Beranda > MANHAJ, NASEHAT DAN AKHLAK, Nasehat Tuk Penuntut Ilmu > Sikap Seorang Muslim Ketika Terjadi Fitnah

Sikap Seorang Muslim Ketika Terjadi Fitnah

Faidah-faidah yang disarikan dari buku:

Ad-Dhawâbithus Syar’iyyah Li Mauqifil Muslim fil Fitan

(Batasan-batasan syar’i mengenai sikap seorang muslim terhadap fitnah)

Oleh: Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh –Hafidhahullaahu ta’ala–

1. Apabila terjadi fitnah atau telah berubah keadaan, hendaklah kita tetap tenang, lemah lembut dan santun serta tidak terburu-buru.

Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kelemahlembutan itu apabila ada pada sesuatu pasti menghiasinya dan apabila dicabut dari sesuatu pasti menjadikannya buruk.” (Sahih HR Muslim)

Beliau  Shallallahu ‘alihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda kepada salah seorang sahabatnya: “Sesungguhnya pada dirimu ada dua sifat yang disukai Allah dan RasulNya: Sifat santun dan tenang (tidak terburu-buru).” (HR. Abu Daud no. 5225, Ahmad (4/206))

2. Jangan mengambil suatu keputusan tentang fitnah yang terjadi kecuali setelah benar-benar memahaminya dan mandapatkan gambaran yang lengkap dan jelas.

Allaah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Israa : 36)

3. Hendaklah kita tetap megedepankan sikap sportif, kejujuran dan keadilan dalam segala sesuatu.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu).” (QS. Al-An;aam: 152)

Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maa’idah: 8)

4. Tetap menjaga persatuan kaum muslimin dan jangan berpecah belah.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imraan: 103)

Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda: “Hendaklah kamu bersatu dan hati-hatilah dari perpecahan.”(Hadis Sahih)

5. Semua yang terjadi dalam fitnah tersebut hendaklah kita timbang dengan timbangan syar’i yang benar.

Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. AN-Nisaa’: 59)

6. Hendaklah kita waspada dan berhati-hati ketika berbicara dan berbuat berkaitan dengan fitnah yang terjadi.

Sahabat Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu berkata: “Aku menghafal dari Rasulullah dua wadah, yang satu telah aku sebarkan dan yang lainnya apabila akau sebarkan pasti leher ini dipenggal.” (HR Bukhari)

Berkata sahabat Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu: “Tiadalah engkau berbicara dengan suatu kaum yang belum sampai akalnya melainkan pasti (pembicaraanmu) menjadi fitnah bagi sebagian mereka.” (HR Muslim)

7. Kita tetap berwala’ (loyal, berpihak dan setia) kepada sesama muslim terutama adalah kepada para ulama’.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)

8. Hati-hati daripada berwala’ kepada orang-orang kafir.

Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maa?idah: 51)

9. Tidak memastikan atau mengalamatkan hadis-hadis tentang fitnah kepada kejadian atau orang-orang tertentu.

Bukan termasuk manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mengalamatkan hadis-hadis tentang fitnah kepada suatu kejadian atau kelompok atau orang-orang tertentu, yang benar adalah kita mempercayai, waspada dan selalu berhati-hati dari segala macam fitnah yang telah dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa ‘ala alihi wa sallam.

Selengkapnya bisa mendengarkan ceramah berikut oleh Al Ustadz Fariq Gasim An-Nuz:

http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/05/26/download-audio-kaidah-syari-dalam-menyikapi-fitnah-ust-fariq-gasim-penting/

Dari catatan Dewinta Bintu Najm

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: