Beranda > fatwa, TANYA JAWAB > Bolehkah Menghajr Sesama Muslim? Apa Saja Batasannya?

Bolehkah Menghajr Sesama Muslim? Apa Saja Batasannya?

Berikut ini adalah transkip terjemahan pelajaran Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan -hafidzahullah- , yang beliau menjawab pertanyaan tentang boleh tidaknya menghajr seorang muslim, dan apa saja ketentuannya.

===============

Seorang penanya dari Britania bertanya : “Bolehkah seorang muslim menghajr saudaranya, atau untuk menghajr mubtadi’? Dan apabila dibolehkan, maka apa sajakah patokannya, karena disini di Britania, sebagian pemuda menghajr yang lainnya karena mereka melihat bahwa mereka adalah para mubtadi’, dan bid’ah mereka bukan dari sisi aqidah, tapi dari sisi hizbiy, atau jama’ah, atau sebagainya?”

Syaikh: “Ya, seorang mubtadi’ dihajr apabila terbukti bahwa dia adalah mubtadi’. Tapi siapakah yang bisa mengetahui antara bid’ah dan sunnah? Hanya ulama yang mengetahuinya, tidak bisa membedakan antara sunnah dan bid’ah kecuali ulama, adapun para penuntut ilmu, para pemula dan yang masih belajar, tidak dapat mengetahui antara bid’ah dan sunnah, bahkan menurut mereka semua orang yang menyelisihi mereka dan tidak sepakat dengan mereka, mereka itu adalah mubtadi’. Walaupun sebenarnya yang menyelisihinyalah yang berada dalam kebenaran, dan dia sendiri yang salah.

Jadi yang menjadi patokan bukanlah perselisihan, atau hizbiyyah, atau kelompok-kelompok. Yang menjadi patokan adalah dengan mengikuti kitab dan sunnah. Maka siapapun yang berpegang pada kitab dan sunnah, maka wajib untuk diikuti, ditiru dan bergabung dengannya. Adapun yang menyelisihi kitab dan sunnah dan beramal dengan selainnya, maka yang demikian yang harus dijauhi.

Tetapi siapakah yang bisa menjelaskan hal yang demikian kecuali Ahli Ilmu? Adapun jika setiap orang mengatakan kepada orang lain:  ‘kamu mubtadi’, bukan karena sebab apa-apa selain hanya karena dia tidak sependapat dengan perkataanmu atau dengan …, maka ini tidak benar. Jika kita berselisih dalam sesuatu, maka kita kembalikan kepada Ahli Ilmu yang kemudian akan kembali kepada kitabullah dan sunnah RasulNya, dan kemudian menjelaskan kepada kita siapa yang mubtadi’ atau sunni, kemudian setelah itu kita berada diatas ilmu. Na’am.

Disusun oleh al-Akh Abdullah Asy Syafi’i

dari video yang diterbitkan oleh muntaqa@almajdtv.com

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: