Beranda > Nasehat Tuk Penuntut Ilmu > Antara Penuntut Ilmu dan Pecandu Internet

Antara Penuntut Ilmu dan Pecandu Internet

Seorang penuntut ilmu, pertama sekali dia memperhatikan perbaikan dirinya sendiri dan senantiasa bersikap lurus, karena dia adalah teladan, baik dalam akhlaqnya maupun sikapnya.

Seorang penuntut ilmu, sangat bersemangat untuk meraih suatu kemanfaatan, bermajelis dengan para pemilik ilmu, pemilik keutamaan dan sifat wara’.

Seorang penuntut ilmu, senantiasa membekali diri dengan ilmu yang bermanfaat, menjaga waktunya (dari hal-hal yang tidak berguna), hingga engkau tidak melihatnya kecuali selalu mengambil manfaat, berpaling dari perkara yang sia-sia dan menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat saja.

Seorang penuntut ilmu, apabila dia berbicara maka dia memberi manfaat dengan perkataannya, jika dia menulis maka dia memberi manfaat dengan tulisannya, hingga orang yang bermajelis dengannya tidak akan pernah kosong dari suatu manfaat.

Seorang penuntut ilmu, menghargai kemulian ilmu dan kedudukan ulama, dia mengambil ilmu dari para ulama, menhormati dan mendoakan mereka serta memohon rahmat untuk (ulama) yang sudah meninggal.

Seorang penuntut ilmu, membenci ghibah dan membenci orang yang suka berghibah, dia juga tidak ridho apabila aib seseorang dibicarakan di depannya. Engkau lihat seorang penuntut ilmu itu bersikap tawadhu’, tidak mengangkat dirinya melebihi kedudukannya yang sebenarnya, tidak berbangga dengan sesuatu yang tidak dia miliki, tidak tertipu dengan pujian dan sanjungan, tidak meninginkan ketenaran, tidak pula kedudukan di tengah-tengah manusia, karena dia tahu bahwa yang mampu mengangkat dan merendahkan seseorang hanyalah Allah Ta’ala, bukan seorang manusia.

Seorang penuntut ilmu, senantiasa berdakwah dan mensihati kaum muslimin, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar sesuai dengan kaidah-kaidah syari’ah dan tatanan masyarakat. Engkau lihat seorang penuntut ilmu itu sangat bersemangat dalam menyatukan ummat, merekatkan hati-hati mereka dan membenci perpecahan antara Ahlus Sunnah, karena dia mengetahui bahwa perpecahan itu selalu bersama kebid’ahan dan persatuan selalu menyertai sunnah. Oleh karenanya dikatakan, Ahlus Sunnah wal Jama’ah (persatuan)” dan Ahlus Bid’ah wal Furqoh (perpecahan)”.

Demikian pula engkau lihat seorang penuntut ilmu selalu menjaga lisannya, dia tidak mengomentari semua gosip dan isu yang tersebar di masyarakat, karena dia tahu bahwa semua perkataan dan perbuatannya akan dihisab.

Seorang penuntut ilmu, memperhatikan maslahat pada setiap perkataan dan perbuatannya, dia tidak membuka pintu (mencontohkan) keburukan bagi manusia, tidak membicarakan perkara yang batil, tidak sibuk dengan permasalahan yang tidak dipahaminya, dia tidak masuk dalam suatu pembicaraan kecuali berdasar ilmu, sehingga dia tahu penyebab masalah yang ada dan apa solusinya. Benar-benar dia telah menyiapkan jawaban di hadapan Allah Ta’ala kelak (atas semua perkataan dan perbuatannya).

Inilah sebagian sifat penuntut ilmu, semoga Allah Ta’ala menganugarahkan sifat-sifat tersebut kepada kita.

Adapun pecandu internet, keadaannya terbalik, sebagaimana telah dimaklumi dan disaksikan.

Pecandu internet akhlaqnya rendah, suka melanggar kehormatan, menyia-nyiakan waktu tanpa manfaat,

menyerang siapa saja tanpa memperdulikan kemuliaan ilmu, umur, kehormatan dan keutamaan. Dia juga berlagak ‘alim, mencari-cari kekurangan dan kesalahan orang lain, semua itu adalah buah dari mencandu internet secara berlebihan. Hari dan tahun yang dia lalui kosong tak berarti, hingga akhirnya dia tidak bisa tenang dan tidak membiarkan orang lain tenang.

Maka, jika engkau ingin menjadi penuntut ilmu, jalannya ada di depanmu dan telah jelas bagimu tanda-tandanya. Namun jika kamu memilih jadi pecandu internet, jalannya juga ada di depanmu, yang dipenuhi dengan kotoran dan najis, maka kotorilah dirimu sesuai kehendakmu, akan tetapi janganlah engkau membohongi manusia, sehingga engkau disangka seorang penuntut ilmu!

Diterjemahkan dari website resmi Asy-Syaikh Abu Malik Abdul Hamid Al-Juhani hafizhahullah, Imam dan Khotib Masjid Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu di Yanbu’ Al-Bahr, juga Da’i di Kementrian Wakaf, Dakwah dan Bimbingan KSA, dari sebuah artikel yang berjudul:

الفرق بين طالب العلم , وطالب الأنترنت

——————-

[1] Nasihat ini ditulis sebagai peringatan kepada para penuntut ilmu yang berdakwah via internet, sekaligus sebagai celaan terhadap orang-orang yang suka menyebar kerusakan di internet, mengoyak persatuan Ahlus Sunnah dan membuat lari kaum muslimin dari dakwah yang penuh berkah ini

Peringatan!

1. Pecandu internet hanya istilah yang ana buat untuk mendekatkan makna bahasa Arabnya, tidak bermaksud menyamaratakan semua pecandu internet, tapi yang dimaksudkan adalah mereka yang BERPURA-PURA sebagai penuntut ilmu, padahal hakikatnya hanya seorang pecandu internet.

2.penjelasan ulama kapan seorang disebut Penuntut ilmu dan nasihat yang insya Allah bisa menjadi solusi:

1. Penuntut ilmu itu adalah orang yang mulazamah [selalu menemani untuk menuntut ilmu kepada] seorang Syaikh dan mengambil ilmu darinya [Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri hafizhahullah]

2. Semua yang berusaha menuntut ilmu [baik melalui majelis ilmu ulama maupun melalui kitab-kitab para ulama tsb] maka dia seorang Penuntut ilmu, namun tingkatan penuntut ilmu itu bertingkat-tingkat, ada yang pemula, menengah dan tingkat tinggi [Syaikh Zaid bin Hadi Al-Madkhali dan Syaikh Ahmad Bazmul hafizhahumallah]

3. Setiap orang yang memiliki tekad, semangat dan selalu menuntut ilmu maka dia adalah Penuntut ilmu [baik dia menghadiri majelis ilmu ulama maupun hanya melalui kitab dan kaset-kaset KARENA SUATU UDZUR]. Dan bukanlah syarat seorang Penuntut ilmu itu harus mempelajari semua bidang ilmu agama, barangsiapa mempelajari satu masalah lalu menguasainya maka dia seorang Penuntut ilmu [Syaikh Jamal bin Furaihan Al-Haritsi hafizhahullah, penulis kitab LAAMUD DURRIL MANTSUR]

4. Setiap orang yang telah memulai menuntut ilmu syar’i maka dia seorang Penuntut ilmu, akan tetapi tingkatannya berbeda-beda, ada yang pemula, ada yang mapan dan ada ulama. Akan tetapi tidak sepatutnya seorang HANYA menuntut ilmu dari kitab dan kaset saja, karena sangat besar kemungkinan dia akan salah paham jika tanpa bimbingan ulama [Syaikh Abul Hasan Ali Ar-Ramli hafizhahullah]

Kesimpulannya: Seorang Penuntut ilmu adalah orang yang mengambil ilmu dari ulama secara langsung [ini asalnya], ataupun mengambil ilmu dari media lain seperti kitab dan kaset para ulama ketika ada udzur untuk menghadiri majelis ilmu, namun tidak boleh mencukupkan diri dengannya tanpa bertanya dan belajar kepada para ulama sedikitpun.

Sumber: http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=369411

WALLAHU A’LA WA A’LAM.

Penulis: al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray-hafidzahullah-

SUMBER: http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/01/antara-penuntut-ilmu-dan-pecandu-internet/ via fesbuk

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: