Beranda > AQIDAH, MANHAJ, TANYA JAWAB > Mayoritas Muslimin Keliru Memahami Kalimat Laa Ilaaha Illallah

Mayoritas Muslimin Keliru Memahami Kalimat Laa Ilaaha Illallah

Lanjutan dari artikel  “Bukan dakwah kalo gak mentingin tauhid

Adapun mayoritas umat Islam sekarang yang bersaksi dengan Laa Ilaaha Illallah, mereka tidak memahami maknanya dengan benar. Bahkan barangkali mereka memahami maknanya dengan pemahaman yang terbalik seratus delapan puluh derajat.
Sekadar contoh, ada seorang yang menulis risalah tentang makna Laa Ilaaha Illallah dan menafsirkannya dengan; tidak ada Rabb (yang menciptakan, memiliki, dan mengatur) selain Allah!!
Ini adalah paham yang dahulu diimani oleh orang-orang musyrikin dan keyakinan yang mereka anut. Namun demikian, keyakinan mereka akan hal ini tidaklah berguna bagi mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi” Tentu mereka akan menjawab, “Allah”. (QS. Luqmaan: 25)

Orang-orang musyrikin dahulu beriman bahwa alam ini memiliki pencipta yang tidak ada sekutu bagi-Nya, tetapi mereka menjadikan tandingan dan sekutu bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam peribadahan kepada-Nya. Mereka beriman bahwa Rabb itu satu, akan tetapi mereka meyakini bahwa yang berhak diibadahi ada banyak. Oleh karena itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala membantah keyakinan ini, yang Dia namakan sebagai peribadatan kepada selain-Nya, dengan firman-Nya,

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), “Kami tidak menyembah mereka, melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3)

Sungguh dahulu orang-orang musyrikin mengetahui bahwa ucapan Laa Ilaaha Illallah mengandung arti keharusan berlepas diri dari peribadatan kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sedangkan umumnya kaum muslimin sekarang justru menafsirkan kalimat yang indah ini dengan: tidak ada Rabb (yang menciptakan, memiliki, dan mengatur) selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Bila seorang muslim mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, lantas ia beribadah kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka secara akidah dia dan orang-orang musyrikin sama, walaupun lahiriyahnya Islam karena dia mengucapkan Laa Ilaaha Illallah. Dari sini dia dikatakan muslim secara lahiri.
Kondisi inilah yang mengharuskan kita semua sebagai da’i yang menyeru kepada Islam, untuk mendakwahkan tauhid dan menegakkan hujjah atas orang-orang yang tidak tahu makna kalimat Laa Ilaaha Illallah dan terjerumus kepada pemahaman yang terbalik. Berbeda halnya dengan orang-orang musyrik, mereka memang menolak mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallah, maka mereka bukan muslim lahir maupun batin.

Adapun umumnya kaum muslimin sekarang lahirnya mereka muslim, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

فإذا قالوها عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحقها وحسابهم على الله تعالى

“Bila mereka mengucapkannya (Laa Ilaaha Illallah) maka terjagalah darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan alasan yang benar dan perhitungan mereka terserah Allah Ta’ala.” (HR. Al Bukhari (25), Muslim (22) dan yang lainnya dari shahabat Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu).

Oleh karena itu, saya katakan -dan ini jarang terucap dariku- bahwa kenyataan kebanyakan muslimin sekarang lebih buruk dari keadaan umumnya orang-orang Arab di masa jahiliyah yang pertama. Yaitu dari sisi buruknya pemahaman terhadap makna kalimat yang indah ini. Karena kaum musyrikin Arab dahulu memahaminya, namun mereka tidak mengimaninya. Adapun umumnya muslimin sekarang, sesungguhnya mereka mengucapkan sesuatu yang tidak mereka yakini. Mereka mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, tetapi tidak mengimani maknanya dengan benar.

Oleh sebab itu, saya meyakini bahwa kewajiban pertama bagi setiap da’i muslim yang sesungguhnya adalah terus-menerus menghangatkan pembahasan seputar kalimat ini dan seputar penjelasan akan maknanya dengan ringkas, kemudian merinci konsekuensi-konsekuensi kalimat yang indah ini, berupa mengikhlaskan seluruh jenis peribadatan untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengisahkan perkataan kaum musyrikin, dalam firman-Nya,

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan seluruh peribadatan yang diserahkan kepada selain-Nya sebagai kekufuran terhadap kalimat yang indah ini: Laa Ilaaha Illallah.

Oleh karena itu, Saya katakan sekarang, tidak ada faedahnya sama sekali mengelompokkan kaum muslimin dan menghimpun mereka, lalu meninggalkan mereka di dalam kesesatan tanpa memahami kalimat yang indah ini. Dan hal ini tidak ada manfaatnya bagi mereka di dunia sebelum di akhirat!”
Kita mengetahui sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

من مات وهو يشهد أن لا إله إلا الله مخلصًا من قلبه حرم الله بدنه على النار

“Barangsiapa yang wafat dan dia telah bersaksi dengan Laa Ilaaha Illallah (bahwa tidak ada yang berhak diibadahi, kecuali Allah) dengan keikhlasan dari hatinya, Allah mengharamkan badannya tersentuh api neraka.”
Dan dalam riwayat yang lain:

دخل الجنة

“Akan masuk ke dalam surga”.

Dan adanya jaminan masuk surga berlaku bagi orang yang mengucapkannya (Laa Ilaaha Illallah) dengan ikhlas dari hatinya, walaupun sebelumnya ada adzab yang menimpanya, dan (menimpa) orang yang akidahnya benar terhadap kalimat ini (di akhirat). Sesungguhnya dia bisa jadi disiksa karena perbuatan maksiat dan dosa yang dilakukan, namun pada akhirnya dia tetap akan masuk surga.

Dan sebaliknya, orang yang mengucapkan kalimat yang indah ini dengan lisannya, tetapi keimanan belum masuk ke dalam hatinya, maka yang demikian (ucapannya itu) tidak bermanfaat baginya di akhirat sedikit pun. Kadang bermanfaat baginya di dunia, dia bisa selamat dari diperangi dan dibunuh, apabila kaum muslimin memiliki kekuatan dan kekuasaan. Adapun di akhirat, (ucapannya) tidak berguna baginya sedikit pun, kecuali apabila dia mengucapkannya (kalimat Laa Ilaaha Illallah) dan memahami maknanya –ini yang pertama-, kemudian dia meyakini akan makna yang dikandungnya. Karena sekadar paham saja tidak cukup, kecuali jika pemahaman ini disertai dengan keimanan. Dan poin ini, saya kira kebanyakan manusia lalai terhadapnya! Yaitu, paham belum tentu beriman. Bahkan kedua-duanya harus terpenuhi sehingga seseorang bisa dikatakan mukmin.

Hal ini karena kebanyakan ahli kitab dari Yahudi dan Nasrani dahulu mengetahui bahwa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah benar seorang rasul, dalam pengakuannya sebagai seorang Nabi dan Rasul. Akan tetapi, pengetahuan yang telah dipersaksikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan firman-Nya,

يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءهُمْ

“Mereka mengetahuinya sebagaimana mereka mengetahui anak-anak mereka.” (QS. Al-Baqarah: 146) tidak bermanfaat sedikit pun di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Mengapa demikian? Karena mereka tidak mengakui (mengimani) Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai Nabi dan Rasul.
Karena itulah sesungguhnya dasar keimanan adalah pengetahuan, namun pengetahuan saja tidaklah cukup, bahkan ia harus diikuti dengan keimanan dan ketundukan, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah dan mohonlah ampunan untuk dosamu.” (QS. Muhammad: 19)

Berdasarkan hal ini, jika seorang muslim mengucapkan “Laa Ilaaha Illallah” dengan lisannya, maka wajib baginya memadukan ucapannya tadi dengan pengetahuan terhadap kalimat tersebut secara global, kemudian terperinci. Jika ia telah mengetahui, membenarkan, dan mengimaninya maka hadits-hadits yang telah saya sebutkan sebagiannya tadi berlaku baginya.
Di antara hadits tersebut adalah sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam –sebagai isyarat akan hal terperinci yang telah saya sebutkan di atas-,
من قال: لا إله إلا الله، نفعته يومًا من دهره

“Barangsiapa yang mengucapkan “Laa Ilaaha Illallah”, maka akan bermanfaat baginya di suatu hari nanti .”
Yakni kalimat thayyibah (yang baik) ini apabila seseorang mengerti maknanya, bisa menyelamatkannya dari kekekalan di neraka. Dan prinsip ini terus saya ulang-ulangi agar kokoh dalam benak manusia.

Atau terkadang ada orang yang tidak sempurna dalam mengerjakan amalan shalih dan dalam meninggalkan kemaksiatan, namun ia selamat (bersih) dari syirik besar karena mengamalkan kandungan dan konsekuensi syarat-syarat keimanan yang berupa amalan-amalan hati –dan juga amalan lahir, menurut ijtihad sebagian ulama. Dan dalam masalah ini ada rinciannya dan bukan sekarang waktu yang tepat untuk memaparkannya -, hukum orang tersebut adalah tergantung kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Terkadang (ia) dimasukkan ke dalam neraka sebagai balasan dari apa yang dia lakukan berupa perbuatan maksiat atau kurangnya ia dalam melaksanakan beberapa kewajiban. Kemudian ia diselamatkan oleh kalimat yang indah ini, atau Allah Subhanahu Wa Ta’ala ampuni dia dengan karunia dan kemuliaan-Nya. Inilah makna perkataan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang telah disebutkan,

من قال: لا إله إلا الله، نفعته يومًا من دهره

“Barangsiapa yang mengucapkan “Laa Ilaaha Illallahu”, akan bermanfaat baginya pada suatu hari nanti”.

Adapun orang yang mengucapkannya dengan lisannya dan tidak paham maknanya, atau paham maknanya, namun tidak mengimaninya maka tidak bermanfaat baginya ucapan “Laa Ilaaha Illallah”, kecuali pada kehidupan dunia, yaitu jika ia hidup di bawah naungan hukum Islam dan bukan pada kehidupan akhirat.

Karena itu wajib mengonsentrasikan dakwah kepada tauhid dalam setiap masyarakat atau kelompok-kelompok Islam. Hal ini akan mewujudkan dengan cepat apa yang sering didengung-dengungkankan oleh semua jamaah-jamaah Islam atau sebagian besarnya, yaitu terbentuknya masyarakat Islami dan tegaknya Daulah Islamiyah yang menerapkan hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada setiap negeri yang tidak berhukum dengan hukum yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala turunkan.

Jamaah-jamaah atau kelompok-kelompok ini tidak akan mampu mewujudkan tujuan ini -padahal mereka sepakat untuk mewujudkannya dalam alam nyata dengan cepat-, kecuali apabila mereka memulai dengan metode yang pernah ditempuh Rasululllah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Disusun Oleh

Ustadz Ja’far Shalih -hafidzahullah-

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. 10 Desember 2010 pukul 10:48

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: