Beranda > FAIDAH ILMIYYAH, Koreksi dan Bantahan, Manhaj Salafiyyah, Tela-ah Haadits > Penjelasan Hadits “Wasiat Perpisahan” [2]

Penjelasan Hadits “Wasiat Perpisahan” [2]

Jalan Selamat Dari Perpecahan Dan Perselisihan

Jalan selamat dari perpecahan dan perselisihan adalah dengan berpegang teguh kepada al-Qur-an dan as-sunnah menurut pemahaman salafush shalih. Sabda Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam,

Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafâur Râsyidin yang mendapat petunjuk.”

Sabda beliau Salallahu ‘Alaihi Wassalam di atas terdapat perintah untuk berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam dan Sunnah Khulafâur Râsyidin sepeninggal beliau. Sunnah adalah jalan yang dilalui, termasuk di dalamnya berpegang teguh kepada keyakinan-keyakinan, perkataan-perkataan, dan perbuatan perbuatan Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam dan para Khulafâur Râsyidin. Itulah Sunnah yang paripurna. Oleh karena itu, generasi Salaf dahulu tidak menamakan Sunnah, kecuali kepada apa saja yang mencakup ketiga aspek tersebut. Hal ini diriwayatkan dari al-Hasan, al-Auzâ’i, dan Fudhail bin ‘Iyâdh.

Keempat Khalifah tersebut disebut Râsyidîn karena mereka mengetahui kebenaran dan memutuskan segala perkara dengan kebenaran. Râsyîd adalah lawan kata dari ghâwi. Ghâwi ialah orang yang mengetahui kebenaran, namun mengamalkan kebalikannya. Sedangkan kata Mahdiyyîn maksudnya adalah Allah Ta’ala membimbing mereka kepada kebenaran dan tidak menyesatkan mereka darinya. Jadi, manusia terbagi menjadi tiga: râsyid, ghâwi, dan dhâll.

Râsyid ialah orang yang mengetahui kebenaran dan mengikutinya. Dhâll ialah orang yang tidak mengetahui kebenaran secara total. Jadi, seluruh orang râsyid itu ialah orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang yang diberi petunjuk dengan petunjuk paripurna ialah orang yang râsyid (mendapatkan petunjuk), karena petunjuk hanya sempurna dengan mengetahui kebenaran dan mengamalkannya.

Perintah Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam untuk mengikuti Sunnah beliau dan Sunnah Khulafâ Râsyidin setelah perintah mendengar dan taat kepada ulil amri adalah bukti bahwa Sunnah para Khulafâur Râsyidin harus diikuti seperti halnya mengikuti Sunnah Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam . Ini tidak berlaku bagi Sunnah para pemimpin selain Khulafâ Râsyidin.

Ini menunjukkan bahwa kita wajib berpegang kepada al-Qur‘ân dan Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih. Selain itu, kita diwajibkan mengikuti manhaj para Salafush Shalih karena Allah Ta’ala menyebutkan dalam al-Qur‘ân tentang wajibnya kita mengikuti mereka.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya,

“Maka jika mereka beriman sebagaimana kamu telah beriman, sungguh, mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka beradadalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. dan Dialah yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Qs al-Baqarah/2:137)

Allah Ta’ala berfirman yang artinya,

“Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang Mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahannam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali. (Qs an-Nisâ’/4:115)

Kita berpegang dengan pemahaman Salaf, mengikuti jejak Salafus Shalih, dengan tujuan ingin selamat dunia akhirat dan ingin masuk Surga, bukan untuk mencari kedudukan, harta, dan ketenaran. Kita mengikuti jejak mereka supaya selamat di dunia dan di akhirat dan agar Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam Surga-Nya, bukan untuk memperoleh kesenangan dunia, harta, jabatan, maupun kekuasaan.

Kita wajib mengikuti jejak Salafush Shalih karena mereka adalah khairun nâs (sebaik-baik manusia), dan khairu hâdzhihil ummah (dan sebaik-baik umat ini).

Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda,

“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tâbi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tâbi’utTâbi’în).”

Mengenai berpegang kepada al-Qur‘ân dan Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih ini, Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam bukan hanya menyuruh berpegang saja. Tetapi menyuruh kita agar memegangnya dengan sangat kuat dan erat sehingga beliau mengungkapkannya melalui sabda beliau,

“Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian.”

Sabda beliau merupakan kiasan tentang kuatnya berpegang teguh kepada Sunnah. Hal itu karena sudah begitu banyaknya fitnah dan syubhat yang ada. Kadang-kadang ada orang berpegang pada manhaj Salaf lalu keluar dari manhaj Salaf karena banyaknya fitnah, syubhat, dan syahwat. Fitnah terbagi menjadi dua: fitnah syahwat dan syubhat. Fitnah syubhat ialah fitnah yang terkait dengan pemahaman, aliran, kelompok, firqah, keyakinan, dan lainnya. Sedangkan fitnah syahwat ialah yang berkenaan dengan harta, wanita, jabatan, kedudukan, kekuasaan, dan lain sebagainya.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam telah menggabungkan Sunnah Sahabatnya dengan Sunnahnya, dan memerintahkan untuk mengikutinya seperti memerintahkan untuk mengikuti Sunnahnya, sampai-sampai beliau memerintahkan agar menggigitnya dengan gigi geraham. Dan ini meliputi apa yang mereka fatwakan dan apa yang mereka contohkan walaupun sebelumnya Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam tidak melakukannya.

Hal ini juga meliputi apa yang mereka fatwakan secara keseluruhan atau sebagian besar dari mereka atau sebagian mereka saja karena Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam mengaitkannya dengan apa yang disunnahkan (dicontohkan) oleh Khulafâ Râsyidin. Dan sudah dimaklumi, jika mereka mencontohkan hal itu pada saat yang bersamaan, maka bisa diketahui bahwa Sunnah tiap orang dari mereka (Sahabat) pada masa beliau Salallahu ‘Alaihi Wassalam adalah termasuk Sunnah Khulafâur Râsyidin.”

Hadits ini sebagai pukulan keras yang menghujam di kepala para ahlul bid’ah yang menyelisihi manhaj Salaf, karena hal ini ditunjukkan oleh beberapa hal:

Pertama: Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam menggabungkan Sunnah Khulafâur Râsyidin, yaitu pemahaman Salaf, dengan Sunnah beliau. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak bisa dipahami kecuali dengan manhaj Salaf.

Kedua: Beliau Salallahu ‘Alaihi Wassalam menjadikan Sunnah Khulafâur Râsyidin sebagai Sunnah beliau, beliau mengatakan, “Gigitlah ia dengan gigi geraham.” Dan tidak mengatakan, “Gigitlah keduanya dengan gigi geraham.” Dengan demikian jelaslah bahwa Sunnah Khulafâ`ur Râsyidin termasuk Sunnah beliau Salallahu ‘Alaihi Wassalam.

Ketiga: Beliau menghadapkan (menjadikan berlawanan) semua itu dengan peringatan terhadap bid’ah, maka hal ini menunjukkan setiap yang menyelisihi manhaj Salaf berarti ia terjerumus dalam bid’ah tanpa ia sadari.

Keempat: Beliau menjadikan hal itu (manhaj Salaf) sebagai solusi dari perselisihan dan kebid’ahan, barangsiapa yang berpegang teguh kepada Sunnah Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam dan Sunnah Khulafâ‘ur Râsyidin maka ia termasuk dalam golongan yang selamat kelak di hari Kiamat.

Kelima: Beliau tidak menjadikan Sunnahnya dan Sunnah Khulafâ Râsyidin dalam perselisihan yang banyak itu. Hal ini menunjukkan bahwa semuanya itu berasal dari Allah Ta’ala , karena terjadinya perselisihan yang banyak tidak mungkin dari Allah Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya,

“Sekiranya (al-Qur`ân) itu bukan dari Allah, pasti mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” (Qs an-Nisâ’/4:82)

Dari poin-poin yang berkaitan ini maka jelaslah bahwa jalan keselamatan dari perselisihan dan perpecahan serta jalan untuk melindungi kehidupan dari kesesatan hawa nafsu dan rusaknya syubhat dan syahwat adalah dengan memahami Sunnah Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam dengan pemahaman mereka. Karena mereka telah mendapat bagian melimpah dari Sunnah tersebut, mereka berhasil menempati posisi terdepan dan memimpin masa, sehingga tidak menyisakan kesempatan bagi generasi setelahnya untuk menyusul dan menyamai mereka karena mereka berhenti di atas petunjuk, telah dicukupkan dengan ilmu, dan dengan ketajaman pandangan mereka melihat Sunnah Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam menjadi sesuatu yang paling agung di hati mereka, paling hebat dalam jiwa mereka.

Jika Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam mengajak mereka pada suatu perintah, secepatnya mereka segera memenuhinya baik beramai-ramai maupun sendiri-sendiri. Mereka segera membawa jiwa raganya untuk melaksanakan perintah tersebut tanpa perlu bertanya tentang dalil atau buktinya.

Oleh karena itu, mereka adalah orang yang paling berhak terhadap Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam dan Sunnahnya, baik dalam pemahaman, pengamalan, maupun dakwah. Dan yang wajib bagi orang setelah mereka adalah berpegang teguh kepada manhaj mereka, agar bisa bersambung dengan Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam dan agama Allah Ta’ala . Jika tidak, maka ia bagaikan pohon buruk yang tercabut dari dalam tanah dan ia tidak memiliki ketetapan.26

Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam mengabarkan tentang akan terjadinya perpecahan dan perselisihan pada umatnya, kemudian Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam memberikan jalan keluar agar selamat dunia dan akhirat yaitu dengan mengikuti Sunnahnya dan Sunnah para Sahabat. Hal ini menunjukkan wajibnya mengikuti Sunnahnya (Sunnah Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam) dan Sunnah para Sahabatnya radhiallahu’anhum.

Jauhilah Perbuatan Bid’ah!

Sabda Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam,

“Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah.”

Yang dimaksud di sini adalah perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam urusan agama, bukan dalam urusan dunia. Sebab, perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam urusan dunia ada yang bermanfaat dan itu merupakan kebaikan dan ada pula yang berbahaya dan itu merupakan keburukan. Sedangkan perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam agama adalah buruk. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Qs al-Mâ`idah/5:3)

Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda,

“Tidak tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka, kecuali telah dijelaskan semuanya kepada kalian.”

Dalam hadits di atas disebutkan, “Setiap perkara yang baru adalah bid’ah” maka apakah yang dimaksud dengan bid’ah?

Definisi Bid’ah

Imam asy-Syâthibi rahimahullah (wafat th. 790 H) mengatakan,

“Bid’ah adalah cara baru dalam agama yang dibuat menyerupai syari’at dengan maksud untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.”

Artinya, bid’ah adalah cara baru yang dibuat tanpa ada contoh dari syari’at. Sebab, bid’ah adalah sesuatu yang keluar dari apa yang telah ditetapkan dalam syari’at.

Ungkapan “menyerupai syari’at” sebagai penegasan bahwa sesuatu yang diada-adakan dalam agama itu pada hakekatnya tidak ada dalam syari’at, bahkan bertentangan dengan syari’at dari beberapa sisi, seperti mengharuskan cara dan bentuk tertentu yang tidak ada dalam syari’at. Juga mengharuskan ibadah-ibadah tertentu yang dalam syari’at tidak ada ketentuannya.

Ungkapan “untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala“, adalah pelengkap makna bid’ah. Sebab, demikian itulah tujuan para pelaku bid’ah, yaitu menganjurkan untuk tekun beribadah, karena manusia diciptakan Allah Ta’ala hanya untuk beribadah kepada-Nya sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya,

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Qs adz-Dzâriyât/51:56)

Seakan-akan orang yang membuat bid’ah melihat bahwa maksud dalam membuat bid’ah adalah untuk beribadah sebagaimana maksud ayat tersebut. Dia merasa bahwa apa yang telah ditetapkan dalam syari’at tentang undang-undang dan hukum-hukum belum mencukupi sehingga dia berlebih-lebihan dan menambahkan serta mengulang-ulanginya.

Imam al-Hâfizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah (wafat th. 795 H) mengatakan, “Yang dimaksud dengan bid’ah adalah apa yang tidak memiliki dasar hukum dalam ajaran syari’at yang menunjukkan keabsahannya. Adapun yang memiliki dasar dalam syari’at yang menunjukkan kebenarannya, maka secara syari’at tidaklah dikatakan sebagai bid’ah, meskipun secara bahasa dikatakan bid’ah. Maka setiap orang yang membuat-buat sesuatu lalu menisbatkannya kepada ajaran agama, namun tidak memiliki landasan dari ajaran agama yang bisa dijadikan sandaran, berarti itu adalah kesesatan. Ajaran Islam tidak ada hubungannya dengan bid’ah semacam itu. Tak ada bedanya antara perkara yang berkaitan dengan keyakinan, amalan ataupun ucapan, lahir maupun bathin.

Terdapat beberapa riwayat dari sebagian Ulama Salaf yang menganggap baik sebagian perbuatan bid’ah, padahal yang dimaksud tidak lain adalah bid’ah secara bahasa, bukan menurut syari’at.

Contohnya adalah ucapan ‘Umar bin al-Khaththâb radhiallahu’anhu ketika beliau mengumpulkan kaum Muslimin untuk melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan (shalat Tarawih) dengan mengikuti satu imam di masjid. Ketika beliau radhiallahu’anhu keluar, dan melihat mereka shalat berjamaah. Maka, beliau radhiallahu’anhu berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah yang semacam ini.”

Tidak diragukan lagi bahwa setiap bid’ah dalam agama adalah sesat dan haram, berdasarkan sabda Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam yang artinya,

“Jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru. Karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Juga sabda beliau Salallahu ‘Alaihi Wassalam yang artinya,

“Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak”.

Kedua hadits di atas menunjukkan bahwa perkara baru yang dibuat-buat dalam agama ini adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat dan tertolak. Bid’ah dalam agama itu diharamkan. Namun tingkat keharamannya berbeda-beda tergantung jenis bid’ah itu sendiri.

Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam juga bersabda,

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak didasari atas perintah kami maka amalannya tertolak”.

Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam sendiri yang mengatakan amalan bid’ah itu tertolak karena tidak terpenuhinya salah satu syarat dari dua syarat diterimanya ibadah, yaitu mutâba’ah (mengikuti contoh Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam).

Syarat diterimanya ibadah ada dua: pertama, niat ikhlas karena Allah Ta’ala dan kedua, sesuai dengan Sunnah; yakni sesuai dengan Kitab-Nya atau yang dijelaskan Rasul-Nya dan Sunnahnya.

Jika salah satunya tidak dipenuhi, maka amalnya tersebut tidak bernilai shalih dan tertolak, hal ini ditunjukkan dalam firman-Nya yang artinya :

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah dia mengerjakan amal shalih dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabb-nya”.(Qs al-Kahfi/18:110)

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala memerintahkan agar menjadikan amal itu bernilai shalih, yaitu sesuai dengan Sunnah Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam, kemudian memerintahkan agar orang yang mengerjakan amal shalih itu mengikhlaskan niatnya karena Allah Ta’ala semata, tidak menghendaki selain-Nya.

Al-Hâfizh Ibnu Katsîr rahimahullah berkata dalam tafsirnya, “Inilah dua landasan amalan yang diterima: Pertama, ikhlas karena Allah Ta’ala dan Kedua, sesuai dengan Sunnah Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam.”

Menjelaskan tentang bahaya bid’ah dan ahlul bid’ah kepada umat tidaklah termasuk memecah-belah persatuan kaum Muslimin, bahkan menjelaskan bahaya bid’ah dan membantah ahlul bid’ah termasuk dalam kategori jihad. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

“Orang yang membantah ahlul bid’ah adalah mujahid, sampai Yahya bin Yahya berkata, ‘Membela Sunnah Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam lebih utama daripada jihad (fî sabîlillâh).’”

Setiap Bid’ah Adalah Sesat

Sabda Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam,

“Dan setiap bid’ah adalah sesat”

Sabda beliau di atas termasuk dari jawâmi’ul kalim beliau di mana tidak ada sesuatu pun yang keluar darinya, dan merupakan kaidah agung dalam prinsip-prinsip agama. Sabda beliau tersebut mirip dengan sabda beliau, Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak.

Jadi, siapa saja yang mengada-adakan perkara-perkara baru dan menisbatkannya kepada agama padahal tidak memiliki landasan hukum di agama, maka itu merupakan kesesatan dan agama berlepas diri darinya, baik dalam masalah keyakinan, perbuatan, atau perkataan yang tampak maupun perkataan yang tersembunyi.

Imam Mâlik bin Anas radhiallahu’anhu mengatakan:

“Barangsiapa yang mengadakan suatu bid’ah dalam Islam yang ia pandang hal itu baik (bid’ah hasanah), maka sungguh dia telah menuduh Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam mengkhianati risalah agama ini. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu…” (Qs al-Mâ`idah/5:3) Maka, sesuatu yang pada hari itu (pada masa beliau masih hidup) bukanlah ajaran agama, maka hari ini pun sesuatu itu bukanlah ajaran agama.”

Maksud dari kullu bid’ah adalah semua bid’ah. Tidak ada kata kullu bid’ah yang bermakna sebagian bid’ah. Apakah Sebagian sesat dan sebagian tidak??!!.

Apabila kita bawakan hadits yang lain, yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasâ‘i, dari Sahabat Jâbir radhiallahu’anhu:

“Setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.”

Maka akankah mereka mengatakan bahwa ada kesesatan yang tempatnya di Surga?? Semua kesesatan tempatnya adalah Neraka. Kullu dhalâlah fin naar, artinya setiap kesesatan tempatnya di Neraka. Kullu bid’atin dhalâlah, artinya setiap bidah adalah sesat. Sama-sama menggunakan kata kullu. Ada sebagian orang yang memahami kata kullu dalam “kullu bid’atin dhalâlah” itu sebagian bid’ah, tetapi ketika mereka mengartikan “kullu dhalâlatin finnâr” tidak diartikan sebagian kesesatan tempatnya di Neraka, tetapi semua kesesatan tempatnya di Neraka. Inilah cara berfikir mereka yang kontradiksi.

Sabda Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam juga difahami Sahabat demikian, yaitu semua perbuatan bid’ah dalam agama adalah sesat. ‘Abdullâh bin Mas’ûd radhiallahu’anhu berkata,

“Hendaklah kalian mengikuti dan janganlah kalian berbuat bid’ah. Sungguh kalian telah dicukupi (dengan Islam ini), dan setiap bid’ah adalah sesat.

‘Abdullâh bin ‘Umar radhiallahu’anhu berkata,

“Setiap bid’ah itu sesat, meskipun manusia memandang baik.”

Imam Abu Muhammad al-Hasan bin ‘Ali bin Khalaf al-Barbahâri rahimahullah (beliau adalah Imam Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah pada zamannya, wafat th. 329 H) berkata:

“Jauhilah setiap perkara bid’ah sekecil apa pun, karena bid’ah yang kecil lambat laun akan menjadi besar. Demikian pula kebid’ahan yang terjadi pada umat ini berasal dari perkara kecil dan remeh yang mirip kebenaran sehingga banyak orang terpedaya dan terkecoh, lalu mengikat hati mereka sehingga susah untuk keluar dari jeratannya dan akhirnya mendarah daging lalu diyakini sebagai agama. Tanpa disadari, pelan-pelan mereka menyelisihi jalan lurus dan keluar dari Islam.”

Imam Sufyân ats-Tsauri rahimahullah (wafat th. 161 H) berkata,

“Perbuatan bid’ah lebih dicintai oleh Iblis daripada kemaksiatan. Pelaku kemaksiatan masih mungkin ia untuk bertaubat dari kemaksiatannya sedangkan pelaku kebid’ahan sulit untuk bertaubat dari kebid’ahannya.”

Di antara contoh bid’ah yang dianggap baik oleh manusia antara lain:

  1. Bid’ah Khawârij, yaitu memberontak kepada penguasa kaum Muslimin yang zhalim dan mengkafirkan pelaku dosa besar.
  2. Bid’ah Syi’ah, yaitu meyakini bahwa mushaf kaum Muslimin adalah kurang dan yang benar adalah mushaf yang ada pada mereka yang disebut dengan mushaf Fathimah, nikah mut’ah (kawin kontrak), mengkafirkan para Sahabat, dan lainnya.
  3. Bid’ah Jahmiyah, yaitu mengingkari sifat-sifat Allah Ta’ala, mengatakan bahwa al-Qur‘ân adalah makhluk, meyakini bahwa Allah Ta’ala ada di mana-mana, danlain-lain.
  4. Bid’ah Murji’ah, yaitu mereka berpendapat bahwa amal tidak masuk dalam iman, iman tidak bertambah dan berkurang, dan lain-lain.
  5. Bid’ah Mu’tazilah, yaitu mereka mengatakan bahwa pelaku dosa besar berada di satu kedudukan di antara dua kedudukan yakni tidak Muslim tidak juga kafir, dan lain-lain.
  6. Bid’ah kaum Shufi dan para penyembah kubur, yaitu tawasul dengan kuburan dan orang shalih yang telah meninggal dunia, dzikir berjama’ah, dan lain-lain.
  7. Merayakan maulid (hari kelahiran) Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam.
  8. Merayakan Isrâ’ Mi’râj.
  9. Merayakan tahun baru Hijriyyah.
  10. Tahlilan dan mengirimkan pahala bacaan al-Qur‘ân kepada orang yang sudah mati.
  11. Shalat Nishfu Sya’ban.
  12. Dan bid’ah-bid’ah lainnya yang sangat banyak.

Setiap Kesesatan Tempatnya Di Neraka

Dalam riwayat an-Nasâ‘i dari Jâbir bin ‘Abdillâh radhiallahu’anhu, Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda,

“Dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.”

Yang harus diperhatikan mengenai hadits ini bahwa kita tidak boleh memastikan orang yang berbuat bid’ah dan maksiat itu tempatnya di Neraka. Kita tidak punya hak sama sekali. Sebagaimana kita juga tidak boleh memastikan orang yang berbuat ketaatan kepada Allah Ta’ala, tempatnya di Surga. Kecuali orang-orang yang telah ditentukan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Salallahu ‘Alaihi Wassalam.

Sabda beliau di atas merupakan ancaman yang terdapat di dalam banyak hadits dan ayat al-Qur‘ân sebagaimana yang disebutkan oleh para Ulama. Artinya orang yang melakukan perbuatan bid’ah diancam masuk Neraka. Adapun memastikan dia masuk Neraka, maka tidak boleh dilakukan dan sangat berbahaya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Seseorang yang berilmu terkadang menyebutkan ancaman terhadap sesuatu yang dipandangnya sebagai perbuatan dosa, padahal dia mengetahui bahwa orang yang menakwilnya diampuni dan tidak terkena ancaman. Tetapi dia menyebutkan hal itu untuk menjelaskan bahwa perbuatan dosa mengakibatkan mendapatkan siksa. Dia hanya mengingatkan untuk menghalangi manusia dari perbuatan yang dipandangnya sebagai dosa.”

Beliau rahimahullah juga berkata, “Karena nash-nash ancaman bentuknya umum, maka kita tidak menyatakan dengannya kepada orang tertentu bahwa dia termasuk penghuni Neraka. Sebab memungkinkan tidak berlakunya hukum yang ditetapkan pada orang yang melakukannya karena adanya penghalang yang kuat seperti taubat, atau kebaikan-kebaikan yang menghapuskan keburukan, atau musibah-musibah yang menghapuskan dosa, atau syafa’at yang diterima, dan lain-lain.”

Maka sabda Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam, “Setiap kesesatan tempatnya di Neraka,” adalah sifat bagi amal yang dilakukan seseorang dan sifat bagi buah amal yang dilakukannya, jika tidak disusuli dengan taubat dan meninggalkannya.

Kemudian sabda beliau Salallahu ‘Alaihi Wassalam, “…di Neraka.” Tidak mengharuskan kekal di dalam Neraka atau berada lama di dalamnya. Tetapi seseorang masuk Neraka sesuai maksiat yang dilakukannya, baik bentuknya bid’ah maupun selainnya.

Berdasarkan hal ini, berlaku hukum lain, yaitu menghalalkan sesuatu yang diharamkan agama. Barangsiapa menghalalkan suatu bid’ah atau selainnya dari perbuatan maksiat dengan menghalalkan dalam hatinya padahal dia mengetahui dan mengakui bahwa sesuatu yang dilakukan tidak memiliki dasar dalam Sunnah, bahkan dia mengetahui bahwa tindakannya itu merupakan bentuk “mengoreksi” syariat maka ketika itu ia berada di dalam Neraka karena dia kufur.

Imam ath-Thahawi rahimahullah dalam kitab ‘akidahnya (hlm. 316-disertai syarah Ibnu Abil ‘Izz) mengatakan, “Kita tidak mengkafirkan seorang pun dari Ahlul Kiblat (kaum Muslimin) karena perbuatan dosa selama ia tidak menghalalkannya.”

Dan tidak diragukan lagi bahwa bid’ah adalah dosa yang sangat jelas dan maksiat yang sangat nyata. Dan dalil-dalil yang mengecamnya dan memerintahkan untuk menjauhinya sangat banyak sekali.

Fawaa-Id (Pelajaran Dari Hadits Ini)

  1. Disyari’atkan memberikan nasehat. Akan tetapi, hendaknya dilakukan pada tempatnya dan jangan terlalu sering agar tidak membosankan.
  2. Nasehat atau wasiat perpisahan biasanya menyentuh hati.
  3. Nasehat Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam semuanya bermanfaat dan menyentuh hati para Sahabat.
  4. Boleh bagi seseorang untuk meminta nasehat dari orang alim (Ulama), dan dalam hal ini apabila ada sebabnya, yakni seseorang membutuhkan nasehat.
  5. Wasiat yang paling baik adalah wasiat takwa kepada Allah Ta’ala .
  6. Seseorang akan mencapai takwa kepada Allah Ta’ala apabila ia menuntut ilmu syar’i, mengamalkannya, dan mentauhidkan Allah Ta’ala dan menjauhkan syirik.
  7. Takwa adalah melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan menjauhkan larangan-Nya. Perintah yang paling besar adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dan larangan yang terbesar adalah syirik.
  8. Takwa mempunyai keutamaan yang sangat banyak.
  9. Wajib mendengar dan taat kepada ulil amri (penguasa) dari kaum Muslimin dalam hal yang ma’ruf.
  10. Tidak boleh taat kepada ulil amri dalam hal maksiat.
  11. Perintah taat kepada ulil amri meskipun dia seorang hamba sahaya (budak), menunjukkan pentingnya taat kepada ulil amri.
  12. Di antara mukjizat Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam , beliau mengabarkan akan terjadinya perpecahan dan perselisihan di tengah-tengah kaum Muslimin.
  13. Jalan selamat dari perpecahan dan perselisihan adalah berpegang kepada al-Qur‘ân dan Sunnah Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam serta memahaminya sebagaimana yang difahami oleh para Sahabat radhiallahu’anhum .
  14. Keutamaan Khulâfaur Râsyidin.
  15. Keutamaan para Sahabat radhiallahu’anhum, karena mereka adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
  16. Baiknya hati para Sahabat radhiallahu’anhum, karena mereka takut kepada Allah Ta’ala .
  17. Wajib atas setiap Muslim mempelajari Sunnah Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam.
  18. Kita wajib mengikuti Sunnah Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam dan Sunnah Khulafâ‘ur Râsyidin serta berpegang teguh dengan keduanya.
  19. Kita wajib waspada dan hati-hati kepada setiap perkara yang baru yang tidak ada asalnya dari Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam.
  20. Setiap perkara yang baru yang diada-adakan dalam agama adalah bid’ah.
  21. Semua bid’ah adalah sesat, tidak ada bid’ah hasanah dalam Islam dan tidak ada juga pembagian bid’ah menjadi lima (hasanah, mubah, makruh, haram, dan wajib). Yang mengatakan semua bid’ah sesat adalah Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam. Beliau adalah orang yang paling tahu tentang Islam, paling fasih berbahasa Arab, dan paling jujur.
  22. Semua kesesatan tempatnya di Neraka.
  23. Menjelaskan tentang bahaya bid’ah kepada umat tidak termasuk memecah belah kaum Muslimin, namun termasuk dalam kategori amar ma’ruf nahi munkar.
  24. Tidak boleh memastikan para pelaku bid’ah dengan masuk Neraka karena kita tidak tahu akhir kehidupannya. Bisa jadi ia bertaubat dari perbuatan bid’ahnya tersebut.
  25. Bid’ah merusak hati, akal, dan agama.

Wallâhu a’lam.

Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

(Majalah As-Sunnah Edisi 10/Thn. XIII/Muharram 1431H/Januari 2010M)

http://majalah-assunnah.com/

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: