para-dokter-bersama-asy-syaikh-ibnu-utsaimin-rahimahullaah-2/

 

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: