Beranda > Artikel Mutiara Sunnah, Kesehatan, TANYA JAWAB > Dialog Para Dokter Bersama asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah (1)

Dialog Para Dokter Bersama asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah (1)

 

Pengantar dari Moderator(dokter):

بسم الله الرحمن الرحيم

Shalawat serta salam semoga tercurah kepada penghulu para rosul, Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan atas keluarga serta para shahabatnya. Kami memuji Allaah, kami memuji Allaah yang telah memberikan nikmat kepada kita dengan agama yang paling mulia dan millah (ajaran) yang terhormat, dan telah mengutus kepada kita Rosul-Nya yang paling mulia dan makhluk-Nya yang paling utama sebagai pemberi keterangan, petunjuk dan pengajaran. Agama yang paling agung ini dia tidaklah meninggalkan perkara yang kecil maupun yang besardalam permasalahan dunia kita, kecuali pasti telah menunjukkan kepada hal-hal yang terbaik dan telah melarang kita dari perkara-perkara yang buruk. Agama yang hak ini, yang menghargai (mengagungkan) kedudukan amal-amal shalih baik yang bersifat keagamaan atau keduniaan. Dan menjadikan amal shalih tersebut sebagai kewajiban yang pertama dari insan muslim terhadap dirinya sendiri, agama dan masyarakatnya.

Saudara-saudara dan saudari-saudari di jalan Allah, bukanlah hal yang asing bagi Anda sekalian bahwa profesi dokter berada di garis depan amalan-amalan yang mulia (agung), hal itu (menjadi kenyataan) apabila niat diikhlaskan untuk Allah dan menjadikan (meletakkan) maslahat kaum muslimin, pengobatan mereka dan meringankan rasa sakit mereka di urutan pertama. Amal kemanusiaan yang amat penting ini, tidaklah dibiarkan begitu saja oleh aturan agama yang hanif ini tanpa adanya kaidah-kaidah/aturan-aturan dan akhlak. Kondisi semacam ini berlaku juga dalam setiap amal dan profesi. Sampai-sampai sebelum adanya campur tangan dari organisasi-organisasi kesehatan untuk membuat aturan-aturan dan program-programnya. Maka syariat ini telah membuat aturan-aturan penting bagi setiap orang yang menunaikan pekerjaan-pekerjaan, yang ditujukan untuk kepentingan orang lain, yaitu berupa; Takut Kepada Allah, ikhlas serta amanah dalam setiap amalan yang mereka kerjakan, dan melaksanakannya sesuai dengan kemampuan mereka untuk mewujudkan pekerjaan yang telah dilimpahkan kepada mereka dengan bentuk yang paling sempurna sehingga Allah ‘Azza wa Jalla ridha.

Saudara sekalian, hari ini kita berbahagia dengan kehadiran orang yang mulia dan agung, tamu yang mulia __mudah-mudahan Allah memberinya umur panjang untuk berkhidmad (berbakti) kepada Agama Allah dan perbaikan masyarakatnya__, seseorang yang senantiasa mendakwahi saudara-saudaranya muslimin sesuai dengan ilmu dan kepahaman yang telah diberikan Allah kepadanya, untuk menuju jalan kebenaran dan kebaikan, Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin..__mudah-mudahan Allah memanjangkan umurnya__

Syaikh menyela: Untuk beramal shalih!

dokter: Dan mengaruniakan kesehatan yang sempurna dan kebahagiaan di dunia dan akhirat

Syaikh berkata (sambil menunduk): aamiin

dokter: Asy-Syaikh al-Utsaimin adalah anggota Majelis Ulama-ulama Besar

Syaikh: Cukup, cukup, cukup

dokter: Semoga Allah memberimu keselamatan, saya tau kata-kata saya membuat Anda tidak tenang, tapi teman-teman ingin mengenal Anda lebih jauh.

Syaikh: Tidak perlu

dokter: Mudah-mudahan Allah memberkahi Anda

Syaikh: cukup

dokter: Semoga Allah membalas usaha Anda, dan saya tau Anda mengharap pahala dari Allah. Dan dalam menunggu-nunggu (nasehat Anda), sama sekali tidak akan merasa tergesa-gesa atau merasa sempit (bosan), baik saya pribadi atau teman-teman yang lain. Mudah-mudahan Allah memberi taufik kepada Anda dan membalas usaha Anda. Dan Mudah-mudahan Allah memberi manfaat kepada kami melalui ilmu Anda yang luas.

Syaikh: Mudah-mudahan juga bagi orang yang mengucapkannya dan mendengarnya

dokter: Tafadhal

Syaikh:

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan keburukan amal-amal kami. Barangsiapa yg diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada menyesatkannya,dan barangsiapa yg disesatkan Allah maka tidak ada yang bisa memberi petunjuk.Keraskan (speakernya)!, aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yg berhaq diibadahi kecuali Allah yang tiada sekutu bagi-Nya.Dan aku bersaksi  bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mudah-mudahan Allah mencurahkan shalawat kepadanya dan kepada keluarga serta shahabat-shahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti  beliau dengan baik sampai hari kiamat..

Keraskan suara (speakernya) ! Tidak mungkin digabungkan antara suara yang lemah dengan penerangan yang lemah, karena hal itu akan menyebabkan tidur, pasti!

Keraskan suara (speakernya) !

Amma Ba’du,

Saudara-saudara sekalian, saya bersyukur kepada Allah ‘azza wa Jalla yang telah memudahkan acara pertemuan dengan saudara-saudara sekalian, para dokter sekalian. Pada malam ini, yaitu malam Selasa tanggal 14 Jumadil Akhir 1421 H, pertemuan ini __yang saya mohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk menjadikannya pertemuan yang diberkahi. Kami akan berbincang-bincang tentang apa yang dikehendaki Allah ‘Azza wa jalla seputar tema ini, kemudian kami akan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Adapun tema yang ingin kami sampaikan dan kami mohon mudah-mudahan Allah memberi kebenaran, maka aku katakan:

Penyakit itu saudara-saudara, ada dua macam:

Penyakit hati, dan ini yang merupakan penyakit bersifat maknawi (batin/nonfisik)

-dan yang kedua, penyakit yang berada (menyerang) di badan dan ini yang merupakan penyakit fisik.

Jenis yang pertama harus lebih mendapat perhatian dan penanganan, karena penyakit ini mengakibatkan kebinasaan abadi atau kehidupan abadi. Penyakit hati ada dua macam:

yang pertama, kebodohan (ketidaktauan)

Banyak manusia mencintai kebaikan dan berusaha mendapatkannya, tapi dia bodoh. Akhirnya timbullah kesalahan yang fatal. Oleh karena itu, Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata: “Para ahli ibadah yang rusak dari kalangan kita (muslimin) memiliki kemiripan dengan orang-orang Nasrani”, karena orang-orang Nasrani menghendaki kebaikan, akan tetapi mereka tersesat.Sabagaiman disebutkan dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ

Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah.

Berkata Sufyan: “Para ulama yang rusak dari kalangan kita (muslimin) memiliki kemiripan dengan orang-orna Yahudi”, karena orang-orang Yahudi mengetahui kebenaran akan tetapi mereka menyelisihinya.Dalam perkara ini, berkisarnya penyakit hati. Dari sini kita mengetahui bahwa kewajiban kita adalah memiliki ilmu dan tunduk serta menerima syariat Islam. Karena kalau tidak, akan berakibat kerusakan (hati). Kerusakan ini tidak seperti kerusakan badan. Rusaknya badan berarti kembalinya badan kepada kondisi awal penciptaan.

مِنۡہَا خَلَقۡنَـٰكُمۡ وَفِيہَا نُعِيدُكُمۡ وَمِنۡہَا نُخۡرِجُكُمۡ

“Dari bumi [tanah] itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu………”QS.Toha:55

Tetapi rusaknya hati maknanya adalah hilangnya kehidupan, musnahnya kehidupan (yang hakiki)! Karena manusia tidak akan bisa mengambil manfaat dari kaberadaannya di dunia, dia merugi dalam kehidupan dunia. Dan dia juga tidak akan bisa mengambil manfaat untuk kehidupan akhiratnya! Lalu apakah sesungguhnya kehidupan yang hakiki itu? Pertanyaan!Jawablah!…..kehidupan akhirat! Berdasarkan firman Allah tabaraka wata’ala

وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلۡأَخِرَةَ لَهِىَ ٱلۡحَيَوَانُ‌ۚ

“Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan…”QS.al-‘Ankabut: 64,

Para ulama mengatakan bahwa al-hayawaan artinya adalah kehidupan yang sempurna! Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَوۡمَٮِٕذٍ۬ يَتَذَڪَّرُ ٱلۡإِنسَـٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ (٢٣) يَقُولُ يَـٰلَيۡتَنِى قَدَّمۡتُ لِحَيَاتِى (٢٤)

“dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. (23) Dia mengatakan: “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan [amal saleh] untuk hidupku ini”.” QS. al-Fajr:22-23

Oleh karena itu, kewajiban manusia adalah untuk berusaha menyembuhkan penyakit hatinya sebelum penyakit-penyakit lainnya. Tapi, dari mana kita mengambil obat untuk penyakit hati ini? Obat untuk penyakit hati ini adalah berasal dari dua sumber asasi (pokok), yaitu al-Kitab wa as-Sunnah. Al-Kitab, alhamdulillah, telah disifati oleh Allah ta’ala bahw adia merupakan penjelas dari segala sesuatu. Tiada satu perkara pun yang dibutuhkan umat manusia dalam kehidupan mereka baik kehidupan dunia maupun akhirat kecuali pasti terdapat di dalam al-Qur’an. Terkadang hal itu terdapat dalam al-Qur’an secara jelas atau terkadang dalam bentuk isyarat kepada hal tersebut. Dan (penjelasannya) dialihkan ke tempat lain. Kita tahu di dalam al-Qur’an tidak terdapat (keterangan) jumlah rakaat-rakaat shalat, tidak pula jumlah shalat, nishab-nishab zakat, tidak pula amalan-amaln haji yang sudah ma’ruf, tapi (penjelasan itu) dialihkan kepada as-Sunnah.

Artikel terkait:

  1. Dialog Para Dokter Bersama asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah (2)
  2. Dialog Para Dokter Bersama asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah (3)
  3. Dialog Para Dokter Bersama asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah (ke-4 dan bagian awal ke-5)
  4. Dialog Para Dokter Bersama asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah (Bagian ke-6)
  5. Dialog Para Dokter Bersama asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah (bagian ke-7)

________________________________

1. Lihat Video pada  fesbuk al-Akh Shofifurrahman Al Anshori

2. Arikel Mutiara Sunnah

https://syababpetarukan.wordpress.com/2010/12/11/dialog-para-dokter-bersama-asy-syaikh-ibnu-utsaimin-rahimahullaah-1/

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: