Beranda > FIQIH DAN HUKUM ISLAM, TANYA JAWAB > Apa Hukum Nonton TV? (1)

Apa Hukum Nonton TV? (1)

Tulisan ini berasal dari catatan

al-Akh Sukpandiar Ibnu Muhammad Idris -hafidzahullah-, yang kami bagi menjadi dua bagian. Selamat menyimak sajian kami

 

Moqoddimah

Nonton TV , ehm… sepertinya sudah menjadi menu wajib bagi kebanyakan orang, tak terkecuali ummat muslim. Alasan mereka sederhana, paling tidak untuk sarana hiburan, bahkan dengan nonton TV yang tidak syar’i bisa menjadi sarana menuntut Ilmu!! Benarkah ?.

Allah Subhana Wata’ala berfirman:

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan di mintai pertanggungjawabannya.” ( Al-Isra’: 36),

ya di akhirat kelak, bukan di dunia. Potensi dosa sangat besar, baik berupa syirik, bid’ah dan maksiat lainnya dalam acara TV yang tidak syar’i.

Bolehkah Nonton Berita?

Siapapun yang mengatakan TV itu haram ( sekalipun ia alat atau sarana ) yang bila disalahgunakan fungsinnya untuk menuju maksiat wajiblah dia mendatangkan dalil!

Kemarin ada 3 hal komentar yang menarik dalam note ini  (Hukum nonton TV). Pertama bagaimanakah kalau TV di pakai ( difungsikan ) untuk nonton film kartun. Kedua bila digunakan untuk nonton siaran dakwah Agama (syiar Islam). Dan Ketiga fungsinya untuk nonton berita saja.

Tak dipungkiri berita melalui media TV adalah media penyampaian berita yang paling menarik, terutama selain ada suara , juga adanya gambar yang bergerak, apalagi dengan adanya siaran langsung, maka lebih meyakinkan lagi akan kebenaran berita tersebut. Masalahnya sekarang adakah dalam acara siaran berita itu kemaksiatan?

Pertama

Sangat jelas sebelum dibacakan berita adanya jingle musik walau hanya sebentar, atau di sela-sela berita, bahkan dalam berita yang panjang ada musik dan lagunya, misal berita tentang bencana, diidentikkan dengan lagunya Ebiet G.Ade ” untuk kita renungkan” ( maklum, penulis mantan penggemar Ebiet G.Ade, he he). Tentang musik telah jelas keharamannya. Baca tafsir Ibnu Abbas   tentang surat Luqman: 6. Demikian pula HR. Bukhori no.1265 dalam Adabul Mufrad juga al-Baihaqi dan lainnya.

Kedua

Yang membaca berita biasanya lelaki yang ganteng dan wanita yang cantik! (yang tak berbusana muslimah yang syar’i). Tak pelak akan memancing pandangan yang kedua dan ketiga, baik penontonya lelaki maupun weanita.

Wahai Ali (kata Rosulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam), janganlah engkau ikuti pandanganmu yang pertama dengan pandangan berikutnya, karena bagimu adalah pandangan yang pertama dan yang berikutnya bukanlah untukmu” (HR. Muslim 2159, Abu Dawud 2148 dan at-Tirmidzi 2776)

Ketiga

Di dalam berita gambar bergerak bisa dipastikan terlihat aurat baik lelaki maupun wanita. Terutama jika objek beritanya adalah orang-orang kafir.

Keempat

Materi berita sering menonjolkan kesyirikan dan kebid’ahan. Sering kita dengar berita ngalap berkah dianggap halal karena alasan pelestarian budaya(?!?). Peringatan-peringatan bid’ah seperti acara  peringatan maulid Nabi Shallallah ‘Alaihi wasallam dengan adanya umaroh ( pejabat pemerintah, wakil rakyat dan tokoh masyarakat), sehingga acara bid’ah tersebut terkesan ter-justifikasi dengan hadirnya pemerintah (pejabat!). Pada akhirnya yang nonton berita menjadi rusak akidahnya.

Kelima

Adanya iklan. Terutama iklan makanan  dan minuman. Kita lihat hampir semua iklan tentang hal ini caranya dengan tidak syar’i, seperti makan dan minum dengan tangan kiri , atau dengan berdiri . Ironisnya dilakukan  di saat berbuka puasa!

Dan masih banyak kemaksiatan lainnya seperti wanita bersolek dan lain-lain.

Pengingat

Dia (Robb Allah) mengetahui (pandangan ) mata yang khianat ( yang terlarang) dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (al-Mu’min:19).

Ketika Ustadzah Berdakwah

Mama Fulan dan Aak Fulan  (yang bukan mahrom) termasuk acara favorit pemirsa, (yang mereka, admin_)  mengambil tausyiah darinya yang disiarkan TV  Indosiar. Sayang para pemirsa tahu atau tidak tahu sebenarnya banyak terjadi maksiat pada acara tersebut. Sengaja (penulis, admin_) bikin note ini agar bagi penuntut ilmu jangan terjebak  dengan slogan ” yang pentingkan ilmunya”, bukan caranya?? Betulkah?

Ketahuilah:

1.” janganlah sekali-sekali seorang pria berkhalwat dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya.” HR.Muttafaq ‘alaihi.

Syubhat, tapi kan banyak jamaahnya yang wanita dan lelakinya! Ketahuilah banyaknya orang tidak bisa menghapus  keharaman berkhalwat ini. Intinya, hukumnya tetap haram,

2. ” Suatu ketika Al-Fadhl bin Abbas di bonceng oleh Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (pada tunggangannya), kemudian ada seorang wanita dari khats’am mendatangi Nabi dan bertanya kepada beliau, lalu Al-Fadhl memandangi wanita tersebut dan wanita itupun memandanginya. Lalu Rosullullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memalingkan pandangan Al-Fadhl ke sisi lain”. (HR. Muttafaq ‘ALaihi)

Dari hadits ini saja sangat jelas keharamannya walau ada lelaki lain, padahal lelaki tersebut adalah Rosullullah, yang tidak mungkin Al-Fadhl akan berani berbuat maksiat kepada si wanita.

3.  “Dan katakanlah kepada para wanita yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya…, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera  suami mereka, atau saudara-saudara lellaki mereka, atau putra-putera saudara perempuan mereka ( keponakan, penulis Abu Hada_), atau perempuan sesama (Islam), atau hamba sahaya yang tidak lagi punya syahwat kepada perempuan atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan…Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (An-Nuur:31).

Dari ayat di atas, majelis ilmu yang tanpa hijab ( pandangan bebas) sangat jelas keharamannya tak terkecuali dalam suatu majelis ilmu (syar’i, admin_). Juga tak beruntung majelis seperti itu.

4. Lainnya, orang yang tampil di TV harus bersolek (sumber: banyak teman ana dahulu kerja di stasiun TV mengatakan hal tersebut), tahukan anda hukum wanita yang bersolek di  depan pria yang bukan mahromnya? Ayo cari dalilnya!

5. Dan lain-lain maksiat seperti telah termuat di  sub artikel Bolehkah Nonton Berita? di atas.

Penulis

Abu Hada Sukpandiar Ibnu Muhammad Idris

 

  1. Belum ada komentar.
  1. 21 Desember 2010 pukul 15:27

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: