Beranda > NASEHAT DAN AKHLAK, Nasehat Tuk Penuntut Ilmu > Akhlaq dan Sifat-sifat yang Harus Dimiliki oleh Para Da’i

Akhlaq dan Sifat-sifat yang Harus Dimiliki oleh Para Da’i

Adapun akhlaq dan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh para da’i maka telah dijelaskan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala  dalam banyak ayat di tempat yang berbeda-beda dalam kitab-Nya yang mulia, di antaranya :

Pertama : Ikhlâsh. Wajib atas setiap da’i untuk menjadi orang yang mukhlish (mengikhlaskan amal ibadahnya hanya) kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Tidak karena riya`, tidak karena sum’ah, tidak pula menghendaki pujian manusia tidak pula sanjungan mereka. Hanyalah ia berdakwah ke jalan Allah karena mengharap wajah-Nya Subhânahu wa Ta’âlâ. Sebagaimana firman Allah : “Inilah jalanku, (yaitu) berdakwah kepada Allah” [Yûsuf : 108]. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ juga berfirman : “Siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang berdakwah ke jalan Allah” [Fush-shilat : 33].

Maka wajib atas engkau untuk mengikhlashkan amalan hanya karena Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Ini merupakan akhlaq terpenting. Ini merupakan sifat yang terbesar, yaitu engkau dalam dakwahmu hanya mengharap hanya Allah dan negeri akhirat semata.

Kedua : Engkau harus di atas bayyinah dalam dakwahmu, yaitu di atas ilmu. Jangan engkau menjadi orang yang jahil (bodoh) atas apa yang engkau dakwahkan : “Inilah jalanku, (yaitu) berdakwah kepada Allah di atas bashîrah“ [Yûsuf : 108].

Maka tidak bisa tidak harus ada ilmu. Maka ilmu merupakan kewajiban. Hati-hati engkau dari sikap berdakwah di atas kebodohan. Hati-hati engkau dari berbicara tentang sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmu tentangnya. Sungguh orang yang jahil itu menghancurkan tidak bisa membangaun, merusak tidak bisa memperbaiki. Maka bertaqwalah wahai hamba Allah! Hati-hati engkau dari sikap berkata atas nama Allah tanpa ilmu. Jangan engkau berdakwah kepda sesuatu kecuali setelah engkau berilmu tentangnya, dan di atas bashîrah terhadap firman-firman Allah dan sabda-sabda Rasul-Nya. Tidak bisa tidak harus di atas bashîrah yaitu ilmu. Maka wajib atas setiap thâlibul ‘ilmi dan para da’i untuk memiliki bashîrah/ilmu tentang apa yang ia dakwahkah, wajib untuk memperhatikan apa yang ia dakwahkan dan dalil-dalilnya. Apabila telah terlihat padanya al-haq dan ia mengetahui/berilmu tentangnya, maka berdakwahlah kepadanya, baik itu berupa ajakan untuk berbuat (kebaikan) maupun ajakan untuk meninggalkan (kejelekan). Maka dia berdakwah untuk mengerjakannya, bila itu merupakan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan berdakwah untuk meninggalkan apa yang oleh Allah dan Rasul-Nya (semuanya ia lakukan) di atas bayyinah dan bashîrah.

Ketiga : Engkau harus bijak dalam dakwahmu, lemah lembut, dan sabar di dalamnya sebagaimana telah dilakukan oleh para rasul ‘alaihimush shalâtu was salâm. Hati-hati engkau dari sikap terburu-buru/tergesa-gesa. Hati-hati engkau dari sikap kaku dan keras. Wajib atasmu untuk bersabar, wajib atasmu untuk bijak, dan wajib atasmu untuk bersikap lemah lembut dalam dakwahmu. Telah lewat beberapa beberapa dalil tentang hal ini, seperti firman Allah : “Berdakwahlah ke jalan Rabb-mu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” [An-Nahl : 125], dan firman Allah Subhânahu wa Ta’âlâ : “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.” [âli ‘Imrân : 159], dan firman Allah Subhânahu wa Ta’âlâ dalam kisah Mûsâ dan Hârûn : “Maka berbicaralah kalian berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, agar ia mau ingat atau takut”. [Thâhâ : 44]

Dalam hadits shahih, Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallâm bersabda : “Ya Allah, barangsiapa yang memegang urusan umatku kemudian dia bersikap lembut terhadap mereka, maka bersikaplah lembut terhadapnya. Dan barangsiapa yang memegang urusan umatku kemudian dia mempersulit mereka, maka berilah kepadanya kesulitan.” Diriwayatkan oleh Muslim di dalam Shahîh-nya.

Maka wajib atasmu, wahai hamba Allah, untuk bersikap lembut dalam dakwahmu. Jangan engkau memberatkan umat manusia, dan jangan engkau menyebabkan mereka lari dari agama. Jangan engkau menyebabkan manusia lari dengan sebab sikap kerasmu dan kebodohanmu, atau karena sebab sikap kaku yang mengganggu dan merugikan. Wajib engkau memiliki sikap bijak dan sabar, ucapan yang lembut dan baik, sehingga bisa masuk ke dalam hati saudaramu, sehingga bisa masuk ke dalam hati objek dakwah. Sehingga mereka senang dan tersentuh dengan dakwahmu serta terkesan dengannya. Sehingga mereka memuji dan berterima kasih atas dakwahmu. Adapun sikap kaku, maka itu menyebabkan orang lari tidak bisa menyebabkan orang mendekat, membuat orang terpecah belah tidak bisa menyebabkan mereka bersatu.

Di antara akhlaq dan sifat yang sepantasnya –bahwa wajib- dimiliki oleh para da’i adalah : Mengamalkan apa yang ia dakwahkan, dan ia harus bisa menjadi teladan yang baik dalam apa yang ia dakwahkan. Janganlah ia termasuk orang yang mengajak kepada sesuatu namun ia tidak mengerjakannya, atau melarang dari sesuatu namun ternyata dia melanggarnya. Ini merupakan kondisi orang-orang yang merugi. Kita berlindung kepada Allah dari sifat yang demikian.

Adapun kaum mukminin yang beruntung, yaitu para da’i kepada al-haq, maka mereka mengamalkan apa yang ia dakwahkan, bersemangat di dalamnya dan bersegera melaksanakannya, serta benar-benar menjauh dari apa yang telah ia larang. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” [Ash-Shaf : 2-3]. Allah juga berfirman ketika mencela orang-orang Yahudi, karena mereka memerintahkan orang lain untuk berbuat baik namun mereka melupakan diri mereka sendiri, “Mengapa kalian menyuruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, namun kalian melupakan diri (kewajiban) kalian sendiri, padahal kalian membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berpikir? [Al-Baqarah : 44]

Telah shahih hadits, bahwa Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallâm bersabda : “Didatangkan seorang pria pada Hari Kiamat kemudian dilemparkan ke An-Nâr (neraka). Maka berhamburanlah isi perutnya. Maka dia berputar-putar di dalamnya seperti berputarnya keledai secara melingkar. Maka penduduk neraka mengerumuninya, dan bertanya kepadanya : ‘Wahai fulan, kenapa engkau? Bukankah dulu engkau melakukan amar ma’ruf nahi munkar?’ Dia menjawab : Benar. Dulu aku menyuruh kalian kepada yang ma`ruf namun aku sendiri tidak mengerjakannya,dan aku melarang kalian dari kemunkaran namun justru aku sendiri melanggarnya.”

Inilah kondisi orang yang berdakwah ke jalan Allah, memerintahkan kepada yang ma’ruf, dan melarang dari yang munkar, namun dia sendiri justru ucapannya berbeda dengan perbuatannya, dan perbuatannya tidak sama dengan yang ia katakan. Kita berlindung kepada dari sifat yang demikian.

Maka di antara akhlaq terpenting dan terbesar yang harus dimiliki oleh seorang da’i adalah : mengamalkan apa yang ia dakwahkan, meninggalkan apa yang ia larang, dan hendaknya dia memiliki akhlaq yang utama, prilaku yang baik, sabar dan senantiasa sabar, ikhlash dalam dakwahnya, dan serius dalam menyampaikan kepada kepada manusia dan menjauhkan mereka dari kebatilan. Bersama dengan itu, tidak lupa ia mendo’akan umat agar mendapat hidayah. Ini termasuk akhlaq yang mulia, mendo’akan dengan hidayah, mengatakan kepada mad’u (objek dakwah) : ’semoga Allah memberimu hidayah, semoga Allah memberi taufiq untuk menerima al-haq, semoga Allah membantumu untuk menerima al-haq.

Demikianlah, engkau mendakwahinya, membimbingnya, dan sabar atas gangguannya, bersama dengan itu engkau mendo’akan untuknya hidayah. Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallâm bersabda tatkala disampaikan kepada beliau tentang kondisi kabilah Daus, bahwa mereka telah menentang, maka Nabi berdo’a : “Ya Allah beri hidayah kepada kabilah Daus, dan datangkan mereka.” Demikianlah (yang semestinya, yaitu) engkau mendo’akan untuknya agar mendapat hidayah dan taufiq agar mau menerima al-haq, engkau bersabar dan senantiasa bersabar dalam (amal dakwah) tersebut, jangan kecil hati dan putus asa. Jangan berucap kecuali yang baik. Jangan kaku, jangan mengatakan ucapan yang jelek yang menyebabkan orang lari dari al-haq.

Namun orang yang zhalim dan menentang, maka mereka kondisinya lain. Sebagaimana firman Allah : “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik. Kecuali orang-orang zhalim di antara mereka.” [Al-‘Ankabût : 46]

Orang yang zhâlim adalah orang yang menyikapi dakwah ini dengan kejelekan dan penentangan serta gangguan. Maka dia memiliki hukum lain. Apabila memungkinkan diberi pelajaran kepadanya dengan cara dipenjara atau yang lain. Memberi pelajaran untuknya dengan cara tersebut dilakukan sesuai dengan tingkat kezhalimannya. Namun selama ia masih tidak mengganggu, maka wajib atasmu untuk bersabar terhadapnya, dan engkau senantiasa optimis, dan berdebatlah dengan dia dengan cara yang lebih baik. Ma’afkan ganguan-gangguannya yang terkait dengan kepribadianmu, sebagaimana para rasul dan para pengikutnya yang baik telah bersabar.

Saya meminta kepada Allah memberi taufiq kepada kita agar kita bisa berdakwah kepada-Nya dengan baik, dan saya meminta kepada-Nya agar memperbaiki hati-hati kita dan amal-amal kita. Memberikan kepada kita pemahaman agama, dan teguh di atasnya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk para pembimbing yang mendapat petunjuk, termasuk orang-orang shalih yang senantiasa melakukan perbaikan. Sesungguhnya Allah itu Maha Pengasih dan Pemurah.

Allah senantiasa memberi shalawat dan salam serta barakah kepada hamba dan rasul-Nya Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarga dan para shahabatnya, serta para pengikutnya yang baik hingga Hari Pembalasan.

[dari kitab Ad-Da’watu ilallâh wa Akhlâqud Du’ât (Dakwah ke Jalan Allah dan Akhlaq Para Da’i) oleh : Samâhatusy Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin ‘Abdillâh bin Bâz rahimahullâh. Diterbitkan oleh Pimpinan Umum Lembaga Riset Ilmiah dan Fatwa, Urusan Umum Pengawasan Percetakan Diniyyah, Riyâdh – Kerajaan Saudi Arabia. Cetakan ke-5 : 1426 H – 2005 M. halaman 43-48 melalui http://abqowi.blogspot.com/ ]

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: