Beranda > fatwa, NASEHAT DAN AKHLAK > Hukum Bernama dengan Nama ‘Salafiyyah’

Hukum Bernama dengan Nama ‘Salafiyyah’

Syaikh Shalih ibn Abdul Aziz Aal Syaikh -hafidzahullah- menjawab pertanyaan tentang hukum bernama dengan nama ‘salafiyyah’.

========================

Pertama-tama, harus diketahui bahwa ketika Islam menjadi tanda bagi orang-orang yang memenuhi panggilan dakwah Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-, maka dihapuslah nama-nama yang ada pada mereka kecuali nama Islam.

Allah berfirman “Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini” (QS Al Hajj: 78)

Maka, nama ‘Muslimun’ dan ‘Mukminun’ adalah nama-nama yang syar’i karena memang jelas nashnya. Disamping itu ada pula nama-nama lain untuk ta’rif (mengenalkan), nama-nama ‘perkenalan’ ini tidak ada masalah selama tidak menimbulkan mafsadah.

Diantara nama-nama perkenalan yang paling agung adalah nama muhajirun dan anshar, dua nama ini adalah nama yang Allah sebutkan dengan jelas di al Quran, dan juga ditetapkan oleh Nabi -shallallahu alaihi wa sallam-, bahkan beliau meyebut mereka muhajirun dan anshar.
Ketika terjadi fanatisme terhadap nama muhajirun dari kalangan muhajirun dan terhadap nama anshar dari kalangan anshar, maka perbuatan ini menjadi perbuatan jahiliyah. Ketika suatu saat dalam sebuah peperangan, ada dua anak yang bertengkar, satu dari kalangan muhajirun dan satu dari anshar, maka sang muhajiry berteriak “Wahai kalangan muhajirun!” meminta pertolongan dari kalangan muhajirun, dan anshary pun berteriak “Wahai kalangan anshar!”. Kemudian berkumpullah muhajirun dan anshar, setiap kelompok ingin menolong yang memanggilnya dengan nama tersebut.

Maka marahlah Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- dan bersabda: “Apakah (kalian saling memanggil) dengan panggilan jahiliyyah sedankan aku ada di sisi kalian?”. Hal ini menunjukkan bahwa fanatisme dan loyalitas terhadap suatu nama saja mengeluarkan nama ini dari sekedar untuk mengenalkan menjadi fanatisme dan loyalitas dan saling tolong menolong yang hanya (didasarkan) nama tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa perbuatan ini adalah perbuatan yang dijauhi secara syari’at dan tercela, padahal nama muhajirun dan nama anshar adalah nama yang syar’i.

Setelah zaman berlalu datanglah nama-nama; ‘Hanafiyah’, ‘Syafi’iyyah’, ‘Hanabilah’ dan ‘Malikiyyah’, nama-nama yang diakui oleh ahli ilmu, ketika nama-nama ini muncul ahli ilmu menyetujuinya untuk mengenalkan bahwa orang-orang ini adalah madrasah yang merupakan pengikut imam Malik, atau imam Syafi’i dan mengambil fiqihnya.

Tetapi, ketika perkaranya menjadi para pengikut imam Syafi’i fanatik dengan madzhabnya dan memberikan loyalitas hanya kepadanya, atau pengikut imam Abu Hanifah fanatik terhadap madzhabnya, atau pengikut imam Malik, dan meniadakan yang selain mereka, dengan artian bahwa mereka tidak mengakui kebenaran di pihak selain yang mereka ikuti, terjadi perselisihan, kemudian berubahlah nama-nama tersebut dari nama untuk ta’rif menjadi nama yang dengannya diberikanlah loyalitas maupun permusuhan.

Seperti yang disebutkan Yaqut al Hamawi dalam Mu’jam al Buldan: “Dalam perjalananku ke Khurasan, aku melewati sebuah kampung yang didalamnya terdapat suatu kelompok dari Hanafiyyah dan suatu kelompok dari kalangan Syafi’iyyah, yang diantara keduanya terdapat kebencian dan permusuhan yang aku yakin bahwa mereka akan saling membunuh karenanya.

Kemudian aku berlalu, dan ketika perjalanan pulangku -setelah beberapa tahun- aku melewati kampung tersebut, dan aku tidak melihat seorangpun yang dikenal.” Kemudian dia bertanya dan diberitahu bahwa terjadi peperangan diantara mereka kemudian mereka saling berpencar.

Penyebabnya adalah nama ini berubah fungsinya dari untuk mengenalkan menjadi nama yang dijadikan fanatisme, hingga menyamai nama ‘muslimun’ yang diberikan loyalitas dan permusuhan kepadanya. Hal inilah yang menyebabkan kemungkaran yang besar tersebut. Kemudian ada nama-nama lain yang digunakan untuk ta’rif yang disetujui oleh para ulama.

Jika hal ini sudah jelas, maka sekarang kita kembali ke pertanyaan, yaitu nama ‘salafiyyah’.

Nama ‘salafiyyah’ adalah nama baru, dengan artian nama ini ditujukan bagi siapa saja yang mengikuti salaf shalih dalam masalah aqidah, akhlaq dan ibadah ketika banyak kelompok-kelompok lain yang menyimpang dari jalan salaf, sepeti Murji`ah, Qadariyyah, Mu’tazilah, Jahmiyyah, Asya’irah, Karamiyah dan lain sebagainya, juga shufiyyah.

Sebaliknya, ketika nama-nama ini ditujukan bagi kelompok-kelomok tersebut untuk mengenali mereka, disebutlah orang yang mengikuti sunnah dan jalan para salaf shalih dan tidak keluar dari jalur dalil dengan berbagai nama, diantaranya ada yang menyebut mereka dengan nama ‘salaf’, ‘salafiyyah’, ‘ahlussunnah wal jamaah’, ‘al jama’ah’, ‘ahlul hadits’ atau sebagainya.

Nama-nama ini adalah nama untuk ta’rif yang menjelaskan bahwa kelompok ini adalah yang bersemangat dalam sunnah dan pengamalannya, meninggalkan bid’ah dan ahwa’, serta membela perkataan para imam sunnah dari kalangan sahabat, tabi’in dan yang mengikuti mereka. Maka mereka dipuji atas jalan yang mereka tempuh ini.

Tapi ‘salafiyyah’ termasuk dalam barisan kaum muslimin, dan diantara kaum muslimin ada yang muslim dari asalnya, jika kau selidiki dia maka dia adalah salafi dari sisi apa yang dia yakini. Begitu pula dari orang-orang yang bergabung dengan sebagian aliran, jika kau cari tahu aqidahnya dan apa yang dia yakini, maka dia adalah salafi secara umum, atau dia mempunyai banyak mutaba’ah kepada salaf dan lain sebagainya.

Disini kita katakan, jika nama-nama ini berubah menjadi kelompok-kelompok, ‘salafiyyah’ menjadi sebuah kelompok yang diberikan loyalitas dan pemusuhan kepadanya, atau ‘ahlul hadits’ menjadi sebuah kelompok yang juga diberikan loyalitas dan permusuhan kepadanya, hal ini seperti juga yang terjadi pada nama muhajirin dan anshar (seperti disebutkan tadi -pent), maka hal ini tidak dibenarkan.

Adapun jika untuk mengenalkan mereka, bahwa mereka adalah orang-orang yang berada diatas kebenaran dalam agama Allah jalla wa ‘ala, yang mengikuti sunnah dan membelanya, dan dalam diri mereka terdapat sifat sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah di akhir kitab al Wasithiyyah, bahwa mereka adalah orang-orang yang kasih sayang terhadap orang-orang yang beriman dan suka menasehati mereka, orang-oranga yang baik, yang suka mengerjakan qiyam lail dan banyak beribadah kepada Allah jalla wa ‘ala, yang memiliki budi pekerti yang mulia dan kejujuran, meninggalkan dusta, menjauhi perbuatan yang batil, bersemangat terhadap kebenaran, maka mereka inilah yang kami lihat benar-benar berhak dengan sifat yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam “Sebaik-baik kalian adalah masaku kemudian yang selanjutnya kemudian yang selanjutnya.” dan dengan firman Allah “dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik” (QS At Taubah: 100)

Maka siapapun yang mengikuti salaf dalam aqidah dengan kebaikan, maka dia mempunyai bagian untuk bersama mereka. Adapun loyalitas dan permusuhan, serta celaan, misalnya dia dicela karena dia tidak bergabung dengan kelompok ini, maka tidak. Tetapi manusia dipuji atau dicela hanya karena islam dan bukan karena simbol lainnya.

Disusun oleh al-Akh

Abdullah Asy Syafi’i -hafidzahullah-

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: