Beranda > Artikel Mutiara Sunnah, Peristiwa > Tragedi Dini Hari di Petarukan

Tragedi Dini Hari di Petarukan

Diesel locomotive CC203, Gambir Station, Jakarta

Pagi itu masih buta. Seluruh penumpang mungkin tengah tertidur lelap ketika kereta Argo Bromo Anggrek menabrak kereta Senja Utama yang tengah berhenti di Stasiun Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah, Sabtu (2/10) silam sekitar pukul 03.00 WIB. Sebanyak 34 orang tewas dan puluhan lainnya luka dalam kecelakaan tersebut.

Di hari yang sama, kecelakaan juga terjadi di Stasiun Purwosari, Solo, Jateng. Kereta Bima rute Jakarta-Surabaya menyerempet kereta Gaya Baru Malam. Seorang penumpang tewas dalam kecelakaan tersebut, yakni anggota TNI Angkatan Laut Prajurit Satu Surya Catur Utomo.

Menurut Direktur Jenderal Perkeretaapian Tundjung Inderawan, kecelakaan di Stasiun Purwosari terjadi karena petugas pengatur perjalanan kereta api (PPKA) tidak fokus memasukkan kereta ke jalur satu secara sempurna. Hal itu, imbuh dia, disebabkan ada massa yang melempari kereta Gaya Baru. Lalu apa penyebab kecelakaan di Stasiun Petarukan?

Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT menyatakan butuh waktu satu bulan menyelidiki penyebab Argo Bromo Anggrek yang semestinya masuk jalur satu tiba-tiba nyelonong ke jalur tiga tempat kereta Senja Utama sedang parkir. “Satu bulan akan keluar laporan faktual,” kata Ketua KNKT Tatang Kurniadi. Temuan ini akan diserahkan ke Kementerian Perhubungan nantinya.

Namun, baru dua hari penyelidikan, Menteri Perhubungan Freddy Numberi sudah memvonis masinis kereta Argo Bromo sebagai pemicu kecelakaan itu. “Masinisnya ngantuk kok,” kata Freddy. Hasil evaluasi menyebutkan, asisten masinis menegur masinis yang tetap menjalankan kereta meski lampu sudah merah.

Tundjung setali tiga uang. Ia menyatakan indikasi awal kecelakaan itu akibat kesalahan masinis. “Masinis melanggar sinyal merah,” kata Tundjung. Pernyataan ini sama seperti kesaksian Aji Wibowo. “Kita sudah memberikan sinyal merah kepada kereta Argo Bromo Anggrek. Tapi, kereta tetap menerobos,” kata petugas di Stasiun Petarukan itu.

Muhammad Kholik Rusdianto, sang masinis, mengaku mengantuk saat membawa kereta. Ia pun telah ditetapkan Kepolisian Resor Pemalang sebagai tersangka. Kholik dikenakan pasal 206 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, pasal 259, serta 360 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang Kelalaian yang menyebabkan kematian.

Apa hikmah musibah tabrakan kereta di Petarukan?

Kita turut sedih dan prihatin dengan kejadian tabrakan kereta api di pemalang. Banyak korban tewas…., bahkan ada yang 1 keluarga tewas semua. Masih banyak lagi yang luka parah…, kehilangan beberapa bagian tubuhnya…aah…tak kuat rasanya hati ini menyaksikan penderitaan saudara kita yang baru terkena musibah. Semoga mereka yang ditinggalkannya diberikan ketabahan hati yang luar biasa. Dan bagi mereka yang masih mengalami luka baik fisik maupun batin…, semoga selalu bisa berserah diri kepada Allah subhaanahu wa ta’ala. Karena pada dasarnya setiap musibah, setiap kejadian, di muka bumi ini adalah kehendak Allah Tuhan Semesta alam. Mari kita kembalikan kepada Nya dan mencoba mengambil hikmah yang terpendam.

Pada setiap musibah kecelakaan, biasanya kita langsung menyalahkan satu sama lain. Entah ini sudah menjadi karakter bangsa ini, ataukah ini merupakan respon sesaat atas tragisnya suatu peristiwa, sehingga tanpa sadar kita langsung mengkambinghitamkan seseorang untuk sekedar menutupi kejengkelan hati kita….? Entah itu dari atasan kepada bawahan, atau dari publik kepada penguasanya, Allaahul musta’an.. Ya sudahlah, nggak usah kita pikirkan masalah salah-menyalahkan, sekarang yang penting kita bisa mengambil hikmahnya. .

Apa saja hikmahnya?

Allah ta’ala berfirman:

“ Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Alloh, supaya diperlihatkan-Nya kepada mu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)- Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur”.

“ Dan apabila mereka dihantam ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada Nya maka tatkala Alloh menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.”

“ Hai manusia bertakwalah kepada Tuhan Mu dan takutlah akan suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat pula menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Alloh adalah benar, maka janganah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syetan) memperdayakan kamu dalam menaati Allloh”.

“ Sesungguhnya Allah hanya pada Sisi Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dial ah yang menurunkan hujan, dan mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Alloh maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. as-Sajdah ayat 31- 34)

Disetiap musibah yang terjadi, baik bencana alam maupun bencana yang disebabkan kesalahan manusia, selalu saja ada dua golongan yang menjadi korban. Yaitu orang-orang yang baik maupun orang-orang yang salah (sering berbuat dosa). Mengapa ya , orang-orang yang baik dalam hidupnya  kadangkala malah cepat meninggal, sedangkan mereka yang jelas-jelas sering berbuat dosa dan dzalim malah nggak dipanggil-panggil, bahkan kelihatannya sepertinya dibiarkan dalam gelimang kesesatan…? Pasti Allahu Robbul ‘Aalamiin mempunyai rencana terbaik di balik itu semua

Mari kita senantiasa  berkhusnudzon kepada-Nya.

  • Bagi mereka yang memang baik, bisa saja mereka diselamatkan dari kemungkinan pengaruh lingkungannya yang bisa jadi akan menyebabkan mereka menjadi orang yang salah. Sehingga kebaikannya tetap dikenang oleh keluarga dan lingkungannya. Toh karena kebaikannya di dunia, Insya Allah mereka mendapat tempat yang layak di sisi Nya.Amiien.
  • Sedangkan bagi mereka yang sering berbuat dosa, bisa saja diselamatkan oleh Allah dari berbuat dosa yang lebih besar lagi, sehingga dengan dicukupkannya usia mereka pada saat itu, dosa yang dia perbuat tidak terlalu banyak.
  • Atau bisa jadi dengan banyaknya musibah yang menimpa negeri ini menunjukkan bahwa kita sedang di uji oleh-Nya sehingga musibah yang menimpa kita akan jadi salah satu tahap yang harus kita tempuh untuk menuju kesuksesan dan kebahagiaan yang tak terduga-duga,
  • Atau bisa jadi musibah adalah teguran dan adzab karena kelalaian kita beribadah, kurang bersyukur, kurang sodaqoh, karena menyakiti orang lain, berbuat bohong dan lain sebagainya. dengan datangnya musibah ini seseorang yang mendapatkan hikmah tentunya tidak akan berbuat seperti itu lagi, dia akan bertransformasi menjadi lebih baik.

Allahu A’la wa A’lam

Kemudian, untuk yang ditimpa musibah,  bersabarlah dan tingkatkan amal ibadah sehingga anda akan merasakan kedekatan dan keridhoan Alloh subhaanahu wa ta’ala. Ikhlaskanlah semua keluarga dan harta benda yang hilang dan lenyap demi mengharapkan ridho-Nya. Yakinlah bahwa keluarga kita yang meninggal akan mendapatkan tempat yang layak sesuai amal ibadah yang mereka lakukan. Tidak ada gunanya saling menyalahkan. Tidak ada gunanya menyesali. Karena semua itu tidak akan bermanfaat tetapi malah membuat langkah kita semakin berat, kecuali mencari solusi terbaik agar kejadian-kejadian semacam ini tidak terulang lagi, atau setidaknya dapat diminimalisir.

Walhamdulillaahi Robbil ‘Alaamiin

diselesaikan di Jati Padang, Pasar Minggu, 22 November 2010 pukul 22.56

Referensi:

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: