Beranda > FIQIH DAN HUKUM ISLAM > Hukum Gambar Bernyawa (2)

Hukum Gambar Bernyawa (2)

Tulisan ini berasal dari catatan

al-Akh Sukpandiar Ibnu Muhammad Idris -hafidzahullah-, yang kami bagi menjadi dua bagian.

:: Hukum Memanfaatkan Gambar

Pada Muqoddimah seri note hukum gambar bernyawa, secara umum menggambar mahluk bernyawa haram hukumnya, lalu bagaimanakah  jika penggunaannya untuk menghinakan gambar tersebut (misal untuk diinjak, atau dijadikan sprei, dll). Ada dua pendapat dalam hal ini. Pendapat pertama tetap haram. Pendapat kedua hukumnya makruh.

Tetap Haram:

Mayoritas Ulama yaitu madzhab Hanafi, Syafi’i, dan madzhab Hambali (Ahmad) dan para ulama salaf mengharamkannya. Dalil mereka telah di sebutkan pada muqoddimah seri note ini.

Imam Nawawi -rahimahullah- berkata: “Madzhab kami dan madzhab lain mengatakan bahwa menggambar hewan adalah perbuatan haram yang sangat besar, sama saja apakah dihinakan atau tidak di hinakan, semuanya hukumnya haram.”

Makruh

Ini adalah pendapat madhzab Maliki. Dalilnya,

Sesungguhnya para malaikat tidak akan masuk rumah yang ada gambarnya.” Busr berkata: ” Ketika Zaid sakit, aku menjenguknya, dan ternyata ada gambarnya, lalu aku berkata kepada Ubaidillah  saudara tirinya Maimunah ( Istri Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam) ” Bukankah Zaid telah mengabari kita tentang larangan gambar sejak dahulu?” Lalu Ubaidillah berkata: ” Apakah kamu tidak mendengar saat beliau (Rosullullah maksudnya, penulis Abu Hada__) berkata” ‘kecuali gambar ini?” (Muttafaq ‘Alaihi)

Maksud dari “kecuali gambar ini” adalah saat Rosullullah  melihat gambar mahluk bernyawa di kelambu rumahnya, lalu dijadikan bantal untuk bersandar oleh Rosullullah tidaklah haram akan tetapi makruh.

Yang Rojih  (Kuat)

Hadits tentang gambar mahluk bernyawa yang dijadikan bantal tadi tidaklah jelas menjadi dalil bolehnya memanfaatkan  gambar mahluk bernyawa yang tidak dihinakan. Perkataan “Illaa roqmaan fii tsawbin” maknanya mengandung kemungkinan gambar bernyawa atau yang lain ( seperti pohon atau lainnya).

Imam Ibnu Hajar -rahimahullah-  ( pengarang kitab Fathul Baari, syarah shahih Bukhori) berkata: “pengecualian gambar di kain tersebut mengandung kemungkinan dibolehkannya (gambar bernyawa) itu sebelum adanya larangan gambar yang bernyawa.”

Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- berkata:  “Maksud perkataan Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- kecuali gambar yang di kain termasuk hadits yang mutasyabihat/kurang jelas, sedangkan kaidah yang benar adalah, “sesuatu yang kurang jelas, maka  harus dikembalikan kepada yang sudah jelas”, yakni hukumnya tetap haram.”

Komentar Sukpandiar (penulis artikel ini, admin_)

Yang tetap berpegang pada pendapat  makruhnya memanfaatkan dengan maksud untuk menghinakannya gambar yang bernyawa secara pragmatis saja rugi. Karena makruh itu sesuatu yang dibenci, walau mengerjakannya tidak berdosa. Sebaliknya tidak mengerjakannya mendapat pahala.

Abu Hada pilih yang jelas saja yakni tetap haram, jika benar makruh, toh meninggalkannya dapat pahala, dan tidak repot! Ayo pilih mana, mengerjakannya tidak dapat apa-apa. Meninggalkannya tapi dapat pahala!! MCT dan Nana , Yamin pilih mana?

:: Hukum Gambar Kepala

Ulama berbeda pendapat tentang hukum menggambar kepala mahluk bernyawa ( Hewan dan atau Manusia) yang dipotong kepalanya. Pendapat pertama haram menggambar mahluk bernyawa walaupun dipotong kepalanya. Ini pendapatnya Imam Qurtubi dan  al-Mutawalli -rahimahumallahu-. Dalilnya keumuman hadits larangan menggambar seperti disebutkan dalam muqoddimah note Hukum Gambar Mahluk bernyawa.

Pendapat Kedua,

Dibolehkan menggambar mahluk bernyawa yang dipotong kepalanya. Ini pendapat jumhur ( Mayoritas Ulama) semua madhzab  .

Dalil/ dasar hukum:

Perintahkan supaya timtsal (bisa bermakna patung dan atau gambar, penulis_ Abu Hada) yang ada di rumah-rumah itu untuk di potong kepalanya supaya menjadi seperti bentuk pohon..” (HR.Abu Dawud 3504, dishahihkan oleh al-Albany)

Gambar itu intinya adalah adanya kepalanya, jika dipotong kepalanya maka bukan gambar.” (HR. al-Baihaqi, dan dishahihkan al-Albany)

Dari Kedua pendapat di atas yang rojih (kuat) adalah pendapat kedua , karena ada dalil yang mengkhususkannya.

Kepala Saja

Hukum gambar kepala saja, Ibnu Muhammad Idris mengambil contoh gambar FB seperti gambar Masih Cari Tahu (MCT) kepala saja tanpa mata. Gambar kedua adalah gambar sahabat Nur Alifah dengan mata.

Bagaimanakah hukum gambar kepala saja tanpa  mata?Hukumnya boleh saja, karena gambar kepala yang tidak utuh. Bagaimanakah tentang gambar kepala yang utuh? (lengkap dengan mata  yang bernyawa/bergerak), maka ini tidak diperbolehkan. Demikian  para ulama.

:: Hukum Karikatur / Kartun

Menggambar mahluk bernyawa adalah menandingi ciptaan Allah. Inilah kaidah umum dan sangat jelas kenapa jumhur ulama mengharamkan gambar makhluk bernyawa (manusia dan hewan), tak terkecuali dari hasil jepretan manusia alias kamera.

Manusia yang paling keras adhzabnya pada hari kiamat adalah orang-orang yang menandingi ciptaan Allah ” (HR.Bukhori: 5954)

Kecuali kondisi darurat seperti KTP,SIM dan lain-lain. Demikian Syakih al-Albany dan lainnya.

Karikatur ( tanda smile dan lainnya) dan Kartun

Maksud dari karikatur atau tanda smile dan atau sejenisnya yang dilakukan tukang gambar untuk mengungkapkan sifat/karakter yang ada pada objek yang digambar, seperti menggambarkan bahwa si fulan sedang senyum, si fulan sedang menangis atau si fulan sedang marah. Menggambar semacam ini adalah haram.

Alasannya:

1. Terkesan mahluk hidup walau hanya tanda,

2. Biasanya memperolok-olok ciptaan Allah seperti mulut dibikin sangat lebar, atau hidung lebih besar dari mulut dan seterusnya. Demikian (perkataan, afmin__) Pof. Dr. Abdulloh bin Muhammad bin Ahmad ath-Thoyyar, 1427 H.

Pendapat senada juga telah di utarakan oleh ulama ahlussunnah dari Indonesia alumni Universitas Madinah, Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, sebagaimana yang telah di sampaikan ikhwan kita Ruuni Ahnaf pada statusnya beberapa bulan yang lalu.

Bagaimana dengan Kartun?Prinsipnya sama, yaitu jika yang digambar  (Asal kartun adalah gambar statis, dengan teknologi jadi bisa bergerak) adalah mahluk hidup tetap haram, kecuali yang tidak mencitrakan mahluk hidup. Demikian Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (?!?, admin_) dalam kitabnya al-Syakh Shiyyar al-Islamiah juz 2.

Ada ulama yang membolehkan gambar mahluk bernyawa untuk pendidikan anak. Pertanyaan penulis Abu Hada, “apakah tidak ada cara lain jika hal ini dengan mengatasnamakan darurat, padahal Allah telah memerintahkan kita adalah dengan Iqro? bukan lihatlah?”

RENUNGAN

Tentang film kartun telah sangat jelas pendangkalan akidah. Coba perhatikan se-ekor anjing , misal Scoo by doo dengan enaknya mencium yang namanya manusia, padahal jelas keharamannya ciuman, ludah se-ekor anjing, atau adanya bahasa hewan sama seperti manusia sehingga bisa mengobrol. Padahalan mukjizat itu hanya ada pada Nabi dan RosulNya yang bisa bicara dengan hewan, yaitu Nabi Sulaiman ‘Alahissasalaam, ayo coba surat apa dan ayatnya?

Dialah Allah yang menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai nama-nama yang paling baik, betasbih kepadaNya apa yang ada di langit dan di bumi. dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Hasyr:24).

Coba baca lagi duhai Sahabat tentang CiptaanNya: Faathir:3, Shaad:71, AL_Hijr:28,  az-Zumar:62, dan seterusnya.

Tholibul Ilm,

Abu hada Sukpandiar Ibnu Muhammad Idris

http://www.facebook.com/notes/sukpandiar-idris/

  1. noura
    2 Desember 2010 pukul 17:58

    sy stuju dg pendapat yg pertama dr syaikh al fauzan, syaikh al albani dan syaikh bin baaz bhw gambar mahluk hidup yg bernyawa adalah haram.
    tp yg sy bingung dbolehkanny menggambar pohon sdngkn dlm IPA/biologi bhw tumbuh2-an/pohon termsk mahluk hidup, jd bgmn ???
    dlm ilmu kdoktern/biologi byk skli gambar2 anatomi tubuh manusia/binatang, bgmn hukum ny dg hal tsb???
    jazakumullahu khoer..

    • 4 Desember 2010 pukul 00:00

      1. dalam IPA/biologi bhw tumbuh2-an/pohon termsk mahluk hidup,

      Perlu diketahui, bahwa yang dimaksud gambar bernyawa/ mempunyai ruh di sini adalah gambar manusia dan hewan. Adapun gambar pohon dan benda-benda mati lainnya tidaklah terlarang dan tidak masuk dalam ancaman yang disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
      Hal ini bisa dilihat dari penjelasan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berikut.

      Seseorang pernah datang menemui Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma. Orang itu berkata: “Aku bekerja membuat gambar-gambar ini, aku mencari penghasilan dengannya.” Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: “Mendekatlah denganku.” Orang itupun mendekati Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma. Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: “Mendekat lagi.” Orang itu lebih mendekat hingga Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dapat meletakkan tangannya di atas kepala orang tersebut, lalu berkata: “Aku akan beritakan kepadamu dengan hadits yang pernah aku dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mendengar beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

      كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ، يَجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُوْرَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ

      “Semua tukang gambar itu di neraka. Allah memberi jiwa/ ruh kepada setiap gambar (makhluk hidup) yang pernah ia gambar (ketika di dunia). Maka gambar-gambar tersebut akan menyiksanya di neraka Jahannam.”

      Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata kepada orang tersebut: “Jika kamu memang terpaksa melakukan hal itu (bekerja sebagai tukang gambar) maka buatlah gambar pohon dan benda-benda yang tidak memiliki jiwa/ ruh.”

      2. dlm ilmu kdoktern/biologi byk skli gambar2 anatomi tubuh manusia/binatang,
      Ulama berbeda pendapat tentang hukum menggambar kepala mahluk bernyawa ( Hewan dan atau Manusia) yang dipotong kepalanya. Pendapat pertama haram menggambar mahluk bernyawa walaupun dipotong kepalanya. Ini pendapatnya Imam Qurtubi dan al-Mutawalli -rahimahumallahu-. Dalilnya keumuman hadits larangan menggambar seperti disebutkan dalam muqoddimah note Hukum Gambar Mahluk bernyawa.

      Pendapat Kedua,

      Dibolehkan menggambar mahluk bernyawa yang dipotong kepalanya. Ini pendapat jumhur ( Mayoritas Ulama) semua madhzab .

      Dalil/ dasar hukum:

      “ Perintahkan supaya timtsal (bisa bermakna patung dan atau gambar, penulis_ Abu Hada) yang ada di rumah-rumah itu untuk di potong kepalanya supaya menjadi seperti bentuk pohon..” (HR.Abu Dawud 3504, dishahihkan oleh al-Albany)

      Gambar itu intinya adalah adanya kepalanya, jika dipotong kepalanya maka bukan gambar.” (HR. al-Baihaqi, dan dishahihkan al-Albany)

      Dari Kedua pendapat di atas yang rojih (kuat) adalah pendapat kedua, karena ada dalil yang mengkhususkannya. [silakan lihat pada artikel di atas ]

      Maka, jika gambar yang dipakai adalah anatomi tangan, kaki, jantung, dan lain-lain tentu lebih dibolehkan.
      Wallaahu a’lam.

  2. 1 Maret 2011 pukul 06:44

    Dalam hal ini , sejak sebelum saya lahir sampai sekarang (udah mau ko’it) masih membingungkan , jadi saya tidak berani mengomentarinya , tapi nanti…kalo udah ketemu aturan mainnya (hadits) …saya pasti kembali lagi… wassalam.

    Wa ‘alaikumus salaam wa rohmatullaah. Haditsnya sangat jelas, tinggal bagaimana kita mau menyikapinya, taslim atau mengingkarinya. Hadaniyallaahu wa iyyakum.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: