Beranda > AQIDAH, Koreksi dan Bantahan > Tradisi Masyarakat Islam yang Bersumber dari Ajaran Hindu

Tradisi Masyarakat Islam yang Bersumber dari Ajaran Hindu

[ updated ]


Banyak upacara adat yang menjadi tradisi di beberapa lingkungan masyarakat Islam yang sebenarnya tidak diajarkan dalam Islam. Tradisi tersebut ternyata bukan bersumber dari agama Islam, tetapi bersumber dari agama Hindu. Agar lebih jelasnya dan agar umat Islam tidak tersesat, marilah kita telah secara singkat hal-hal yang seolah-olah bermuatan Islam tetapi sebenarnya bersumber dari agama Hindu.

1. Tentang Selamatan yang Biasa Disebut GENDURI [Kenduri atau Kenduren]

Genduri merupakan upacara ajaran Hindu. [Masalah ini] terdapat pada kitab sama weda hal. 373 (no.10) yang berbunyi “Antarkanlah sesembahan itu pada Tuhanmu Yang Maha Mengetahui”. Yang gunanya untuk menjauhkan kesialan.

“Sloka prastias mai pipisatewikwani widuse bahra aranggaymaya jekmayipatsiyada duweni narah”.

[Hal ini] bertentangan dengan Firman Allah :”Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (QS. Adz-Dzariyat [51]:57)

Juga terdapat pada kitab siwa sasana hal. 46 bab ‘Panca maha yatnya’. Juga terdapat pada Upadesa hal. 34, yang isinya:

a. Dewa Yatnya [selamatan]Yaitu korban suci yang [secara] tulus ikhlas ditujukan kepada Sang Hyang Widhi dengan jalan bakti sujud memuji, serta menurut apa yang diperintahkan-Nya (tirta yatra) metri bopo pertiwi.

b. Pitra Yatnya Yaitu korban suci kepada leluhur (pengeling-eling) dengan memuji [yang ada] di akhirat supaya memberi pertolongan kepada yang masih hidup.

c. Manusia Yatnya Yaitu korban [yang] diperuntukan kepada keturunan atau sesama supaya hidup damai dan tentram.

d. Resi Yatnya Yaitu korban suci [yang] diperuntukan kepada guru atas jasa ilmu yang diberikan (danyangan).

e. Buta Yatnya Yaitu korban suci yang diperuntukan kepada semua makhluk yang kelihatan maupun tidak, untuk kemulyaan dunia ini (unggahan).

[Hal ini] bertentangan dengan Firman Allah :”Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.(QS. Al-Baqoroh[2]:170)[Lihat juga QS. Al-Maidah[5]:104, Az-Zukhruf [43]:22)

Tujuan dari yang [disebutkan] di atas merupakan usaha untuk meletakkan diri pada keseimbangan dalam hubungan diri pribadi dengan segala ciptaan Tuhan, [serta] untuk membantu kesucian/penghapus dosa.

[Hal ini] bertentangan dengan Firman Allah : ”Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya” (QS. Az-Zumar [39]:2). Periksa juga surat 18: 110, 39: 65, 16: 36, 7: 59,65,73,85, 4: 116, 6: 88, 17: 39.

2. Tentang Sesajen

“Makiyadi sandyan malingga renbebanten kesaraban kerahupan dinamet deninhuan keletikaneng rinubebarening………..”

Sesajen tujuannya memberi makan leluhur pada waktu hari tertentu atau dilakukan pada setiap hari.[Dilakukan] untuk memberikan keselamatan kepada yang masih hidup, juga persembahan kepada Tuhan yang telah memberikan sinar suci kepada para Dewa. Karena pemujaan tersebut dianggap mempengaruhi serta mengatur gerak kehidupan, bagi mereka yang masih menginginkan kehidupan [dan] hasil/rezeki di dunia akan mengadakan pemujaan dan persembahan ke hadapan para Dewa. [Hal ini] juga terdapat pada kitab Bagawatgita hal. 7 no. 22, yang artinya “Diberkati dengan kepercayaan itu, dia mencari penyebab apa yang dicita-citakan”.

[Masalah ini] bertentangan dengan Firman Allah : ”Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.”(QS. Yunus [10]:106) Periksa juga surat Ghofir :60.

3. Tentang Wanita Hamil

Selama bayi dalam kandungan dibuatkan tumpeng selamatan (telonan, tingkepan). [Hal ini] terdapat dalam kitab Upadesa hal. 46. Dan setelah bayi lahir, ari-ari[nya] terlebih dahulu dibersihkan dan dicampurkan dengan bunga, dan kemudian dimasukkan dalam kelapa/kendil untuk kemudian ditanam. Bila perempuan di kiri pintu, bila laki-laki di kanan pintu dan diadakan genduri (sepasar, selapan, telonan, dst)

Tentang bunga:Putih : Dewa BrahmaMerah : Dewa WisnuKuning : Dewa Syiwa

4. Tentang Penyembelihan Kurban

Penyembelihan kurban untuk orang mati pada hari naasnya (hari 1,7,4,….1000) [terdapat] pada kitab Panca Yadnya hal. 26, Bagawatgita hal. 5 no. 39 yang berbunyi “Tuhan telah menciptakan hewan untuk upacara korban, upacara kurban telah diatur sedemikian rupa untuk kebaikan dunia.” (Mewedha, yasinan, tahlilan)

Bertentangan dengan Firman Allah :“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS.An-Al’aam [6]: 162). Lihat juga 27: 80, dan 35: 22

5. Tentang Kuade/Kembar Mayang

Kuade merupakan hasil karya dan sebagai simbol pada manusia atas kemurahan para Dewa-Dewa. Sedang kembar mayang sebagai penolak balak dan lambang kemakmuran.

Kita harus yakin atas pertolongan Alloh Subhanahu wa Ta’ala “Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Ali Imron [3]: 160)

Sesuai perintah Alloh [mengenai] jalan keselamatan ”Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS.Al-Isro’[17]: 15). Periksa juga 39: 55

6. Tentang Mendirikan Rumah

Pada dasarnya rumah yang baru lulus [selesai dibangun], melakukan [hal-hal] sebagai berikut:a. Membuat carang pendoman (takir)b. Peralatan jangga wari (tikar, kasur, bantal, sisir, cermin)

7. Tentang Hari/Saptawara [berkaitan dengan mencari rezeki]

Minggu Raditya 5 [arah Timur]Senin Soma 4 [arah Utara]Selasa Anggoro 3 [arah Barat Daya]Rabu Buda 7 [arah Barat]Kamis Respati 8 [arah Tenggara]Jum’at Sukra 6 [arah Timur Laut]Sabtu Sanescara 9 [arah Selatan]

Palawara hari:Tumanes Legi 5Pahing 9Pon 7Wage 4Kliwon 8

8. Tentang Pujian [yakni yang dilakukan sesudah adzan untuk menunggu iqomat]Terdapat pada kitab Rig Weda hal. 10 :”Tunja tunji ya utari stoma indrastya wajrinah nawidhi asia sustutim” Artinya: ‘Makin tinggilah pujian kami dalam nyanyian kepada Dewa Indra Yang Perkasa’.

[Hal ini] bertentangan dengan Firman Alah :”Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’roof[7]: 205). Periksa juga 7: 55, 19: 1,2,3

BERIKUT INI DIKUTIP DARI : TIM PENYUSUN DAN PENELITI NASKAH BUKU – DIREKTORAT JENDERAL BIMBINGAN HINDU DAN BUDHA

- Roh itu bertingkat kedudukannya, berfungsi menunjang kelestarian alam dan kita yang masih hidup- Menunjang kehidupan roh tersebut- Meningkatkan kedudukan roh walau di alam Dewata, agar akhirnya manunggal dengan Brahma dan agar tidak terlahir lagi dalam bumi [reinkarnasi]- Bahwa amerta adalah santapan yang diperlukan untuk kelestarian para dewa dan roh dewa dan roh suci lainnya. Dan apabila kita berhasil mempersembahkan amerta itu ke hadapan para dewa, maka sebagai imbalan, roh tersebut yang ada hubungannya dengan kita diampuni dan dibebaskan serta berhak mendapat tempat yang lebih tinggi- Bahan baku amerta ialah makanan, minuman serta sari rasa yang sedap. Inilah yang dibutuhkan makhluk itu- Dengan memenuhi persyaratan, kita bisa memohon amerta untuk kepentingan pribadi maupun dewa dan roh yang lain. Dengan mengorbankan makanan [dan] minuman tertentu dapat dijadikan bahan dasar permohonan. Semakin banyak persembahan atau kurban akan semakin baik. Dan amerta semakin banyak, akhirnya roh pemohon bersama dengan bahan [menyebar] ke alam sekitar melalui suara dengan pemujaan, genta, dan asap dupa.- Slametan memberikan kekuatan hidup para dewa, memberikan ampunan kepada roh yang berdosa, [dan] dapat memberikan kesucian pada roh yang sudah diampuni dosanya.- Akan tetapi kalau tidak, slametanasura akan bebas mengganggu manusia. Banyak orang sakit, kesurupan, roh orang yang baru meninggal mengikuti sanak keluarga- Para dewa akan puas kalau [diadakan] genduri. Sesaji roh suci itu pun akan sering turun ke bumi sebagai tamu luhur bagi masyarakat pemuja sekaligus menurunkan berkah subur makmur panen berlimpah. Dewa akan turun keseluruhan dengan berpasangan, menyantap genduri [dan] sesajen yang dipersembahkan.

Subhanakallohumma wa bihamdihi, asyhadu an laa ilaaha illa anta, wa astaghfiruka wa atuubu ilaika Wa akhiru da’wana, walhamdulillahirobbil ‘alamin

Penulis

al-Akh Abdul Aziz hafidzahullah

Muallaf dari agama Hindu, asal Blitar, masuk Islam tahun 1994

Sumber : Catatan al akh Anwar Baru Belajar http://www.facebook.com/note.php?note_id=144069222302928

ACARA KEMATIAN 7, 40, 100, 1000 HARI ADALAH DARI AJARAN HINDU

Bismillah,

Kita mengenal sebuah ritual keagamaan di dalam masyarakat muslim ketika terjadi kematian adalah menyelenggarakan selamatan kematian/kenduri kematian/tahlilan/yasinan (karena yang biasa dibaca adalah surat Yasin) di hari ke 7, 40, 100, dan 1000 harinya. Disini kami mengajak anda untuk mengkaji permasalahan ini secara praktis dan ilmiah.

Setelah diteliti ternyata amalan selamatan kematian/kenduri kematian/tahlilan/yasinan (karena yang biasa dibaca adalah surat Yasin) di hari ke 7, 40, 100, dan 1000 hari, bukan berasal dari Al Quran, Hadits (sunah rasul) dan juga Ijma Sahabat, malah kita bisa melacaknya dikitab-kitab agama hindu.

Disebutkan bahwa kepercayaan yang ada pada sebagian ummat Islam, orang yang meninggal jika tidak diadakan selamatan (kenduri: 1 hari, 3 hari, 7 hari, 40 hari dst, /red ) maka rohnya akan gentayangan adalah jelas-jelas berasal dari ajaran agama Hindu. Dalam agama Hindu ada syahadat yang dikenal dengan Panca Sradha (Lima Keyakinan). Lima keyakinan itu meliputi percaya kepadaSang Hyang Widhi, Roh leluhur, Karma Pala, Samskara, dan Moksa. Dalam keyakinan Hindu roh leluhur (orang mati) harus dihormati karena bisa menjadi dewa terdekat dari manusia [Kitab Weda Smerti Hal. 99 No. 192]. Selain itu dikenal juga dalam Hindu adanya Samskara (menitis/reinkarnasi).

Dalam Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99, 192, 193 yang berbunyi : “Termashurlah selamatan yang diadakan pada hari pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu.

Dalam buku media Hindu yang berjudul : “Nilai-nilai Hindu dalam budaya Jawa, serpihan yang tertinggal” karya : Ida Bedande Adi Suripto, ia mengatakan : “Upacara selamatan untuk memperingati hari kematian orang Jawa hari ke 1, 7, 40, 100, dan 1000 hari, jelas adalah ajaran Hindu.”

Telah jelas bagi kita pada awalnya ajaran ini berasal dari agama Hindu, selanjutnya umat islam mulai memasukkan ajaran-ajaran islam dicampur kedalam ritual ini. Disusunlah rangkaian wirid-wirid dan doa-doa serta pembacaan Surat Yasin kepada si mayit dan dipadukan dengan ritual-ritual selamatan pada hari ke 7, 40, 100, dan 1000 yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi dan para sahabatnya. Apakah mencampur-campur ajaran seperti ini diperbolehkan??

Iya,

Lalu apakah kita lebih memegang perkataan nenek moyang kita daripada apa-apa yang di turunkan Allah kepada RasulNya?

Allah berfirman :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ

”Dan apabila dikatakan kepada mereka :”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”. Mereka menjawab :”(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS Al Baqoroh ayat 170)

Allah berfirman :

وَلا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu mencampuradukkan Kebenaran dengan Kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran sedangkan kamu mengetahuinya” (QS Al Baqarah 42)

Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh kita untuk tidak boleh mencampuradukkan ajaran agama islam (kebenaran) dengan ajaran agama Hindu (kebatilan) tetapi kita malah ikut perkataan manusia bahwa mencampuradukkan agama itu boleh, Apa manusia itu lebih pintar dari Allah???

Selanjutnya Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”.[QS. Albaqoroh : 208].

Allah menyuruh kita dalam berislam MENYELURUH, tidak setengah-setengah…

TIDAK SETENGAH HINDU…SETENGAH ISLAM…

Allahul musta’an

Sumber : Catatan Al Akh Aris Diansah dengan judul asli “Ajaran Gado-gado (Hindu-Islam)” http://www.facebook.com/notes/aris-diansah/ajaran-gado-gado-hindu-islam/439464374660

copas dari blog Abu Ayaz

Catatan Pemilik Blog:

Perhatian,

1. tulisan ini bertujuan untuk saling menasehati sebagian kaum muslimin yang masih terjatuh pada amaliyah yang tidak memiliki dasar sama sekali dari Islam, bukan untuk mendiskreditkan agama lain, bukan karena pada sisi mereka (yang di luar Islam) ada kebenaran, justru pada mereka terdapat pokok-pokok kesesatan, yang kaum muslimin awam pun insya Allah mengetahuinya, dan telah jelas-jelas berbeda sumber aqidahnya. Baarokallaahu fiikum

2. Tidak sepantasnya umat Hindu lantas berbangga-bangga dengan sebab adanya tulisan ini, karena tradisi mereka yang diadopsi oleh umat Islam di sini juga tidak sedang dibanggakan, tapi sedang diingkari!

About these ads
  1. 31 Oktober 2010 pukul 19:52

    Telah masuk kepada kami, orang yang menamakan dirinya Hukum Hindu(?!?), membawakan perkataan berikut, “sekarang bagaimana bencana yang mengancam negeri ini,,,
    berbhaktilah engkau kepada leluhur, karena leluhurlah engkau menjadi ada.
    emang kamu diciptakan lahir dari batu apa?
    tentu ibumu kan?

    …kamu sudah melupakan ajaran leluhur, terkutuklah ia yamg tidak menghormati leluhurnya.

    Islam akan lenyap dengan sendirinya di negeri ini.”

    • 31 Oktober 2010 pukul 20:50

      Sebelum saya mengomentari ucapan tersebut, maka kami beritahukan kepada pemilik blog hukum hindu, komentar anda tidak kami moderasi karena:
      _ memakai avatar gambar makhluk yang dijadikan ilah yang batil
      _ mengikutsertakan alamat wp yang bisa diakses oleh siapa saja, yang sama artinya blog kami menjadi perpanjangan tangan anda?!? Tidak mungkin kami lakukan, dan kami berlindung kepada Allah dari kesesatan.

      Kemudian,
      1. Ucapan anda:

      “berbhaktilah engkau kepada leluhur”
      _____________________________

      Justru kami diperintahkan untuk mengabdikan seluruh jiwa raga kami untuk Allah saja, kemudian setelah itu, berbakti kpd Orang Tua__
      _______________________________

      “karena leluhurlah engkau menjadi ada.”
      ________________________________

      Tidak, tetapi karena Allah Ta’ala sematalah semua makhluk menjadi ada, termasuk keberadaan kita
      _______________________________________

      “kamu sudah melupakan ajaran leluhur, terkutuklah ia yamg tidak menghormati leluhurnya.”
      __________________________________________

      Semua ajaran telah terhapus dari sisi hukum untuk diamalkan setelah diutusnya Rosul terakhir, Nabi Muhammad sallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kewajiban kita menerima, membenarkan, dan mengamalkannya. Haadakallaah
      _________________________________-

      “Islam akan lenyap dengan sendirinya di negeri ini.”
      _______________________________________

      Mungkin anda terpengaruh khurafat ramalan sabdapalon yang menyatakan Islam akan lenyap dari Indonesia (Jawa) setelah 500 tahun. India saja sebagai nenek moyang hindu budha pernah berabad-abad dikuasai Muslimin (padahal disana tentunya kleniknya lebih dahsyat dr sekedar Jawa) apalagi disini yang jumlah pengikutny belum seberapa, Ingat seorang Muslim itu menggarapkan mati (syahid) melebihi mereka (kaum kuffar) mengharapkan hidup selamanya.
      2. untuk anda renungkan
      kenapa kita harus memilih islam bukan agama yang lain???
      a. kita lihat setiap agama pasti mempunyai pengakuan adanya tuhan/sesembahan.
      b. pasti Tuhan berbeda dengan manusia apalagi benda dan lainnya
      c. bukti perbedaan, kita lihat sifat-sifat manusia yang penuh dengan kekurangan, dengan Tuhan yang penuh dengan kesempurnaan dari berbagai sisi…
      d. bukankah yang namanya Tuhan itu Esa tidak beranak dan tidak diperanakkan/dilahirkan, yang notabene ini tabiat kita sebagai manusia? (ini ada di alquran surat al ikhlas)
      e. bagaimana dgn manusia??? bukankah manusia sebaliknya…

      3. Terakhir………..

      masuk Islamlah engkau, niscaya engkau akan selamat, dan Allah akan memberimu pahala dua kali lipat, tapi kalau kamu menolak, niscaya engkau akan memikul dosa para pengikutmu….

      Masuk Islamlah engkau dan pengikut agamamu, niscaya Allah akan masukan kalian ke dalam surga – yang luasnya seluas langit-langit dan bumi – yang telah disiapkan untuk orang-orang yang bertaqwa para pengikut rasul dengan benar-benar. Berimanlah dengan Al-Quran yang agung ini, yang telah memelihara semua risalah dan membawa keyakinan yang benar dan hukum yang adil, yang didukung oleh akal sehat dan fitrah yang suci.
      Atau kalau tidak, maka siksa yang sangat keras dan kekal yaitu Neraka – yang Allah siapkan untuk orang-orang kafir – akan menimpa kalian, apinya sangat panas dan sangat dalam.

      Dan Muhammad – shallallahu`alaihi wa sallam adalah tauladan bagiku dan bagi setiap muslim.

      والسلام على من اتبع الهدى
      Semoga keselamatan tercurah kepada orang yang mengikuti petunjuk.

  2. prass
    20 Mei 2011 pukul 21:53

    termasuk ajaran hindu ???
    dr kitab mana ya kang??
    “Setelah tak ubek² Manawa Dharmasastra tidak menemukan yang tentang itu, cuman menemukan bahwa upacara peringatan kepada leluhur (upacara sradha) adalah tanggalan pertama setiap awal bulan (MD III, sloka 122 dan sloka 127), nah pada sloka selanjutnya disebutkan juga tentang penghormatan leluhur yang dilakukan 3 kali setahun (awal musim hujan, musim panas dan musim dingin), kemudian dijelaskan pula tentang apa yang dipersembahkan pada setiap bulan dalam tahun pertama…

    Khan di atas udah disebutin kitab-kitabnya dengan rinci? Silakan dibaca lagi dengan teliti. Lagian, ini bukan tulisan saya, tapi tulisan sebagian saudara saya yang juga telah saya cantumkan sumber rujukannya, silakan bertanya pada nara sumber.
    catatan: Bila anda muslim, pelajarilah Islam lebih mendalam dan amalkan dengan benar. Dan jika bukan, maka “Aslim Taslam”

  3. prass
    21 Mei 2011 pukul 23:41

    nggak nyambung kang yg di atas,hanya mendhubungkan2kan doang..

    Aslinya Anda yang gak paham, wong itu jelas-jelas dipraktekkan oleh sebagian muslim kejawen kok, dan telah dibantah oleh penulis yang mantan Hindu. Ana udah kasih tau, kalo Anda muslim, mending sibukkan diri menuntut ilmu syar’i dengan benar, yang amaliyahnya benar-benar berasal dari sisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tapi jika Anda bukan muslim (atau hanya muslim yang pura-pura aja), maka saya dengan jujur mengajak Anda masuk Islam, pasti Allah akan menyelamatkan akhirat Anda jika Anda mau jujur dalam ber-Islam.

    nggak ada kang dlm agama hindu,coba ente tanya aja deh ke yg berkompeten,..

    Yo wis, yang jelas ritual yang telah disebutkan di atas juga bukan dari Islam. Atau dari islam secara mujmal tapi diperinci sendiri oleh para pelakunya. Hayyakallaahu

  4. prass
    21 Mei 2011 pukul 23:43

    tentang kurban yg di tulis di atas,kan dlm agama kita juga ada kang…,ada hari rayanya lagi..tanggalnya jg sdh di atur…
    pie toh…ck..ck..

    Baca artikel ini:
    Menyembelih Binatang Dengan Niat Lillah

    http://syababpetarukan.wordpress.com/2011/05/12/menyembelih-binatang-dengan-niat-lillah-dilarang-dilakukan-di-tempat-yang-dipergunakan-untuk-menyembelih-binatang-bukan-lillah/

    Jika yang dimaksud adalah berkorban yang disyariatkan, tentu itu masru’ dan kita tidak mempermasalahkannya. Allah sendiri telah memerintahkan kita dalam ayatnya, “Fashalli li Rabbikaa wan har

    • prass
      13 Juni 2011 pukul 12:19

      hm..tak ada juga kang..besok2 ente cari langsung dari kitab2 hindunya,lalu terjemahkan begitu..
      jg nggak campur baur….coba belajar sdkt hindu disini buat pengetahuan saja :
      http://www.hukumhindu.com/2011/03/janganlah-biarkan-adat-mengalahkan-agama/

      Makasih atas sarannya, bagi saya; banyak ajaran Islam yang belum saya pelajari dan juga belum diamalkan dengan istiqamah. Waktuku akan habis bila dipakai untuk mempelajari agama lain yang KOSONG dari tauhidullah. Hayyakallaah

      Dari sini saya jadi meragukan Anda dalam hal:
      1. Anda tidak tahu atau pura-pura tidak tahu jika artikel di atas bukan susunan dari saya, sehingga Anda “memaksa” saya untuk mempelajari langsung kitab-kitabnya orang hindu, dengan kalimat Anda, “cari langsung dari kitab2 hindunya,lalu terjemahkan begitu..
      jg nggak campur baur”. Padahal sudah jelas saya cantumkan pada artikel di atas nama penulisnya, Abdul Aziz, begitu juga pada jawaban komentar saya terdahulu. Apakah hasil pemikiran dari penulis harus ana pertanggungjawabkannya di depan Anda, sedangkan di sisi lain Anda bisa menanyakannya langsung?
      2. Ke-Islaman Anda, ketika Anda mengatakan pada komentar terdahulu, “tentang kurban yg di tulis di atas,kan dlm agama kita juga ada kang”. Anda sendiri mengatakan “agama kita”, sedangkan agama saya ISLAM. Apakah Anda Islam? Tetapi mengapa Anda justru menganjurkan saya untuk mempelajari agama hindu?! Apakah Anda hendak menjerumuskan saya dengan “sedikit” membenarkan sebagian dari ajaran hindu? Tidak, Wallaahi!! Tidak ada sedikit pun di luar Islam, agama yang mentauhidkan Allah dengan benar… Hampir seluruh agama di luar Islam, meyakini ada kekuatan lain selain Allah yang memiliki hak untuk diibadahi, dan ini bathil. Dan dengan sebab ini pulalah, saya tidak tertarik sama sekali dengan agama-agama thoghut tersebut, walaupun hanya sekedar sedikit mempelajari ajaran-ajaran mereka. Nas alullaaha salamatan wal ‘aafiyah.

  5. 10 Juli 2011 pukul 23:59

    Tambahan informasi

    Mengupas Tuntas Masalah Bid’ah :Oleh :

    Kyai Afroki Abdul Ghoni (Mantan Nahdatul Ulama)dan

    Abdul Aziz (Mualaf Mantan Hindu)

    ==================================

    sumber:

    http://www.facebook.com/note.php?note_id=217824018242898

    • prass
      31 Agustus 2011 pukul 18:58

      lihat yuk kang :
      http://ashhabur-royi.blogspot.com/2011/05/kesaksian-mantan-hindu-tahlilan-bukan.html

      isi sebagiannya :

      ” Hasil investigasi terhadap Afrokhi bisa di baca disini. Dan guna mengcounter kekeliruan buku yang di tulis Arfokhi tersebut, maka di terbitkan juga buku berjudul ” MELURUSKAN KESALAHAN BUKU PUTIH KIAI NU (karya Afrokhi A. Ghoni) | Penulis: Tim FMPP (Forum Musy Pon.Pes. ) Pare Kedir [1].

      Adapun Ustadz Abdul ‘Aziz merupakan mantan hindu yang merupakan “KORBAN” brainwoshing kalangan Wahhabi sehingga dalam tausiyahnya menjelek-jelekkan NU. Namun, Ustadz Abdul ‘Aziz telah meminta maaf kepada warga NU karena tausiyahnya tersebut yang dilakukan di Masjid Bina Patra Cepu. Ia telah mengakui kesalahannya dalam menafsiri Al-Qur’an dan Hadits. Pengakuan tersebut dilakukan di hadapan Rahmatullah Muhammad Iwan Sa’adullah bahkan ia juga memiliki kesimpulan bahwa orang NU adalah benar serta ajarannya merupakan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam dengan di lengkapi sanad dan silsilah keilmuan. Selain itu, ia juga mengakui bahwa selama ini ia menafsiriAl-Qur’an dan Hadits dengan akalnya sendiri dan banyak salahnya.”

      mana..lagi ???

      Jazaakallaahu khairan atas tambahan referensinya. Apa yang terjadi pada person-person yang mencari dan menetapi hidayah taufik senantiasa ada pada kekuasaan Allah, kadang naik kadang turun, tapi itu sama sekali tidak merubah apa yang ada kebenaran, ia akan senantiasa dimenangkan oleh Allah sampai hari kiamat, sebagaimana telah dikatakan oleh ash-Shoduqul masduq, Nabiyil Musthafa, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
      Allahumma Ya muqollibal qulub, tsabbit qalbiy ‘ala diinika

  6. some1
    1 Agustus 2011 pukul 20:37

    mantab.. i like it

  7. 10 September 2011 pukul 11:07

    iya pak, ane pernah menyimak ceramah anda di masjid kampung ane. meski itu hanya cuma lewat keping CD ane tambah mantab.. banyak tour kekampung2 pak, banyak yang masi lum mengerti dan gag mau mengerti.

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: