Beranda > MANHAJ, NASEHAT DAN AKHLAK > Bahtera Dakwah Salaf Di Indonesia

Bahtera Dakwah Salaf Di Indonesia

الحمد لله، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن سار على نهجه إلى يوم الدين.

أما بعد:

Adalah sikap yang bijak dalam segala urusan, bila kita selalu mengevaluasi setiap perbuatan dan sikap yang pernah kita lakukan, guna mengembangkan keberhasilan dan meluruskan kesalahan, sehingga hari-hari kita selalu bertambah baik, bila dibanding hari-hari sebelumnya. Dan pada kesempatan ini, saya mengajak semua orang yang berkepentingan dengan dakwah salafiyyah di Indonesia untuk sedikit menoleh ke belakang, guna menilik kembali, lalu mengevaluasi perjalanan dakwah Islamiyyah ini.

Umar bin Khatthab -rahimahullah-  pernah berkata :

حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا. رواه الترمذي وابن أبي شيبة

Artinya: “Bermuhasabahlah (introspeksi dirilah) sebelum kalian dihisab.” (Riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Abi Syaibah).

Hal ini saya anggap penting dan sangat mendesak untuk bersama-sama kita lakukan, karena saya merasa, dan setiap orang telah merasakan adanya berbagai aral dan berbagai badai yang sedang menerpa bahtera dakwah ini. Bahkan pada akhir-akhir ini semakin banyak badai dan ombak yang menerpa, bila tidak segera diluruskan laju bahtera ini, saya takut akan oleng dan tenggelam.

Sungguh indah dan tepat sekali permisalan yang telah diberikan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tatkala beliau bersabda :

مثل القائم على حدود الله والواقع فيها كمثل قوم استهموا على سفينة فأصاب بعضهم أعلاها وبعضهم أسفلها فكان الذين في أسفلها إذا استقوا من الماء مروا على من فوقهم فقالوا لو أنا خرقنا في نصيبنا خرقا ولم نؤذ من فوقنا فإن يتركوهم وما أرادوا هلكوا جميعا وإن أخذوا على أيديهم نجوا ونجوا جميعا (رواه البخاري)

Artinya : “Permisalan orang-orang yang menegakkan batasan-batasan (syariat) Allah dan orang-orang yang melanggarnya, bagaikan suatu kaum yang berbagi-bagi tempat di sebuah kapal / bahtera, sehingga sebagian dari mereka ada yang mendapatkan bagian atas kapal tersebut, dan sebagian lainnya mendapatkan bagian bawahnya, sehingga yang berada di bagian bawah kapal bila mengambil air, maka pasti melewati orang-orang yang berada diatas mereka, kemudian mereka berkata: ‘seandainya kita melubangi bagian kita dari kapal ini, niscaya kita tidak akan mengganggu orang-orang yang berada diatas kita.’

Nah, apabila mereka semua membiarkan orang-orang tersebut melaksanakan keinginannya, niscaya mereka semua akan binasa, dan bila mereka mencegah orang-orang tersebut, niscaya mereka telah menyelamatkan orang-orang tersebut, dan mereka semuapun akan selamat. “(HR Bukhori)

Bila kita amati dan renungkan realita dakwah salaf di negeri kita, kita akan melihat adanya berbagai kekurangan yang mesti dibenahi, dan menurut hemat saya, ada enam permasahan yang sepututnya kita pikirkan bersama, kemudian kita bersama-sama mencarikan solusi baginya, keenam permasalahan tersebut adalah :

1. Tidak sistimatis dalam belajar dan mengajar.

2. Sikap tidak jujur terhadap diri sendiri.

3. Kedudukan uang transportasi bagi seorang da’i.

4. Pemahaman dan sikap warisan dari berbagai firqoh-firqoh (aliran-aliran) yang berseberangan dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

5. Ketidakmampuan kita untuk menjelaskan kebenaran dan mematahkan argumentasi lawan.

6. Sikap kaku dan beku dalam menerapkan fatwa dan penjelasan para ulama’,

Untuk lebih jelasnya, akan saya jabarkan keenam permasalahan tersebut satu demi satu :

(1) Tidak Sistimatis Dalam Belajar dan Mengajar

Bila kita membaca nasehat-nasehat para ulama’ -baik ulama’ terdahulu maupun ulama’ zaman sekarang-  dalam perihal menuntut ilmu, maka kita akan dapatkan mereka menganjurkan kita untuk memulai mempelajari ilmu-ilmu yang paling, kemudian yang penting, dan kemudian yang kurang penting dan seterusnya, ini yang disebut dalam bahasa arab ( تقديم الأهم فالأهم ). Sehingga setiap orang yang ingin berhasil dalam menuntut ilmu, maka dia harus bisa memilah, ilmu apa yang paling penting dan paling mendesak untuk ia pelajari, maka dengan ilmu itulah ia memulai belajar.

Dan setelah ia mengetahui ilmu yang paling penting, lalu iapun harus bisa memilah-milah pembahasan-pembahasan ilmu tersebut, sehingga ia harus mendahulukan hal-hal prinsip dalam ilmu tersebut, sebelum ia mempelajari hal-hal lainnya.

Sebagai contoh:

Ilmu yang paling penting dalam kehidupan seorang muslim, adalah ilmu tauhid, maka ilmu inilah yang pertama kita pelajari. Dan ketika kita hendak memulai belajar ilmu tauhid, maka kita harus tahu, dari bagian ilmu tauhid yang mana kita harus memulai? Apakah kita mulai dari mempelajari permasalahan tauhid uluhiyyah, ataukah tauhid rububiyyah, ataukah tauhid asma’ was shifat?

Mungkin ada yang berkata : Bagaimana, saya bisa melakukan hal ini, sedangkan saya adalah pemula atau orang awam, yang belum tahu apa-apa?

Nah inilah sumber permasalahan yang ingin saya tekankan. Sebagai tholibul ilmi pemula, terlebih-lebih masyarakat awam, tentunya ia tidak akan mampu melakukan hal ini dengan sendiri, oleh karena itu, disini datanglah peran para asatidzah dan du’at, mereka dituntut untuk mengarahkan dan membimbing murid-murid mereka, masing-masing disesuaikan dengan kemampuannya. Nah kewajiban inilah yang saya rasa telah banyak dilalaikan oleh para asatidzah dan dua’at-dua’at kita, sehingga terjadilah kekacauan, dan berbagai fitnah dimasyarakat.

قال علي بن أبي طالب ?: حدثوا الناس بما يعرفون أتريدون أن يكذب الله ورسوله.رواه البخاري معلقا والبيهقي في المدخل والخطيب البغدادي في الجامع

Artinya :” Berbicaralah kepada setiap manusia dengan masalah-masalah yang mampu mereka pahami, apakah kalian suka bila Allah dan Rasul-Nya didustakan.”

(Diriwaatkan oleh Imam Bukhori tanpa menyebutkan sanad, dan Imam Al Baihaqi dalam kitab Al Madkhal, dan AL Khathib Al Baghdady dalam kitab Al Jami’, keduanya dengan menyebutkan sanadnya).

Sebagai contoh nyata:

Pada -/+ 4 tahun silam, pada saat terjadi muqabalah (test seleksi mahasiswa untuk belajar di Al Jami’ah Al Islamiyyah ), berkumpullah sekitar 50 orang thullabul ilmi di sebuah pesantren, lalu beberapa asatidzah –termasuk saya sendiri- menghubungi beberapa syekh yang sedang menjalankan test muqabalah tersebut, guna memohon agar sebagian mereka sudi mengunjungi pesantren tersebut diatas dan kemudian menguji ke 50 thullab tersebut. Alhamdulillah, salah seorang syekh yang ada kala itu bersedia memenuhi undangan kita, syekh tersebut bernama :”Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqiil”, dan ketika beliau sudah tiba di pesantren yang dimaksud, maka beliau langsung mengetest /menguji ke 50 thullab, satu demi satu. Dan diantara pertanyaan yang beliau lontarkan kepada mereka : Sebutkan rukun-rukun sholat!.

Sangat memalukan, dari ke 50 orang tersebut, tidak satupun yang berhasil memberikan jawaban, walau hanya menyebutkan satu rukun saja. Bahkan ada salah satu dari mereka yang memberanikan diri untuk menjawab, dan berkata: ”Di antara rukun sholat adalah berwudlu sebelumnya”.

Lalu syekh tersebut bertanya kepada salah seorang mereka :”Siapakah yang lebih kafir, ahlul bid’ah ataukah yahudi?”, maka dengan sekonyong-konyong orang tersebut berkata :“Ahlul bid’ah lebih kafir dibanding yahudi“. Tatkala syekh Muhammad bin Abdul Wahhab mendengar jawaban tersebut, beliau terbelalak, seakan tidak percaya melihat kenyataan yang sangat memalukan ini, dan berkata : ”Apakah ini yang kalian pahami tentang manhaj salaf?!, siapakah yang mengajari kalian demikian?!”.

Yang lebih parah dari itu semua, pada keesokan harinya, ada salah seorang ustadz yang berceramah dan berkata : “Sesungguhnya syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqiil telah dipengaruhi oleh orang-orang sururiyyin, sehingga bertanya kepada murid-murid kita dengan pertanyaan yang rumit”.

Apakah para pembaca percaya dengan komentar ustadz tersebut, apakah pertanyaan tentang rukun sholat rumit? Apakah tidak ada yang tahu bahwa yahudi jelas-jelas kafir, sedangkan ahlul bid’ah banyak dari mereka tidak sampai kepada kekufuran?

Contoh lain:

Beberapa saat lalu, ramai terjadi fitnah antara masyarakat dengan syabab yang telah kenal pengajian salaf, dalam masalah beradzan di luar masjid, iqomah tanpa menggunakan pengeras suara, menentukan waktu-waktu shalat dengan menggunakan matahari, mengenakan pakaian gamis dilingkungan yang tidak kenal gamis, seperti di kampus, dll.

Contoh lain:

Setiap kali sampai ke Indonesia sebuah kitab baru, terutama yang ditulis oleh ulama’-ulama’ zaman sekarang, seperti Syekh Rabi’ bin Hadi Al Madkholi, Ali Hasan, Masyhur Hasan Salman, atau yang lainnya, kita langsung ramai-ramai membacakan kitab tersebut, dan marak diadakan daurah-daurah membahas kitab tersebut, dan tatkala ada kitab baru lagi, maka kitapun ramai-ramai pindah ke kitab tersebut, dan begitulah seterusnya. Bukan berarti tidak dibenarkan untuk membaca kitab tersebut, akan tetapi, sistismatis dalam belajar dan mengajar harus tetap dijaga.

Contoh lain:

Tatkala ada salah seorang dari ustadz, atau da’i yang sedang ditahzir, maka di setiap kota, dan setiap majelis, pembicaraan dan materi kajiannya pun berhubungan dengan ustadz tersebut, baik yang pro ataupun kontra, sibuk dengan isu seputar permasalahan tersebut, dan melalaikan ilmu.

Sikap yang tidak punya pendirian ini, bagaikan buih lautan yang diombang-ambingkan oleh angin, kemana angin berhembus, maka kesanalah buih menuju. Oleh karena itu tidak heran kalau keilmuan yang terbentuk dari cara pendidikan dan dakwah seperti ini, tidak kokoh, sebagaimana lemahnya buih lautan yang tidak pernah tetap pada sebuah pendirian.

Sebagai wujud lain dari permasalahan ini adalah: (a) sering kali kita merasa cukup dengan hanya mengenal nama sebuah istilah, walaupun tidak mengenal hakikat.

Para ulama’ telah banyak menjelaskan, bahwa setiap nama dalam syariat Islam ini, adalah merupakan istilah syar’i, sehingga definisi dan maknanya pun harus dipahami sesuai dengan yang dikehendaki dalam syariat islam, tidak cukup untuk difahami secara bahasa.( )

Sebagai contoh: kata ( الصلاة ) secara bahasa kata ini bermakna (doa), akan tetapi dalam syariat kata tersebut memiliki definisi lain, sehingga kalau kita membaca ayat atau hadits yang menyebutkan kata “sholat”, maka harus kita fahami secara istilah syariat, bukan secara bahasa, begitu juga halnya dengan istilah-istilah syariat lainnya, kecuali kalau ada dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dari kata ( الصلاة ) disitu adalah makna secara bahasa, bukan secara syariat.

Nah sampai pada saat ini, kita telah banyak mengenal dan tahu berbagai istilah dalam syariat, akan tetapi yang menjadi permasalahan, apakah kita sudah mengenal makna istilah tersebut secara syariat, sebagaimana kita mengenal definisi kata “shalat”, lengkap dengan mengenal syarat, rukun, wajibat, dan sunnah-sunnahnya?.

Untuk lebih jelasnya, kita telah kenal kata ( التشبه / tasyabbuh ), apakah kita sudah mengetahui tentang makna kata ini dengan benar, syarat-syarat, rukun-rukun, dan hukumnya? atau kita baru tahu namanya saja? Sebagai bukti, mari kita renungkan bersama hadits berikut ini :

عن أنس بن مالك قال لما أراد رسول الله? أن يكتب إلى الروم قال قالوا: إنهم لا يقرؤون كتابا إلا مختوما قال فاتخذ رسول الله ? خاتما من فضة رواه البخاري ومسلم

Artinya : Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik, ia berkata : “Tatkala Rasulullah ? hendak menuliskan surat ke Romawi, (para sahabat berkata kepada beliau): ‘Sesungguhnya orang-orang Romawi tidak mau membaca surat, kecuali bila bersetempel. Maka Rasulullah membuat setempel dari perak”. (HR Bukhori dan Muslim).

Bukankah Rasululah dalam kisah ini meniru kebiasaan orang-orang kafir? Bukankah ini tasyabuh? Ini menunjukkan bahwa tidak semua perbuatan yang menyerupai orang kafir, atau ahlil bid’ah diharamkan, akan tetapi ada beberapa kriteria / syarat yang harus diperhatikan, diantaranya :

1. Perbuatan tersebut merupakan ciri khas mereka.

2. Perbuatan tersebut tidak mendatangkan manfaat.

3. Adanya niat untuk meniru, berdasarkan hadits (إنما الأعمال بالنيات / sesungguhnya setiap amalan disertai dengan niat…) [Untuk lebih jelasnya, silahkan baca kitab : At Tasyabbuh Al Manhiy ‘Anhu Fil Fiqh Al Islamy, karya Jamil bin Habib Al Luwauhiq]

Sebagai contoh lain:

Kita semua tahu, bahwa mobil, pesawat terbang, berbagai peralatan telekomunikasi yang ada pada zaman kita ini, adalah dibuat oleh orang-orang kafir, tapi kenapa tidak satu orangpun yang mengharamkan hal-hal tersebut dengan alasan tasyabbuh?

Kalau demikian, tasyabuh yang bagaimanakah yang diharamkan???

Begitu juga halnya dengan istilah : “Taqlid, Ijtihad, Mudhorobah, mubtadi’, tahzir, hajr, riba, dharurat, dll.

Yang lebih memilukan adalah nasib istilah “Manhaj Salaf”, betapa sering kita mengaku, bahwa kita bermanhaj salaf, mengikuti manhaj salaf, dan berdakwah sesuai dengan manhaj salaf, tapi mari kita jujur, dan balik bertanya kepada diri sendiri, apa sebenarnya yang dimaksud dengan manhaj salaf, bagaimana rumusannya, permasalahan apa saja yang tergolong dalam manhaj salaf, sejauh mana kita telah kenal atau menguasai atau memahami manhaj salaf ….dst?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang –menurut hemat saya- sampai saat ini di negeri kita indonesia, belum mendapatkan jawaban dan penjelasan yang semestinya. Oleh karena itu, setiap kali kita mengenal atau mendengar sebuah nama atau istilah dalam syariat ini, hendaknya kita jangan merasa puas, sebelum mengenal dan memahami segala permasalahan yang berhubungan dengan istilah tersebut. Dengan cara kita tanyakan kepada para ulama’ atau kita baca kitab-kitab yang menjelaskan istilah tersebut hingga tuntas.

Sebagai wujud lain dari permasalahan pertama ini –tidak sistimatis dalam belajar dan mengajar- : (b) sikap meremehkan peranan qaidah-qaidah dan ketentuan-ketentuan yang ada dalam berbagai ilmu syariat.

Pada akhir-akhir ini, saya mulai mendengar ungkapan-ungkapan yang menyeru agar kita tidak menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu ushul fiqih, qowaid fiqhiyyah, dan tidak perlu mempermasalahkan pembagian suatu ibadah menjadi: rukun, syarat, wajib, dan sunnah. Mereka berkata: ”Yang penting bagi kita adalah mengetahui, bahwa amalan tersebut diamalkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam maka kita amalkan, tidak perlu tahu, apakah hal tersebut merupakan syarat, atau rukun, atau wajib, atau sunnah dalam sebuah ibadah”. Yang lebih menyedihkan lagi, bila hal ini diucapkan oleh orang yang mengaku dirinya bermanhaj salafi, lebih menyedihkan lagi kalau orang tersebut adalah seorang yang dipanggil ustadz, dan sangat lebih memilukan lagi bila ternyata yang mengucapkan itu adalah seorang yang menyandang gelar (Lc) yang ia peroleh dari Al Jami’ah Al Islamiyyah di Madinah Munawwarah.

Para ulama’ semenjak zaman dahulu kala mengatakan :

مَنْ حُرِم الأُصُوْلُ حُرِم الوُصُوْلُ

Artinya : “Barang siapa yang tidak memperoleh hal-hal yang prinsip, maka dia tidak akan mencapai ilmu.”

Pada kesempatan ini, saya ingin bertanya kepada orang-orang yang mengatakan ungkapan ini : “Ulama’ manakah, dan siapakah namanya, yang berhasil menjadi ulama’, tanpa mempelajari ilmu-ilmu tersebut?”

Pada mulanya, saya merasa keheranan mendengar ungkapan ini, tapi setelah saya pikirkan, kemudian saya cocokkan dengan keadaan orang-orang tersebut, rasa heran saya menjadi sirna, hal ini dikarenakan saya berkesimpulan, bahwa orang-orang tersebut hanya ingin menutupi ketidakpahamannya tentang ilmu-ilmu tersebut.

Untuk sedikit memberikan gambaran akan pentingnya mengetahui ilmu-ilmu tersebut, dan pembagian suatu ibadah menjadi syarat, rukun, wajib, dan sunnah, berikut ini akan saya jelaskan satu hal yang tidak asing bagi kita semua.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah telah sepakat dalam mendefinisikan “iman”, bahwa iman adalah keyakinan hati, ucapan lisan dan amalan dengan anggota badan.

Dan merekapun telah sepakat, bahwa barang siapa yang mengingkari sesuatu yang telah disepakati oleh kaum muslimin dari urusan agama, apabila ilmu tentang hal tersebut telah menyebar, seperti halnya wajibnya sholat lima waktu, puasa bulan ramadlan, mandi janabah, dll, maka ia dihukumi telah kafir, keluar dari agama Islam, walaupun ia masih tetap menjalankan sholat, puasa, mandi janabah dll.

Imam an-Nawawi  -rahimahullah-  berkata : “Adapun pada saat ini, sungguh agama islam telah menyebar, dan telah merata dikalangan kaum muslimin ilmu tentang kewajiban membayar zakat, sehingga diketahui oleh setiap orang khusus dan orang awam, ulama’ dan orang bodoh pun sama-sama mengetahuinya, maka tidak diberikan uzur bagi siapapun, karena sebuah alasan yang ia pegangi, untuk mengingkari kewajiban zakat. Begitu juga halnya dengan orang yang mengingkari sesuatu yang telah disepakati oleh kaum muslimin dari urusan agama, apabila ilmu tentang hal tersebut telah menyebar, seperti halnya sholat lima waktu, puasa bulan ramadlan, mandi janabah, haramnya zina, khomer, menikahi mahram, dan hukum-hukum yang serupa, kecuali orang yang baru masuk islam, dan tidak mengetahui norma-norma agama Islam, maka bila orang seperti ini mengingkari salah satu dari hal-hal tersebut, karena kebodohannya tentang hal tersebut, ia tidak kafir.” (Syarah Shohih Muslim 1/250)

Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata : ”Sesungguhnya beriman dengan wajibnya kewajiban-kewajiban yang telah jelas dan diketahui oleh setiap orang, dan diharamkannya hal-hal yang diharamkan yang telah jelas dan diketahui oleh setiap orang adalah salah satu prinsip keimanan yang paling agung dan salah satu dari kaidah-kaidah agama Islam, dan orang yang mengingkarinya telah disepakati akan kekafirannya”. (Majmu’ Fatawa 12/496).

Oleh karena itu, orang yang menjalankan sholat –misalnya-, dengan sempurna, akan tetapi ia tidak meyakini bahwa takbiratul ihram adalah rukun, maka sholatnya tidak sah, walaupun ia tetap bertakbiratul ihram. Dan barang siapa yang tidak meyakini wajibnya berwudhu sebelum sholat, maka sholatnya tidak sah, walaupun ia telah berwudlu sebelum sholat. Inilah salah satu wujud nyata dari definisi iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Untuk lebih jelas lagi, silahkan baca buku-buku fiqih yang menjelaskan syarat-syarat, rukun-rukun, dan wajib-wajib sholat.

(2) Sikap Tidak Jujur Terhadap Diri Sendiri.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه رواه البخاري ومسلم

Artinya : “Tidaklah salah seorang dari kalian dikatakan telah beriman, sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR Bukhori dan Muslim)

Hadits ini merupakan barometer keimanan setiap muslim, dan merupakan pedoman dan prinsip yang seharusnya dipegangi oleh setiap muslim dalam bergaul dan bermasyarakat, yaitu : sebelum kita mengucapkan perkataan atau bersikap kepada saudara kita, hendaknya kita selalu bertanya kepada hati nurani kita sendiri “apakah saya suka bila diperlakukan dengan perlakuan yang akan saya lakukan ini?” Bila jawabannya adalah “Ya, saya suka”, maka silahkan untuk dilakukan, dan bila ternyata jawabannya adalah “Tidak”, maka jangan lakukan hal tersebut. Betapa indahnya pedoman dan prinsip yang beliau ajarkan kepada ummatnya.

Seandainya para da’i, dan ustadz yang ada di negri kita, -terutama mereka yang mengaku bemanhaj salaf- mengamalkan prinsip ini, saya yakin, banyak permasalahan yang akan hilang dan sirna dengan sendirinya.

Akan tetapi kenyataan yang ada, sangatlah jauh dari apa yang diharapkan. Sebagai contoh:

Yayasan “AL HARAMAIN” yang ada di kota RIYADH, dalam beberpa periode memberikan sumbangan kepada setiap mahasiswa yang lulus dari Al Jami’ah Al Islamiyyah di Madinah –tanpa terkecuali-, sumbangan berupa uang. Dan hal ini berjalan beberapa tahun silam, dimulai pada kelulusan periode 1420-1421, dan beberapa periode selanjutnya. Besarnya sumbangan tersebut dari tahun ke tahun, berbeda-beda, kadang seribu reyal, dan kadang lima ratus reyal.

Nah sekarang saya yakin, para pembaca pasti langsung bertanya, dan berkata, kalo demikian alumni jami’ah yang sekarang sudah malang melintang berdakwah, menyerukan kepada manhaj salaf, dan mentahdzir setiap orang yang ada hubungan dengan Yayasan Al Haramain, juga menerima sumbangan tersebut???!!

Maka jawaban pertanyaan ini –dan saya tahu sendiri- adalah : “ .Ya, mereka menerima itu semua dengan kedua tangan terbuka, dan tanpa sedikit ada keragu-raguan

Pada beberapa tahun silam, ada dua orang alumni jami’ah –yang sekarang ini dengan lantang mentahzir setiap orang yang menerima sumbangan dari yayasan Al Haramain- setelah menerima sumbangan sebesar: 1.000,- Reyal, mereka ditanya oleh salah seorang kawan : “Kenapa kok mau menerima sumbangan tersebut, bukankah itu dari Al Haramain?”, keduanya dengan sangat lugu berkata: “Lo kami tidak tahu kalo itu dari Al Haramain”.Tentu kita tidak akan begitu mudah percaya, karena sumbangan macam ini sudah berjalan beberapa periode sebelumnya.

Dan yang mengherankan pula, setelah keduanya tahu, bahwa sumbangan itu berasal dari Al Haramain, keduanya tetap dengan erat-erat mengantongi sumbangan tersebut, dengan harapan jangan sampai ada satu reyal pun yang jatuh dari sakunya.

Contoh lain:

Pada 9 tahun silam, mahasiswa salafiyyin Indonesia di Al Jami’ah Al Islamiyyah, mengukirkan sebuah sejarah baru dalam hal pengiriman kitab ke negara mereka Indonesia, yaitu dengan dikirimkan secara kolektif dengan menggunakan kontainer (ini adalah awal pengiriman kitab dengan cara ini di Al Jami’ah Al Islamiyyah). Pengiriman tersebut didanai oleh Yayasan Ihyaut Turats yang bermarkaskan di negara Kuwait. Pada kesempatan ini, saya ingin bertanya kepada para alumni Jamiah Islamiyyah yang telah malang melintang di medan dakwah, dan mentahdzir setiap orang yang ada hubungan dengan Al Haramain & Ihya’ut Turats : “Kenapa, masing-masing antum tidak mentahdzir diri antum; karena telah menerima sumbangan dari AL Haramain & Ihya’ut Turats?? Apakah Al Haramain & Iha’ut Turats menjadi Yayasan salafi, bila yang menerima sumbangan adalah antum sendiri, dan menjadi yayasan kholafi / sururi, bila yang menerima adalah anak-anak yatim, atau orang selain antum??!, ataukah barometer salafi antum yang berwarna-warni?”

Contoh Lain:

Tatkala hangat permasalahan jihad di pulau Maluku, ada salah seorang ustadz besar yang memberanikan diri melayangkan surat untuk bertanya akan hukum hal ini kepada Syekh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah, dan tatkala jawaban beliau tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka fatwa syeikh tersebut, lenyap entah kemana. Saya tidak tahu, apakah fatwa tersebut telah ditelan bumi, atau ditelan ambisi.

Oleh karena itu -menurut hemat saya- menumbuhkan rasa malu pada diri sendiri adalah penting perannya dalam kehidupan seorang muslim.

عن النواس بن سمعان الأنصاري قال: سألت رسول الله ? عن البر والإثم، فقال: البر حسن الخلق، والإثم ما حاك في صدرك وكرهت أن يطلع عليه الناس. رواه مسلم

Diriwayatkan dari sahabat An Nawwas bin Sam’an -radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang Al Bir (perbuatan baik) dan Al Itsm (perbuatan dosa), maka beliau bersabda: “Al Birru adalah akhlaq/ budi pekerti yang baik, dan Al Itsmu adalah segala yang engkau merasakan adanya kejanggalan dan keragu-raguan dalam dadamu (hatimu), dan engkau merasa tidak suka bila diketahui oleh orang lain.” (HR Muslim)

(3) Kedudukan Uang Transportasi Bagi Seorang Da’i

Pada permasalahan ini, kita dihadapkan kepada sebuah tradisi dan budaya yang bersenggolan dengan prinsip paling besar dalam agama Islam, yaitu keikhlasan dalam setiap aktifitas kita, prinsip hanya mengharapkan balasan bagi segala amalan kita hanya dari Allah Ta’ala. Pada kesempatan ini, saya tidak ingin membahas tentang kewajiban ikhlas, karena hal itu sudah diketahui bersama. Yang ingin saya serukan dalam kesempatan ini, adalah ajakan kepada seluruh du’at dan asatidzah, agar mengkaji ulang hukum kebiasaan yang berlaku di tengah-tengah kita, yaitu kebiasaan menerima uang transportasi.

Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang hukumnya, mari kita koreksi, apakah uang transportasi yang kita terima, setelah kita memberikan pengajian/ ceramah/ daurah dll, benar-benar uang transportasi? Ataukah uang transportasi yang telah digelembungkan berlipat ganda, dan –menurut yang saya ketahui- alternatif inilah yang terjadi, transportasi pulang pergi yang seharusnya hanya –misalnya Rp 50.000,- akan tetapi amplop yang diterima berisikan –minimal Rp 100.000,-.

Hal kedua yang harus kita kaji ulang adalah hukum menerima uang tersebut, sebab para ulama’ semenjak dahulu kala sudah berbeda pendapat dalam menghukumi hal ini, ada yang menghalalkan, dan ada yang memakruhkan, dan ada yang mengharamkannya, dan pendapat ketiga inilah yang dirajihkan (dikuatkan) oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Hal ketiga, adalah dampak negatif yang ditimbulkan oleh amplop transportasi. Berbagai kisah yang saya dengar dari beberapa kawan, mengisaratkan terjadinya hal-hal yang tidak baik, gara-gara amplop tersebut.

Sebagai contoh dari kisah-kisah yang sampai kepada saya:

Ada beberapa ustadz yang –Alhamdulillah- telah berhasil mendirikan Pondok Pesantren, dan –Alhamdulillah pula- telah memiliki santri yang cukup banyak, lebih mementingkan untuk memenuhi undangan pengajian di luar pesantren –terlebih-lebih undangan dari luar kota- dibandingkan mengajar di pesantren yang telah ia dirikan, akibatnya santri pesantrennya sering tidak mendapatkan pengajaran. Bahkan seringkali, Ustadz tersebut, bila sudah keluar kota untuk berdakwah, tidaklah kembali ke Pesantrennya, kecuali sudah kecapekan, dan sudah mulai merasakan gejala akan jatuh sakit.

Apakah ustadz yang bertindak seperti ini, tidak ingat, bahwa kewajiban mengajar di pesantrennya lebih besar dibanding berdakwah di luar kota? Bukankah para santri telah –walaupun sedikit- membayar uang Spp, sehingga telah menjadi hak mereka untuk menerima pengajaran yang telah dicanangkan oleh pesantren?

Lalu, apakah yang memotivasi ustadz tersebut untuk keluar kota? Bukankan keluar kota lebih melelahkan? Membutuhkan transportasi? Bukankan kewajiban berdakwak bisa dilaksanakan tanpa itu semua? yaitu mengajar di pesantren yang telah ia dirikan, dan berdakwah di masyarakat sekitar lokasi pesantren?

Diantara kisah yang sampai kepada saya:

Bahwa daerah-daerah yang masyarakatnya (orang-orang yang telah kenal dan mengikuti kajian salaf) berperekonomian / berpenghasilan rendah / tidak memiliki donatur yang kuat, kesusahan untuk mendatangkan ustadz yang siap mengisi pengajian di tempat-tempat tersebut, terlebih-lebih pengajian rutin.

Diantara kisah yang pernah saya dengar:

Ada seorang ustadz (A) bermusuhan dengan Ustadz (B), si (A) telah mentahdzir si (B), dengan berbagai alasan. Pada suatu saat, ada salah seorang murid Ustadz (A) -dikarenakan beberapa hal- menghadiri pengajian Ustadz (B) dan enggan menghadiri pengajian Ustadz (A), maka Ustadz (A) berang seakan sedang kebakaran kumis, lalu mengatakan bahwa Ustadz (B) telah mencuri muridnya.

Usut punya usut, ternyata dahulunya anak murid tersebut biasanya selalu memberikan sumbangan kepada Ustadz (A), dan setelah menghadiri pengajian Ustadz (B), ia tidak lagi mengucurkan sumbangan tersebut.

(4) Pemahaman dan sikap warisan dari berbagai firqoh-firqoh (aliran-aliran) yang bersebrangan dengan Ahlus sunnah wal jama’ah

Tidak mungkin kita pungkiri, bahwa banyak dari kita, sebelum mengenal dakwah salaf / manhaj salaf, mengikuti berbagai firqoh-firqoh yang memiliki manhaj yang berseberangan dengan manhaj salaf. Ada dari kita yang dahulunya adalah seorang ikhwani, dan ada juga yang tablighi, dan ada pula yang sufi, dan ada pula yang takfiri (hizbut tahrir), dan ada pula yang mu’tazili dll.

Hal ini adalah kenyataan yang tidak boleh kita lupakan, sebab selain agar kita bisa selalu bersyukur kepada Allah Ta’ala, yang telah memberi hidayah kepada kita, sehingga kenal dengan manhaj salaf, juga agar kita selalu berhati-hati, dan selalu mengoreksi setiap pemahaman dan sikap kita, jangan sampai pemahaman dan sikap kita yang sekarang ini, masih terpengaruh dengan pemahaman dan kebiasaan kita semasa bergabung dengan firqoh-firqoh tersebut.

Diantara manfaat kita mengingat kenyataan ini, kita akan bisa lebih sabar dan bersikap lembut kepada orang yang memiliki kesalahan, karena kita akan selalu berkata kepada diri sendiri, bahwa dahulu –karena kebodohan- saya berbuat kesalahan seperti dia –sekarang ini- berbuat kesalahan. Sehingga kita akan merasa iba, dan kasihan terhadap orang tesebut, akibatnya, kita akan lebih gigih untuk menjalankan segala daya dan upaya agar orang tersebut bisa mendapatkan hidayah, sebagaimana kita telah mendapatkan hidayah.

Marilah kita renungkan bersama ayat berikut :

يا أيها الذين أمنوا إذا ضربتم في سبيل الله فتبينوا ولا تقولوا لمن ألقى إليكم السلام لست مؤمنا تبتغوا عرض الحياة الدنيا فعند الله مغانم كثيرة كذلك كنتم من قبل فمن الله عليكم فتبينوا إن الله كان بما تعملون خبيرا

Hai orangorang yang beriman, apabila engkau pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah, dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu :”kamu bukan seorang muslim” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugrahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. an-Nisa 94).

Pada ayat ini Allah melarang orang-orang Muhajirin –ketika dalam keadaan peperangan- dari mengatakan kepada seorang musuh yang menampakkan keislaman dengan cara mengucapkan salam kepada kaum muslimin, :”Engkau bukanlah seorang muslim, engkau mengucapkan salam hanya sekedar takut dibunuh” lalu dibunuh, karena sangat dimungkinkan bahwa orang tersebut adalah orang yang benar-benar telah masuk Islam, akan tetapi takut untuk menampakkan keislamannya. Kemudian Allah mengingatkan orang-orang Muhajirin akan keadaan mereka sebelum berhijrah, dimana didapatkan dari mereka banyak orang yang telah masuk Islam, akan tetapi takut untuk menampakkan keislamannya.

Nah pada kesempatan ini, saya mengingatkan para da’i, dan ustadz, bahwasannya dahulu kita seperti mereka, berbuat kesalahan, salah pemahaman, dan rusak aqidahnya, kenapa kita tidak bersabar dan lebih lembut mensikapi saudara kita yang memiliki kesalahan, terlebih-lebih bila terlihat darinya ketulusan dan keseriusan dalam mencari kebenaran.

(5) Ketidakmampuan kita untuk menjelaskan kebenaran dan mematahkan argumentasi lawan

Allah Ta’ala telah memberikan setiap manusia akal dan pikiran, masing-masing kita memiliki kemampuan akal dan pikiran yang berbeda-beda, ini adalah sebuah fakta yang kita rasakan bersama, dan harus selalu kita ingat, tatkala kita berbicara dengan orang lain. Ada orang yang memiliki pemahaman kuat, sehingga dengan mendengarkan sedikit penjelasan, ia langsung paham dan melaksanakan hal tersebut. Akan tetapi, ada orang yang memerlukan penjelasan dua, tiga, atau empat kali, baru akan bisa memahami apa yang kita inginkan. Bahkan ada orang yang tidak bisa memahami penjelasan kita sama sekali, walaupun sudah berpuluh-puluh kali, akan tetapi, bila ia mendengarkan penjelasan dari orang lain, dengan cara lain, ia bisa memahami, kemudian mengamalkan apa yang kita maksudkan.

Selain itu, sebagaimana kita tidak akan menerima pendapat orang lain, kecuali setelah terjawab berbagai pertanyaan yang ada di dalam akal pikiran kita, maka begitu pulalah orang lain, tidak akan menerima pendapat kita, sampai seluruh pertanyaan dan berbagai alasan yang ada di akal pikirannya terjawab dengan tuntas. Hal ini sering kali kita lalaikan, sehingga kita relatif memaksakan pendapat, tanpa memperdulikan pendapat dan alasan orang lain. Seringkali ketika kita beradu argumentasi, kita melupakan akan hal ini, sehingga tatkala orang lain tidak atau belum bisa menerima pendapat kita, maka, mulailah kumis kita terbakar sedikit demi sedikit, dan akhirnya berkobarlah api kemarahan, dan terlontarlah berbagai klaim, dimulai dari klaim :”Keras kepala, aqlani, menolak hadits, …..hingga vonis mubtadi’ ”.

Sebagai contoh:

Sering kali kita mendengar ada ustadz yang mentahdzir ustadz lain, dengan alasan, bahwa ustadz tersebut telah dinasehati, dan tatkala diusut, ternyata yang terjadi hanyalah sebuah perdebatan yang belum tuntas, kedua belah pihak tidak mampu untuk menjelaskan pendapatnya dengan gamblang, dan tidak mampu menjawab argumentasi lawan dengan gamblang pula. Atau hanya sekedar dikirimi kaset, atau buku, yang mungkin saja belum sempat didengar atau dibaca, dan kalaupun sudah didengar dan dibaca, belum tentu ustadz tersebut memahaminya dengan baik.

Oleh karena itu, saya mengajak para da’i, dan asatidzah untuk lebih banyak belajar cara-cara berkomunikasi dengan orang lain, dan cara-cara berargumentasi dan menjawab argumentasi lawan, yaitu dengan cara mempelajari ilmu ushulul fiqh, mustholah hadits, qowaid fiqhiyyah dan banyak-banyak membaca kisah perdebatan para ulama Ahlus Sunnah dengan ahlil bid’ah.

(6) Sikap kaku dan beku dalam menerapkan fatwa dan penjelasan para ulama’

Sebagaimana telah kita ketahui bersama, bahwa Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak mungkin bisa dipahami dan kemudian diamalkan, kecuali dengan perantara penjelasan dan penafsiran para ulama’. Merekalah yang mampu menghukumi setiap kejadian dan permasalahan sesuai dengan yang telah digariskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Oleh karena itu, seorang ulama’ membutuhkan kepada dua jenis pemahaman, agar fatwa dan hukum yang ia berikan benar-benar sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, yaitu :

1. Pemahaman yang benar terhadap Al Qur’an dan As Sunnah, sesuai dengan pemahaman salafus sholih.

2. Pemahaman yang benar dan sempurna terhadap kasus dan permasalahan yang hendak ia hukumi.

Bila seorang ulama’ telah memiliki kedua jenis pemahaman tersebut, maka –Insya Allah- fatwa dan hukum yang ia berikan akan benar, akan tetapi, bila salah satu dari keduanya tidak ia miliki, atau terjadi kesalahpahaman padanya, niscaya ia tidak akan bisa berfatwa dengan baik dan benar.

Ibnul Qoyyim -rahimahullah- pernah menggambarkan bahayanya seorang yang tidak memiliki pemahaman jenis kedua, sehingga ia hanya kaku dan beku dengan apa yang pernah ia dapatkan dalam kitab semata, beliau gambarkan kerusakan yang akan ditimbulkan oleh orang semacam ini, bagaikan seorang yang tidak paham ilmu kedokteran, kemudian mengaku-aku menjadi seorang dokter, sehingga jatuhlah banyak korban karenanya. Bahkan menurut beliau, bahaya seorang yang beku dan kaku dengan apa yang ia dapatkan di kitab, tanpa paham terhadap realita yang ada pada zamannya, lebih besar dibanding dokter gadungan tersebut, karena kesalahan yang ia timbulkan ada hubungannya dengan nasib manusia di akhirat.

Nah, menurut hemat saya –dan saya sendiri juga merasakannya- kita yang ada di indonesia, masih perlu untuk banyak belajar menghubungkan antara kitab /ilmu yang telah kita dapatkan dengan kenyataan masyarakat kita.

Pada kesempatan kali ini, saya juga ingin mengingatkan kepada para da’i, dan asatidzah, agar ekstra hati-hati bila hendak menerapkan sebuah fatwa atau sebuah hukum, tolong dipikirkan masak-masak, apakah keadaan masyarakat kita sesuai dan sudah sepantasnya untuk diterapkan fatwa tersebut?

Sebagai contoh nyata:

Ada dari kalangan ulama’ salaf yang menegaskan: bahwa lebih baik bertetangga dengan kera dan babi, dibanding bertetangga atau duduk dengan ahlul bid’ah. Seharusnya sebelum kita menerapkan hal ini, kita harus pikirkan, apakah masyarakat kita sama dengan masyarakat ulama’ tersebut, masyarakat yang mayoritasnya memahami manhaj salaf?

Contoh lain:

Para ulama’ telah sepakat, bahwa: barang siapa yang mengatakan Al Qur’an adalah Makhluq, maka ia kafir. Nah, apakah setiap orang yang kita temui dan ternyata mengatakan perkataan tersebut, langsung kita hukumi sebagai orang kafir??

Imam Ahmad -rahimahullah-, beliau yang langsung menghadapi fitnah tentang hal ini, tatkala mengetahui bahwa Al-Makmun (kholifah pada masa beliau) telah mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluq, bahkan sampai memaksa orang-orang yang ada pada zamannya untuk mengatakan perkataan ini, akan tetapi Imam Ahmad tidak mengkafirkannya. Yang lebih mengherankan lagi, Imam Ahmad malah berkata : “Seandainya aku mengetahui bahwa aku memiliki do’a yang mustajabah (dikabulkan), pasti akan aku gunakan untuk mendoakan pemimpin kaum muslimin (Kholifah)”.

Contoh lain:

Beberapa bulan yang lalu, Syekh Muhammad bin Hadi Al Madkholi, berkenan untuk memberikan tausiyyah (ceramah) via telpon kepada asatidzah di Indonesia. Pada hari dan waktu yang telah disepakati, beliau menyampaikan tausiyyahnya, dan setelah selesai, maka beliau memperkenankan untuk dibacakan beberapa pertanyaan yang sebelumnya telah mereka siapkan. Di antara pertanyaan yang dibacakan adakah berhubungan dengan hukum mengajar di tempat ahlil bid’ah, maka beliau berfatwa: “tidak boleh mengajar di tempat ahlil bid’ah“, tentunya dengan berbagai alasan dan dalil yang beliau utarakan.

Setelah acara tersebut selesai, fatwa tersebut langsung diterapkan oleh beberapa glintir ustadz, yaitu dengan menujukannya kepada salah seorang ustadz yang mengajar di pesantren As Salam Solo-Jateng, dan tatkala ustadz tersebut tidak menuruti apa yang mereka inginkan, mulailah mereka mengeluarkan senjata pamungkas, yaitu tahzir dan hajr, bahkan bukan hanya itu saja, ustadz tersebut juga diwajibkan untuk membubarkan TK dan SDIT yang ia bina, dengan alasan yang sangat tidak ilmiyyah.

Tatkala saya berjumpa dengan Syekh Muhammad bin Hadi Al Madkholi -hafidzahullah-, dan saya sampaikan perilaku mereka, beliau langsung murka, dan mengatakan: “Bahwa penjelasan saya tersebut, adalah hukum yang bersifat umum, tidak boleh langsung diterapkan kepada setiap orang. Karena menerapkan hukum kepada orang-orang tertentu, memiliki tahapan dan tatacara tersendiri. Terlebih dari itu semua, kita harus mempertimbangkan maslahat dan mafsadah yang akan terjadi dari sikap kita kepada ustadz tersebut.”

Apalagi, setelah beliau mendengar perpecahan antar asatidzah yang terjadi akhir-akhir ini, beliau semakin murka, dan berkata : “Semoga Allah tidak memasrahkan tugas dakwah ini kepada orang-orang semacam mereka.”

Sikap ini –sebagaimana kita ketahui bersama- telah menjadi kebiasaan, bila ada salah seorang ustadz yang tidak suka dengan ustadz lain, maka ustadz pertama tadi akan mencari dukungan untuk menghantam ustadz kedua tersebut, yaitu dengan cara menelpon salah seorang syekh, kemudian ditanyakan kepadanya hukum suatu permasalahan, sehingga syekh tersebut memberikan jawaban yang bersifat umum (muthlaq), sebagaimana terjadi pada kisah yang lalu. Dan setelah ia mendapatkan jawaban yang ia inginkan, ia langsung menjadikannya sebagai senjata untuk menyerang ustadz yang tidak ia sukai, dan demikianlah selanjutnya.

Para ulama’ jauh-jauh hari telah memperingatkan kita dari cara-cara seperti ini, yaitu menyamakan antara hukum yang bersifat muthlaq / umum dengan hukum yang berkenaan dengan orang tertentu secara khusus. Bahkan sikap seperti inilah yang menjerumuskan kebanyakan orang kepada berbagai kesalahan dalam memahami manhaj salaf.

Oleh karena itu para ulama’ telah meletakkan sebuah qaidah yang berhubungan dengan hal penerapan hukum pada orang tertentu, atau kasus tertentu, yaitu : “Tidak dipungkiri terjadinya perubahan hukum syar’i, sesuai dengan perubahan adat atau keadaan yang ada pada orang tersebut”.

Oleh karena itu, marilah kita benar-benar mencontoh ulama’ salaf dalam berilmu, berfatwa, dan berperilaku, dan jangan sampai kita besar kepala, bak katak dalam tempurung.

Inilah keenam permasalahan yang menurut pendapat saya, telah menimbulkan berbagai fitnah di negeri kita. Dan pada akhir tulisan ini, saya ingin menekankan, bahwa tulisan ini hanya sebatas pendangan saya, sehingga saya siap untuk menerima kritikan atau sangkalan yang disertai dengan alasan serta dalil, bahkan saya sangat mengharapkan kritikan dan saran dari kawan-kawan, demi tercapainya kebenaran dan kemaslahatan dakwah di negeri kita.

Sebagai penutup tulisan ini, saya ucapkan :

اللهم ربَّ جبرائيلَ وميكائيلَ وإسرافيلَ فاطَر السَّماواتِ والأرضِ، عالمَ الغيبِ والشَّهادة، أنتَ تحْكُمُ بين عِبَادِك فيما كانوا فيه يَخْتَلِفُون، اهْدِنَا لِمَا اخْتُلِفَ فيه من الحق بإِذْنِكَ؛ إنَّك تَهْدِي من تَشَاء إلى صراط مستقيم. وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين، والله أعلم بالصَّواب

Penulis

Ustadz Muhammad Arifin Badri -hafidzahullah-

Dinukil melalui:

http://abuyahyabadrusalam.com/

____

Keterangan:

  • telah mengalami perbaikan ketikan dan tanda baca.
  1. abu maryam
    12 Januari 2011 pukul 10:49

    afwan, setahu ana ini tulisan al-Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri yg dimuat dlm bentuk e-book dlm situs http://www.abusalma.wordpress.com. barokalloh fiik..

    • 12 Januari 2011 pukul 20:41

      Na’am, jazaakallaahu khoiran atas koreksinya. Ana kira saat menyalin artikel ini dari blognya ust Badru, hanya judulnya aja yang sama. Tapi saat ana cek via google, ternyata memang seperti yang antum katakan. Nastaghfirullaah wa natubuu ilaihi

  1. 29 Januari 2011 pukul 01:57

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: