Beranda > Artikel Mutiara Sunnah, Thaharah > Macam-Macam Najis Dan Cara Menyucikannya

Macam-Macam Najis Dan Cara Menyucikannya

Hal – hal yang terdapat dalil tentang kenajisan serta cara menyucikannya adalah :

1. Air seni.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, “Seorang Arab Badui buang air di Mesjid, lalu segolongan orang menghampirinya. Rasulullah Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam lantas bersabda, ‘Biarkanlah ia jangan kalian hentikan kencingnya’”. Lalu Anas radhiyallahu ‘anhu  melanjutkan, “Tatkala ia sudah menyelesaikan kencingnya, beliau Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan agar dibawakan setimba air lalu diguyurkan di atasnya” (HR. Al Bukhari no. 6025 dan Muslim no. 284)

[Secara umum, zat untuk membersihkan diri dari najis adalah dengan menggunakan air, kecuali syariat membolehkan membersihkannya dengan selain air, seperti menggunakan tanah]

Adapun cara menyucikan pakaian yang terkena kencing bayi yang masih menyusu adalah sebagaimana sabda Rasulullah Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam “Air kencing bayi perempuan dicuci, sedangkan air kencing bayi diperciki” (HR. An Nasa’i I/158 dan Abu Dawud no. 372, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan an Nasa’i no. 293)

2. Kotoran manusia.

Dari Hudzaifah ra., Rasulullah Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian menginjak al adzaa dengan sandalnya, maka tanah adalah penyucinya” (HR. Abu Dawud no. 381, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 834)

Al Adzaa adalah segala sesuatu yang engkau merasa tersakiti olehnya, seperti najis, kotoran dan sebagainya (‘Aunul Ma’buud II/44).

3. Madzi.

Madzi adalah cairan bening, encer dan lengket yang keluar ketika naiknya syahwat. Dialami pria maupun wanita.

Ali rdhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku adalah laki – laki yang sering keluar madzi. Aku malu menanyakannya pada Nabi Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam karena kedudukan putri beliau. Lalu kusuruh al Miqdad bin al Aswad untuk menanyakannya. Beliau Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ‘Dia harus membasuh kemaluannya dan berwudhu’” (HR Al Bukhari no. 132 dan Muslim no. 303)

4. Wadi

Wadi adalah cairan bening dan kental yang keluar setelah buang air. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Mani, wadi dan madzi. Adapun mani maka wajib mandi. Sedangkan untuk wadi dan madzi beliau Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ‘Basuhlah dzakar atau kemaluanmu dan wudhulah sebagaimana engkau berwudhu untuk shalat’” (HR. Abu Dawud dan Al Baihaqi I/115, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 190)

5. Kotoran hewan yang tidak halal dimakan dagingnya.

Dari Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Ketika Nabi Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam hendak buang hajat, beliau berkata, ‘Bawakan aku 3 batu’. Aku menemukan dua batu dan sebuah kotoran keledai. Lalu beliau mengambil kedua batu itu dan membuang kotoran tadi lalu berkata, ‘(Kotoran) itu najis’” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majahno. 2530)

6. Darah haidh

Dari Asma’ binti Abi Bakar radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Seorang wanita datang kepada kepada Nabi Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam lalu berkata, ‘Baju seorang diantara kami terkena darah haidh, apa yang ia lakukan ?’

Beliau Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Keriklah, kucek dengan air, lalu guyurlah. Kemudian shalatlah dengan (baju) itu’” (HR. Al Bukhari no. 307 dan Muslim no. 291)

7. Air liur anjing.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “(Cara) menyucikan bejana salah seorang diantara kalian jika dijilat anjing adalah membasuhnya tujuh kali. Yang pertama dengan tanah” (HR. Muslim no. 276)

8. Bangkai

Yaitu segala sesuatu yang mati tanpa disembelih secara syar’i. Dasarnya adalah sabda Rasulullah Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam“Kulit bangkai apa saja jika disamak, maka ia suci” (HR. Ibnu Majah, Ahmad dalam Al Fathur Rabbanino. 49, At Tirmidzi no. 1782, Ibnu Majah no. 3609 dan An Nasa’iVII/173, dari Ibnu Abbas ra., dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah no. 2907)

Dan dikecualikan darinya:

a. Bangkai ikan dan belalang. Keduanya adalah suci, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

Dihalalkan bagi kami dua jenis bangkai dan dua jenis darah. Adapun dua jenis bangkai adalah bangkai ikan dan bangkai belalang, sedangkan dua darah adalah hati dan ginjal (ath-thihaalu).” [HR. Ibnu Majah 3218, 3314 dan Ahmad (II/97) dengan sanad shahih]

b. Bangkai binatang yang tidak mengucurkan darah, seperti lalat, lebah, semut, kutu, dan sejenisnya. Dasarnya adalah sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

“Jika lalat jatuh pada gelas salah seorang dari kamu, maka hendaknya ia mencelupkan seluruh badannya atau membuangnya. Karena pada salah satu sayapnya ada racun dan pada sayap yang lainnya ada penawarnya.” [shahih, riwayat Imam Buhari (3320)]

c. Tulang bangkai, tanduk, kuku, rambut  dan bulunya, semuanya pada dasarnya adalah suci. Al-bukhari rahimahullah meriwayatkan secara mu’allaq dalam Shahihnya (I/342): Az-Zuhri berkata –tentang tulang bangkai seperti gajah dan selainnya– “Aku mendapati beberapa orang dari ulama salaf menggunakannya sebagai sisir dan sebagai tempat minyak. Mereka menganggapnya tidak mengapa.”

Hammad berkata, “Tidak mengapa dalam bulu bangkai.”

9. Daging babi

Ini adalah najis, menurut kesepakatan ulama, berdasarkan penegasan firman Allah subhaanahu wa ta’ala, QS. al-An’am:145

قُل لَّآ أَجِدُ فِى مَآ أُوحِىَ إِلَىَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ۬ يَطۡعَمُهُ ۥۤ إِلَّآ أَن يَكُونَ مَيۡتَةً أَوۡ دَمً۬ا مَّسۡفُوحًا أَوۡ لَحۡمَ خِنزِيرٍ۬ فَإِنَّهُ ۥ رِجۡسٌ

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor”

10. Potongan tubuh dari hewan yang masih hidup

Bagian tubuh hewan yang diputus, sementara hewan itu masih hidup, hukumnya adalah hukum bangkai. Berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

Bagian tubuh yang dipotong dari hewan yang masih hidup adalah bangkai.”

[HR. at-Tirmidzi (1480), Abu Dawud (2858), dan Ibnu Majah (3216)]

11. Su’r (sisa) makanan dan minuman dari binatang buas atau hewan yang tidak boleh dimakan dagingnya

Su’r adalah air yang tersisa pada wadah atau bejana tempat minum. Dalil yang menunjukkan akan kenajisannya adalah sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, saat beliau ditanya tentang air yang terdapat di tanah lapang yang sering didatangi binatang buas atau hewan (yang tidak boleh dimakan dagingnya). Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika air itu kadarnya mencapai dua qullah, maka ia tidak ternajisi.”

[shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (63), an-Nasai (I/46), dan at-Tirmidzi (67) dengan sanad shahih seperti disebutkan dalam Shahih al-Jami’ (758)]

Adapun kucing dan sejenisnya, maka sisa minumnya adalah suci; berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya kucing tidaklah najis, karena kucing adalah hewan yang hidup di sekitar kalian.”

[shahih, diriwayatkan oleh Ahmad (V/303) dan penulis kitab Sunan. Lihat al-Irwa’ (173)]

12. Daging hewan-hewan yang tidak boleh dimakan

Dasarnya adalah hadits Anas rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami memakan daging keledai pada peperangan Khaibar, maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berseru: “Sesungguhnya Allah dan RosulNya melarang kalian (makan) dari daging keledai, karena sesungguhnya ia adalah rijs, atau najis.”

[shahih, diriwayatkan oleh Muslim (1940), Ahmad (III/121), dan al-Bukhri tanpa lafal, “karena itu adalah najis” ]

Dan Hadits Salamah bin al-Akwa’, ia berkata, “Pada hari ditaklukannya Khaibar, dinyalakanlah api yang sangat banyak. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya,

Api apa ini?; Untuk apa mereka menyalakannya?’. Mereka menjawab, ‘Orang-orang sedang memasak daging.’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Memasak daging apa?’ Mereka menjawab, ‘Memasak daging keledai peliharaan.’ Maka beliau bersabda, ‘Tumpahkanlah dan pecahkanlah (bejananya)!’. Seorang laki-laki bertanya, ‘Wahai Rosulullah, ataukah kami menumpahkannya dan mencuci (bejana)nya?’ Beliau menjawab, ‘Atau seperti itu (menumpahkannya dan mencuci bejananya)’.”

[shahih, diriwayatkan oleh Muslim (1802)]

Dalam dua hadits di atas, terdapat dalil tentang najisnya daging keledai peliharaan, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang pertama, “karena sesungguhnya ia adalah rijs, atau najis.” Dan berdasarkan perintah beliau dalam hadits yang kedua agar memecahkan bejana itu. Kemudian, setelah itu, beliau membolehkan untuk mencucinya.

Catatan :

Jika suatu benda terkena najis dan dibiarkan kering serta bekas najisnya hilang maka benda itupun menjadi suci kembali sebagaimana hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Pada zaman Rasulullah Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam, banyak anjing yang kencing dan berlalu lalang di dalam mesjid. Mereka tidak mengguyurkan air sedikit pun di atasnya” (HR. Bukhari no. 174 secara mu’allaq dan Abu Dawud no. 378)

Maraji :

1. Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M melalui http://faaris.wordpress.com/

2.Kitab Shahih Fiqih Sunnah Jilid I, karya al-fadhil Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, Pustaka at-Tazkia, Jakarta, Cetakan Keempat, Syawwal 1430 H/ September 2009 M

Diselesaikan di Jati Padang, Pasar Minggu, 23 November 2010 jam20.42

 

About these ads
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: